Ponsel terus berdering, Dani tetap ingin bicara dengan Dia. Pria itu kesal sampai membanting ponselnya di atas ranjang. Dasi yang mengalung erat, lantas ia renggangkan. Banyak sekali masalah yang belum terselesaikan. Kabarnya direktur tempatnya bekerja pun akan ganti. Jika masalah kerugian itu belum terselesaikan sampai bosnya ganti, maka Dani harus keluar dari perusahaan itu. Satu pekan sudah Dani membawa pulang putranya. Mereka tinggal di rumah yang dahulu Dia tinggal di sana. Sedikit demi sedikit, harta Dani terkuras untuk membayar kerugian yang diakibatkan oleh keteledorannya sendiri. "Ada apa sih, Dan?" Eni datang membawakan teh hangat untuk putranya. Dani menghela napas panjang lalu duduk. "Mah, benar apa kata orang. Kalau beda istri itu beda rezeki. Semakin hari, Dani semakin

