Tania tergugu di tempatnya duduk, air matanya juga jatuh menetes kilasan masa lalu hidupnya yang menderita, karena ulah Jessica terbayang. Kini saat Jessica bersimpuh di hadapannya dengan air mata yang menutupi wajahnya, semua rasa sakit dan benci itu seakan menguap. Ia tidak menyimpan benci kepada Jessica?, entahlah hatinya berulangkali bertanya. Benarkah di hatinya tidak ada rasa benci kepada Jessica?, Tania menghapus air matanya dengan punggung tangannya. Diusapnya tangan Jessica, ia lalu menganggukkan kepalanya, “Aku memaafkanmu, aku tidak mau menyimpan rasa benci di d**a ku. Semua memang sudah di gariskan Allah untuk kau dan aku jalani. Masa lalu, biarlah menjadikan pelajaran untuk ku dan kamu, agar kita dapat memperbaiki diri.” Tania dan Jessica kemudian saling berpelukan dengan p

