Hari ini Caca tidak masuk sekolah. Qeenan jadi merasa kehilangan. Memang ya kalau sudah bucin itu akan selalu jadi bucin.
Refa, anak baru di kelas Qeenan yang mendapat julukan si gadis berambut sebahu sudah pindah dua hari yang lalu. Padahal belum genap dua minggu ia bersekolah di sini. Entah apa yang telah Caca lakukan, hingga gadis itu terlihat gila dan aneh. Terkadang, mengingat kemampuan yang dimiliki Caca, Qeenan jadi segan.
Siang ini pada jam istirahat, Qeenan berjalan sendiri menuju kantin. Tadi ia singgah ke kelas Caca dan baru ingat kalau gadis itu tidak sekolah. Kebiasan memang selalu menjemput Caca pada jam istirahat.
Kantin selalu ramai seperti biasa. Qeenan langsung bergegas mengantri di depan counter nasi ayam. Tapi, langkahnya terhenti saat melihat Bella bicara sendiri.
Gadis itu duduk di tengah-tengah kantin. Tampak berbicara dengan seseorang, tapi seseorang itu tak terlihat. Untungnya suasana kantin sedang ramai jadi tak ada yang menyadari Bella sedang bicara sendiri, kalau tidak pasti Bella sudah dikira gila.
"Bell." Qeenan langsung duduk di hadapan Bella.
"Eh Qeenan." Bella tersentak kaget. Lalu menoleh ke kanan dan kiri, seperti mencari seseorang.
"Lo nyariin siapa?"
"Pak Hodi. Tadi di sini. Di tempat lo duduk. Dia kemana ya?"
Qeenan mengernyit tak mengerti. "Pak Hodi siapa?"
"Dia penjaga perpus baru." Bella menjawab, masih celingak celinguk.
Qeenan jadi semakin tak mengerti. Meskipun ia memang tak pernah ke perpustakaan sama sekali dan tak mengenal siapa penjaga perpustakaan, Pak Hodi yang Bella maksud tetaplah bukan sosok manusia nyata. Qeenan bisa pastikan itu.
"Woi! Kenapa lo liat Bella segitunya hah?!" Zeon berseru galak. Ia meletakkan semangkuk mie ayamnya ke meja hingga terdengar suara yang kencang.
Qeenan terperanjat kaget. Kemudian berdecak pelan. Karena terlalu lama berpikir, ia jadi tak sadar sedang menatap Bella terus-terusan.
"Biasa aja kali. Tu ludah lo muncrat kemana-mana." Qeenan menyelak galak. Lalu ia berdiri dan segera mengantri di belakang counter mie ayam.
Ia jadi tak selera makan nasi ayam lagi. Selagi mengantri, Qeenan memikirkan siapa Pak Hodi yang dimaksud Bella.
Setau Qeenan, Bella bukan lah indigo yang bisa melihat makhluk halus alias hantu alias arwah-arwah penasaran. Qeenan juga yakin, kalau Pak Hodi yang Bella maksud bukanlah makhlus sejenis itu. Apa jangan-jangan...
Uap panas keluar saat tutup panci berisi kuah mie ayam dibuka. Aroma harum menggugah selera langsung membuat perut Qeenan bereaksi.
Qeenan otomatis menatap ke depan, ke penjual mie ayam yang sibuk menuangkan kuah ke dalam mangkuk. Dan saat itu bertepatan dengan Qeenan melihat pantulan dirinya dari kaca counter.
Qeenan baru menyadarinya. Dibalik counter itu tersusun tumpukan mie kuning yang sudah dibentuk bulat-bulat sesuai satu porsi mangkuk. Tumpukannya tinggi, hingga kaca yang menjadi pembatasnya memantulkan wajah Qeenan serta beberapa siswa lain di belakang Qeenan.
Awalnya, Qeenan hanya berkaca seraya merapikan rambutnya. Namun, saat diperhatikan lebih jelas lagi ada asap gelap yang berkeliaran di sekitar Bella.
Qeenan mengerjapkan mata untuk melihat lebih jelas lagi. Asap hitam itu melesat cepat... wuss... wuss...Terbang jauh lalu kembali lagi. Seperti tak ingin pergi dari sisi Bella.
Bella dan Zeon sama sekali tak menyadarinya. Mereka tetap asik makan seraya mengobrol diselingi tawa.
Qeenan jadi gemas sendiri. Kenapa di saat genting seperti ini, mereka malah pacaran?
Qeenan lalu segera berjalan cepat kembali ke meja setelah menerima semangkuk mie ayamnya dan duduk di sebelah Zeon.
"Kok lo santai aja sih?" bisik Qeenan gemas pada Zeon.
Zeon tak langsung menjawab. Ia menghabiskan makanannya terlebih dahulu, meneguk air dan baru bicara.
"Terus gue harus gimana? Bilang ke dia kalau ada sesuatu yang ngikutin dia terus-terusan? Enggak kan? Yang ada, dia bakalan takut." Zeon menjawab tenang.
"Tapi, kan. Itu makhluk ganggu bang. Ganggu banget!" Qeenan kesal.
"Biasain. Atau lo pindah aja ke meja lain." Zeon menjawab santai setengah mengusir.
Qeenan mendegus pelan. Dan lanjut makan mie ayam.
Untuk beberapa menit ke depan, ke tiganya masih berada di kantin menunggu Bella selesai makan dengan celotehan kesal dari Qeenan.
**
Caca terbangun, meregangkan badannya dan duduk di tepi ranjang. Ia lupa telah berapa lama terlelap, tapi rasanya sungguh menyegarkan.
Caca merasakan sensasi basah yang menggelitik saat menurunkan kakinya. Ternyata ia menginjak rumput hijau. Caca menoleh ke sekelilingnya. Semuanya berwarna hijau. Pepohonan yang teduh. Bunga-bunga bermekaran dan angin sejuk yang membawa aroma harum bunga.
Caca tak pernah tahu kalau di kastil ada tempat seperti ini. Ranjangnya terletak di tengah-tengah. Kicau burung menyambut di kepala ranjang.
Caca memutuskan melangkahkan kaki. Merasakan sensasi nyaman setiap ia memijakkan kaki di rerumputan.
"Claris."
Caca menoleh cepat. Hanya ada dua orang yang memanggilnya begitu. Satu Redana dan satu lagi Eve.
Wanita itu tampak cantik seperti terakhir kali Caca berkunjung ke kastil. Caca langsung berlari ke arahnya, memeluk erat dan menghirup aroma yang selalu ia rindukan.
"Mama!" Caca berseru senang. "Caca suka Mama ada di sini."
"Mama juga." Eve tertawa kecil. Meregangkan pelukan dan meraih sejumput rambut Caca untuk diselipkan di belakang telinga.
Caca tersenyum begitu manis. Eve juga tersenyum.
"Sayang. Perempuan itu ditakdirkan untuk disayangi. Ingat waktu Bara bikin kamu nangis, kamu ngadu ke Mama dan bilang kalau Bara gak sayang sama kamu, sebenarnya Bara punya cara sendiri buat sayang sama kamu. Caranya memang tegas dan sedikit kasar. Tapi, dia sayang kamu melebihi Rafka."
"Melebih Bang Rafka? Mama yakin?"
Eve mengangguk. "Iya sayang. Jangan pernah berantem sama Abang-abang kamu. Jaga mereka seperti mereka menjaga kamu. Karna sekarang tugas Mama menjaga mereka sudah selesai, dan Mama menurunkan tugasnya ke kamu."
Caca menangis. Kali ini rasanya benar-benar nyata. Mama telah pergi.
"Di keluarga kita, perempuan cuma Mama dan kamu. Mama harap kamu menjadi perempuan yang kuat, jangan sering menangis. Kamu masih punya enam Abang yang sayang sama kamu. Kamu masih punya Kakek dan Ayah. Kamu masih punya teman-teman dan bahkan pacar yang juga sayang sama kamu." Eve mengulum senyum geli di akhir kalimatnya.
Wajah Caca memerah. Ia tertawa kecil.
Eve menarik Caca ke pelukannya lagi. Mengusap dengan sayang helai rambut Caca. Mencium puncak kepala Caca.
"Sayang, kamu harus kembali. Sudah terlalu lama kamu tertidur. Semua orang merindukan kamu." Eve tersenyum.
Caca masih menangis. Air matanya mengalir deras. Tak berhenti. Namun, Caca berusaha untuk tersenyum. Ia lalu mengecup pipi Ev dan berlari menjauh.
Hingga ia merasa seperti ditarik dan dihempaskan. Ia tersentak dan langsung membuka mata.
Hal yang pertama Caca lihat adalah langit-langit yang di cat pink. Dinding yang berwarna pink. Serta selllimut yang menutupi tubuhnya sebatas leher juga berwarna pink. Caca jadi curiga kalau pakaian yang ia kenakan juga berwarna pink.
Tadinya, saat Caca tersadar ia ingin kembali menangis seraya mengenang mimpi singkatnya bersama Eve. Namun, setelah melihat situasi kamar serba pink ia jadi sakit kepala.
Padahal, Caca lebih suka warna hijau. Ini pasti ulah Fero. Siapa lagi kalau bukan dia. Fyi, Fero adalah Kakak kelima Caca.
Sejak menjadi desain interior terkenal, Fero menjanjikan sebuah hadis untuk Caca. Katanya sebagai bentuk rasa kasih sayang terhadap adik perempuan satu-satunya.
Caca tak ambil pusing menuntut ini itu. Karna sejak dulu, Fero selalu memberinya hadiah. Namun, Caca tak menyangka jika hadiahnya adalah kamar serba pink ini.
Darimana Caca tahu kalau kamar itu adalah hadiah dari Fero? Sebab di salah satu dinding ditempel balon berbentuk huruf dengan tulisan 'For Caca, From Fero'.
Pintu diketuk pelan. Diiringi suara pintu terbuka dan langkah kaki mendekat. Caca menoleh ke arah datangnya suara dan langsung tersenyum.
Ke enam Abangnya melangkah masuk. Yang pertama Yang pertama Bara, disusul Rafka, lalu Kalen yang membawa senampan makanan, Rafa di belakangnya memegang segelas s**u coklat, kemudian ada Hansfa yang sepertinya baru saja dari luar dan yang terakhir adalah Fero dengan wajah lelahnya.
Mereka berenam asik berceloteh tanpa menyadari Caca yang memerhatikan mereka.
Benar kata Eve, dia masih punya enam Kakak laki-laki yang akan selalu menyayanginya.
"Awas panas, awas panas!" Kalen berseru, membuat ke lima lainnya menyingkir.
Dengan hati-hati Kalen memindahkan semangkuk bubur yang masih mengepulkan uap panas ke atas nakas dari nampan. Dan ia orang pertama yang menyadari kalau Caca sudah sadar.
Caca tersenyum lemah menatap Kalen. Kalen langsung berseru dan bertingkah berlebihan sampai tersungkur.
"CACA!"
Yang membuat ke lima lainnya heboh bukan main.
"CACA KENAPA?!"
"CACA!"
"ASTAGA CACA!"
"CACAAAAAAAAAAAAA!"
"Sayang?" Bara mendekat dan langsung memeluk Caca. Dari ke limanya hanya Bara yang paling waras.
Caca terharu. Ia menangis dan memeluk erat Bara. Ke lima lainnya juga ikut memeluk Caca. Mereka berpelukan bersama.
"Lepas-lepas sesek gue." Rafka mendorong Fero yang memeluknya dari belakang. Lantas mengipas-ngipaskan tangannya karena gerah.
Ke lima lainnya juga beringsut mundur. Duduk di sekeliling tepi ranjang Caca, menatap Caca penuh perhatian.
"Jangan nangis lagi dong, nanti mata kamu bengkak Ca." Hansfa mengusap lembut pipi Caca, berujar pelan.
"Ntar jadi jelek loh." Rafa menimpali.
"Nanti Sam jadi gak suka lagi loh." Rafka ikut-ikutan.
"Sam?" Bara bertanya bingung.
"Samuel, temen gue Bang. Dia suka sama Caca." Rafka menjawab santai.
"Suka? Sama Caca?!" Bara berseru pelan.
Wajah Caca menjadi merah. Ia melempar bantal pada Rafka yang mulai menyorakinya.
Namun, kehebohan yang dibuat Rafka tak membuat ke lima lainnya senang. Mereka memberikan ekspresi yang berbeda-beda.
Terlebih lagi Bara. Agaknya Kakak laki-laki nomor dua itu tidak menyetujui fakta kalau ada seseorang yang menyukai Caca.
"Kok pada diem-diem gini sih?" Rafka bertanya bingung. Ia lelah sendiri jadi yang menyoraki Caca sejak tadi.
"Caca laper gak? Pasti laper deh, kamu udah kelamaan tidur soalnya." Kalen mengambil alih topik.
Ia beringsut duduk mendekati Caca. Dan mengambil mangkuk berisi bubur buatannya tadi, lalu mulai menyuapi Caca.
"Enak gak?" Kalen bertanya.
Caca mengangguk dan mengacungkan ibu jari. Tak ada masakan Kalen yang tak enak.
"Aku udah berapa lama tidur Bang?"
"Tiga hari."
"Tiga hari?"
"Iya. Tiga hari." Fero menimpali. "Tiga hari waktu yang pas buat dekor kamar kamu jadi serba pink. Gimana? Kamu suka?"
Tuh, kan. Benar. Fero lah yang mendekor kamar ini.
Caca mengangguk pelan. Meskipun ia lebih suka warna hijau daripada pink, tapi dekorasi ini adalah hasil kerja keras Fero. Tentunya ia harus menghargai.
"Tiga hari kamu bikin kita semua kelimpungan." Hansfa bicara. Sesekali mengusap rambut Caca.
Caca meringis pelan. Ia merasa bersalah. Ia tak menyangka tertidur selama itu. Pantas saja badannya pegal-pegal.
Setelah menghabiskan suapan terakhir dari Kalen. Caca meneguk habis juga segela s**u coklat yang tadi di bawa Rafa.
Membuka selimutnya dan mencoba menjejakkan kaki di lantai. Ia agak terhuyung menuju closet, hendak mengganti baju piyama warna pink yang serasi sekali dengan dinding kamar. Lalu membiarkan Fero menjalin rapi rambutnya. Hansfa yang memakaikannya bedak. Dan Rafa yang menyemprotkan parfum.
Caca merasa seperti seorang putri yang punya enam pelayan.
Setelah merasa lebih segar, Caca memilih keluar kamar. Melangkah bersama Fero, Hansfa dan Rafa melewati lorong penuh pintu.
Ini sisi kastil bagian barat. Tempat kamar dan ruangan favorit Caca serta ke enam Kakak laki-lakinya. Dinding kaca yang menjadi pembatas ruangan, membuat Caca bisa melihat aktifitas orang-orang di dalamnya.
Caca tertarik melihat ada seorang gadis yang duduk diantar kakak laki-lakinya. Dengan rambut blonde yang mencolok di antara yang lain, dan suara tawa yang enak didengar.
Hansfa membuka pintu ruangan. Caca, Fero dan Rafa pun melangkah masuk.
"Caca sini, duduk disebelah Abang." Kalen memanggil, terdengar antusias.
Caca menurut, duduk di samping Kalen. Berhadapan dengan seorang gadis berambut bloonde yang duduk di sebelah Bara.
"Halo Ca." Gadis itu menyapa.
Caca menatapnya lekat-lekat. Mengingat-ingat seraut wajah yang terasa familiar. Tapi, lidahnya kelu untuk mengucapkan nama gadis itu. Caca jadi greget sendiri.
"Dia Savana, sepupunya Redana." Kalen berujar.
"Ah! Kak Savana yang kuliah di Oxford itu kan?" Caca berseru senang. Akhirnya ia ingat.
Savana tertawa. Jenis suara tawa yang enak didengar. "Iya Ca."
Savana Vontage, anak dari adik lain ibu dari ibu Redana. Savana sesuai dengan arti harfiah namanya yaitu padang rumput luas, begitu pula luasnya pengetahuan Savana. Ia sedang mengambil strata-3 di Oxford. Entah jurusan apa, Caca lupa.
Rambut blonde Savana benar-nenar menarik perhatian. Fero yang paling tertarik asik menanyai berbagai hal tentang rambut blonde pada Savana.
Rafka langsung mengajak Savana berfoto. Katanya kapan lagi bisa selfie dengan anak Oxford. Sedangkan Hansfa hanya tersenyum tipis dan duduk di sebelah Caca.
Savana dengan sabar meladeni Rafka dan Fero. Ia selalu tersenyum dan sama sekali tak merasa terganggu.
Malah Bara yang cemberut. Dia duduk diam di sebelah Savana. Terlihat menahan kesal.
"Kayaknya Bang Bara cemburu deh." Caca mengulum senyum geli. Berbisik di telinga Kalen.
Kalen yang juga menyadarinya tertawa geli dan mengangguk.
Aksi bisik-bisik dan tawa itu terhenti saat Bara mendelik. Caca dan Kalen langsung dibuat bungkam.
"Dasar cemburuan." Hansfa berkata pelan dan terkekeh geli.
**