"Claris! Berhenti!" Redana berteriak di telinga Caca. Namun, Caca sama sekali tak bergeming. Seolah terhipnotis, Caca hanya diam menatap kosong ke depan. Hawa panas masih saja menguar dari tubuh Caca. Tubuhnya sudah banjir keringat. Meskipun angin menerpa sejak tadi, sama sekali tidak membantu. Caca yang masih saja banjir keringat dengan baju basah, seolah habis tercembur di kolam berenang. Redana berusaha memapah Caca masuk ke dalam rumah, setelah berhasil mendarat dengan selamat di halaman depan rumah. Ia lalu membuka pintu dan disambut sorakan heboh cowok-cowok yang merupakan teman Rafka sedang asyik bermain ps. Samuel menjadi yang pertama sadar kedatangan Caca bersama Redana. Ia bergegas mendekat dengan wajah khawatir. "Ca, kamu kenapa?" tanyanya gusar. Namun, saat Samuel henda

