Bagian 22

1051 Kata
Jam istirahat akhirnya berbunyi, Khai memutarkan badannya agar ia bisa melihat Axel. Ia akan menjalankan nasihat yang diberikan oleh Lamia. Apa yang dikatakan Lamia tidaklah salah, ia juga harus memiliki citra yang baik di mata Axel. Oleh karenanya Khai akan memberitahukan kepada Axel jika ia akan pergi bersama dengan Calla nanti. "Ada apa, Khai?" Tanya Axel langsung. Padahal Khai sama sekali belum mengatakan apapun. "Wajah lo itu menunjukkan kalau lo mau ngomong sama gue," sambung Axel. Khai menganggukkan kepala tanya mengerti. "Hm.. gini Xel. Gue sehabis pulang sekolah ini mau jalan sama Calla. Lebih tepatnya mau cari buku, sih. Gue mau izin aja sama lo, takutnya lo khawatir kenapa Calla pulang lama." Axel berdiri dari duduknya. Ia berjalan mendekati Khai dan menepuk pundak Khai. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Axel menganggukkan kepalanya dan setelahnya ia melepaskan tangannya dari pundak Khai. "Cabut!" Perintahnya. Setelah itu ia berjalan pergi diikuti oleh Dante dan Arlo. Axel meninggalkan Khai yang masih bingung dengan maksudnya. Ia tidak tau apakah Axel mengiyakan atau tidak.. "Di izinin tuh," ucap Lamia yang entah dari kapan sudah berada di belakang Khai. Khai kembali membalikkan badannya dan menatap Lamia. "Perasaan dia gak bilang ia. Lo tau dari mana dia izinin?" Tanya Khai masih dengan kebingungannya. "Kalo dia gak izinin, pasti dia udah mukul lo," jawab Lamia dengan santai. "Tapi dia tadi tepuk pundak gue.." Lamia memutarkan bola matanya malas. Melihat Khai seperti ini, Lamia tidak yakin Khai bisa melancarkan aksinya. Kadang Khai memang terlihat sangat lemot. Untung saja kelemotannya ditutupi oleh wajah tampan dan juga pintarnya dia. "Tepuk sama mukul beda jauh, Khai. Udah lah capek bicara sama lo!" Lamia memutuskan untuk pergi meninggalkan Khai yang masih diam memikirkan semuanya. Suasana di dalam kelas semakin sunyi karena banyaknya para murid yang memilih untuk keluar di jam Istirahat. Khai pun memutuskan untuk keluar dari kelas. Ia berpikir untuk memulai bersosialisasi dengan temannya yang lain. Tujuan Khai saat ini adalah kantin. Ia sebenarnya tidak suka dengan tempat yang ramai, tetapi mungkin Khai harus bisa memulai untuk membiasakannya. Khai memilih untuk duduk di pojok kantin. Karena tempat ini satu-satunya tempat yang tidak menjadi pusat perhatian banyak orang. Tetapi sebenarnya hal itu percuma untuk dilakukan Khai, pasalnya sudah banyak para murid perempuan yang menyadari kehadirannya dan bahkan juga memotret Khai tanpa izin. "b*****t ya lo!" Suara teriakkan itu membuat perhatian orang-orang teralihkan termasuk Khai. Dari kejauhan Khai dapat melihat Arlo yang sedang bertengkar dengan seorang murid. Tentu saja Arlo tidak sendiri, ia bersama dengan Axel dan Dante yang sedang duduk dengan santai di kursi. Arlo menyiramkan minuman kepada pria yang ada di depannya. Mereka memang sedang duduk di satu meja yang sama. Pria yang di siram itu hanya bisa diam tanpa melawan. Ia bahkan menundukkan kepalanya karena sudah dipermalukan mungkin. Tak banyak yang memotret kejadian itu. Khai yakin sebentar lagi kejadian ini akan masuk ke dalam web sekolah. "Lo itu harusnya tau diri, bodoh. Udah kita peringatkan dari kemaren juga. Kali ini sih hukuman Lo berat ya.. gue udah muak banget dengan semua tingkah laku lo ini," tutur Arlo kesal. Khai menoleh ke sekeliling kantin, ia sama sekali tidak melihat guru yang lewat dari sini. Khai sangat ingin mengadukan kejadian ini kepada guru. Mereka yang ada di sini seolah buta dengan kejadian-kejadian yang sedang mereka saksikan. Khai tidak tau kenapa demikian. Ketika fokus Khai masih ke meja Arlo, sebotol minuman di letakkan di meja Khai. Lamia. Dia sudah duduk di sebelah Khai dan juga sedang menyaksikan kericuhan yang ada di sana. "Bukannya tindakan seperti ini harus dilaporkan sama guru ya?" Tanya Khai tanpa mengalihkan pandangannya. Lamia tertawa kecil mendengar pertanyaan bodoh Khai. Pertanyaan yang sering dilontarkan oleh murid-murid baru seperti Khai ini dan hanya satu jawabannya. "Guru juga emangnya peduli?" Kalo ini Khai menoleh ke arah Lamia. Ia menatap Lamia dengan penuh tanda tanya. "Biasanya enggak emang? Tapi kan mereka yang harusnya menertibkan suasana seperti ini." Khai sangat tidak mengerti sistem pendidikan di sekolah ini. "Ada.. ada satu guru yang sangat peduli sama murid di sini. Jujur dan yang paling pintar adil. Dia sangat benci dengan pembullyan dan ingin memusnahkan pembullyan terlebih lagi di sekolah. Tapi belum sampai satu bulan dia mengajar di sini, tiba-tiba guru itu sudah menghilang tanpa jejak. Dengarnya sih di pecat, aja juga yang bilang kalau dia ikut dibully karena tindakannya itu. Makannya dia cabut dari sekolah ini," jelas Lamia. Khai hanya menganggukkan kepalanya, tanda mengerti. Khai sedikit bersyukur, setidaknya masih ada guru yang perduli dengan keadaan di sekolah ini, ya walaupun hanya sebentar saja. Penampilan pria yang sedang di bully sudah sangat berbeda. Ia bahkan sudah sangat berantakan. Banyak sekali sayur-sayuran yang tergantung di wajah dan juga badannya. Khai tidak tau dari mana mereka mendapatkan sayur-sayur seperti itu. Suara tawa mulai terdengar, para murid tertawa karena melihat penampilan dari pria yang sedang dibully. "Mereka itu enggak akan ada yang terluka, Khai. Bahkan gue yakin misi lo mungkin akan sedikit sulit. Karena yang sedang lo hadapi di sini bukan orang sembarangan. Sekolah saja menutupi kasus yang sudah banyak mereka lakukan. Bahkan sampai membuat para korban bunuh diri." Lamia sudah mulai pesimis dengan misi yang akan ia kerjakan bersama dengan Khai. "Karena itu gue datang, Lamia. Gue sendiri yang akan menghancurkan kejayaan mereka. Lo lihat aja nanti, misi ini pasti berhasil." Khai mencoba untuk optimis dengan apa yang sudah ia lakukan sejauh ini. Lamia tidak lagi membalas perkataan Khai, ia malah sibuk memakan makanan yang sudah ia pesan tadi. Tentunya dengan tontonan drama yang sedang berjalan tak jauh darinya. Tak lama kemudian, Axel, Arlo dan Dante berjalan pergi meninggalkan orang yang mereka bully dan juga kantin. Padahal mereka sama sekali tidak memakan dan meminum yang ada di kantin ini. Mungkin tujuan mereka ke sini memang untuk melakukan pembullyan saja. Para murid juga mulai bubar dari gerombolan yang tadi terlihat jelas. Hanya tersisa pria yang tadi di bully oleh kelompok Axel. Dia masih menundukkan kepalanya tanpa berani menatap ke arah manapun. Khai yang melihat itu sangat ingin menghampiri pria itu untuk menenangkannya. Mungkin dia hanya butuh seseorang untuk menemaninya di sana. Khai sangat ingin melakukannya. "Jangan pikir yang aneh-aneh, Khai. Kalo Lo bantuin dia, Lo akan jadi korban Axel. Lo mau? Enggak kan.. makannya jangan aneh-aneh pemikiran lo," tutur Lamia santai. Khai tidak tau kenapa Lamia bisa terus-terusan membaca apa yang sedang ia pikirkan. Lamia semakin hari semakin aneh menurutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN