PART THIRTEEN

1916 Kata
Ketika malam tiba, akhirnya Lex dan Myesha kembali. Ku hampiri Lex ketika dia melambaikan tangan, memberi isyarat padaku agar mendekat. Kami berdua pergi keluar, taman belakang menjadi pilihan kami. Aku duduk di sebuah ayunan sedangkan Lex sedang duduk di kursi yang selalu diduduki Arsen dikala sedang melukis.  “Kau pergi ke mena seharian ini? Aku mencarimu.”  Lex menoleh padaku, tiba-tiba mengulurkan tangan kanannya yang dia daratkan di puncak kepalaku. Seperti biasa, dia mengusap kepalaku lembut. Salah satu perlakuan lembutnya yang berhasil meluluhkan hatiku sejak dulu.  “Maaf ya. Aku harus mengantar Myesha pergi ke beberapa tempat.” “Kalian pergi ke mana?” tanyaku. “Hm, dia mengajakku ke kampusnya. Lalu menemaninya belanja.” “Belanja?”  Lex mengangguk, “Dia membelikanku banyak pakaian. Padahal aku tidak memintanya. Bukankah dia sangat perhatian?”  Lex tersenyum lebar di akhir ucapannya, wajahnya berbinar senang sepanjang dia menceritakan pengalamannya hari ini bersama Myesha. Sudah sangat lama aku bersama Lex, dan baru kali ini kulihat dia sebahagia itu.  “Oh, iya. Ada beberapa pakaian yang juga dibeli untukmu.” Lex mengulurkan sebuah plastik yang sejak tadi dia tenteng di tangannya. Kupikir apa isinya, ternyata saat aku membukanya, ada beberapa pakaian di dalamnya. Juga sebuah sepatu untuk alas kaki.  “Pakaian yang kau pakai itu pemberian siapa?” “Mother Cassandra,” jawabku jujur. “Pakaian itu sepertinya sudah kuno. Aku memilihkan pakaian yang sering dipakai gadis-gadis yang kutemui di pusat perbelanjaan. Semoga kau menyukainya.”  Aku mengeluarkan beberapa pakaian yang terbungkus plastik.  “Aku sengaja memilihkan celana untukmu agar kau lebih bebas bergerak. Juga beberapa kaos untukmu ganti nanti.”  “Oh, iya. Ada sepatu juga untukmu.” Dengan semangat, Lex mengeluarkan sepasang sepatu dari dalam plastik. Tanpa permisi dia menarik kedua kakiku yang menggantung, lalu memakaikan sepatu itu.  “Bagaimana? Sakit tidak dipakainya?”  Aku menggeleng, sepatu ini terasa nyaman saat dikenakan.  “Aku menerka-nerka ukuran kakimu, untunglah pas sekali ya.” “Kau yang memilihkan semua pakaian dan sepatu ini untukku?” “Tentu saja. Aku berusaha memilihkan pakaian dan sepatu yang akan membuatnya nyaman. Sepatu itu Myesha menyebutkan sneakers. Dibanding sepatu berhak seperti yang dipakai Myesha, aku yakin sepatu itu lebih nyaman untukmu, kan?”  Aku mengangguk, terharu karena Lex begitu mempedulikan aku.  “Aku meminjam uang pada Myesha untuk membelikan semua ini untukmu. Jangan khawatir, nanti aku akan menggantinya.” “Bukan Myesha yang membelikannya?”  Lex menggeleng, “Myesha berencana memberikan pakaian miliknya untukmu. Aku pikir, tidak ada salahnya membelikanmu pakaian baru. Walaupun nanti sepertinya kau harus menerima pakaian bekas Myesha. Tidak apa-apa, kan?”  Aku tersenyum kecil, soal pakaian atau apa pun kebutuhanku di daratan ini, aku tak terlalu mempedulikannya. Bahkan sekalipun aku hanya mengenakan gaun yang diberikan Mother Cassandra ini, aku tidak keberatan. Karena yang kuinginkan hanyalah membawa Lex secepatnya kembali ke Atlantis.  “Bagaimana dengan kakak Myesha? Myesha bilang hari ini dia akan menjelaskan tugas-tugasmu sebagai pelayannya.”  Sempat terlintas di benakku untuk menceritakan kejadian yang kualami hari ini. Ingin kukatakan betapa menyebalkan pria bernama Arsen. Aku tidak betah di sini dan ingin secepatnya kembali ke Atlantis. Namun, aku tahu bukan saatnya untuk mengeluh. Sampai tujuanku untuk membawa Lex kembali tercapai, aku harus bertahan.  “Besok aku bisa mulai bekerja.” “Bagaimana dengan kakak Myesha? Dia baik, kan?”  Aku tersenyum miris, baik apanya. Dia sangat jahat dan kejam. Kata-katanya pedas dan selalu membuatku kesal. Tentu saja semua yang kukatakan ini hanya mampu ku pendam dalam hati.  “Dia baik. Aku sedang berusaha beradaptasi dengannya.”  Faktanya itulah yang kukatakan pada Lex.  “Baguslah. Aku tenang sekarang.” Lex menggenggam tanganku begitu erat, mengusap punggung tanganku dengan lembut seolah dia sedang menyalurkan kehangatan tubuhnya padaku.  “Jika pria itu membuatmu kelelahan atau menyakitimu, katakan saja padaku. Aku pasti akan memberinya pelajaran. Tidak ada yang boleh menyakiti sahabatku Ashley.” Saat mengatakan ini, dia menyampirkan ke belakang rambut panjangku yang tergerai ke depan.  “Aku masih heran kenapa kau nekat datang ke daratan. Apa sesulit itu hidupmu tanpa aku di Atlantis? Padahal di sana ada orangtuamu, ada teman-temanmu juga.”  “Aku sudah terbiasa ada kau di sampingku, rasanya aneh tidak ada kau. Seperti ada sesuatu yang hilang dalam hidupku.”  Lex mendengus kasar, “Itu karena kau selalu menempel padaku. Kau harus belajar hidup mandiri. Tidak mungkin kan kita bisa bersama selamanya.”  Aku terdiam mendengar perkataannya yang lagi-lagi serasa menikam jantungku. “Kita bisa terus bersama jika menjadi pasangan.” Entah dari mana keberanian itu datang hingga kalimat ini meluncur dengan mulus dari mulutku.  Lex menatap tanpa ekspresi ke arahku sebelum tiba-tiba dia tergelak dalam tawa. “Pasangan? Aku dan kau?” Dia kembali tertawa setelah menunjuk dirinya dan diriku bergantian.  “Kau itu sahabat baikku, Ashley. Hubungan kita bahkan sudah lebih dari sekadar sahabat. Mungkin lebih pantas disebut seperti saudara.”  Tanganku terkepal di atas pangkuan. Oh, begitu. Jadi aku tidak lebih dari sekadar sahabat yang sudah dia anggap saudara sendiri. Wajar bukan jika aku sakit hati mendengar pria yang kucintai bertahun-tahun lamanya mengatakan itu di depanku?  “Lex.”  Lex menghentikan tawanya setelah mendengar gumamanku yang memanggil namanya.  “Kenapa kau mencintai Myesha padahal kalian belum lama bertemu dan tinggal bersama? Bisa kau sebutkan alasannya?”  Lex terdiam, bibirnya terkatup rapat, pandangannya lurus ke depan. Yang membuat kepalan tanganku semakin erat karena kulihat bibirnya mengulas senyum tipis seolah memikirkan tentang Myesha membuatnya senang.  “Aku merasa nyaman di dekatnya. Aku bahagia saat melihatnya tersenyum dan aku marah saat melihatnya bersedih, sama halnya seperti yang kurasakan padamu. Hanya saja perbedaannya ada keinginan untuk memiliki Myesha, sedangkan kau ... aku tak ada keinginan untuk memilikimu. Yang kuharapkan darimu hanyalah melihatmu terus hidup dan bahagia.”  Aku menggigit bibir bawah yang bergetar, ini adalah cara yang kulakukan untuk menahan mati-matian air mataku agar tidak meluncur keluar. Sungguh aku sedih sekali mendengar pengakuannya ini. Seharusnya aku tidak pernah bertanya.  “Myesha juga misterius, banyak hal tentangnya yang belum kuketahui, mungkin ini salah satu alasanku tertarik padanya.” “Kau terlihat bahagia, Lex,” ujarku karena malam ini kulihat bibirnya selalu mengembang membentuk senyuman. Sangat berbeda jauh dari Lex yang kukenal dulu yang selalu murung dan menyendiri sepanjang waktu.  “Tentu aku bahagia karena mulai sekarang aku dan Myesha akan selalu bersama. Aku akan menjaganya dan melakukan apa pun yang dia inginkan.”  Lex menarik tanganku lebih mendekat ke arahnya. Aku turun dari ayunan dan yang terjadi setelahnya membuatku tak sanggup lagi menahan lelehan air mata ini.  Lex memelukku erat, dia mengusap-usap punggungku dengan gerakan perlahan dan lembut. “Aku sudah menemukan kebahagiaanku. Kuharap kau juga, Ash. Sudah kukatakan, kau juga harus bahagia,” katanya.  Bagaimana jika kukatakan, kebahagiaanku hanyalah bisa bersamamu? Kebahagiaanku adalah ketika perasaan cintaku ini terbalaskan. Tapi sepertinya keinginan ini hanya akan menjadi angan-angan semu. Aku dan kau, mungkinkah tidak ditakdirkan bersama?  Dan lagi-lagi semua kalimat itu hanya mampu kuutarakan dalam hati karena nyatanya mulutku terkatup rapat, tak mampu membalasnya.   ***    Seperti yang diajarkan nenek Lana, pagi-pagi sekali aku mendatangi kamar Arsen. Kupikir dia masih tertidur di ranjang empuknya, nyatanya tidak. Saat aku masuk ke dalam kamarnya, kudapati dia sedang menyandarkan punggung di kepala ranjang dengan sebuah buku dalam genggaman tangannya.  Dia menoleh begitu mendengar suara langkahku, membuatku gugup karena teringat pertengkaran kami kemarin.  Hanya sepersekian detik dia menatapku karena setelahnya dia kembali memfokuskan atensinya pada buku. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan sekarang, jadi aku hanya berdiri mematung cukup jauh dari ranjangnya.  “Kau ini bukan patung, kan?”  Aku tersentak ketika suara baritone-nya menyapa, dia mendelik tajam padaku. Sial, aku tak tahu harus bereaksi seperti apa di depannya. Rasanya sangat canggung dan tidak nyaman. “T-tentu saja bukan. Aku makhluk hidup.” Tak kukatakan manusia karena faktanya aku bukan manusia. Tidak mungkin juga kukatakan aku ini seorang mermaid bukan? Identitasku harus tetap dirahasiakan.  “Kenapa kau hanya diam di situ?” “A-Aku menunggu perintah anda.”  Arsen berdecak seolah jawabanku ini sebuah kesalahan. Dia meletakkan bukunya kasar di atas nakas.  “Apa Nenek Lana belum menjelaskan tugas-tugasmu?” “Sudah,” jawabku. “Nenek Lana menyuruhku untuk bertanya apa yang ingin anda lakukan pagi ini.” “Terus kenapa tadi kau tidak bertanya? Kenapa hanya diam seperti patung?” “Tuan Muda sedang membaca buku, aku tidak ingin mengganggu.”  Arsen berdecak lagi, dia menyingkapkan selimut yang menutupi kakinya hingga pinggang. Tampak kesulitan menurunkan kakinya, aku bergegas menghampiri untuk membantu.  Nenek Lana bilang tubuh bagian bawah Arsen lumpuh total sehingga butuh bantuan orang lain jika ingin bergerak.  Aku memapahnya, dengan perlahan membantunya menurunkan kedua kakinya dari ranjang.  “Ambil kursi roda itu,” titahnya, tanpa perlawanan kuturuti keinginannya.  Kudorong kursi roda yang diletakan tak jauh dari ranjang, kudekatkan kursi roda itu padanya. Kembali kupapah dia saat dari gerak-geriknya kuterka dia ingin duduk di kursi roda tersebut.  “Aku ingin mandi. Siapkan bathtub untukku berendam.” Aku mengerjap berulang kali, mengingat-ingat yang diajarkan nenek Lana. Seingatku, yang harus disiapkan adalah bak mandi diisi penuh dengan air hangat karena Arsen akan berendam di sana.  Tanpa kata aku pun melangkah menuju kamar mandi.  “Tunggu sebentar.”  Namun terhenti karena panggilan itu. Aku kembali menoleh ke arah Arsen.  “Satu-satunya alasanku menerimamu sebagai pelayan karena aku suka kejujuranmu,” katanya. Benar juga, aku memang penasaran akan hal ini. Syukurlah dia menjelaskan tanpa kuminta.  “Meskipun kau mengaku makanan kemarin itu kau yang memasaknya, aku tidak mungkin tertipu. Hanya mencicipinya sekilas pun, aku tahu makanan itu dibuat Nenek Lana. Jangan diulangi lagi, meminta bantuan orang lain agar kau terlihat berguna.”  Aku kesal mendengarnya, namun berusaha kutahan agar tidak meledak-ledak seperti kemarin atau aku akan berakhir diusir dari rumah ini.  “Kau harus banyak belajar pada nenek Lana agar bisa berguna. Kuberi kau waktu satu minggu, jika kau tetap tidak berguna maka aku tidak akan segan-segan memecatmu.” “Baik, Tuan Muda,” sahutku, memilih mengalah.  Aku benar-benar masuk ke kamar mandi. Di tempat inilah kuungkapkan semua kekesalanku. Pria itu tidak hanya menyebalkan tapi sangat kejam, dingin dan tak tersentuh. Rasanya mengerikan saat kubayangkan hari-hariku akan selalu diisi dengan mendengarkan semua celotehan pedasnya. Hiih ... aku bergidik membayangkannya.  Aku tidak kesulitan mengisi bak mandi sampai penuh dengan air hangat karena nenek Lana mengajarkan caranya padaku. Setelah tugasku selesai, aku berjalan mendekati pintu berniat kembali ke kamar.  “Maaf, Kak, baru menemuimu sekarang. Nenek Lana memberitahuku, kau mencariku sejak kemarin.”  Itu suara Myesha. Gerakan tanganku yang siap membuka pintu, kuurungkan detik itu juga. Entah kenapa ada rasa penasaran ingin mendengar pembicaraan mereka.  “Katakan yang sejujurnya padaku, siapa mereka berdua? Kenapa kau membawanya ke rumah kita?”  Suara Arsen mengalun, yang dia tanyakan mungkinkah aku dan Lex? Pembicaraan mereka semakin membuatku berminat untuk menguping.  “Aku mengenalmu, Myesha. Tidak mungkin kau mengajak orang sembarangan ke rumah kita. Jangan berbohong, ceritakan semuanya padaku sekarang juga. Siapa mereka dan apa alasanmu mengajak mereka ke rumah kita?”  Arsen kembali melontarkan tanya karena Myesha yang tak kunjung menyahut.  “Ketika di Hawaii, aku nyaris tenggelam di laut. Lex dan Ashley yang menyelamatkanku.” “Hanya karena mereka menyelamatkanmu, kau mengajak mereka ke rumah kita?” “Awalnya aku hanya berniat mengajak Lex, tidak dengan Ashley. Gadis bodoh itu yang nekat mengikuti kami.”  Aku mengernyitkan dahi, ternyata dugaanku benar sejak awal dia mengincar Lex.  “Pria  bernama Lex itu, memang apa keistimewaannya sampai kau membawanya kemari?” Arsen kembali bertanya. “Apa kau jatuh cinta padanya?”  Aku tersentak tak menyangka Arsen akan langsung bertanya pada intinya. Jantungku berdebar cepat menantikan jawaban Myesha meski menurutku dia mengajak Lex pasti karena dia jatuh cinta padanya. Dia ingin memonopoli Lex agar menjadi miliknya seorang, ya inilah yang selalu kupikirkan tentang Myesha.  “Jangan bercanda, mustahil aku jatuh cinta pada pria yang baru kukenal beberapa hari.”  Dan lagi-lagi aku tersentak mendengar jawaban Myesha.  “Aku membawa Lex kemari karena dia bisa berguna untuk kita.”  Napasku berubah putus-putus, terkejut, kecewa sekaligus marah mendengar pengakuan Myesha.  “Lex bukan pria sembarangan, Kak. Dia memiliki kemampuan luar biasa. Dia bisa membalaskan dendam kita pada keluarga Mikelson. Ya, inilah alasanku membawa Lex, aku akan membuatnya mewujudkan ambisi balas dendam kita untuk menghancurkan musuh bebuyutan kita.”  Tak ada lagi yang bisa kulakukan selain membulatkan mata, pemikiranku tentang Myesha yang jatuh cinta pada Lex ternyata salah besar. Dia ... memiliki rencana mengerikan yang akan melibatkan Lex.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN