“Ayo cepat turun.”
Myesha memberikan perintah, sedangkan aku masih duduk di dalam mobil dengan tatapan yang sepenuhnya tertuju pada gedung di depanku. Entah kenapa aku enggan untuk masuk ke dalam gedung itu, rasanya hatiku takut dan khawatir sesuatu yang buruk akan menimpaku di dalam sana.
“Tunggu apa lagi? Cepat turun, Ashley!”
Myesha membentakku, mungkin kesal karena aku yang masih diam di dalam mobil. “Memangnya apa yang harus aku lakukan di dalam sana?”
“Ck, sudah kubilang jangan banyak bertanya, nanti juga kau akan tahu sendiri. Lagi pula jangan lupa janjimu, kau hanya perlu mematuhi semua yang aku perintahkan. Sekarang cepat turun, jangan membuatku kesal.”
Akhirnya aku memilih menurut, aku turun dari mobil dan mengikuti Myesha yang berjalan di depanku memasuki gedung tersebut.
Begitu masuk di dalam gedung, keramaian seketika menyapa kami. Begitu banyak manusia yang sedang berada di sini dan yang paling membuatku tidak nyaman karena terdengar suara yang begitu memekakan telinga. Namun, manusia-manusia ini tak terlihat terganggu dengan suara keras itu, melainkan mereka menikmatinya seraya menggerakan tubuh mereka seperti sedang menari.
Aku yang tak tahan dengan suara bising ini pun membekap kedua telingaku, berharap suara keras ini bisa sedikit berkurang, nyatanya semua usahaku sia-sia karena tetap saja suara ini begitu jelas terdengar.
“Myesha, kenapa kita datang ke sini? Di sini berisik sekali, kita pulang saja, ya,” ajakku, berharap Myesha akan mengabulkan keinginanku ini walau sudah bisa kutebak mustahil dia akan mengabulkannya.
“Huh, ini tempat tujuan kita jadi mana mungkin kita pulang sekarang. Kau harus menjalankan tugasmu dulu baru kita pulang. Itu pun kalau kau berhasil menjalankan tugas dengan baik.”
Aku menjauhkan kedua tangan dari telinga karena ingin mendengar apa tugas yang harus kulakukan hingga Myesha membawaku ke sini. “Memangnya apa yang harus aku lakukan?” Hingga pertanyaan itu pun meluncur dengan sendirinya dari mulutku.
Myesha tak langsung menjawab, terlihat dia mengedarkan tatapannya ke sekeliling tempat ini hingga tatapannya terhenti saat tertuju pada seorang pria yang sedang duduk seorang diri, berada cukup jauh dari tempat kami berdiri.
“Kau lihat pria itu?” tanya Myesha secara menunjuk si pria.
Aku pun mengangguk. “Ya, aku melihatnya.”
“Dialah target pertama yang harus kau hancurkan.”
“Apa dia termasuk musuhmu?”
Myesha mengangguk. “Ya, dia salah satu anggota keluarga Mikelson. Namanya Shadam, dia suami anak tertua keluarga Mikelson. Gladys namanya.”
Aku tak mengatakan apa pun, menanti dengan was-was tugas apa yang akan diberikan Myesha padaku sebentar lagi.
“Gladys sangat mencintai suaminya dan aku yakin hidupnya akan hancur jika suaminya tidak ada lagi di sampingnya.” Myesha menyeringai lebar membuatku meneguk ludah tanpa sadar. Bisa kurasakan aura kebencian yang amat besar menguar dari dalam tubuh Myesha.
“Jadi, tugasmu sekarang adalah kau harus mendekati pria itu. Goda dia dan buat dia tergila-gila padamu.”
Aku pun melongo. “Hah? Apa maksudnya aku harus menggoda pria itu?”
Myesha berdecak. “Masa kau tidak paham maksudku? Kau dekati dia, ajak dia mengobrol dan buat dia jatuh cinta padamu.”
“Kenapa harus begitu? Kenapa aku harus membuat pria itu jatuh cinta padaku?”
Myesha memutar bola mata, mungkin mulai jengkel padaku yang terus bertanya. “Sudahlah, aku bingung bagaimana cara menjelaskannya padamu agar kau mengerti karena kau ini memang sangat bodoh dan polos. Intinya lakukan saja seperti yang aku perintahkan. Cepat kau hampiri dia, ajak dia berkenalan dan goda dia sebisamu.”
Aku tertegun mendengar serentetan perintah yang diberikan Myesha padaku. Jadi, ini alasan dia membelikan aku pakaian seksi dan merias wajahku sedemikian rupa, ternyata dia menyuruhku menggoda seorang pria asing yang baru pertama kali aku temui.
“Ashley, kenapa malah berdiri di sini? Cepat ke sana dan dekati pria itu.”
“Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya menggoda seorang pria.” Aku tidak berbohong karena seumur hidupku, tidak pernah sekalipun aku menggoda seorang pria. Jangankan menggoda pria, aku bahkan tak pernah dekat dengan pria mana pun selain Lex. Aku tak pernah dekat dengan satu merman pun selain Lex selama menetap di Atlantis.
“Mana mungkin kau tidak tahu caranya,” ucap Myesha yang terlihat jelas tidak mempercayainya.
“Sungguh aku tidak pernah menggoda pria sebelumnya.”
“Lalu pada Lex? Apa itu namanya bukan menggoda? Kau selalu bersikap manja di depan Lex.”
“Lex berbeda, dia sahabatku sejak kecil. Aku tumbuh besar dengannya jadi wajar bukan jika kami dekat?”
“Memang wajar kalian dekat, tapi tidak wajar kau yang selalu bersikap manja padanya. Kau bahkan selalu menempel padanya, tidak mau berjauhan dengannya. Lakukan hal yang sama pada pria itu. Dekati dia, goda dia agar terpesona olehmu.”
Myesha menelisik penampilanku mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. “Lagi pula kuakui kau sangat cantik, apalagi dengan pakaian dan dandanan seperti ini. Aku yakin pria seperti Shadam akan tergoda olehmu.”
Lalu Myesha tiba-tiba mendorong punggungku agar pergi, dia benar-benar memaksaku agar pergi mendekati pria bernama Shadam itu.
“Cepat pergi, Ashley. Jangan membuatku kesal dan marah.”
“Aku benar-benar tidak bisa melakukannya, Myesha.”
Myesha mendengus keras. “Kau bilang akan membuktikan kalau kau bisa menggantikan Lex, lalu mana buktinya? Sekarang saja kau menolak menjalankan tugasmu.”
Aku diam seribu bahasa, Myesha sangat cerdas menemukan cara untuk meyakinkanku sehingga aku tak memiliki pilihan selain melakukan seperti yang diperintahkannya.
“Kalau kau memang tidak bisa melakukannya, kita batalkan saja kesepakatan kita. Aku akan kembali pada rencana awal yaitu meminta Lex …”
“Aku akan melakukannya.” Aku menyela dengan cepat karena sudah bisa menebak apa yang akan dia katakan. “Aku akan mendekati dan menggoda pria itu seperti yang kau minta.”
“Katanya kau tidak bisa melakukannya. Bukankah barusan kau menolak?”
“Aku akan mencobanya,” sahutku cepat. “Kau tunggu saja di sini dan lihat aku pasti bisa menjalankan tugasku dengan baik.”
“Yang kubutuhkan itu bukti, bukan hanya omong besar. Jadi, coba kau buktikan ucapanmu sekarang juga. Pergi sana, jangan membuang waktuku lagi!”
Dengan kasar Myesha mendorong punggungku sekali lagi sehingga aku nyaris jatuh tersungkur, beruntung keseimbangan tubuhku cukup bagus sehingga aku tak sampai terjatuh. Aku mendelik tajam pada Myesha sebelum kembali melanjutkan langkah, tentu saja tujuanku adalah meja yang ditempati pria bernama Shadam. Dia masih duduk sendirian seraya meneguk minuman dalam gelas.
Aku berdeham setelah berdiri tepat di belakangnya, membuat pria itu menoleh padaku. Jujur sekarang aku gugup bukan main, jantungku berdetak cepat hingga aku khawatir orang di dekatku ini akan mendengar suara detakannya, ini pertama kalinya aku mengajak seorang pria asing berbincang terlebih dahulu.
“Ya, Nona. Ada yang bisa aku bantu?” tanya Shadam, bisa kulihat tatapannya begitu menusuk, tertuju pada wajahku dan sekujur tubuhku. Pria ini sedang menelisik penampilanku.
“Hm, boleh aku duduk bersamamu, Tuan?”
Shadam mengulas senyum. “Tentu. Silakan duduk.”
Aku memaksakan diri untuk balas tersenyum sebelum mendudukan diri di kursi tepat di samping kursi yang Shadam duduki.
“Padahal masih banyak meja yang kosong, kenapa Nona memilih duduk bersamaku di sini?”
Ditanya seperti ini, aku kembali merasakan kegugupan tiada tara. Aku tak tahu harus beralasan apa karena tak mungkin kukatakan yang sebenarnya bahwa aku datang ke sini karena menuruti perintah Myesha.
Aku sempat melirik ke arah di mana kutinggalkan Myesha tadi, sempat terkejut karena tak menemukan wanita itu di mana pun, aku berpikir dia pergi meninggalkanku sendirian di sini. Namun, pemikiranku terbukti tak benar ketika kutemukan dia sudah menempati salah satu meja yang jaraknya cukup dekat dengan mejaku dan Shadam. Myesha kini sedang menatap tajam padaku, terlihat jelas dia sedang memantau apakah aku menjalankan tugasku dengan baik.
Aku berdeham untuk menormalkan kembali diriku yang gugup dan panik ini. Kembali kutatap Shadam yang menjadi lawan bicaraku. “Karena kita sama-sama sendiri jadi aku memilih duduk di sini untuk mencari teman mengobrol.” Kucoba menjawab seperti ini, entah jawabanku ini masuk akal atau tidak, aku hanya berharap Shadam tak mencurigai apa pun.
Shadam mendengus. “Padahal masih ada orang lain yang juga sedang duduk sendirian, kenapa Nona malah memilih aku?”
“Hm, karena hati kecilku mengatakan kau orang yang tepat untuk diajak berbincang. Maaf jika kau terganggu dengan kedatanganku, aku akan pergi ke tempat lain kalau begitu.”
Aku bermaksud berdiri dan mungkin akan pergi jika tak berhasil membujuk Shadam agar mengizinkanku duduk bersamanya. Namun, siapa sangka sebelum sempat bangkit berdiri, salah satu tanganku ditangkap oleh pria itu.
“Hanya bercanda, Nona. Tentu saja kau boleh duduk di sini. Aku justru senang karena kau memilihku, sekarang aku tidak sendirian lagi. Ngomong-ngomong kita belum berkenalan.” Shadam mengulurkan tangan kanannya padaku, aku tahu ini cara manusia berkomunikasi dan saling berkenalan jika pertama kali bertemu dengan orang asing.
Tanpa ragu aku menerima uluran tangannya. “Ashley,” ucapku mencoba mengenalkan diri.
Pria itu mengulas senyum. “Shadam. Sepertinya kita akan membicarakan banyak hal malam ini.”
Aku hanya tersenyum tipis mendengarnya, lalu aku menoleh sekilas ke arah Myesha. Kulihat dia sedang tersenyum lebar seraya mengangkat kedua ibu jarinya, kusimpulkan itu karena dia menganggap aku telah menjalankan tugasku dengan baik. Walau aku tahu ini hanya permulaan, aku tak tahu setelah ini tugas seperti apa lagi yang akan diberikan Myesha padaku untuk menghancurkan pria bernama Shadam ini.