Setelah cukup lama duduk di pinggir laut untuk menunggu pakaianku kering, aku pun memutuskan untuk beranjak bangun. Dengan gerakan perlahan aku coba berdiri, nyaris terjatuh ketika kedua kaki baruku ini terasa sulit menapak di tanah. Aku sungguh tak biasa berjalan dengan dua kaki karena biasanya aku akan berenang-renang bebas di lautan.
Aku terus berusaha berdiri meski berulang kali harus terjatuh. Aku tak menyerah, jika Lex saja bisa berjalan dengan dua kaki, maka aku pun pasti bisa melakukannya.
Akhirnya kegigihanku tidak sia-sia, aku berhasil berdiri tegak dengan kedua kaki dan sungguh aku senang tiada tara.
Namun, rupanya kesulitanku tak selesai sampai di sana, kini aku kesulitan untuk berjalan. Awalnya, aku menggerakan kedua kakiku dengan perlahan, sangat perlahan hingga aku merasa cara berjalanku sangat mirip dengan siput. Bahkan cara berjalan kepiting yang hilir mudik di pasir putih terlihat lebih cepat dariku. Sungguh menyedihkan.
Sedikit demi sedikit aku menggerakan kakiku hingga perlahan aku pun mulai mengerti caranya berjalan dengan dua kaki. Aku tersenyum lebar ketika berhasil berjalan beberapa langkah, walaupun tampak tak normal karena aku kesulitan berjalan lurus. Aku akan sempoyongan atau berjalan miring. Tidak masalah asalkan aku bisa beranjak pergi dari tempatku tadi.
Setelah cukup lama berjalan dengan langkah pendek dan pelan, aku bisa melihat area yang dipenuhi banyak manusia. Mereka hanya mengenakan pakaian minim dan berbaring di atas pasir putih dengan benda aneh yang menutupi kedua mata mereka. Nama benda itu aku tak tahu, aku hanya menerka benda itu terbuat dari kaca berbentuk bulat untuk membingkai mata mereka.
Aku tak tahu apa yang sedang mereka lakukan, namun di mataku mereka terlihat seperti para lumba-lumba yang sedang berjemur di pinggir laut. Kami bangsa mermaid tidak pernah melakukan hal seperti itu. Wajar bukan jika aku tak tahu apa yang sedang dilakukan para manusia itu. Pria dan wanita saling berbaring bersama, menatap ke arah laut untuk menikmati pemandangannya. Aku jadi membayangkan, pasti menyenangkan jika aku dan Lex bisa bersama seperti mereka.
Aku cepat-cepat menggeleng, bukan saatnya berkhayal. Aku harus bergegas menemukan Lex dan membawanya pulang ke Atlantis.
Mengingat tujuan utamaku datang ke daratan, aku pun kembali melanjutkan langkah.
Aku berpegangan pada dinding bangunan begitu aku tiba di area yang dipenuhi bangunan-bangunan. Aku berjalan dengan tanganku yang terus berpegangan, rasanya sungguh melelahkan berjalan dengan dua kaki. Berenang dengan ekor jauh lebih ringan dan mudah. Mungkin karena aku belum terbiasa menggunakan sepasang kaki ini.
Aku terus berjalan, sebisa mungkin mengabaikan beberapa manusia yang memandangiku. Entah penampilanku yang aneh atau cara berjalanku yang tidak normal bagi mereka. Aku tak peduli karena tujuanku datang ke sini bukan untuk menjadi tontonan mereka. Lex ... Lex ... aku harus segera menemukan merman itu.
Aku menoleh tatkala telingaku mendengar suara tawa beberapa manusia di dekatku. Ketika ku pandangi mereka, aku baru sadar aku lah yang sedang mereka tertawakan karena pandangan mereka sepenuhnya tertuju padaku. Aku membuang muka ke arah lain, para manusia itu sungguh jahat, memangnya kenapa jika aku berjalan sambil berpegangan pada dinding bangunan? Aku hanya sedang berusaha agar tidak terjatuh.
Aku berusaha mempercepat gerakan kakiku, tak tahan mendengar suara tawa yang semakin keras alih-alih berhenti. Aku juga sebisa mungkin tidak menatap ke arah mereka, aku menatap dinding yang didominasi warna putih. Hingga tiba-tiba aku memekik kaget ketika melihat sesuatu.
Di salah satu bangunan yang dindingnya ku jadikan pegangan, aku melihat deretan makanan manusia yang dihidangkan di dekat dinding terbuat dari kaca. Di antara makanan-makanan itu, ku lihat ada tumpukan ikan di sana. Mereka dalam kondisi mengenaskan dengan tubuh gosong dan mengering. Mulut mereka menganga, ku tebak mereka pasti menjerit kesakitan sebelum meregang nyawa, tanpa ku sadari air mataku menetes menyaksikan bangsaku sesama ikan dibunuh dan dijadikan makanan oleh manusia.
Aku tahu tak ada yang bisa ku lakukan untuk menolong mereka, ikan-ikan yang sudah mati itu. Lantas aku pun memalingkan wajah, kembali ku langkahkan kakiku agar berjalan lebih cepat. Aku ingin segera menjauh dari tempat yang menyuguhkan pemandangan teramat menyedihkan bagiku ini.
Hingga akhirnya aku tiba di sebuah tempat yang tak ku ketahui apa namanya. Aku melihat ada seorang pria sedang menyiapkan pembakaran. Ku tebak dia sedang bersiap untuk membakar sesuatu.
Aku mengangkat bahu merasa tak ada gunanya aku berlama-lama di sini karena aku tak melihat tanda-tanda keberadaan Lex. Aku pun berbalik badan bersiap mengambil arah lain.
“Tolong!”
Hingga gerakanku terhenti dikala telingaku menangkap suara seseorang yang meminta tolong.
Aku mengedarkan pandangan untuk mencari sumber suara. Sayangnya tak ku temukan seorang pun manusia yang dalam kondisi membutuhkan pertolonganku. Para manusia di sini hilir mudik dengan tawa yang sesekali meluncur dari mulut mereka. Terlihat pula beberapa dari mereka yang sedang berbincang. Jadi, mustahil salah satu dari mereka yang meminta tolong tadi.
“Tolong!”
Lagi, suara itu kembali terdengar. Sekali lagi aku menggulirkan bola mata ke sekeliling, hingga akhirnya aku menemukan sumber suara itu.
“Tolong aku!”
Aku mempercepat jalanku meski dengan susah payah, aku menghampiri pria tadi yang bersiap membakar sesuatu. Ada seekor ikan dalam genggamannya, dia meletakan ikan itu di atas sebuah papan, lalu tangan pria itu kini menggenggam sebuah benda tajam yang ku perkirakan akan dia gunakan untuk membunuh sang ikan.
“Berhenti!!” teriakku, sesaat sebelum pria itu mendaratkan benda tajam di tubuh sang ikan.
Pria itu menoleh padaku, dia mengernyit tampak kebingungan.
“Kenapa, Nona? Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya.
Aku meneguk ludah, tiba-tiba panik karena inilah pertama kalinya aku berbicara dengan manusia selain Myesha tentunya.
“Apa yang akan kau lakukan pada ikan itu?”
Saat menanyakan ini, telunjukku terarah pada si ikan yang masih berteriak meminta tolong. Tentu saja hanya aku yang bisa mendengarnya. Manusia di depanku ini tentunya mustahil bisa mendengarnya.
“Membelah tubuhnya untuk dibersihkan sebelum dibakar.”
Aku terbelalak mendengar jawabannya yang begitu santai dan tanpa rasa bersalah sedikit pun.
“Jangan!” teriakku tanpa sadar. “Jangan membunuhnya. Kasihan dia. Biarkan dia kembali ke lautan.”
Pria itu memicingkan mata, membuat kedua kakiku mundur tanpa sadar.
“Anda ingin memesan ikan bakar juga? Silakan masuk ke dalam restoran dan pesan pada salah satu pelayan kami di dalam,” katanya tiba-tiba, sebenarnya aku tidak mengerti maksudnya. Memangnya siapa yang ingin memesan ikan bakar? Justru aku ingin mencegah ikan malang yang akan dibakar itu. Suara teriakannya yang meminta tolong membuatku tak tega.
“Aku tidak ingin memesan ikan bakar. Aku ingin ikan itu. Tolong lepaskan dia.”
Aku kembali menunjuk ke arah ikan yang masih meronta karena pria itu menekan tubuhnya pada papan.
“Ikan ini sudah dipesan orang lain, Nona. Silakan masuk dulu saja ke dalam. Pelayan kami akan melayani anda.”
Aku menggeleng cepat, susah sekali memberitahu manusia ini agar mengerti maksudku.
“Ada apa ini?”
Aku tersentak kaget, sepertinya hal serupa dirasakan pria itu karena badannya berjengit seraya menoleh ke arah sumber suara. Kami dapati seorang pria bertubuh besar dengan wajah garang tiba-tiba keluar dari dalam bangunan.
Pria itu sangat mengerikan di mataku. Kedua matanya besar dengan banyak bulu di bagian dagunya, sangat mirip dengan para merman tua di Atlantis. Tubuhnya juga tinggi besar dengan rambut sebahunya yang bergelombang. Jika dibandingkan dengan Lex, pria itu bagai langit dan bumi perbedaannya.
Lex itu sangat tampan membuatku senyum-senyum sendiri jika membayangkan wajahnya. Sedangkan pria besar itu seperti monster bagiku, tubuhku merinding saat memandanginya.
“Ini, Tuan, Nona ini menginginkan ikan yang sudah anda pesan,” jawab si pria yang hendak membakar ikan.
Dibandingkan pria besar itu, menurutku pria bodoh yang ingin membakar si ikan malang jauh lebih tampan. Meski kadar ketampanannya tidak seberapa jika dibandingkan Lex.
“Ya sudah, berikan saja pada nona itu. Aku akan memesan makanan lain.”
Spontan aku tersenyum lebar, tak ku sangka pria seram itu ternyata jauh lebih baik dari perkiraanku.
“Berikan ikan itu padaku.”
Aku merentangkan kedua tangan agar ikan yang sudah nyaris kesulitan bernapas itu diberikan padaku.
Masih memasang wajah terheran-heran, pria itu akhirnya memberikan ikan di tangannya padaku. Setelah menerimanya, aku berjalan secepat yang ku bisa menuju laut. Aku harus segera mengembalikan ikan ini ke air atau dia akan mati karena tidak bisa bernapas.
“Bertahanlah. Aku mohon bertahanlah. Aku akan segera mengembalikanmu ke laut,” ucapku tiada henti, menguatkan sang ikan agar bertahan sebentar lagi.
Hingga ketika aku tiba di pinggir laut, aku pun bergegas meletakan ikan itu dengan perlahan.
Seketika si ikan yang lemas akhirnya kembali hidup dan bergerak lincah di dalam air. Aku mengusap dadaku lega, bersyukur aku menyelamatkannya tepat waktu.
“Terima kasih sudah menyelamatkanku,” kata ikan itu seraya menghampiriku.
Aku mengangguk antusias, “Syukurlah kau selamat. Sekarang pergilah sejauh mungkin, jangan sampai kau tertangkap manusia lagi.”
“Terima kasih. Kau juga kembalilah ke laut. Jangan terlalu lama di daratan. Manusia sangat berbahaya untukmu. Bukankah kau ini mermaid?”
Aku kembali mengangguk, “Benar. Aku mermaid. Jangan khawatir, aku akan secepatnya kembali ke laut.”
“Itu bagus. Kalau begitu sampai jumpa ... hmmm ...”
“Ashley. Namaku, Ashley.”
“Sampai jumpa lagi, Ashley. Terima kasih sudah menolongku.”
Aku melambaikan tangan ketika ikan itu akhirnya berenang cepat untuk kembali ke lautan.
“Kau bicara dengan siapa, Nona?”
Aku terkesiap, jantungku berdebar cepat ketika sebuah suara berat tiba-tiba terdengar dari arah belakang. Dengan takut-takut aku membalik badan, terbelalak mendapati pria besar tadi yang kini berdiri di hadapanku.
“Aku penasaran jadi aku mengikutimu ke sini. Kudengar kau bicara barusan. Kau bicara dengan siapa?”
Aku menggigit bibir bawahku, jika ku katakan aku bicara dengan ikan pasti pria itu tidak akan percaya. Lagipula aku juga tidak ingin identitasku sebagai mermaid diketahui olehnya. Mother Cassandra pernah bilang manusia akan gelap mata dan akan sangat berbahaya jika sampai mengetahui identitas asliku sebagai mermaid.
“Tidak ada. Aku tidak bicara dengan siapa pun,” sahutku bohong.
“Berarti aku salah mendengar.”
Aku mengulum senyum, sedikit lega karena pria itu sepertinya mempercayai kebohonganku.
Pria itu kini terdiam, dia memandangiku mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki, membuatku risih dibuatnya. Apa yang diinginkan pria ini dariku? Aku harus hati-hati.
“Aku belum pernah melihatmu di sekitar sini? Apa kau turis asing?”
Aku memiringkan kepala, turis asing? Apa maksudnya turis asing?
“Kau pendatang?”
Aku mengerjapkan mata kali ini. Pendatang? Untuk kata yang satu ini, aku memahaminya. Lantas aku pun mengangguk.
“Iya, aku pendatang,” jawabku sumringah.
“Oh, pantas aku baru melihatmu.”
“Aku datang ke sini untuk mencari seseorang.”
“Siapa? Mungkin saja aku mengetahui orang yang kau maksud?”
Aku tak tahu harus bereaksi apa sekarang, yang pasti aku sangat senang mendengarnya. Benar, tidak ada salahnya menanyakan tentang Lex padanya, tidak menutup kemungkinan dia pernah melihat Lex di sekitar sini.
“Aku mencari temanku. Seorang merm ... eh, maksudku seorang pria. Dia lebih tinggi dariku,” ucapku sembari menggambarkan tinggi badan Lex dengan tanganku, kakiku pun berjinjit untuk menggambarkan Lex yang lebih tinggi dariku. Pria itu mengangguk seolah paham maksudku.
“Dia sangat tampan. Memiliki rambut berwarna pirang bergelombang. Panjang rambutnya segini,” kataku sembari menunjuk punggungku. “Hidungnya sangat mancung dan dia memiliki iris mata yang gelap serta tatapannya sangat tajam. Tubuhnya kekar, dia sangat gagah. Dia juga ...”
“Siapa namanya?”
Pria itu menyela dikala aku belum selesai menjelaskan ciri-ciri Lex.
“Alexei Heather. Dia datang ke sini bersama seorang gadis cantik bernama Myesha Rawnie.”
Aku yakin wajahku berubah sendu sekarang karena setiap mengingat kebersamaan mereka, seketika hatiku sakit luar biasa. Air mataku pun memberontak meminta pembebasan, namun aku tahan sekuat yang aku bisa.
“Oh, sepertinya aku tahu mereka. Aku pernah bertemu mereka.”
Aku yang sedang menunduk bergegas mendongak, kedua mataku pasti sedang berbinar senang sekarang.
“Benarkah?” tanyaku memastikan.
“Ya. Mereka menginap di hotel yang sama denganku. Mau aku antar ke sana?”
Aku mengangguk antusias, tidak mungkin aku menolak tawaran baiknya ini.
“Tentu, terima kasih atas bantuannya.” Aku membungkuk sebagai tanda aku benar-benar menghargai kebaikannya ini.
“Mari ikut denganku.”
Aku tak menolak ketika dia merangkul bahuku, membawaku berjalan mengikutinya. Aku percaya dia bukan orang jahat. Pria yang perawakannya terlihat seram ini, hatinya tak seburuk yang aku duga. Ya, inilah yang ku percaya.
Lama kami berjalan dengan dia yang setia merangkul bahuku, hingga akhirnya kami tiba di sebuah gedung tinggi yang megah, mirip dengan istana megah sang ratu di Atlantis. Meski istana Yang Mulia Ratu lebih mewah dari ini.
“Ayo masuk,” ajaknya, ketika aku berhenti melangkah. Aku sedikit ragu ketika dia hendak membawaku memasuki benda aneh berbentuk kotak dan sempit.
“I-Itu benda apa?”
Suara tawa si pria terdengar, aku mendelik ke arahnya sedikit tersinggung karena dia yang secara terang-terangan menertawakan pertanyaan seriusku.
“Masa tidak tahu? Itu lift, Nona.”
“Apa kita harus masuk ke dalamnya? Entah kenapa aku merasa takut.”
“Tidak perlu takut. Lift akan membawa kita ke lantai yang kita tuju.”
“Jika aku memasuki benda itu apa aku akan bisa bertemu dengan Lex nantinya?”
“Tentu saja. Lift itu akan mengantarkan kita ke kamar orang yang sedang kau cari.”
Keraguanku menguap sudah, lagi ... aku mempercayai pria baik di sampingku ini. Kami pun melangkah untuk memasuki benda aneh yang katanya bernama lift tersebut.
Aku berpegangan pada si pria ketika ku rasakan benda ini bergerak cepat. Jantungku berdebar tak karuan. Hei, ini pengalaman pertamaku menaiki benda bernama lift ini.
“Baiklah, kita sudah sampai.”
Itulah yang dikatakan si pria baik hati ketika kami akhirnya keluar dari lift. Aku mengedarkan mata ke sekeliling, menyadari ada banyak pintu di tempat ini.
Pria itu tiba-tiba menghampiri sebuah pintu, mengeluarkan benda pipih menyerupai kartu, dia pun membuka pintu.
“Ayo, masuk!”
“Apa Lex ada di dalam?”
“Ya. Dia ada di dalam. Carilah dia sepuasmu.”
Aku berjalan cepat dengan riang gembira, berpikir sebentar lagi aku akan bertemu dengan Lex lagi. Namun, ketika aku sudah berada di dalam ruangan di balik pintu, sosok Lex tak kulihat dimana pun.
Ruangan ini menyerupai sebuah kamar karena ada sebuah tempat tidur dan peralatan lainnya.
“Lex!”
Aku berteriak memanggil Lex, berharap setelah mendengar suaraku, dia akan muncul. Nyatanya tidak, sosok Lex tak ada.
Aku berjalan menghampiri tempat tidur, aku berjongkok dan mengintip ke bawah tempat tidur.
“Lex!”
Kembali berteriak dan tak ku temukan Lex di bawah tempat tidur. Kini aku beralih menghampiri sebuah benda yang berdiri kokoh di dalam kamar. Aku membuka pintunya, berharap Lex sedang bersembunyi di sana karena sedang mengerjaiku. Namun, yang ku temukan hanyalah beberapa pakaian yang tergantung.
“Lex!!”
Aku terus berteriak sepanjang langkahku menelusuri ruangan untuk mencari Lex. Aku bahkan membuka sebuah pintu lain di dalam kamar yang ternyata sebuah kamar mandi.
“Dimana Lex? Aku tidak menemukannya walau sudah mencari ke sekeliling ruangan ini?” tanyaku pada si pria besar yang kini sedang berdiri sambil bersandar pada pintu keluar.
“Aku tahu kau sedang patah hati karena pria bernama Lex itu pergi bersama gadis lain, tebakanku benar, kan?”
Aku melebarkan mata namun tak ku keluarkan suaraku untuk menyahutinya.
“Terlihat dari ekspresi wajahmu yang sendu saat menyebut nama si gadis. Siapa tadi namanya, Myesha ya?”
“Mana Lex? Kau bilang dia ada di sini?” tanyaku lagi.
Pria itu menggeleng sembari menyeringai, membuat wajahnya yang seram semakin terlihat mirip dengan monster.
Aku mundur beberapa langkah ketika pria itu melangkah hendak mendekatiku. Sembari melepaskan pakaian atasnya sehingga tereksposlah tubuh bagian atasnya yang tak tertutupi sehelai benang pun. Perutnya yang buncit disertai dadanya yang berbulu seperti wajahnya sukses membuatku merinding takut saat melihatnya.
“Kemarilah. Aku akan menghiburmu agar kau tidak sedih lagi. Lupakan pria bernama Lex itu. Aku akan menyenangkanmu, mengajarkan padamu arti surga dunia.”
Aku menjerit ketika dia menangkapku, memelukku dan berniat mencium wajahku dengan paksa. Sekarang aku tahu telah dikelabui olehnya. Memanfaatkan kepercayaanku, dia berniat merenggut kesucianku. Ternyata benar yang dikatakan Mother Cassandra, manusia sangat jahat. Padahal di Atlantis tak pernah ada merman yang merenggut paksa kesucian seorang mermaid. Para merman selalu menghormati kami karena setiap makhluk diciptakan berpasang-pasangan. Tidak ada merman yang berani merenggut kesucian mermaid yang bukan pasangannya.
Aku memberontak ketika pria itu berniat menidurkanku di ranjang, aku tidak boleh kalah dari manusia biadab ini. Aku meninju wajahnya dengan kepalan tangan, lalu ku tendang benda yang menggelantung di antara kedua kakinya yang masih terbungkus celana pendek.
Ketika dia sedang merintih kesakitan, aku mengambil sebuah benda yang diletakan di atas meja dekat ranjang. Ada sekuntum bunga diletakan dalam benda itu. Ku pukulkan benda itu ke kepala si pria hingga kepalanya pun mengeluarkan darah.
“Jalang kurang ajar! Beraninya melukai kepalaku dengan vas bunga!!” teriaknya murka, dia tersungkur di lantai sambil memegangi kepalanya yang berdarah karena ulahku.
Aku berjalan cepat ke arah pintu, ku lihat benda pipih yang digunakan pria itu untuk membuka pintu, menempel di celah pintu. Samar-samar tadi ku lihat pria itu menempelkannya pada pintu, jadi ku ikuti apa yang dilakukannya.
Dan berhasil, pintu berhasil terbuka. Aku pun mempercepat langkahku sebisa mungkin. Wajahku sudah banjir dengan air mata, tak menyangka akan mengalami kejadian menyakitkan seperti ini selepas beberapa jam saja aku hidup di daratan.
Benda bernama lift tadi ku temukan dalam keadaan terbuka. Aku berjalan menuju ke sana.
“Tunggu aku, biarkan aku masuk!” teriakku pada orang di dalam lift ketika ku sadari pintunya akan tertutup.
“Jangan biarkan jalang itu masuk ke dalam lift. Dia jalang yang sudah ku bayar untuk melayaniku. Dia ingin kabur dariku. Tolong bantu aku menangkapnya!”
Aku terbelalak saat melihat pria itu mengejarku, dia bahkan berteriak pada orang di dalam lift agar membantunya menangkapku.
Aku sudah berada di dalam lift sekarang, menoleh pada orang-orang di dalam lift yang kini sedang menatap penuh curiga padaku.
“Tidak. Dia berbohong. Aku gadis baik-baik. Dia menipuku dan membawaku ke sini. Dia ingin menodaiku. Aku mohon lindungi aku.”
Aku berlutut di hadapan mereka, berharap mereka lebih mempercayaiku dibanding pria jahat itu. Hingga seorang wanita tiba-tiba merangkul dan membantuku berdiri.
“Cepat tutup pintu liftnya. Kasihan gadis ini, kita harus menolongnya,” ujar wanita itu.
Aku lega tiada tara ketika pintu lift tertutup sesaat sebelum pria itu ikut masuk ke dalam.
“Terima kasih. Terima kasih sudah menolongku.”
Aku menangkupkan kedua tangan di depan d**a, setulus hati berterima kasih pada wanita yang menolongku.
“Kau mengenal pria tadi?” tanyanya dan aku menggeleng sebagai respon.
“Dia bilang akan mengantarku menemui orang yang kucari, tapi ternyata dia membohongiku. Dia membawaku ke sini. Dia ingin merenggut kesucianku,” jawabku, air mata terus mengalir dari pelupuk mataku.
Wanita itu menepuk-nepuk punggungku mungkin bermaksud menghibur.
“Lain kali berhati-hatilah. Jangan terlalu percaya pada orang asing.”
“Aku akan lebih berhati-hati.”
Tak berapa lama, pintu lift terbuka. Aku berjalan keluar bersama wanita baik tadi.
“Itu pintu keluarnya. Pergilah. Maaf aku hanya bisa mengantarmu sampai di sini.”
Aku mengangguk antusias disertai senyum lebar, “Tidak apa-apa. Sekali lagi terima kasih sudah menolongku.”
Setelah melambaikan tangan padanya, aku berjalan meninggalkan bangunan mewah tersebut. Aku berjalan dengan kepala tertunduk, kuhapus air mata di wajahku dengan punggung tangan.
Kupikir aku sudah aman sekarang karena sudah keluar dari bangunan, nyatanya tidak karena tiba-tiba seseorang mencekal lenganku dari belakang.
“Tertangkap kau gadis jalang.”
Kedua mataku melebar, pria jahat itu dengan mudah menemukanku.
“Lepaskan aku!”
Aku meronta hebat, kali ini ku injak kakinya sekuat tenaga yang membuat cekalannya berhasil terlepas. Aku pun berlari sebisaku, meski pelan asalkan aku membuat jarak sejauh mungkin dengannya. Sialnya dia masih mengejarku.
Tak banyak orang yang berlalu lalang di tempat ini karena tampaknya aku mengambil rute yang jarang dilalui orang. Hingga ketika aku tiba di sebuah celah sempit, lagi-lagi pria itu berhasil menangkapku. Dia memelukku dari belakang begitu eratnya, kali ini tak membiarkanku melakukan perlawanan berarti.
“Tidak bisa melakukannya di dalam kamar hotel, tidak masalah walaupun kita melakukannya di sini. Toh di sini sepi, tidak akan ada orang yang melihat,” bisiknya di telingaku.
Aku masih meronta namun tak berarti karena tenaganya yang jauh lebih besar dariku. Dia menciumi leherku, mengabaikan jeritanku yang luar biasa ketakutan. Dia bahkan berniat merobek pakaian atasku sekarang.
‘Lex tolong aku. Tolong aku, Lex!!’
Jeritan ini ku keluarkan dalam hati. Dulu ... dikala aku sedang kesulitan, Lex selalu datang untuk menolongku seolah bisa mendengar suara hatiku. Sekarang ... mungkinkah hal serupa akan terjadi? Mungkinkah dia bisa mendengar suara hatiku yang berteriak meminta pertolongannya?
Kurasakan lututku lemas ketika pria ini mulai menggerayangi sekujur tubuhku, dan di saat dia memaksa agar wajahku menghadap ke arahnya yang berdiri di belakangku. Aku tersentak ketika tubuh pria itu tiba-tiba tertarik ke belakang seolah ada yang menariknya. Membuatku ikut terjengkang bersamanya.
Aku terbelalak ketika melihat sebuah tangan terulur padaku seolah menawarkan bantuan. Saat tatapanku tertuju ke atas dan melihat wajah pemilik tangan itu, aku tak tahu harus berekspresi apa selain menangis sejadi-jadinya.
“Kau baik-baik saja, Ash?”
Dan mendengar suara yang begitu kurindukan mengalun merasuki indera pendengaranku, aku tahu aku tidak sedang bermimpi sekarang. Dia benar-benar datang. Sama seperti dulu, Lex mendengar jeritan hatiku.