Panthana termenung seorang diri di kamarnya. Duduk di kursi kayunya seraya menenggelamkan wajahnya pada kedua tangannya yang bersedekap di atas meja belajarnya. Tak ada semangat yang terpancar dalam dirinya. Wajahnya terlihat sendu dengan kantung mata tercetak jelas di bawah kelopak matanya. Tak ada suara yang keluar dari mulutnya sejak dirinya diam mengurung diri di dalam kamarnya. Bahkan keberadaan Bowbow yang melayang-layang di kamarnya pun dia abaikan sepenuhnya. Pura-pura tak mendengar setiap kali si hantu berbicara. Awalnya dirinya mengira setelah akhirnya dia dan Inggrid saling mengakui perasaan masing-masing, hubungan mereka akan berjalan lancar. Kebahagiaan yang selama ini diimpikannya akan segera terwujud. Namun nyatanya tidaklah demikian, dan semua itu disebabkan karena kesala

