Di rumah sakit, Amara mulai sering muncul. Ia membawa kopi favorit Cindera, mengingat jadwal operasinya, bahkan membawakan vitamin. “Dokter Cindera… kamu pasti capek. Aku bawakan ini,” ucap Amara dengan senyum ramah. Cindera yang hatinya jernih dan mudah percaya mulai luluh. Ia menganggap Amara sebagai teman baru yang perhatian. Padahal, setiap senyum Amara menyimpan perhitungan. Ia mendengarkan curhat kecil Cindera, menenangkan kecemasannya soal mertua, bahkan memberikan saran lembut: “Jangan terlalu menuntut Elvan ya, kalian kan masih proses adaptasi… laki-laki kalau ditekan sedikit saja bisa menjauh.” Ucapan-ucapan sederhana itu perlahan masuk ke kepala Cindera. Nyonya Wiratama terkenal sulit diluluhkan oleh siapa pun—apalagi menantu baru yang ia tak suka. Tapi Amara tahu cela
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


