Pagi hari setelah Reza membuka matanya, Indri sudah bangun membantu ibunya memasak di dapur. karena hari ini tanggal merah, semua keluarga Indri berkumpul dirumah.
setelah selesai mambantu ibunya memasak. Indri kekamarnya bermaksud membangunkan Reza. ternyata Reza sudah membuka matanya, tapi enggan untuk bangun.
"ayo mandi kak, cepat mandi lu sarapan." ucap Indri sambil melipat selimut yang di pakai oleh reza.
"aku capek banget ndri.. kamu bisa mijit enggak.?" tanya reza berharap indri mau memijat punggungnya.
"bisa sih, tapi sekedar mijit aja. apa perlu di panggil kan ngulang pijit.?" tanya indri
"enggak, kamu aja yang mijit. " jawab Reza lalu tengkurap. Indri mengambil lotion miliknya lalu memijat punggung Reza.
enak juga punya istri, makan ada yang masakin, tidur ada yang nemenin, capek ada yang mijitin, mandi air banget pun ada yang nyiapin. andai dia Rossa pasti bisa diajakin bikin anak juga. hehehe batin reza. tidak berapa lama reza pun tertidur kembali.
Indri sudah merasa sangat lapar, ia membangunkan Reza untuk sarapan pagi. Reza pun bangun ikut sarapan bersama pak Herman, bu aminah, Johan dan indri. setelah sarapan reza pun mengutarakan maksudnya untuk mengajak indri pulang kerumahnya. oak Herman setuju stuju saja, indri sudah besar dan sekarang ia sudah menikah. pak Herman yakin reza bisa menjaga indri dengan baik.
setelah mencuci piring indri membereskan dan mengemasi barang-barangnya yang ia perlukan. ia tidak membawa semua barangnya karena suatu saat ia akan kembali pulang kerumah ini jika waktunya sudah tiba. reza membatu indri memasukkan barangnya kedalam mobil. setelah semua beres, indri dan reza pamit pulang kerumah mereka. setelah kepergian mereka, tetangga depan bu aminah mendekati bu aminah yang kebetulan masih ada di teras.
"indri mau kemana mbak.? kok bawa barang sebanyak itu.?" tanya bu tina ingin tahu
"ngekos yang dekat dengan sekolahnya mbak. kan udah semester terakhir jadi sering ada bimbel pagi. " jawab bu aminah berbohong.
"kok anaknya pak bayu nginap disini lagi mbak.? " Tanya bu tina lagi
"ya enggak apa-apa mbak reza sudah saya anggap seperti anak saya sendiri." jawab bu aminah.
"gitu ya mbak.? ya udah kalau gitu saya pulang dulu nanti di cariin sama bapaknya anak-anak. " jawab bu tina pamit
selama perjalan pulang reza dan indri slaing diam, tiba-tiba indri teringat sesuatu.
"kak, stok makanan dirumah kamu kemarin kayaknya sudah tinggal sedikit. apa enggak belanja sekalian.? tanya indri
"mm.. boleh, kita ke supermarket dulu kalau begitu." jawab reza sambil mengemudi.
"jangan, kita ke pasar tradisional saja kak yang dekat dengan sekolahku. lebih fresh barangnya." jawab indri menyarangkan
"pasar tradisonal kan becek ndri. kamu yakin gak apa-apa.? " tanya reza khawatir
"enggak apa-apa kak. aku udah biasa kok. " jawab indri sambil tersenyum.
kalau rossa pasti nggak mau, bilangnya jijiklah, pamaslah.. bedah banget sama indri. batin reza
Reza pun melajukan mobilnya ke pasar tradisional yang dekat dengan sekolah Indri. setelah memarkirkan mobil, reza dan Indri keluar dari mobil. reza mengikuti indri indri berbelanja.
"bu, beli ayamnya setengah kilo ya. " ucap indri pada penjual ayam potong
"iya mbak, di potong jadi berapa.?" tanya panjual ayam
"delapan bu. " jawab indri
"17rb mbak, " ucap penjual ayam setelah membungkus ayam dan menyerahkan ayam pada indri.
"kak, bayar dong.. kok cuma dilihatin.? " ucap Indri lada Reza yang dari tadi hanya berdiri melihat.
"eh iya," jawab Reza lalu mengeluarkan uang 50rb dari dompetnya.