11. Sedikit Ketenangan di Rumah Ibu

1558 Kata
Percuma saja memberikan perlawanan pada Yudha. Ia seorang anggota TNI yang sudah pasti jago ilmu bela diri. Akhirnya, Laras pun mengangguk dan mau diantar ke rumah sang ibu. Memang sudah lama mereka tidak datang berkunjung. "Kita nggak bawa oleh-oleh, Ras?" tanya Yudha sambil menyetir mobil dan tetap fokus pada jalanan. "Nggak usah. Kalo butuh nanti pasti, Ibu, akan bilang." Laras menjawab dengan nada dingin saat ini. Yudha selalu saja bisa memanipulasi keadaan sedemikian rupa. Bisa saja, orang yang melihat mereka saat ini berpikiran lain. Laras-lah yang sengaja mencari masalah semalam. Wajar, Yudha tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun saat ini. "Kenapa harus nunggu Ibu bilang kalo butuh apa-apa? Kita yang harus inisiatif buat belikan," kata Yudha seolah sedang menunjukkan sebagai laki-laki yang bertanggungjawab. "Ibuku tidak pernah seperti itu. Beliau hanya ingin dikunjungi saja," kata Laras tidak mau berdebat masalah remeh temeh dengan sang suami. Mobil Yudha berhenti di lampu merah. Jarak rumah ibu angkat Laras sudah dekat. Kurang lebih butuh waktu sepuluh menit lagi. Laras menoleh ke arah jendela. Mendadak, ia ingin makan bubur ayam, tetapi segera ditahannya. "Kamu mau sarapan dulu?" tanya Yudha yang peka saat Laras menoleh ke arah warung dengan terpal berwarna biru. Laras menggeleng pelan sebagai jawaban. Ia sengaja menahan rasa lapar dan keinginan untuk makan bubur ayam itu. Laras berharap jika Yudha tidak peka dan tahu jika mengidam. Laras sengaja merahasiakan kehamilannya pada siapa pun saat ini. Mereka kini sampai di depan rumah mertua Yudha. Rumah itu kecil dan sulit untuk memarkirkan mobil. Yudha beberapa kali berdecak karena kesulitan mencari tempat untuk parkir. Padahal, ia harus berangkat kerja sebentar lagi. "Kenapa harus tinggal di tempat kaya gini, sih?!" Tanpa sadar, ucapan Yudha menyakiti hati Laras. "Udah berhenti saja di sini. Aku mau turun. Kamu langsung kerja saja. Emang kedua orang tuaku bukan kalangan kaya seperti kamu, Mas," kata Laras dengan nada ketus dan tidak bersahabat sama sekali. Yudha menoleh dan melihat sang istri yang kini melepas sabuk pengaman dengan kasar. Laras kini mendadak mudah marah dengan sikap Yudha. Ia juga bingung mengapa menjadi sangat perasa seperti ini. Padahal, biasanya, sikap Yudha tidak akan mempengaruhi hatinya. "Aku ngomong fakta! Kalo kamu marah silakan saja!" Yudha juga kesal dengan sikap sang istri. Laras mengembuskan napas panjang. Ia langsung keluar dari mobil sang suami. Hari masih pagi, tetapi mood suami dan istri itu hancur saat ini. Mereka bertengkar dengan masalah yang sepele. Setelah Laras turun, Yudha tidak ikut turun. Ia justru melajukan mobil menuju ke kantor. Laki-laki yang masih gagal move on dari sang mantan istri itu merasa kesal dan tidak perlu bertemu dengan ibu mertuanya itu. Yudha menganggap Laras sengaja mencari gara-gara pagi ini. "Loh? Laras?" Suratmi terkejut saat mendapati Laras kini sudah masuk ke dalam rumah. "Kamu baik-baik saja?" tanya Suratmi saat melihat wajah sang putri tampak menyimpan banyak masalah. Laras menggeleng lalu meneteskan air mata. Tidak ada yang baik-baik saja setelah mendengar sang suami digrebek warga dengan mantan istri tanpa selembar kain yang menempel pada tubuh mereka. Ya, Laras sangat terguncang saat ini. Semalam, tangisan istri Yudha itu bukan hanya perihal sikap sang suami saja. Ada hal lain yang membuatnya merasa sangat sedih. Salah satu warga mengirimkan foto saat Yudha dan Nadira berada di dalam kamar dan mereka tidak pakai baju selembar pun. Orang dewasa dan sudah menikah pasti paham apa yang dilakukan oleh mereka berdua. Lantas, bagaimana perasaan Laras saat ini? Hancur! "Duduk dulu, Ras. Ibu buatkan teh hangat. Kamu sudah sarapan?" tanya Suratmi dengan lembut. Lagi dan lagi, Laras hanya menggeleng pelan sebagai jawaban. Ia bahkan lupa jika di dalam perut ada kehidupan yang harus dijaga. Laras mengusap perut dengan perlahan. Ia merasa terpuruk saat ini. "Biar Ibu buatkan teh. Tadi, Ibu buat bubur. Kebelan sisa opor kemarin masih dan Ibu pengen buat bubur. Anggap saja seperti bubur ayam," kata Suratmi berusaha tampak biasa saja. "Ibu masak opor? Apa ada tamu kemarin?" tanya Laras merasa sangat heran saat ini. Ya, Suratmi hanya akan masak opor ayam jika ada tamu yang datang. Apakah berlebihan saat menyambut tamu? Tidak, ia tidak punya banyak uang hanya untuk sekadar masak daging ayam. Wajar, Mujiono bukan seorang pensiunan yang meninggalkan uang pensiun. "Iya, Ras. Kemarin itu ada Nak Arkan dan Ana yang datang ke sini. Mereka kangen sama Ibu," kata Suratmi menyembunyikan banyak hal dari Laras. "Mereka berdua datang ke rumah? Loh, kok nggak ngabarin aku, Bu? Pas di tempat kerja juga mereka biasa-biasa saja," kata Laras yang kini membuka tas ransel usang miliknya. Laras mengambil ponsel dari dalam tas. Ia mencari nomor milik Ana karena merasa sangat penasaran. Mengapa mendadak dua teman kerjanya datang ke rumah sang ibu. Sebab, sangat jarang mereka bisa datang ke rumah ini. "Halo, An, maaf aku ganggu. Kemarin kamu dan Mas Arkan datang ke rumah Ibuku?" "Oh, nggak ganggu kok. Kebetulan aku libur hari ini. Oh, iya, aku sama Mas Arkan datang. Ya, mampir saja. Lagian kemarin kami kondangan." Ana menggigit bibir bawah karena harus berbohong pada Laras. Ia tahu, sosok istri Yudha itu tidak akan mudah percaya begitu saja. Ana dan Arkan datang pada Suratmi karena ingin memberi tahu jika Laras tidak baik-baik saja. Arkan bahkan mengabari jika Laras kini tengah hamil, tetapi meminta dirahasiakan kehamilannya itu. "Kondangan?" "Ya, bukan di kampung Ibumu. Ada di Jalan Airlangga. Ya, searah, kami mampir saja." "Ooh ... aku pikir kondangan di kampung Ibu." "Nggak. Kemarin kami kondangan di tempat teman Mas Arkan." "Oh, gitu. Ya, sudah. Terima kasih sudah mampir dan jenguk Ibuku." "Jangan sungkan, Ras. Kalian sudah aku anggap seperti saudaraku sendiri." "Sekali lagi, aku ucapkan terima kasih, ya." "Sama-sama." Panggilan akhirnya terputus sepihak oleh Ana. Laras lalu menyimpan ponsel pemberian Yudha itu di dalam tas. Suratmi kini sudah berada di depan Laras sambil membawa baki berisi segelas teh manis panas dan bubur ayam. Laras tersenyum haru, ternyata masa ngidamnya terpenuhi saat ini. "Makanlah, Ras. Ibu baru saja sarapan sebelum kamu datang tadi." Suratmi langsung menyerahkan semangkuk bubur yang masih mengepulkan asap pada sang putri. "Makasih, Bu. Kebetulan, aku lagi pengen makan bubur ayam ini," kata Laras lalu menyuapkan sendok demi sendok bubur itu ke dalam mulutnya hingga tandas. Laras memakan dengan lahab bubur buatan sang ibu. Makanan buatan Suratmi tidak pernah gagal dalam hal cita rasa. Bahan makanan sederhana bisa dimasak dengan cita rasa seperti restoran bintang lima. Laras bahkan belum bisa menirukan masakan buatan sang ibu. "Kamu kerja masuk shift apa, Ras?" tanya Suratmi memecah keheningan mereka berdua saat ini. "Siang, Bu. Kemarin habis libur," kata Laras yang saat ini mendadak merasa mengantuk karena sudah kenyang. Laras beberapa kali menguap dan mata terasa sangat berat. Ia tahu, jika tidur saat pagi tidak baik untuk janin. Pun dengan terlalu sering bergadang juga tidak baik bagi kesehatan janin yang ada di dalam kandungannya. Hanya saja, masalah dengan Yudha seolah tidak kunjung berhenti. "Kamu tidur saja dulu, Ras. Nanti Ibu bangunkan saat pukul sebelas siang. Tapi, nggak boleh sering-sering, ya, tidur jam segini. Nggak sehat bagi tubuh. Banyak orang terkena sakit gula karena habis sarapan memutuskan untuk tidur. Memang benar, tidur jam segini itu luar biasa nikmat, tetapi penyakitnya juga sangat menyeramkan," kata Suratmi memberikan nasihat pada sang putri. Laras sudah memejamkan mata saat ini. Ia tidak lagi mendengar nasihat sang ibu. Rasa kantuknya tidak bisa ditahan lagi. Ya, beberapa hari tidak nyenyak tidur karena masalah dan masalah selalu datang timbul membuat Laras kali ini ingin berada di rumah sang ibu. Sementara itu, Arkan kali ini berada di rumah sakit milik keluarga besarnya. Ia tidak menunjukkan identitas aslinya. Entah disebut kejahatan atau tidak, tetapi, sosok laki-laki tampan itu punya dua tanda penduduk. Arkan kali ini menyamar menjadi pasien. "Kalo dokter Heni, praktik kapan, ya, Sus?" tanya Arkan dengan sopan untuk mengetahui kinerja setiap pegawai di rumah sakit ini. "Anda mencari dokter Heni? Kalo pakai kartu asuransi pemerintah nggak bisa konsul sama beliau, Mas," jawab petugas administrasi itu dengan ketus dan meremehkan Arkan saat ini. Arkan tersenyum sinis lantas merogoh ponsel. Ia menghubungi bagian HRD rumah sakit lantas mengabarkan kinerja seorang petugas administrasi itu. Ia telah merekam semua pembicaraan lalu mengirimkan pada kepala HRD yang masih kerabat dengan keluarga Firdaus. Tidak butuh waktu lama, ada panggilan untuk petugas administrasi yang kini wajahnya memucat. "Sa-saya tidak melakukannya, Pak." Ucapan itu keluar dari mulut wanita yang berdiri di depan Arkan. Sudah bisa ditebak, kepala HRD rumah sakit ini memecat wanita menyebalkan itu. Sang petugas menatap ke arah Arkan dengan tatapan penuh rasa curiga. Akan tetapi, cucu Ningsih itu mengabaikan tatapan itu. "Jadi, apakah Bu Heni Kumalasari ada praktik hari ini?" tanya Arkan tanpa rasa bersalah sama sekali. Tidak ada jawaban sama sekali dari wanita yang kini wajahnya mendadak seputih warna cat dinding rumah sakit ini. Arkan berusaha memainkan ponsel sewajar mungkin. Ia berpura-pura melihat salah satu aplikasi belanja. Ternyata, dari bagian pegawai paling rendah pun tidak beradab sama sekali. "Apa Anda mengadukan saya pada Pak Rama?" tanya wanita itu dengan nada suara bergetar menahan amarah. "Pak Rama itu siapa, ya? Saya hanya tanya tentang dokter Heni," kata Arkan yang kini wajahnya santai seolah tidak melakukan apa pun. Diam, sang wanita itu pun memutuskan untuk diam dan tidak bisa berkata apa pun. Ia memang banyak melakukan kesalahan dan kecurangan selama bekerja. Lantas, apakah hari ini adalah hari sial? Entah, faktanya sosok kepala HRD itu sudah menyiapkan surat pemecatan untuknya. "Jadi, apa dokter Heni ada?" tanya Arkan yang saat ini menahan senyum. "Ada apa mencari saya?" Pertanyaan seorang wanita membuat Arkan menoleh ke arah sumber suara itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN