Tanda tanya besar

1005 Kata
Setelah kepulangan sang kekasih, kini Ardi masuk ke kamar dan merenung di sana seorang diri. Ada banyak hal di kepalanya, ia pikirkan dengan amat sangat. Tak ada yang benar-benar tahu apa yang sedang pemuda tampan itu pikirkan, tetapi yang jelas, ia sudah membohongi Isyana agar gadis itu mau pulang dan membiarkannya sendirian. Tak ada acara atau janji apa pun dengan sang nenek. Bahkan kini nenek Ardi pun sedang istirahat di kamar, tanpa tahu apa yang sedang terjadi pada cucunya. Wanita yang sudah tua renta itu, hanya mampu menemani sang cucu mengobrol beberapa kali saja, tidak untuk setiap saat. Karena usianya yang tak lagi muda, mustahil sang nenek akan menjadi tempat Ardi untuk berkeluh kesah. Namun, bukan itu yang paling penting, Ardi memang bukan orang yang suka mengungkapkan isi hatinya secara menyeluruh. Ia sering memendam perasaannya dan memilih untuk menyimpannya seorang diri. Itulah sebabnya, tak ada yang benar-benar mengenal Ardi, kecuali pria itu sendiri. Di saat Ardi memilih untuk merenung di kamar, hampir semua teman-temannya tengah membicarakan tentang dirinya. Tentang kecurigaan mereka akan kisah tragis yang terjadi pada Reno. Benarkah Ardi yang membunuh Reno? Benarkah Ardi adalah seorang psikopat? Walaupun hampir semua teman Ardi mencurigai pemuda tampan itu, ada beberapa orang yang masih percaya bahwa Ardi bukanlah orang seperti itu. Baik pembunuh atau psikopat, ada beberapa orang yang percaya kalau Ardi bukanlah dua-duanya. Beberapa orang itu menceritakan bagaimana kepribadian Ardi yang selama ini mereka kenal. "Ardi memang pendiam, tapi dia baik. Dia bahkan rela nggak masuk kelas pas ujian demi nungguin temennya yang sakit." "Aku pernah lihat dia kasih makan orang gila di pinggir jalan, padahal waktu itu nggak ada siapa-siapa. Dia ngelakuin itu bukan buat dapet pujian, tapi emang dia baik." "Ardi nggak pernah marah, bukan karena dia psikopat. Dia cuma males ribut, aku tahu itu." Itulah beberapa komentar dari orang-orang yang percaya kalau Ardi bukalah pembunuh atau psikopat seperti yang orang pikirkan. Namun, kenyataan kalau Reno yang merupakan dalang kekacauan itu dimulai kini sudah meninggal dunia karena dibunuh, membuat semakin banyak orang yang percaya kalau Ardi lah yang sudah menghabisi nyawa teman sebayanya itu. Namun, hingga kini polisi masih belum mendapatkan bukti pasti, siapa yang sudah melakukan pembunuhan terhadap Reno. Sesuai dengan kesaksian dari Ardi di hadapan polisi, pemuda itu memang mengaku kalau malam itu ia menemui Reno. Namun, waktu yang diperkirakan antara jam bertemu dan jam kematian Reno cukup jauh. Belum lagi ada bukti jelas di mana polisi tidak bisa menetapkan Ardi sebagai tersangka. Yaitu rekaman kamera pengawas di sekitar rumah kos Reno yang memperlihatkan kepergian Reno dari kosnya sesaat setelah Ardi pergi. Artinya, kekasih Isyana itu pulang dari kos Reno tanpa melakukan pembunuhan. Juga ada rekaman di mana Reno kembali ke rumah kosnya dengan kondisi selamat. Namun, yang lebih membuat penasaran, tak ada rekaman ada orang lain selain penghuni kos itu yang masuk ke sana. Semua penghuni kos dan termasuk pemilik rumah kos itu pun sudah diinterogasi, semuanya memiliki alibi yang kuat. Tak ada bukti pasti, semuanya masih menjadi misteri. Di kamarnya yang tampak remang-remang itu, Ardi tersenyum tipis. Ia menatap layar ponselnya yang saat itu menampilkan berita tentang pembunuhan Reno yang sudah mulai tersebar di internet. Pembunuhan yang masih menjadi misteri. Namun, kenapa pemuda tampan itu malah tersenyum? Apa yang membuatnya tersenyum? Benarkah ia yang membunuh Reno? Bagaimana caranya? Di tempat lain, di ruang dekan, ada banyak dosen di sana. Sedang membahas tentang apa yang akan mereka lakukan pada Ardi. "Tidak ada alasan yang logis untuk pihak kampus melarang dia pergi ke kampus. Polisi saja tidak menemukan bukti dan masih belum mengetahui siapa pelaku yang sebenarnya." Salah satu dosen memberikan pendapatnya. Ada banyak suara yang memang menginginkan atau setuju agar kampus memberikan larangan pada Ardi untuk berangkat ke kampus. Setidaknya sampai masalah pembunuhan Reno terpecahkan. Namun, jika itu terus terjadi, sementara kasus pembunuhan itu tak kunjung menemui titik terang, hal itu hanya akan merugikan Ardi jika memang kekasih Isyana itu bukanlah pembunuh yang sebenarnya. Apalagi saat ini pemuda tampan itu tengah mengambil skripsi, di mana hanya tinggal satu semester lagi ia sudah bisa lulus kuliah. Semuanya menjadi kacau sejak Reno menyebar gosip buruk tentang Ardi, dan kini pemuda itu malah berakhir tragis, dibunuh dengan cara yang sama dengan keluarga Ardi. "Tapi gimana kalau banyak mahasiswa yang ketakutan dan memilih nggak masuk kuliah karena takut sama Ardi?" tanya yang lain. "Betul. Bagaimana kalau ada atau bahkan banyak wali yang meminta agar Ardi dikeluarkan? Bukannya kasus ini sangat beresiko? Nama kampus ini bisa tercoreng," sambung yang lain. Adiyuda yang merupakan dosen wali Ardi, hanya diam sedari tadi. Ia yang selama ini membimbing pemuda tampan yang dituduh sebagai psikopat itu dari awal masuk hingga saat ini. Merasa bingung dan frustrasi, kepalanya terasa sakit bukan main. Di satu sisi, ia merasa takut jika memang Ardi adalah seorang pembunuh atau bahkan psikopat seperti yang orang-orang tuduhkan. Namun, sebagai dosen wali, ia takut masa depan Ardi hancur begitu saja karena tuduhan yang tak memiliki bukti kuat itu. "Gimana kalau Ardi nggak bersalah? Haruskah dia berkorban demi nama baik kampus? Salah apa dia? Keluarganya dibunuh, dan dia juga harus dikucilkan dari kampus seperti ini. Betapa nggak adilnya dunia ini sama dia? Gimana kalau dia bener-bener nggak bersalah?" Adiyuda sadar Ardi adalah sosok mahasiswa yang cerdas, pribadinya yang pendiam dan jarang bergaul dengan yang lain adalah hal yang bisa dianggap kekurangan sekaligus kelebihan. "Dia bukan anak bandel yang suka bolos dan ngelakuin hal yang nggak penting. Tapi karena dia juga sering menyendiri, banyak tanda tanya, apa saja yang dia lakuin selama ini?" Adiyuda sibuk berbicara dalam hati, menimbang keputusannya sebagai dosen wali Ardi. Apakah ia akan setuju dengan permintaan banyak orang itu, ataukah ia mencoba melindungi mahasiswa di bawah bimbingannya itu? "Bagaimana, Pak Adiyuda? Apa pendapat Bapak tentang keputusan yang akan kita ambil ini? Haruskah kita mengeluarkan larangan untuk Ardi agar tak datang ke kampus untuk sementara waktu? Atau mungkin Pak Adiyuda memiliki opsi lain?" tanya seorang pria yang tak lain adalah ketua dekan. Adiyuda tersadar dari lamunan panjangnya, lalu menatap ketua dekan itu dengan lekat. Ia belum yakin tentang apa yang akan ia ambil, keputusan itu tidaklah mudah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN