Birzy menoleh, matanya kali ini terlihat lebih dingin. “Berapa harga lo? Gue bayar sekarang juga!”
Wajah Bevi memerah mendengar kalimat merendahkan itu. Kedua tangannya terkepal, matanya mulai buram, dadanya mulai terasa sesak. Belum lagi dia merasa sekujur tubuhnya seperti disiram oleh air es. Dia mengembuskan napas, lalu meninggalkan Birzy begitu saja. Jika, ini dilanjutkan itu sama saja dia mempermalukan dirinya sendiri.
“Tuh, cewek siapa, sih?” Samar-samar Bevi mendengar pertanyaan itu. Dia mempercepat langkah menuju lantai dua. Setelah sampai di ruangannya, dia mengambil tas dan buru-buru pergi. Dia harus meninggalkan tempat ini secepat mungkin.
Sedangkan di lantai bawah, orang-orang masih mempertanyakan apa yang barusan terjadi. Termasuk Raka. Dia tidak menyangka sahabatnya mengajukan pertanyaan semacam itu. Perhatian Raka kemudian tertuju ke Birzy yang berdiri dengan pandangan kosong, seketika dia mendekat. “Bir. Lo kenapa?”
Birzy mengembuskan napas kemudian membuang muka. Tanpa menjawab pertanyaan Raka dan menatap ke arah orang-orang yang memperhatikannya dia berjalan keluar. “Sial!” Birzy mengacak rambutnya frustrasi.
Diam-diam Raka mengikuti Birzy. Dia sedang berusaha menebak apa yang terjadi dengan sahabatnya yang sering bersikap dingin itu. “Apa lo tertarik sama matanya?”
Birzy yang hendak masuk mobil seketika menghentikan kegiatannya. Dia menatap Raka dengan sengit. “Sok tahu.”
“Gue tahu tuh cewek punya iris mata cokelat cerah,” jawab Raka dengan senyum segaris.
Napas Birzy mulai narik turun oleh sensasi yang enggan dia rasakan lagi. Dia menyandarkan lengan di atas mobil sport-nya kemudian menunduk. “Gue nggak lihat matanya. Nggak penting juga buat gue.”
“Ngaku aja. Lo lihat, kan?” Raka mendekat dengan satu tangan menyugar rambutnya yang tebal. “Penasaran?”
Birzy mendorong pundak Raka. Tanpa menjawab dia masuk mobil dan meninggalkan area showroom. Andai dia tadi tidak datang kemari pasti dia tidak bertemu dengan wanita tadi. Pasti semuanya akan baik-baik saja. Tidak seperti sekarang, Birzy terus merasakan dadanya diremas kuat.
“Sial!” Birzy memukul kemudi beberapa kali.
***
Wanita dengan rambut dicepol itu duduk di depan jendela. Satu tangannya menyangga dagu sedangkan pandangannya terlihat kosong. Dia teringat kejadian yang begitu cepat itu. Saat dia tidak sengaja memaki seorang lelaki hingga berujung ke pemecatan. Lalu yang membuatnya terus kepikiran, saat lelaki itu menawarnya.
Brak!
Bevi menggebrak meja. Matanya mulai menyorot tajam. Dia tidak terima diperlakukan seperti itu oleh lelaki tidak dikenal. Mereka baru bertatapan dalam beberapa detik, tapi lelaki itu mengubah kehidupan Bevi. Sekarang dia menjadi gadis pengangguran sedangkan besok hari terakhir membayar kontrakan.
“Kenapa hidup gue selalu gini, sih?” Bevi menunduk, mengusap wajah dengan tangan. Dadanya kembali terasa sesak. Kejadian ini selalu dia rasakan setelah berhenti bekerja. Seolah semesta tidak mengizinkannya untuk hidup enak.
Drtt.... Ponsel Bevi tiba-tiba bergetar.
Bevi mengangkat wajah, menatap ponsel dengan layar ujung yang retak itu. Saat melihat nama Barry dia mengambil benda itu, berharap ada informasi dari bosnya.
Bos Barry: Gaji terakhir udah ditransfer. Gue harap lo minta maaf ke Birzy.
“Birzy?” Bevi mengernyit. Hingga pikirannya tertuju ke wajah tampan tapi dingin itu. “Oh, jadi namanya Birzy. Gue penasaran dia sebenarnya siapa. Dan ngapain juga gue harus minta maaf ke dia? Kesalahan gue sepele. Bener-bener orang kurang ajar.”
Ibu jari Bevi seketika mengetikkan nama Birzy di mesin pencari. Dia mengetuk dagu saat tidak menemukan berita tentang lelaki itu. Selain itu tidak banyak akun sosial media yang muncul. Bevi mendengus, yakin Birzy lelaki sok berkuasa yang tidak memiliki keahlian apa-apa. Bevi manggut-manggut, dia yakin Birzy lelaki seperti itu.
Srek.... Bevi beranjak lalu meringkuk di atas ranjang. Dia menarik selimut hingga sebatas leher kemudian memejamkan mata. Lalu tiba-tiba air matanya menetes dan dadanya semakin terasa sesak.
“Sampai kapan?” gumam Bevi dengan suara serak. Dia tidak bisa hidup seperti ini, susah mencari kerjaan dan harus pindah kontrakan karena diusir. Rasanya dia ingin marah ke orang-orang kenapa dia dihukum sampai seperti ini. “Padahal gue nggak salah.”
Tenggorokan Bevi semakin tercekat. Dia menepuk dadanya pelan, tapi tidak menghasilkan apa-apa. Akhirnya dia menyerah, membiarkan dirinya menangis dalam kegelapan. Hal yang selama dua puluh delapan tahun ini terus berulang.
***
“Selamat sore, Pak.”
Lelaki berjas abu-abu tanpa dasi itu melewati karyawan yang tersenyum sopan kepadanya. Matanya fokus menatap depan, meski beberapa orang menganggap mata itu menyorot dingin. Setelah sampai di ruangan tujuan, Birzy langsung membuka pintu dan menutupnya dengan tendangan kaki. “Kerjaan lo udah selesai?” Perhatiannya tertuju ke lelaki yang duduk dengan kaki terangkat ke atas meja itu.
“Udah. Mau ajak gue minum?” Raka memperhatikan Birzy yang terlihat suntuk itu. “Mau ke kelab yang mana? Biar gue langsung hubungi mereka.”
Birzy mengembuskan napas lalu duduk di sofa single. “Gue suntuk.”
Raka manggut-manggut. Dia tahu apa yang terjadi kepada sahabatnya selama seminggu terakhir ini. “Lo tahu nggak apa yang bikin lo suntuk?”
“Kerjaan gue numpuk, dan lo malah enak-enak santai,” balas Birzy. Dia melipat kedua tangan di depan d**a, memperhatikan manajernya yang tampak santai itu. “Harusnya lo gue pecat! Gue nggak bisa gaji orang kayak lo.”
“Hahaha!” Raka menurunkan kedua kakinya dari atas meja. Dia berdiri lalu mengedipkan mata. “Coba lo cari manajer yang tahan banting kayak gue, pasti nggak ketemu.”
“Pasti ketemu.”
“Oh, ya?” Raka tampak meragukan jawaban Birzy. Dia mendekati bos sekaligus sahabatnya itu dengan senyum segaris. “Orang lain mana tahan hadapin sikap lo yang dingin ditambah tingkah lo sama sekali nggak bisa ditebak.”
Birzy menegakkan tubuh, menatap Raka penuh ancaman. Sayangnya, Raka sudah kebal dengan tatapan seperti itu. Hingga dia pun melanjutkan kalimatnya. “Siapa yang tahan sama orang yang terlalu dingin kayak lo? Diajak ngobrol pun lo sering akhiri pembicaraan gitu aja. Belum lagi tingkah lo yang suka seenaknya sendiri.”
“Ck!” Birzy seketika berdiri. Telinganya panas mendengar omelan Raka. Tanpa menjawab, dia langsung keluar dari ruangan sahabatnya itu.
Kepergian Birzy membuat Raka geleng-geleng. “Nah, baru juga diomongin. Tuh, anak langsung main pergi gitu aja.” Raka beranjak dan mengejar langkah Birzy. “Jadi, kita ke kelab mana?” tanyanya setelah beberapa langkah dari sahabatnya.
Birzy memasukkan satu tangannya ke saku jas. “Di tempat bisa. Tapi nggak lama.”
“Oke! Gue langsung hubungi mereka!” Jika urusan ke kelab, Raka langsung semangat. Dia mencari kontak kelab yang sering dia kunjungi agar mengosongkan ruang privat. Yah, meski mereka ke kelab, Birzy selalu menutup diri dengan memesan ruangan privat dan hanya menghabiskan waktu sendirian.
Tring....
Birzy masuk lift lebih dulu. Sikunya bersandar di pegangan lift, sedangkan pandangannya tertuju ke pantulan dirinya di pintu. “Soal cewek itu....”
Raka menoleh. “Cewek itu?” tanyanya masih belum mengerti.
Sepesekian detik Birzy hanya diam. Dia menegakkan tubuh dan pura-pura tidak terjadi apa-apa. “Lupain.”
“Enggak. Lo tanya cewek ke gue. Bukan lo banget,” jawab Raka terlanjur penasaran. “Cewek siapa yang lo maksud? Bawahannya Barry?”
“Huh....” Birzy mengembuskan napas berat.
Raka terdiam, memperhatikan ekspresi sahabatnya yang tetap terlihat dingin itu. Namun, dia tahu sahabatnya pasti tertarik mencari tahu tentang perempuan itu. “Lo mau gue cari dia? Gue bisa lakuin buat lo.”
Tring.... Pintu lift mengintrupsi pembicaraan mereka.
Birzy menoleh, memperhatikan Raka yang tersenyum kecil itu. “Nggak perlu. Gue nggak penasaran sama dia.” Setelah mengucapkan itu Birzy keluar lebih dulu.
“Nggak penasaran?” gumam Raka dengan senyum tertahan. Dia buru-buru keluar dan mengejar langkah Birzy. “Kalau nggak penasaran kenapa lo nawar dia?”
“Lagi pengen aja,” jawab Birzy santai.
“Bukan ciri khas lo.”
“Gue tertular sifat lo.”
“Tapi gue nggak pernah nawar cewek. Mereka yang suka rela deket sama gue,” balas Raka dengan senyum penuh kemenangan.
Birzy menghentikan langkah. Lengannya terarah ke d**a Raka dan mendorong sahabatnya itu. “Nggak usah bahas tuh cewek.” Setelah mengucapkan itu Birzy berjalan dengan langkah lebar menuju mobilnya.
“Nggak usah dibahas?” tanya Raka sambil tersenyum geli. “Lo sendiri, Bir, yang pengen tahu dia. Atau, lo sebenarnya gengsi mau minta bantuan gue?” Raka tersenyum kecil, kemudian dia mengetikkan sesuatu untuk Barry.
Bagi Raka ini kesempatan agar Birzy dekat dengan perempuan. Empat tahun terakhir, sahabatnya itu terlalu menutup diri. Sangat disayangkan padahal Birzy tampan dan pintar. Banyak wanita yang pasti mengantre untuk menjadi pasangan Birzy. Selain itu, dia ingin sahabatnya merasakan kasih sayang dari seorang pasangan.
“Lo ikut atau enggak?”
Suara Birzy membuat pikiran Raka buyar. Raka memasukkan ponsel lalu berlari menuju sahabatnya. “Sabar, dong!” ujarnya setelah duduk di bangku penumpang. “Bentar lagi kebahagiaan lo datang, Bir. Tunggu aja.”
Birzy hanya melirik sekilas. Dia tidak mau meladeni ucapan Raka yang terkadang tidak jelas itu. Ditambah dia sangat lelah, karena pikirannya hanya tersita ke satu sosok.
***
Genap seminggu Bevi pengangguran. Dia sudah mencoba melamar pekerjaan di beberapa kantor, tapi belum mendapat panggilan. Selain itu dia juga melamar pekerjaan di kafe-kafe sambil menunggu pekerjaan yang lebih menjanjikan. Sayangnya, mencari pekerjaan itu tidak mudah. Dia hampir ingin menyerah, tapi segera dia buang pikiran semacam itu.
“Bevi!”
Teriakan itu membuat langkah Bevi terhenti. Dia mengedarkan pandang lalu memicingkan mata karena lampu sekitar yang temaram. Dari kejauhan dia melihat seorang wanita dengan terusan hitam melambaikan tangan. Bevi yang memiliki mata minus kesulitan mengenali wajah wanita itu.
“Lo lupa sama gue?” Wanita itu mendekati Bevi. “Gue Felis, mantan resepsionis di hotel lo kerja.”
Bevi mengerjab hingga ingat dengan Felis, wanita cantik yang selalu menjadi pembicaraan staf lain. “Hai, Fel. Gimana kabar lo?” tanyanya sambil mengulurkan tangan. “Gue udah lama keluar dari hotel. Mungkin seminggu setelah lo pergi.”
Felis tampak tidak kaget dengan kabar dari Bevi. “Kenapa lo pergi? Karena lo selalu digosipin, ya?”
Raut wajah Bevi terlihat sedih, tapi dia segera menutupi itu dengan senyum kecil. “Yah, lo tahu sendiri berita apa yang udah beredar.”
“Gue kasihan sama lo.” Felis menepuk pundak Bevi. “Terus sekarang lo kerja di mana?”
Bevi menggeleng pelan. “Seminggu yang lalu gue dipecat. Sekarang gue pengangguran lagi. Sepertinya gue bakal pindah tempat di mana orang-orang nggak ngenalin gue.”
Felis tersenyum kecil. “Ke manapun lo pergi, masa lalu lo nggak pernah pergi, Bev,” ujarnya. “Lo mau ikut gue? Gue butuh temen ngobrol.” Tanpa mendengar jawaban lebih lanjut, dia langsung menarik tangan Bevi.
“Eh, Fel. Ini udah malem. Gue harus pulang!” Bevi berusaha menarik cekalan tangan Felis. “Fel. Gue seharian keliling cari kerjaan, gue capek banget.”
“Bentar doang!” Felis terus menarik Bevi hingga berbelok ke sebuah kelab. Dia menyerahkan kartu keanggotaan lalu menoleh ke Bevi. “Dia teman gue,” ujarnya ke penjaga.
Bevi mengembuskan napas. Dia mulai was-was karena Felis mengajaknya ke kelab. Kehidupan malam Felis bukan rahasia umum lagi. Bevi sering memergoki Felis datang ke kantor dengan bau alkohol. Itulah salah satu alasan pemecatan Felis waktu itu.
“Jadi, lo pengen kerja apa?” tanya Felis setelah duduk di kursi agak tengah.
“Nggak tahu.” Bevi menjawab sambil mengedarkan pandang. Dia melihat beberapa orang asyik dengan kegiatan mereka masing-masing. “Fel, gue pergi, ya.”
“Gue lagi pesen minum. Tunggulah bentar.”
“Tapi gue nggak minum,” tolak Bevi. Dia mencengkeram ujung tasnya karena dia mulai takut. “Lo masih sering kayak gini?”
Felis mengernyit. Dia memajukan tubuh lalu terkekeh. “Kalau iya emang kenapa? Cuma di tempat ini gue bisa lakuin apapun yang gue mau.”
“Tapi apa lo nggak takut?” Bevi melirik ke kiri dan ke kanan.
“Ternyata lo di sini!” Tiba-tiba seorang lelaki duduk di samping Felis.
Bevi mengernyit, tampak tidak asing dengan wanita di depannya. Dia lalu melirik Felis yang terlihat biasa saja dipeluk oleh lelaki. “Fel. Gue pergi, ya!”
“Lo belum minum,” tolak Felis. Dia duduk tegak lalu melirik lelaki di sampingnya. “Gue pengen ngobrol bentar sama dia. Nanti gue samperin lo.”
“Oke!” Lelaki itu menatap Bevi lalu berjalan menjauh.
Tanpa sadar, Bevi mengembuskan napas. “Gue balik aja, ya! Gue nggak tenang di sini.” Setelah mengucapkan itu Bevi buru-buru pergi.
“Bev!” Felis memanggil nama Bevi, tapi temannya itu langsung pergi begitu saja.
Bevi menutup sisi wajahnya dengan tangan. Dia setengah berlari menuju pintu keluar. Setelah sampai, dia mengembuskan napas dengan lega. “Gila! Ngeri banget di dalem.”
“Apanya yang ngeri?”
Tubuh Bevi berjingkat. Dia menoleh, mendapati lelaki yang tadi bersama Felis. “Lo ngapain di sini?”
“Pengen ketemu lo.”