“Karena nggak ada orang kita bisa macem-macem. I want you, Bevi.” Birzy menunduk. Bibirnya perlahan menyentuh bibir Bevi dan menciumnya pelan. Tangannya yang berada di sisi sofa perlahan berganti menarik tubuh Bevi semakin mendekat. Bevi tidak bisa menghindar dari ciuman Birzy. Tangan gadis itu bergerak perlahan, hingga melingkar ke leher Birzy dan menariknya semakin mendekat. Dia tidak pandai berciuman, hingga dia memilih diam. Namun, lama-lama bibir Birzy terkesan menggodanya. Hingga akhirnya dia mencoba membalas ciuman itu. Birzy tersenyum mendapati Bevi yang membalas ciumannya. Baginya ini ciuman paling kaku yang pernah dia rasakan. Gadis itu tidak pandai berciuman, tapi dia menyukainya. Dia akan mengajari gadis itu dengan caranya sendiri. “Kamu suka?” tanyanya setelah mengakhiri ciu

