Mata Bevi membulat. SIALAN KAU PAK BIRZY! Birzy menahan tawa melihat Bevi yang menatapnya dengan melotot tanpa berkedip selama beberapa detik itu. Jari telunjuknya refleks terangkat menyentuh kelopak mata Bevi hingga tertutup. “Jangan kayak gitu.” Bevi mendorong tangan Birzy. Dia bergerak mundur lalu membuang muka. “Kenapa, sih, sering banget ngerjain?” “Saya nggak ngerjain kamu.” Birzy menarik sebuah berkas yang berada di tumpukan tengah. Dia mengulurkan ke Bevi, tapi gadis itu tetap pada pandangannya. “Saya bilang apa adanya.” “Enggak!” Bevi mengelak. Dia menarik berkas yang disodorkan lalu mengambil berkas yang berada di atas meja. Tanpa mengucapkan terima kasih, dia keluar ruangan dengan kaki menghentak. Birzy menatap kepergian Bevi dengan sudut bibir bergetar. Dia ingin tertawa m

