Ayo dong, Maya!

897 Kata
*** "Masih punya muka mau ikut makan-makan di Restoran Mas Sat, Mbak Maya?" sindir Eti. "Eh, pakai bawa-bawa suami lagi. Ketemu dimana, di rumah istri barunya?" "Kalau aku jadi Mbak Maya, nggak kebayang gimana malunya, ya nggak, Bu Sur?" celetuk Bu Hanum sambil melirik Bu Sur yang terlihat mulai antusias. "Sudah bikin keributan, jambak-jambak rambutnya Eti, eh ... sekarang datang bawa suami mau makan gratis. Astaga ...." Dahlia dan Bu Sur tergelak. Juga beberapa ibu-ibu yang lain yang hidupnya hanya sebatas ikut-ikutan saja. Sementara Bu RT dan Bu Puji saling pandang, merasa suasana sebentar lagi pasti memanas. "Kalau sudah puas menghina istri saya, mari masuk!" Abian merangkul bahu Maya dengan mesra membuat bibir Eti mencebik dan menoleh ke belakang dimana Satria berdiri terpaku dengan keringat dingin yang mulai bercucuran. "Mas, ayo! Masa yang ngajakin ibu-ibu masuk malah dia sih, harusnya kan kamu. Tuan rumah di Restoran ini," teriak Eti kesal. "Jangan lupa sama janji kamu kemarin, kamu mau pecat suami Mbak Maya, ingat kan?" "Su-- suami?" gumam Satria gugup. "Ck, malah bengong! Ayo!" teriak Eti lagi dan kali ini Satria memilih untuk melangkah ragu. "Apa kabar, Mas Satria?" sapa Abian seraya tersenyum sinis. Satria tersenyum kikuk. "Ba-- baik, Mas ... eh, Pak ...." "Nggak usah sok akrab deh, panggil Pak, bukan Mas! Kamu juga Mas, apa-apaan segala manggil dia dengan sebutan Pak, kamu itu Bos disini, jangan jatuhkan harga diri kamu di depan karyawan rendahan dong!" cerocos Eti begitu sombong. "Sudah lah, ayo masuk, ibu-ibu. Kita makan puas siang ini." Mereka bersorak. Sejenak ketegangan yang terjadi di depan Restoran mulai menguap dan sedikit membuat Satria merasa lega. Ragu dia melangkah masuk ke dalam Restoran disusul dengan Abian yang tidak melepaskan tatapan matanya pada sosok pria angkuh di depannya. "Edo!" panggil Eti sok akrab. "Bawakan semua makanan paling enak di Restoran ini, cepat ya!" Edo terpaku di tempatnya. Bukan hanya Edo, beberapa waiters yang lain pun saling pandang saat melihat wajah Abian yang mana sama persis dengan wajah yang ada di foto ruangan pribadi pemilik Restoran ini. "P-- Pak Abian?" gumam Edo. Abian yang merasa namanya disebut hanya mengangguk samar dan mempersilahkan Edo pergi untuk menyiapkan makanan pesanan Eti. "E-- eh, tunggu, Do! Makanan biasa saja, ehm ... minumnya jus alpukat saja untuk masing-masing orang," ucap Satria lirih. "Kamu apa-apaan sih, Mas!" Eti marah sambil berdiri. "Aku sengaja undang ibu-ibu semua untuk makan di Restoran kamu itu biar mereka tau kalau Restoran ini recommended. Kenapa malah minta Edo ngasih makanan biasa, hah?" "Iya nih, Mas Satria. Kami berharap dijamu dengan baik loh disini," sahut Dahlia mengompori. "Kalau hanya makanan biasa pada umumnya, ngapain kita jauh-jauh ke sini, apalagi sudah keluar uang tadi buat patungan beli bahan bakar mobil barunya Bu Sur." Wajah Bu Sur memanas. Dahlia yang sengaja menyindir terlihat memamerkan barisan giginya. Nyengir. "Sudah ... sudah, makanan apa saja pasti kami terima dengan banyak terima kasih, Mas Sat, Mbak Eti. Jadi tidak perlu mempermasalahkan hal itu ya. Maafkan ucapan Mbak Lia barusan," sergah Bu RT menengahi. Eti menoleh. Air mukanya berubah masam dan berkata. "Jangan mencoba merendahkan Mas Sat ya, Bu RT. Dia tadi cuma bercanda, tau nggak?" "Edo! Bawa makanan paling mahal dan minuman yang enak disini. Patuhi perintahku karena aku istri Bos kamu. Mengerti?!" Lagi-lagi Edo hanya mengangguk lemah. Dalam benar pria muda itu merasa heran dengan sikap Abian yang terlihat sangat tenang dan santai. Saat matanya bersiborok dengan kedua mata Maya, Edo hampir terlonjak kaget. "Wanita itu ... kenapa terlihat mesra sekali dengan Pak Abian? Jangan-jangan ...." batin Edo. "Tapi kenapa mereka terlihat tenang sekali?" "Cepat, Edo!" bentak Eti. Edo gelagapan. Dia mengangguk dan segera berlalu ke belakang untuk memberikan instruksi pada pekerja di dapur agar menyiapkan makanan apa saja untuk meja Eti. "Ngomong-ngomong, suami Mbak Maya nggak kerja? Nggak sungkan sama Mas Satria?" tanya Bu Hanum cekikikan. "Eh, tapi belum dipecat kan, Mas Satria? Kasihan kalau sampai dipecat ...." "Ya dipecat lah!" sahut Eti sengit. "Buat apa punya pekerja yang nggak ada etika. Sudah tau istrinya mau makan-makan di Restoran tempat dia bekerja, eh malah ikut. Nggak punya malu! Minimal minta maaf dong sama Mas Sat atas sikap istrinya tempo hari, cium kaki suamiku kalau perlu!" Dada Maya naik turun. Jika saja tidak ada Abian di sisinya saat ini, entah apa yang terjadi pada kedua bola matanya yang bening itu. Mungkin menangis, mungkin memerah karena sudah meluapkan amarah. "Kamu kenapa diam saja sih, Mas?" "Ah, tidak ... itu, anu ...." "Ck, aku mau kamu pecat suami Mbak Maya. Titik!" Maya dan Abian saling pandang. Suasana yang seharusnya terjalin akrab karena mereka semua bertetangga ternyata tak ubahnya sedang duduk di dekat perapian. Gerah! "Kenapa menggebu-gebu sekali ingin memecat suamiku? Setidaknya tunggu sampai kami semua selesai makan dong, Mbak Eti," sahut Maya tenang, padahal hatinya sudah mendidih melihat sikap Eti. "Aku sama suami juga ingin menikmati makanan paling enak di Restoran ini. Semoga suami kamu bisa bayar, minimal nggak bangkrut lah dia." "Omong kosong!" Suara Eti meninggi. "Suamiku itu kaya, sekedar traktir kalian semua makan nggak akan bikin hartanya habis. Tau?!" "Sayang, sudah!" bisik Satria canggung. "Malu dilihat pengunjung yang lain." "Nggak peduli!" ucap Eti geram. "Lagian kamu kenapa sih jadi lembek gini. Pecat suami Mbak Maya sekarang juga, Mas!" Bersambung Ayo dong, Abian, Maya ... jangan bikin semua pembaca gregetan. Kalian berdua terlalu santai setelah dihina dan dicaci maki di depan banyak orang. Tenang ya, setelah ini pembukaan lengkap wkwkwk insyaallah makin seru❤
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN