Bab 5--
***
"A-- apa sih, Mbak Maya! Tanya-tanya nggak jelas!" sahut Dahlia gugup. Maya bersedekap d**a. Telinganya terngiang-ngiang ucapan sang suami bahwa setelah ini dia harus berani bersikap tegas dan pemberani. "Bagian mana yang nggak jelas? Ah, kalau begitu biar saya kirim rekaman CCTV di depan rumah saya ke grup, biar semua orang tau kalau sebenarnya ...."
Bu Sur dan Bu Hanum saling pandang, lalu ....
"Ha ... ha ... ha ...." Mereka tertawa lebar bersama membuat Dahlia pun mau tidak mau menarik garis bibirnya. "Rekaman CCTV? Setelah tabungan emas, bikin keributan di Restoran Eti, ngutang ke Lia, sekarang dia bilang kalau di depan rumahnya ada rekaman CCTV? Astaga, Mbak Maya ... sebegitu halu-nya ya, kamu," ucap Bu Hanum setelah meredakan tawanya.
Bu Sur terlihat menyeka sudut matanya karena tertawa terlampau terbahak. "Sudahlah, Bu Hanum. Beri dia kesempatan buat nunjukin rekaman CCTV itu. Mana?"
"Sejujurnya aku takut kalau ternyata suami yang selama ini kamu akui itu ternyata suami orang, Mbak Maya. Kamu bukan pelakor kan?"
Maya menarik napas dalam mendengar tuduhan yang kesekian kalinya dari mulut tetangganya. Entah mengapa, Maya seakan dikucilkan disini. Apakah benar hanya karena dia yang sehari-hari tidak memakai perhiasan seperti tetangga yang lain? Tidakkah sikap mereka sangat keterlaluan?
"Y-- ya, gimana ya ... secara kami jarang lihat suami kamu di rumah. Kadang ada, kadang tiba-tiba berminggu-minggu nggak kelihatan batang hidungnya."
"Suami saya sedang mengurus pembangunan untuk Restoran baru, Bu Sur," jawab Maya tanpa berdusta. "Jadi semua yang ibu-ibu tuduhkan semuanya tidak benar. Saya bukan pelakor, dan suami saya ...."
"Suami Mbak Maya pemilik Restoran, begitu?" sela Bu Hanum cekikikan. "Duh, Mbak. Makin lama makin ngelantur kamu ini."
Dahlia mengangguk cepat. Ingin rasanya ia menyudahi obrolan sore ini karena takut jika Maya membuka kedoknya di depan Bu Sur dan Bu Hanum.
"Lagipula nih ya, Mbak Maya. Pakai logika saja sudah bisa disimpulkan dengan jelas, mana ada pemilik Restoran dan istri dari pemilik Restoran tinggal di Perumahan biasa seperti ini. Rumah yang kalian beli juga ukurannya nggak besar-besar amat," nyinyir Bu Sur menimpali. "Kalau memang kalian sengaja beli rumah disini, ya ... seenggaknya rumah kalian itu yang seperti rumah di depan rumah saya itu. Tau kan rumah yang baru dibangun itu? Megah, mewah, bertingkat ... duh, pasti yang punya itu orang kaya," sambung Bu Sur.
"Jangan sampai Mbak Maya juga mau bilang kalau rumah yang dalam proses pembangunan itu juga rumah kamu," sindir Bu Sur cekikikan. Bu Hanum dan Dahlia pun ikut tertawa meskipun sebenarnya ucapan Bu Sur tidak bisa dikatakan sebagai guyonan semata.
Maya lagi-lagi meredam emosinya yang bercokol di dalam hati. Tiga manusia paruh baya di depannya ini memang cukup bebal. Hanya kebenaran yang bisa membungkam mereka.
"Kita pulang saja, Bu Sur. Lama-lama ikutan halu saya kalau dekat-dekat Mbak Maya."
Bu Hanum melenggang meninggalkan depan rumah Dahlia disusul Bu Sur di belakangnya sembari memainkan pergelangan tangan seperti biasa.
"Semoga jantung Bu Sur dan Bu Hanum baik-baik saja saat mengetahui kebenarannya nanti," ucap Maya lantang.
Bu Sur dan Bu Hanum mengedikkan bahu lalu tertawa terbahak bersama. Mereka pergi setelah berteriak lantang. "Tetangga baruku tukang halu!"
Wajah Maya memerah. Tidak menyangka jika tetangga yang ia anggap ramah ternyata menilai orang lain hanya dari seberapa banyak perhiasan yang dipakai.
Dahlia canggung. Ia hendak berbalik masuk ke dalam rumah tapi suara Maya membuat jantungnya berdebar hebat. "Saya tidak menyangka kalau Mbak Dahlia ternyata ular."
"Semua orang boleh menghinaku hari ini, Mbak. Kamu pun bebas memfitnahku di depan semua orang. Tapi ingat ... suatu hari nanti aku pastikan kamu menyesal sudah berbuat seperti ini."
Maya meninggalkan Dahlia yang cemberut di depan pintu rumahnya. Setelah memasukkan motor ke halaman rumah, Maya memilih masuk tanpa menoleh lagi ke arah dimana tetangganya itu berada.
Ting ....
Ponselnya berdenting menandakan ada pesan yang masuk ke dalam sana.
Ting ....
Maya yang semula berselonjor di atas sofa pun meraih ponsel yang tergeletak di atas meja. Rasa penasaran membuatnya mau tidak mau membuka pesan yang ternyata datang dari grup ibu-ibu Perumahan Citra Kencana.
|Halo, ibu-ibu yang cantik. Besok Eti mau mengadakan acara di Restoran Mas Satria. Tolong datang ya, tanpa pasangan saja karena ini acara . Eti sengaja mau berbagi, mumpung suami dapat rejeki lebih nih. Besok makan gratis!|
Maya mencebik membaca pesan Eti. Ingin membalas, tapi ia sadar itu hanya akan membuatnya dipermalukan oleh orang-orang yang terlanjur termakan oleh ucapan Eti yang menjelek-jelekkan dirinya.
|Wah seru nih, makan gratis. Mbak Maya ikut kan? Eh, tapi masih punya muka ya?|
Balasan dari Dahlia sungguh membuat Maya naik pitam.
"Ular!" desis Maya geram. Merasa namanya disebut, Maya sengaja memberi balasan yang mungkin nanti akan membuat grup semakin heboh. Biarlah, batin Maya.
|Tentu saja saya ikut, Mbak Lia. Mbak Dahlia juga ikut kan, makan gratis loh ini ... Oh ya, ini rekaman CCTV tadi siang. Boleh dong diintip dulu|
Maya mengirim rekaman CCTV dimana disana terlihat dengan jelas sosok Dahlia yang terlihat panik karena kedatangan Bu Joko. Lalu berjalan mendatangi Dahlia dan merampas tiga lembar uang berwarna merah dari tangan Maya.
Suara mereka berdua terdengar jelas. Suasana Perumahan yang sepi, ditambah letak CCTV yang ada di sudut lampu gantung depan rumah Maya membuat rekaman yang Maya bagikan terdengar jernih.
(Bunyi rekaman CCTV ....)
"Anu ... itu ... boleh saya pinjam uang 300 ribu? Dompet saya kebetulan ikut terbawa suami, semua kartu ATM dan uang tunai ada disana. Tolong ya, Mbak."
"Nanti kalau suami sudah pulang, bakal saya ganti."
"Tolong dong, Mbak Maya. Saya pinjam loh ini bukan minta-minta. Buruan, udah ditunggu sama teman di dalam."
"Ayo dong, Mbak Maya. Kita tetangga loh ini, saya pinjam dan janji kalau suami pulang saya balikin. Masa nggak percaya sama tetangga depan rumah sih?" sindir Dahlia. "Cuma 300 ribu, nggak banyak kok!"
(Selesai ....)
|Hapus, Mbak! Aku bisa melaporkan tindakan kamu tau nggak?|
|Ini CCTV editan! Mana ada aku pinjam uang sama kamu, Mbak Maya!|
|Hapus, cepat!|
Pesan Dahlia berulang kali masuk dalam grup Perumahan Citra Kencana. Maya terkekeh dan meletakkan ponselnya di tempat semula dengan perasaan puas. Tidak peduli jika nanti masih ada yang tidak percaya dan bahkan berbalik membully-nya lagi.
Tring ....
Tring ....
Tring ....
Nama Dahlia terpampang jelas di layar ponsel Maya. Wanita itu tergelak melihat sikap tetangganya yang kalang kabut seperti sekarang ini.
Maya sengaja mengabaikan panggilan Dahlia. Hingga terdengar gedoran yang cukup nyaring pada pagar rumahnya.
"Keluar kamu, Mbak Maya!"
"Tetangga tidak tau diri kamu ya!"
"Keluar!"
***
"Buru-buru amat?"
Abian menoleh, "Ada sedikit masalah di Restoran cabang. Titip urusan disini ya, kalau ada apa-apa segera hubungi aku."
"Sudah kuduga ada yang nggak beres di Restoran kamu yang satu itu," sahut Dama.
Abian menghela napas kasar. Dama adalah sepupunya yang merangkap menjadi orang kepercayaan Abian di Restoran pertama milik Abian. Restoran yang paling besar dibandingkan dengan Restoran cabang yang lain. Tentu. Anggap saja itu sebagi Restoran utama. Bisnis pertama yang Abian geluti bahkan sebelum menikah dengan Maya.
"Beberapa hari belakangan saat kamu bilang Restoran itu sepi dan minus pendapatan per bulan ini, aku udah merasa janggal," papar Dama. "Pasalnya, tiga hari belakangan aku selalu melewati tempat itu, hanya saja ... maaf, Restoran itu masih tetap ramai seperti sebelum-sebelumnya, Bian."
Abian mengurungkan dirinya masuk ke dalam mobil. Sore ini ia mendadak meminta Dama untuk datang ke tempat pembangunan Restoran baru untuk menggantikan dirinya memantau para pekerja proyek disini.
"Kenapa nggak bilang?"
"Ya ... kalau kubilang kepala Restoran yang baru itu bermasalah, emang percaya?"
Abian mendengkus kesal. Selama ini dia tidak menemukan kesalahan dari pekerjaan Satria. Ia berpikir jika pria itu adalah pria bertanggung jawab yang bisa mengurus Restoran miliknya sementara waktu.
"Kenapa bisa tiba-tiba feeling sekarang? Ada yang bilang?"
"Maya," sahut Abian setelah menyentak napasnya kasar. "Tadi dia datang kesana untuk memastikan bahan dapur apa saja yang habis sampai-sampai Satria meminta dana tambahan dariku. Aku khawatir Restoran itu mendadak bangkrut itu sebabnya aku meminta bantuan Maya ...."
"Lalu ...?"
"Maya diperlakukan buruk karena mereka tidak tau kalau dia istriku."
Dama terbahak-bahak mendengar penuturan Abian. Bagaimana bisa istri dari pemilik Restoran tidak diketahui pekerjanya?
"Kok bisa? Maya nggak pernah ikut kesana?"
Abian merengut kesal. Tawa Dama mendadak terhenti melihat air muka sepupunya yang berubah mengerikan.
"Sorry ... tapi memang aku nggak habis pikir, bisa gitu para pekerja disana nggak kenal Maya?
"Maya bilang semua pekerja dirombak total. Pekerja lama nggak kelihatan batang hidungnya, yang ada hanya orang-orang baru termasuk satpam."
"Wah, itu udah nggak bener, Bian," sahut Dama menimpali. "Dan Satria nggak kenal istri seorang Abian?"
"Ck! Aku merekrut nya karena terburu-buru mengurus pembangunan restoran ini, Dam!" sahut Abian menyesali keputusannya. "Dia dan Maya belum pernah bertemu. Tau sendiri kan kalau dia jarang mau aku ajak berkunjung ke Restoran?"
Dama mengangguk membenarkan ucapan Abian. "Aku sempat heran, bisa-bisanya orang baru dapat kepercayaan penuh darimu. Dan ternyata feelingku benar, dia enggak bertanggung jawab."
"Pulanglah! Biar aku yang memantau perkembangan disini, besok pagi-pagi sekali aku bisa meluncur melihat pekerjaan di Resto Abimaya."
"Kamu selalu bisa diandalkan, Dam."
"Ini semua nggak gratis!" sela Dama bergurau. Abian tertawa dan berkata, "Harga saudara, seharusnya bonus satu kali gaji cukup kan?"
Mereka tertawa bersama sebelum akhirnya Abian pergi untuk kembali ke rumah setelah hampir satu minggu ia meninggalkan Maya di kontrakan sendirian. Ya. Rumah mereka hanyalah rumah kontrakan untuk tempat tinggal sementara karena rumah baru Abian sedang dibangun di ujung jalan Perumahan Citra Kencana.
Sudah satu bulan ini dia bolak-balik dari rumah ke tempat pembangunan Restoran baru. Tidak setiap hari melainkan satu minggu sekali pria itu akan pulang dan membawa Maya berkunjung ke rumah Sang Ibu meskipun istrinya setiap hari mendatangi rumah Sang Mertua untuk sekedar berkunjung dan berbagi makanan. Bukan tanpa alasan, jarak yang memakan waktu hampir tiga jam membuatnya terpaksa menginap di hotel terdekat agar mudah memantau pekerja disana.
Kesibukan Abian membuatnya abai pada Restoran cabang dan mempercayakan semua urusan pada Satria. Bahkan Abian hampir melupakan catatan bulanan yang sampai saat ini bel Satria setorkan.
"Mungkin ini teguran," gumam Abian. "Aku terlalu sibuk membesarkan nama sampai-sampai harus melalaikan beberapa tempat yang sudah aku bangun dengan susah payah," lanjutnya.
"Ah, seharusnya aku mengambil sopir pribadi. Bosan sekali menyetir mobil sendirian begini," gerutu Abian.
Tok ....
Tok ....
Tok ....
Kaca mobil Abian diketuk dari luar. Pria itu menurunkan separuh kaca dan bertanya pada seorang wanita yang sedang menggendong bayi di samping mobilnya.
"Bagi duit, Pak. Dari kemarin kami belum makan," ucapnya memelas.
Abian mengerutkan kening. "Usia berapa anaknya?"
"Tiga bulan," jawab wanita itu spontan. Abian mengangguk ragu. "Ya ... pantas saja belum makan, kan masih tiga bulan. Iya kan?"
Wanita yang sejak tadi menunduk itu mengangkat wajahnya dan menunjukkan raut tidak suka dengan jawaban Abian.
"Kok marah?" tanya Abian ketika menyadari gelagat aneh wanita yang ada di depan pintu mobilnya. "Saya salah?"
"Kalau nggak mau ngasih duit, bilang! Baru punya mobil aja sombong!" gerutu wanita itu sambil berlalu.
Lampu merah sudah berganti hijau. Wanita itu menepi, sementara Abian melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Karena merasa bersalah, dia menepikan mobil dan memilih keluar untuk menemui wanita tadi. Kasihan juga sebenarnya, batin Abian. Meskipun memberi uang pada peminta-minta di jalan memang tidak dibenarkan. Tapi rasa iba mengalahkan semua larangan yang ada.
Langkah Abian terhenti ketika di bawah pohon palem wanita itu duduk memunggungi jalanan ditemani seorang pria yang usianya terbilang muda. Mereka adalah pasangan muda, batin Abian menebak. Terlihat dari bagaimana pria itu menimang bayinya yang terlihat kepanasan.
"Uang, uang, uang terus! Harusnya Ibu bisa sedikit lebih hemat. Aku sama Mas Reyhan lagi kesulitan ekonomi, Bu!" pekik wanita itu pada sambungan telepon. "Nggak bisa! Hari ini aku nggak bisa kirim uang. Lagipula untuk apalagi sih, Bu? Beli emas ...? Kurang emas yang Ibu punya, iya?"
Abian dibuat melongo dengan pemandangan di depan matanya. Bagaimana tidak ... peminta-minta yang mengaku belum makan sejak kemarin ternyata mampu membeli ponsel keluaran terbaru dengan harga di atas 5 juta. Abian tahu harga ponsel yang wanita itu gunakan karena Maya pun memakai merk yang sama.
"Ibu pikir cari duit gampang?! Buat apa sih banyakin perhiasan, toh di Perumahan itu rumah Ibu yang paling bagus. Semua orang juga tau kalau hanya dengan melihat rumah Ibu, Ibu itu orang kaya," ucapnya lagi. "Pokoknya nggak ada uang untuk minggu ini, aku sedang berhemat!"
Terlihat wanita itu mematikan sambungan telepon dengan kesal. Abian segera berbalik sebelum pasangan muda itu melihat dirinya yang berdiri mematung tidak jauh dari tempat mereka duduk. Hanya terpisah lampu dan kursi jalanan saja.
"Kamu nggak bilang kalau kita mau kredit mobil bekas di tempat Jaja?"
Abian dibuat melongo dengan suara pria yang ada di belakangnya. Hingga sepersekian detik, ia kembali melangkah menuju mobil sambil geleng-geleng melihat pemandangan yang langka sekali menurutnya.
"Kalau mereka orang mampu, ngapain minta-minta?" Abian bermonolog. "Perhiasan, hape, lalu kredit mobil bekas ... banyak sekali tipu muslihat di dunia ini. Astaga ...."
Bersambung
Hai, ini hanya cerita fiksi belaka. Untuk yang tidak setuju dengan part peminta-minta yang sebenarnya mampu bekerja dan ternyata punya banyak uang, mohon dimaafkan. Part ini tidak bermaksud menyinggung siapapun. Tapi, alangkah baiknya meminimalisir untuk memberi peminta-minta di lampu merah seperti yang sering kita jumpai.
Mohon koreksinya jika ada kesalahan tulis dan pemahaman. Terima kasih, Teman-teman ❤