Air mata mengalir deras membasahi pipi Sukma, ketika mobil yang membawa Aryan bersama Alya kembali ke kota, kini sudah pergi meninggalkan rumahnya. Di depan teras, Sukma berdiri terpaku, menatap kosong ke ujung jalan, hingga mobil mereka sudah tak tampak lagi dalam penglihatannya. "Semoga perjalananmu baik-baik saja, Bang Danu. Aku doakan kamu selamat sampai di kota. Aku harus rela membiarkan kamu pergi, demi kesembuhanmu." Tangis kegetiran pecah dan tak sanggup Sukma bendung. Tanpa bisa melarang atau pun berupaya mencegah, pagi itu dia harus merelakan Alya membawa Aryan kembali ke kota dan meninggalkan banyak toreh luka dalam kalbunya. Perlahan Sukma beranjak dan dengan langkah kaki yang seketika terasa sangat berat, dia berjalan masuk ke dalam rumahnya. Merasa tak bersemangat lagi menj

