Bab 9 Sebuah Pesan Masuk

1140 Kata
Namun ternyata semua rencana Alana harus tertunda saat malam itu Rangga dan Ayahnya yang telah sampai rumah harus segera pergi kembali untuk mengantarkan kedua orang tuanya pulang ke rumah pribadi mereka yang ada di pusat kota Jakarta. “Alana, untuk malam ini, Rangga akan menginap di rumah Mama dulu, ya. Soalnya besok pagi biar sekalian anter Papanya check up ke rumah sakit,” ucap Mama Rossa pada Alana yang langsung mengangguk patuh. “Check up ke rumah sakit? Jadwalku ‘kan masih....” “Papa, kemarin dokter Ilham menelepon Mama, katanya Papa sebaiknya jadwal check upnya di majuin, soalnya dokter Ilham akan pergi ke luar negeri,” sela Mama Rossa memberikan alasan. Walaupun mengerutkan keningnya karena bingung, Papa Rizwan tak mau mendebat lagi tentang ucapan istrinya. Maka laki-laki paruh baya itu pun kembali beralih pada Arka yang duduk di pangkuannya yang lalu memeluk dan menciumi Arka hingga membuat batita itu terkekeh kegelian. Mereka terlihat sangat senang karena mendengar Arka yang berceloteh tanpa henti. Rangga yang menuruni tangga rumah dan bergabung dengan mereka terlihat bingung saat melihat ibunya membawa koper kecil miliknya yang biasa ia gunakan untuk keluar kota. “Mama? Itu ‘kan koper Rangga? Koper Mama mana? Rusak?” tanya Rangga seraya menggulung lengan kemejanya hingga ke bawah siku. “Nggak, ini Mama siapkan baju ganti buatmu malam ini tidur di rumah dan baju kerja besok,” sahut Mama Rossa sambil melenggang keluar rumah. Rangga menatap ibunya dengan terkejut dan menatap Alana yang hanya diam memperhatikan semuanya, seolah meminta jawaban atas tingkah laku ibunya. Alana hanya menaikkan alisnya serta mengatupkan bibirnya rapat-rapat tanda tak tahu apa pun. “Nginep? Kenapa harus nginep segala, Ma? Rangga pulang lagi juga masih keburu kok?” sela Rangga sambil menyusul ibunya yang keluar teras rumah seraya membawa koper itu bersamanya tanpa menjawab ucapan Rangga. “Sudah, ah. Nurut sekali aja kenapa sih?” tegur Mama Rossa dengan suara menahan kesal. Dan hal itu membuat Papa Rizwan yang menggendong Arka segera memberikan Arka ke dalam gendongan Alana seraya menggeleng tipis-tipis pada Rangga yang menghela napas dengan pasrah. “Wah, Arka udah ngantuk, ya? Udah nguap-nguap terus. Habis ini minum cucu dan bobo, ya,” ucap Alana pada Arka yang menguap dan mengucek-ucek matanya. Setelah semua barang di masukkan ke dalam bagasi mobil, Alana segera mencium punggung tangan pada kedua mertuanya seraya menggendong Arka. Dan seolah tahu diri, tanpa canggung Alana pun mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan Rangga. Walau sempat canggung, namun Rangga segera mengulurkan tangannya untuk dicium Alana. Dan untuk menutupi kecanggungan mereka di hadapan kedua orang tuanya, tanpa basa-basi dan dengan tenangnya Rangga mendaratkan kecupannya di kening serta pipi Alana dan lalu menciumi pipi Arka yang gembul. Semua terjadi begitu cepat hingga Alana tak bisa mengelak atau pun menolak. “Arka, nanti Papa pulang bawa hadiah, tunggu Papa. Jangan nakal, ya,” ucap Rangga yang masih mendekatkan wajahnya pada Arka yang ada dalam gendongan Alana. Namun tanpa menjawab Arka malah terlihat sangat sibuk mengucek mata dan menguap sekali lagi. Mau tak mau hal itu membuat Rangga terlihat canggung di hadapan Alana. “Maaf, Mas. Biasanya jam segini Arka sudah tidur, ini tadi saya pikir biar main sama Kakeknya dulu sebelum pulang,” sahut Alana untuk menutupi kecanggungan mereka. “Ya udah, aku pergi dulu,” ucap Rangga pada Alana yang sempat mematung canggung saat melihat wajah Rangga yang sangat dekat dengannya karena terus mencium pipi Arka. “Iya, Mas, hati-hati,” sahut Alana dengan suara lembut dan membuat mereka saling menatap untuk sesaat sebelum akhirnya Rangga berjalan menuju mobil dan meninggalkan rumah. Sepeninggal Rangga dan kedua mertuanya, Alana segera membawa Arka ke kamarnya. Dan saat itulah ia baru sadar betapa dirinya bergetar hebat setelah mendapat perlakuan lembut dari Rangga di hadapan kedua orang tuanya juga Mbok Darmi, layaknya mereka adalah pasangan suami istri yang sebenarnya. Alana terus beristigfar dan meminum air putih dingin yang ada di meja kamar. Berkali-kali ia meneguk air itu untuk menenangkan debaran jantungnya yang berdegup sangat kencang dan tak karuan. ‘Kenapa Mas Rangga harus bersikap begitu? Walaupun dia meminta kami berpura-pura di hadapan kedua orang tuanya, tapi tetap saja apa ini nggak terlalu berlebihan?’ pikir Alana yang menyentuh pipinya yang kini semakin terasa panas. ‘Astagfirullah... Seharusnya pura-pura pun ada batasnya, Mas. Harusnya dia nggak nyium aku ‘kan? Ini ‘kan cuma pernikahan pura-pura?’ gumam Alana dengan lagi-lagi menahan kesalnya. Hingga rengek Arka membuyarkan segala kekesalan hatinya dari semua yang telah terjadi. Dan malam itu ia yang kelelahan menidurkan Arka pun ikut tertidur seraya memeluk Arka. Pagi itu Alana bangun dan melaksanakan salat subuh dengan perasaan sangat tenang karena suasana hening di rumah yang selama ini hampir tak pernah ia rasakan. Ia pun ke dapur untuk membantu mbok Darmi yang sedang menyiangi sayuran dan bersiap untuk memasak. Wanita paruh baya itu terlihat sangat senang saat melihat Alana datang seraya membawa ember penuh dengan baju-baju kotor Arka. “Non, hari ini mau masak apa? Di kulkas ada ikan dan daging,” ucap mbok Darmi seraya menatap isi lemari es dengan bingung. Lebih-lebih Alana, karena ia merasa kemarin lemari es itu telah kosong sebagian besar. “Sejak kapan ada daging dan ikan, Bi? Apa kemarin Mama sempat pergi belanja?” sahut Alana balik bertanya. “Loh, Non nggak tahu ya? Sepertinya Den Rangga yang belanja semalam. Katanya besok itu mau dimasakin ikan pedes gitu, tapi sekarang malah pergi semua,” sahut mbok Darmi menatap Alana seolah meminta persetujuan. “Oh, gitu. Ya udah, masak ikan pedesnya nanti sore aja kalau Mas Rangga pulang, Mbok. Kalau buat sarapan pagi kita makan seadanya, aja. Atau kalau mbok mau masak dagingnya juga nggak apa-apa, Mbok,” sahut Alana menuju kamar mandi untuk bersiap mencuci baju-baju Arka. Namun demikian terdengar jeritan Arka yang terbangun dari tidurnya, Alana bergegas berlarian meninggalkan dapur menuju kamar tidur mereka yang ada di paling ujung rumah itu. “Astagfirullah, Arka!” pekik Alana terkejut dan bergegas berlarian di ikuti oleh mbok Darmi di belakang Alana. Sesampainya di kamar Alana segera merengkuh Arka yang terbangun dengan terkejut karena mendengar ponsel Alana yang ternyata berdering cukup kencang. “Udah, Non, jagain si kecil aja, biar Mbok yang masak. Nyuci juga bisa diambil nanti,” sahut mbok Darmi dengan khawatir ikut menenangkan Arka. “Iya, Mbok, terima kasih, ya,” sahut Alana seraya menimang-nimang Arka seraya meraih ponselnya yang telah berhenti berdering bersamaan mbok Darmi meninggalkan kamar. Alana meraih ponselnya dan menatap heran pada layar ponselnya yang menampilkan nama Rangga sebagai penelepon yang tak terjawab. ‘Kenapa Mas Rangga telepon sepagi ini? Tumben, ada apa ya?” gumam Alana keheranan, namun demikian rasa herannya berganti dengan rasa terkejut sekaligus sakit saat melihat sebuah pesan masuk dari Rangga yang memperlihatkan sebuah foto Rangga yang tertidur pulas dengan seorang wanita disisinya yang sengaja berswafoto berdua dan tersenyum ke arah kamera. “Dia nggak akan pulang dalam waktu dekat. Jangan tungguin dia!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN