Dua Puluh Dua

2222 Kata

Berada di tengah-tengah keluargaku, membuatku melupakan sejenak pikiran-pikiran buruk yang melandaku dari semalam. Aku bisa tertawa lepas saat Mak Uncu (adik Ibu yang paling kecil) membuat jokes, meskipun garing. Aku bisa tersenyum ketika keponakan-keponakan dari kakak-kakak maupun adik sepupuku mengajakku main. Aku bisa melepaskan segala hal yang kurasakan saat ini. Seharusnya, aku membutuhkan keadaan seperti ini. Suasana ramai dapat membuat kabut kesendirianku mengabur. Aku membutuhkan dukungan moral dari keluargaku dibandingkan melarikan diri ke tempat yang jauh. Namun aku masih belum siap menerima pertanyaan-pertanyaan yang macam-macam. "Tsania, Ikut Ayah sebentar" panggil ayah, ketika aku sedang membantu tante-tanteku memasak di halaman depan rumah. Halaman belakang rumahku tidak te

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN