Badai itu bernama Zulfa. Jangan tanya padaku apakah aku mengenalnya atau tidak. Jelas. Aku mengenalnya. Dia salah satu aktivis perempuan di fakultasku. Aku pernah berbicara beberapa kali dengannya.
Dia mengangumkan, salah satu perempuan paling lurus yang pernah kukenal. Bukan lagi salah satu, satu-satunya perempuan lurus. Pikirannya tak pernah kotor, biasanya aku bisa mengenali kejelekan orang lain dalam dua kali pembicaraannya. Dengannya, tidak sama sekali. Apapun yang dia ucapkan dan lakukan begitu tulus, aku bisa merasakannya.
Dia adalah gebetan abadi Arseno. Mereka saling menggebet –aku tidak tau bagaimana menggambarkannya- hampir sepanjang masa kuliah. Aku mendengar sendiri dari mulut Arsen saat dulu random dia mengantarku ke kosan karena ban motorku kempes. Saat itu juga menjadi ajang curhat colongan dia, dia terus bercerita tentang Zulfa padaku.
Dan sepertinya gayung bersambut. Mereka terlibat beberapa acara dan menjadi dekat.
Aku tau semuanya, Arsen pernah curhat padaku dua kali. Satu kali inisiatifnya, satu kali lagi aku bertanya padanya. Saat itu kami sedang menunggu teman-teman yang lain datang untuk rapat. Dua kali dia bercerita padaku, aku bisa melihat dengan jelas bahwa dia sangat mengagumi Zulfa.
Untuk itulah aku menghentikan segala kekagumanku pada Arseno, tau bahwa jika diteruskan, tidak ada yang kudapati selain patah hati. Setelah itu, aku tidak pernah lagi tertarik pada laki-laki.
Jika harus memilih sahabat, aku akan memilih Zulfa. Itu benar, aku tidak dekat dengannya. Kami hanya kenalan. Dia bisa dipercaya, sangat amanah, juga tulus. Dia tidak suka membicarakan orang lain, tidak mau melihat sesuatu dari hal yang buruk. Dia akan menjadi sahabat yang baik.
Jangan bandingkan dia denganku. Jelas, aku kalah telak. Dia seperti kertas putih, sedangkan aku seperti kertas penuh noda hitam dan darah. Aku tidak sebaik itu, aku tidak selurus itu dan aku tidak setulus itu. aku lebih banyak memiliki kekurangan.
Dia dan Arseno punya prinsip yang sama denganku, tidak mau membuang waktu dengan orang yang salah. Tapi bedanya, aku masih mau pacaran, mereka tidak. Aku tidak menyalahkan orang-orang yang seperti itu, mereka punya prinsip dan kita harus menghargai. Menebak-nebak alasan dibalik prinsip mereka hanya membuat kepalaku sakit.
Herannya, mereka tidak jadi bersama. Entah karena apa. Arsen jarang membicarakannya padaku, dia tidak suka membahas masa lalu. Apapun yang terjadi dimasa lalu, ya sudahlah, sudah terjadi, apa hubungannya dengan masa depan? itulah jawabannya tiap kali aku bertanya. Arsen memiliki tampang yang luar biasa menenangkan. Terang saja aku ketar ketir dengan segala jenis perempuan yang ada di kantornya. Bisa saja Arsen tergoda.
Tapi aku tidak pernah melayangkan kecurigaan pada Zulfa. Tidak pernah. Karena aku tau karakternya dan aku tau bagaimana baiknya dia jadi manusia. Dia pasti memiliki kekurangan, sebelumnya aku mengganggap kebaikannya yang keterlaluan itu kelemahannya. Aku tidak suka orang-orang terlalu baik, entah karena apa.
Sampai aku menemukan lagi kekurangan dia. Zulfa jelas sangat sempurna, berbeda denganku. Sangat berbeda. Kami memang sama-sama perempuan baik. Kebaikannya jauh diatas kebaikanku. Tapi setelah melihat tangan suamiku berada di pinggangnya dan suamiku dengan ringannya mencium puncak kepalanya.
Aku jadi bertanya-tanya. Perempuan baik mana yang tega merusak rumah tangga orang lain?
Sejak saat itu aku bersumpah untuk tidak pernah lagi berbaik sangka dengan orang lain. Mereka memang tidak memiliki hubungan khusus dimasa lalu, tapi jelas mereka memiliki kenangan. Justru itu adalah hal yang paling mengkhawatirkan.
Sesuatu yang tidak dimulai tidak bisa dikatakan benar-benar berakhir, kan?
Mereka melakukan itu dibelakangku. Aku yang memergokinya sendiri setelah satu temanku sempat bertanya pertanyaan yang tak pernah kuduga sebelumnya. Jangan tanyakan dimana letak harga diriku saat itu. mungkin tertinggal di tempat sampah atau di selokan.
Aku benar-benar merasa dibodohi.
Semua itu diperparah dengan pertanyaan Arsen yang berhasil membuat bulu kudukku meremang. Pertanyaan yang membuatku mendorongnya kasar, pertanyaan yang membuatku bersikap dingin kepadanya, pertanyaan yang pada akhirnya membuatku menandatangani surat gugatan cerai itu. bukan sakit hati yang kudapati, tapi kekecewaan.
Pertanyaan disaat kami selesai dengan aktivitas fisik kami, hanya sebuah bisikan tapi berhasil membuat seluruh tubuhku dihunus pedang hingga tercabik-cabik tidak karuan.
Kamu mau dimadu, Sa?
Air mataku sudah tidak pantas lagi menangisi mereka. Aku tau dengan pasti, dua-duanya tak menganut prinsip pacaran, berarti tidak menganut prinsip selingkuh. Dalam agama tidak baik menahan-nahan perasaan. Satu-satunya hal yang akan mereka lakukan adalah menikah.
Dan bagaimana denganku?
Sejak saat itu, aku sudah tidak memiliki kemampuan lagi untuk percaya. Siapapun yang berada disekelilingku kuanggap musuh. Aku tidak memiliki hati lagi untuk menolong orang lain. Pengkhianatan mereka jelas membuat segalanya berubah. Arsen salah karena memilihku duluan, seharusnya dia tak melamarku saat itu hingga mereka bisa bersama.
Sekarang setelah aku memiliki harapan tinggi akan pernikahanku, mereka membuatku menikmati hujan asam yang terlampau pedih. Kebencian menggerogoti hatiku. Aku bahkan bersumpah tidak akan memaafkan mereka.
Hidup dalam kebencian dan kekecewaan jelas bukan hidup yang ingin kujalani. Untuk itulah aku menemui Adara, aku sudah tidak sanggup lagi berada satu atap dengan laki-laki yang masih bersenggama denganku, tapi hatinya dimiliki perempuan lain.
Aku bukan wanita baik-baik. Dan berbagi bukan keahlianku. Jadi hanya dua hal yang bisa kulakukan saat itu, pergi dengan tenang atau bertahan dalam kesakitan.
Jelas. Aku memilih pilihan pertama.
*
Arseno sudah tertidur saat aku kembali ke apartemen. Aku memaksa Sakti untuk mengizinkanku berada di flatnya hingga selarut ini, dia juga yang mengantarku kesini. aku menghela nafas dalam. Besok aku akan nongkrong dengan PPI. Hatiku meragu untuk membawanya. Kondisi kami tidak memungkinkan untuk bersikap santai tapi juga tidak tega meninggalkannya sendirian. Sudah empat hari sejak kedatangannya kesini dan dia sepertinya belum kemana-mana.
Aku mandi terlebih dahulu, merasakan udara dingin di luar pada air yang mengguyur tubuhku. Aku jadi teringat akan satu hal. Penghangat ruangan.
Setelah mandi, aku menghidupkan penghangat ruangan. Arseno pasti tidak pernah berpikir untuk menghidupkannya. aku mengembangkan kasur lipat dan segera masuk ke dalam selimut.
Musim gugur membuat Berlin lebih dingin dari biasanya.
Aku baru akan memejamkan mata saat sebuah suara menginterupsiku. “Aku aja yang tidur dibawah” ujarnya, aku mendengar suara gerakan orang duduk. Dia sepertinya sudah siap beranjak.
Aku bergumam sedikit kemudian memutuskan untuk menutup mataku. Lantai ini dingin, dan udara sangat dingin diluar. Arseno tidak biasa dengan cuaca ekstrim. Membiarkannya tidur di lantai hanya akan membuatku kerepotan hari selanjutnya.
“Sa” panggilan itu berhasil membuat bulu kudukku meremang.
“Tidurlah, Ar. Aku capek” jujurku padanya. Aku memang lelah seharian ini berpikir daan bekerja. Aku tidak memiliki tenaga lagi untuk berdebat dengannya, apalagi membahas yang lalu-lalu. Aku terlalu lelah untuk mengingatnya.
Kemudian aku mendengar suara decitan dari tempat tidurku.
“Aku aja yang dibawah. Kamu kan capek kerja seharian” balasnya lagi yang terdengar sangat menyebalkan.
Aku mulai kesal “Udahlah Ar. Aku udah nggak punya tenaga buat berdebat sama kamu. Sekarang cuaca lagi dingin, kamu tau sendiri tubuhmu langsung bertingkah kalau lagi dingin” aku tidak bermaksud berkata seketus itu, tapi aku malas menariknya. Biarlah arseno memiliki spekulasi sendiri.
“Sa”
Apa lagi ini?
Aku hanya berdehem dan tetap menyugesti diriku untuk tidur. Aku benar-benar lelah, tidak bisakah dia diam saja?
“Kalau aku nggak bertanya soal hal itu, apa mungkin kamu nggak akan pergi?” suaranya tidak bisa kugambarkan dengan jelas. Rasa kekecewaan, kekhawatiran dan penyesalan berlabuh menjadi satu. Aku tidak yakin dengan hal ini. mungkin ini hanya karena aku terlalu emosional akhir-akhir ini.
“aku akan tetap pergi” jawabku, kalau dia tidak bertanya mungkin ada celah bagiku untuk memaafkan mereka, tapi mungkin aku juga tetap mengamuk tidak rela diduakan. Tapi karena Arsen bertanya soal hal itu, aku tidak lagi ingin mengamuk, aku tidak ingin marah, aku hanya ingin pergi. Kilasan kejadian itu terus menghantui kepalaku sebelum akhirnya benar-benar terlelap.
*
Sepanjang hari ini aku habiskan untuk membuat paper yang kemarin kubicarakan dengan Profesor George dan merevisi tesisku. Aku sudah terlihat sibuk dari pagi. Hal itulah yang mendorong Arsen untuk tidak menggangguku. Dia memilih menonton televisi di atas kasur. Televisiku agak dimiringkan sedikit sedangkan Dia bersandar di dinding tepat di sebelah meja belajar. Jadi kalau-kalau dia bertanya tentang sesuatu, aku juga bisa melihat televisi dengan mudah.
“Nggak ada national geographic?” tanyanya, yang entah keberapa kali dari pagi.
Aku tidak menoleh ke arahnya dan tetap mengetik. “Satu nol empat” aku menyebutkan nomor chanel televisi yang dimintanya, setelah mengucapkan terimakasih dia tidak berbicara lagi. aku sedikit menoleh saat menatapnya sedang serius menonton chanel itu, siaran yang sedang diputar adalah tentang konstruksi di dubai.
Aku mengalihkan lagi perhatianku ke laptop, aku ingin lulus secepatnya. Agar aku bisa fokus bekerja, juga tidak mau melewatkan kesempatan untuk menjadi pegawai tetap di tempat kerjaku sekarang. Jadi aku harus bersungguh-sungguh mengerjakan tesisku.
Pertemuan dengan PPI itu akan dilangsungkan jam empat, sedangkan jam masih menunjukkan pukul setengah satu, masih ada beberapa jam lagi sebelum bersiap-siap. Lagipula nongkrong dengan mereka juga masih menganut jam karet. Janjinya jam empat, baru terkumpul semua jam enam. Aku tidak perlu mengkhawatirkan soal keterlambatan.
Dulu saat menikah, aku suka bermanja-manja dengannya di hari sabtu. Di hari biasa, kami sibuk bekerja dan hanya akan bertemu saat malam hari. Di hari sabtu dan minggu aku bisa melihat wajah suamiku dua puluh empat jam penuh. Kami biasanya nonton televisi sampai puas kemudian malamnya pergi kencan seperti remaja-remaja. Setelah pulang, aku tidak perlu lagi menjelaskan apa yang kami lakukan selanjutnya.
Aku terkadang memang merindukan saat-saat itu. namun memikirkan hal itu hanya mengundang hal-hal yang tidak kuinginkan terkuak. Aku ingin melepas segala beban itu tapi tidak tau bagaimana caranya. Aku tidak ingin membeberkan perselingkuhan Arsen dan Zulfa pada orang lain, jujur saja, hanya Adara yang benar-benar tau. Aku masih memiliki akal sehat untuk membongkar aib rumah tanggaku sendiri.
Jika adara bukan pengacaraku, maka dia juga tidak akan tahu. Aku akan menyimpannya sendirian sampai aku mati.
“Kamu kerja dimana sih?” Arsen akhirnya bertanya padaku saat melihatku sibuk melamun, tidak ada suara ketikan lagi.
“Konsultan” jawabku sekenanya, aku melanjutkan tesisku, membaca kalimatnya berkali-kali dan tetap tak membuahkan hasil. Aku tidak berhasil fokus.
“Jobdescnya masih sama?”
Aku berpikir sebentar. “kadang masih sama, jadi asisten perencana disana”
“Magang atau kerja tetap?”
Sepertinya usaha Arsen membangun percakapan denganku tanpa urat berhasil. “honorer” jawabku singkat.
“Setelah lulus kamu mau kerja tetap disana?” entah kenapa pertanyaan itu terasa menggangguku. Aku menoleh kearahnya dan kaget melihat mata coklatnya sedikit berbinar menatapku. Apakah itu karena aku menimpali ucapannya tanpa emosi?
Aku seharusnya tidak boleh berpikir macam-macam.
“Kayaknya iya. Belum aku pikirin” itu memang benar, aku memang masih ingin bekerja setelah kontrakku habis, masih lebih dari setengah tahun lagi. dan sebelum Arsen datang kesini, memang iya aku memiliki keinginan untuk kerja disana.
“Kamu nggak mau balik?” tanyanya lagi.
Aku mendengus. “Ngapain? Gaji disini lebih banyak dari tempat kerjaku dulu. Lingkungannya juga aku suka, sangat professional. Aku juga nggak kesusahan nyari teman”
“Kembali untukku?”
Aku menekan enter lebih keras dari biasanya. “Arsen, bisa nggak sih kamu nggak mancing emosi aku sekali saja?”
Arsen terdiam beberapa saat menatapku, binar yang tadi sempat kulihat sudah tidak ada. Aku menyesal mengucapkan hal itu. “Maaf. Aku nggak akan bikin kamu marah lagi”
Aku mengangguk-angguk. “bagus. Karena aku lagi nggak ada mood buat bahas itu”
Suasana yang tadinya bisa menghangat kini mencekam lagi. aku tidak suka berada di suasana ini dan Arseno berhasil membangun itu.
“Oh ya, nanti aku ada kumpul-kumpul sama PPI”
Arsen menatapku sekilas. “Hm, pulang jam berapa?”
Aku menghela nafas dalam sebelum mengajukan pertanyaan itu. “Kamu mau ikut? Semuanya orang Indonesia” Aku tau aku cukup gila menanyakan hal ini dan sebuah senyuman mengembang dari wajah tampan Arseno.