Kejadian itu terjadi saat aku baru dua minggu berada disini. Saat itu aku tidak mengetahui bahwa aku hamil sama sekali. Stres yang berkepanjangan membuatku tidak mengurus diriku sendiri. Jika saat itu aku setidaknya tau sedang mengandung anaknya, mungkin sikapku akan lebih berhati-hati.
Aku tau penyesalan tidak akan menyelesaikan masalah. Tapi mengingat kejadian itu sama saja mengingat betapa hancurnya aku dulu. Saat itu aku masih membereskan sisa-sisa hatiku yang tertinggal di sana, di rumah arseno. Aku jarang makan di awal-awal kedatanganku ke Negara ini. Aku memang sedikit mengalami culture shock, tetapi yah.. karena bawaan patah hati aku mengabaikannya dan malah hanya malas-malasan melakukan apapun dan memilih untuk lebih banyak merenungi nasib.
Aku memang mendapatkan beasiswa dari Universitas Berlin, tapi itu hanya potongan seperempat dari uang kuliah. Tidak bisa menutupi biaya hidupku. Sebenarnya, Aku sudah bertekad untuk membayar mandiri meskipun harus mengais-ngais uang sebanyak mungkin disini. aku tau hidup disini tidak murah, tidak akan ada orang yang mau memberiku satu piring nasi jika aku tidak mencarinya sendiri.
Berbekal keberanian, akhirnya aku memutuskan untuk mencari informasi beasiswa yang biasanya tersedia. Satu bulan sebelumnya, aku sudah mengirim berkas ke KBRI untuk mengajukan beasiswa. Tapi saat itu mereka tidak membuka beasiswa sama sekali. Aku baru dikirimi email saat sudah tiba disini dan diberitahu bahwa beasiswa untuk pelajar Indonesia telah dibuka, dengan quota yang sangat terbatas. Mungkin karena terjadi pemotongan anggaran besar-besaran di Indonesia. Aku juga tidak begitu mengerti.
Untuk itu, aku datang ke KBRI untuk seleksi wawancara. Sehari sebelumnya aku sudah dinyatakan lulus seleksi berkas. Hanya dua puluh mahasiswa yang lolos seleksi dan aku salah satunya. Ini adalah sesi selanjutnya, yang akan menyeleksi setengah dari kami.
Aku harus bersungguh-sungguh dan harus lulus. Setidaknya bebasiswa mampu menyangga sedikit kebutuhanku disini, meskipun aku tau setiap bulannya tidak akan cair tepat waktu, tapi tidak apa-apa, itu akan lebih dari cukup.
Selesai wawancara yang tidak sampai dua puluh menit itu, aku berjalan keluar, menuruni tangga, bertepatan dengan seseorang yang datang terburu-buru dari arah berlawanan. Aku yang tidak tau lantai di depanku basah hingga aku tertabrak dan tergelincir. Aku jatuh, kakiku terasa sangat sakit saat itu, mungkin terkilir.
Tapi bukan itu yang membuatku dikhawatirkan oleh orang lain, melainkan darah yang tiba-tiba keluar dari pahaku. Aku kaget, terang saja. aku merasa tidak hamil, tapi mengalami pendarahan. Aku pingsan beberapa menit kemudian dan baru sadar ketika sudah berada di rumah sakit.
Sakti adalah orang yang pertama kali kulihat saat aku membuka mata. Dia tampak menyesal saat itu, tapi aku tau itu bukan sepenuhnya kesalahannya. Memang aku yang sedang sial, dan tidak berhati-hati. Dia menjelaskan ada pendarahan hebat dirahimku hingga mereka harus melakukan pengangkatan janin.
Hidupku diperparah oleh kejadian tersebut. Aku tidak tau bahwa aku sedang mengandung, tiba-tiba diberitahu bahwa janin yang ada di perutku sudah diangkat. Aku shock, dan lebih shock lagi setelah mengetahui bahwa hari-hari selanjutnya, pendarahan itu masih terus berlanjut.
Penjelasan dokter yang membuatku hampir mati. Aku tidak pernah merasa hidupku akan semengerikan ini, duniaku runtuh. Hanya penjelasan kecil yang mampu membuatku menyayat diri sendiri. "Jika dalam satu minggu ini pendarahan Ibu tidak berhenti. Saya menganjurkan pengangkatan rahim" aku ingin menertawakan diriku saat itu.
Rahimku tidak jadi diangkat, sebagai gantinya, aku divonis tidak akan mudah memiliki anak lagi karena dinding rahimku yang tipis, kantung itu tidak akan kuat menahan janin yang tumbuh pada kehamilan selanjutnya dan sangat beresiko saat persalinan. Aku tidak bisa lagi menangis kala itu, tidak bisa. Langitku runtuh, matahari sudah tidak mampu lagi menerangiku.
Kiamat. Aku kacau.
Kurasa, dunia terlalu kejam terhadap hidupku. Kesalahan apa yang pernah kulakukan dimasa lalu hingga bisa membuatku seperti ini? Menjadi janda di usia muda, suamiku menemukan cintanya, anakku meninggal dan sekarang aku kehilangan kesempatan melahirkan darah dagingku sendiri.
Aku bukan lagi wanita sempurna.
Semuanya sudah tak tersisa. Benar-benar tidak tersisa. Aku kehilangan masa depanku, setelahnya aku yakin tidak akan ada lagi cinta yang datang padaku. Aku menghabiskan satu minggu penuh untuk mengurung diri dan hampir gila jika sakti tidak segera menemukanku.
Dia yang membantuku berdiri, mengatakan bahwa tidak ada yang peduli dengan kondisiku sekarang. Benar, tidak ada yang peduli. Orang-orang disini tak mengenalku, mereka tidak suka merecoki kehidupan orang lain. Kata-kata itu ajaibnya bisa membuatku tenang.
Disaat itulah Sakti mengenalkanku pada mahasiswa PPI lainnya, mereka juga sempat menjengukku saat pendarahan hebat bulan berikutnya dan menuduh Sakti yang menghamiliku. Aku tidak bisa banyak berkata-kata saat itu.
Sakti memang sepenting itu dan karena dia jugalah aku terdorong untuk mengaku bahwa aku pernah keguguran disela ciuman panas kami tadi malam.
*
"Sa.. kopi" aku menoleh ke arah Arsen yang baru terbangun. Aku sudah bangun dari pagi-pagi sekali dan memutuskan untuk kembali merevisi tesisku yang belum selesai. Aku mendengus pelan, bisa-bisanya dia berpikir bisa menyuruhku seenaknya hanya karena aku membalas ciumannya semalam.
Nyatanya, ciuman panas itu tak berhasil mencairkan hatiku yang terlanjur beku. Aku tidak berbohong bahwa ada sedikit kelegaan saat memberitahu Arsen, tapi melihat reaksinya semalam yang menegang dan menyuruhku langsung tidur. Aku sepertinya sudah salah langkah memberitahunya.
"Bikin sendirilah!" ketusku tanpa sadar, aku masih berkutat dengan tesisku. Ini bab analisis, aku tidak ingin ada satu kesalahanpun disini, termasuk typo sekalipun.
"Aku udah hampir dua tahun nggak ngerasain kopi buatan kamu, Sa"
Aku menghembuskan nafas kasar. Tidak ada gunanya aku mendebatnya sekarang. Aku segera ke dapur untuk membuatkannya kopi. Kopi kesukaan Arseno adalah dua sendok kopi dan setengah sendok gula rendah kalori. Aku bukan pecinta kopi tetapi stok kopi memang menjadi stok penting di dapurku.
Aku baru saja akan mengantar kopi itu ketika melihat Arsen sudah keluar dari kamar mandi. Cepat sekali dia mandi, dia hanya mengenakan boxer dan telanjang d**a. Membuatku menghela nafas melihat pemandangan itu. sudah lama sekali aku tidak melihat hal-hal seperti ini.
Ketika dia baru selesai mengenakan baju, dia berjalan menghampiriku. Aku meneruskan kegiatanku untuk merevisi tesis saat dia mengambil kopinya di atas meja belajarku dan duduk di tepi kasur yang dekat dengan tempat dudukku ini.
"Kalau kesusahan buka-buka tas, aku nggak keberatan baju kamu taruh sementara di lemariku" ujarku. Saat melihat dia agak kerepotan mengambil bajunya dari koper, kemudian menutup koper itu lagi dan meletakkannya di sudut ruangan.
"Boleh?" tanyanya.
Aku menganggukkan kepala. "Nanti aku susun baju-bajuku lagi" terangku, pandanganku masih fokus pada laptop. Tidak ada pembicaraan tentang anak dan keguguranku. Aku berharap dia tidak akan membahasnya sekarang. Aku benar-benar tidak tau harus menjawab apa.
Hening selanjutnya, dari sudut mataku aku bisa melihat Arsen menatapku dengan pandangan yang tak kumengerti. Pandangan itu membuatku risih dan sulit berkonsentrasi, aku selalu seperti ini saat Arsen menatapku. Entah karena apa, memberikan kegugupan tersendiri.
"Gimana kondisi kamu sekarang?"
Aku menolehkan kepala sebentar dan kaget dia begitu dekat denganku. Aku berdehem pelan dan melanjutkan aktivitasku. Pertanyaan itu mengarah pada kondisiku pasca keguguran. "Well, begini" aku tidak mungkin mengatakan aku baik-baik saja. aku bukan pembohong. Dan baik-baik saja ketika mengingat kehilangan adalah sebuah kebohongan besar.
Aku masih sedih mengingat hal itu, aku masih terlalu sedih. Namun aku sudah memutuskan untuk tak membuat orang lain sedih atas diriku, aku tidak ingin dikasihani. Jadi aku menebalkan wajah dan hati jika ada orang yang mulai membahas ini.
"Aku minta maaf"
Dan maaf tidak akan kembali membuat dinding rahimku tebal dan aku bisa hamil lagi. Aku menatap Arsen yang menunduk saat ini, dari semalam dia lebih banyak diam, mengetahui fakta bahwa aku keguguran karena ulahnya sendiri. mungkin dia menyesal.
"Udah aku maafin. Tapi Ar, aku benar-benar nggak bisa kembali sama kamu. Perceraian adalah jalan satu-satunya" tegasku. Tidak mau membuatnya semakin berharap atas pernikahan ini sedangkan aku sudah tidak memiliki harapan lagi.
Menyebalkan.
Mata Arsen berkilat kembali, kilat yang sama saat kami bertengkar tempo hari. Saat itu aku gugup, namun sekarang aku menantangnya dengan jelas. Berusaha menekankan bahwa keguguranku bukan sebuah hal yang akan membawaku kembali padanya.
Aku menghela nafas dalam. "Setelah keguguran itu, dokter vonis aku nggak bisa hamil lagi. Baiklah. Dinding rahimku menipis karena saat itu aku pendarahan hebat dan infeksi saat pembersihan rahim, dia bilang kemungkinan janin bertahan dalam rahimku akan sangat sedikit. Aku nggak akan bisa hamil lagi, Ar. Kamu berhak mendapatkan wanita yang lebih baik dariku"
Arsen langsung menyentak tanganku, aku membalas tatapannya sedatar mungkin.
"Apa maksud kamu?"
"Kamu bisa mencari wanita yang mencintai kamu dan kamu cintai, juga bisa mencari wanita yang memberi kamu anak"
"Aku nggak menginginkan anak. Aku ingin kamu, Sa"
Aku tersenyum tidak percaya. "Hebat sekali kamu mencari jalan membuatku kembali, Ar. Laki-laki mana yang nggak mau punya anak? Udahlah. Aku capek bahas ini terus-terusan. Lebih baik kamu segera talak aku dan kita selesai. Kamu nggak perlu berjuang sejauh ini"
"Tsania!" dia mencoba meraihku.
Aku menepis tangannya dan duduk di hadapan laptopku. "Aku udah menjalani hari terberat dalam hidupku sendirian. Aku nggak akan keberatan untuk sendirian lebih lama. Jujur, kedatangan kamu bikin aku keget, membangkitkan semua yang nggak ingin lagi aku ingat. Aku hancur saat itu dan aku berhasil bangkit sekarang. Aku udah nggak punya harapan lagi sama pernikahan kita, aku nggak punya harapan lagi tentang masa depan"
Aku menghela nafas dalam. "Itu kan yang kamu suka dari aku? Wanita yang memiliki visi misi yang jelas terhadap masa depannya. Aku udah nggak punya semua itu"
"Begitu?"
Aku menghela nafas dalam dan menatap Arseno. Mataku membelalak melihat wajahnya memerah saat ini, terlihat menahan emosi. Aku tidak tau kata-kata mana yang membuatnya seemosional ini. mungkin kata-kata tadi atau kata-kata barusan.
Aku tidak tau.
Aku melanjutkan pekerjaanku dengan diam. Arseno beranjak perlahan dan tanpa mengatakan apapun pergi dari apartemenku. Aku menahan diri untuk tidak mengejarnya. Dia pasti kaget dan butuh menenangkan dirinya sendiri.
Aku akan memberinya waktu untuk memikirkan itu semua, juga waktu untukku memikirkan semua ini.
Aku benar-benar sudah gelap mata dengan masa depan dan harapan.
*
Hari sudah beranjak menjadi sore dan Arsen tidak menunjukkan tanda-tanda kedatangannya. Aku khawatir, tentu saja. Arsen tidak pernah marah lama-lama. Dia tidak menyukai itu, dia lebih suka kami berdebat dan menyelesaikan saat itu juga, jika ada masalah.
Sudah hampir dua belas jam dan dia belum kembali ke apartemenku. Aku tidak bisa diam seperti ini. revisi tesis ini masih bisa dilanjutkan besok, bagaimana jika dia menghilang?
Baiklah. Dia bukan anak kecil.
Aku segera ke kamar mandi untuk mandi dan membereskan diri. Setelah keluar kamar dan mendapati Arsen belum kembali, rasa panik mulai berdatangan dalam diriku.
Kemana dia?
Aku mengunci pintu apartemen dan segera mencarinya. Dia tidak membawa dompet dan ponsel, berarti dia belum makan. Tidak mungkin dia mengemis, kan? Berarti juga dia tidak akan pergi terlalu jauh dari sini. Mungkin.
Aku benar-benar khawatir. Badanku gemetar mencarinya disekitar apartemenku. Aku tidak menemukan dia dimanapun. Air mataku kembali menetes saat mencarinya, aku tidak tau kenapa aku harus menangisinya. Pikiran-pikiran buruk tidak berhenti bergentayangan di otakku. Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri jika Arsen kembali dalam keadaan tidak sehat.
Butuh waktu tiga jam dan langit sudah berubah malam untukku mencarinya. Sebelum akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke apartemen. Menyerah adalah satu-satunya jalan. Aku tidak mungkin menelusuri jalanan Berlin satu persatu untuk mencarinya. Menunggu diapartemen akan jauh lebih mudah.
Aku tidak bisa tenang lagi. ini sudah hampir jam sepuluh malam. Aku tetap terjaga dan menunggu dia di belakang pintu. Sesekali aku keluar untuk mencarinya di loby gedung apartemen. Aku masih khawatir, tapi tidak tau bagaimana cara mengatasinya.
Mungkin aku harus menelepon sakti untuk membantuku mencarinya.
Tepat saat aku akan meraih ponsel, pintu apartemenku terbuka. Aku mematung di tempatku. Wajah Arsen terlihat lelah sekali dan dia begitu kacau. Hatiku pedih melihat pemandangan seperti ini. aku tidak sanggup melihatnya. Dadaku terasa sesak.
"Darimana kamu?" tanyaku langsung menatapnya tajam. dia mengabaikanku dan memilih mengeluarkan baju di dalam kopernya.
Aku menyentak tangannya kasar, membuatnya kembali berhadapan denganku. "Aku panik nyari kamu seharian, kamu nggak bawa dompet dan hape—"
"Kenapa kamu harus khawatir sama aku disaat kamu memilih untuk pergi lagi? Seharusnya bukan seperti ini yang ditampilkan orang yang akan berpisah, Sa" ucapan itu begitu lirih, membuatku menegang ditempatku.
Bulir-bulir air mataku runtuh seketika. Aku menjadi sangat cengeng akhir-akhir ini dan aku tidak suka. Aku tidak suka Tsania yang lemah di depan arsen. Benar-benar tidak suka.
Arsen memilih untuk memelukku. Bau keringat tercium jelas di badannya. Darimana dia? Tapi bukan itu yang kupikirkan sekarang. Aku lega dia disini, aku lega dia kembali. Aku sangat lega dia berada disisiku, disini di dalam dekapanku.