Bab. 4 - Terpesona

1871 Kata
Kadang aku bingung membedakan dua hal Entah itu terpesona karena kagum semata Atau justru terkesima karena jatuh cinta yang nyata? - Sena - *** Gadis itu berjalan santai di sekitaran area parkir motor. Masih sambil membaca novel online di ponsel androidnya. Sampai-sampai mendadak ponsel yang layarnya sudah pecah di beberapa bagian itu mati sendiri. Rasanya Sena ingin sekali membanting dan membuangnya jauh-jauh. Kesal karena lagi-lagi alat telekomunikasinya bermasalah tiba-tiba. Dalam sehari saja ini sudah kali ke lima ponselnya mati tak jelas. "Please dong, jangan bikin sensi kek! Sudah tahu tanggal tua, malah bikin emosi!" keluhnya frustrasi. Ia memukul-mukul layar benda tak bersalah dalam genggamannya. Seolah ingin meluapkan amarah yang ia tahan dan bendung sejak beberapa hari ini. Maklum saja tiga hari lalu ia dapat insiden buruk. Sebuah sepeda motor yang dikendarai orang tak bertanggungjawab menyerempetnya di pinggir jalan. Sampai ponsel Sena terpental dan lcdnya retak. Sangking-sangkingnya gadis itu sedang berhemat karena awal bulan kemarin harus membayar biaya kuliah adiknya. Kalau tidak, mungkin ia sudah ngibrit ke toko untuk beli ponsel baru. Mau bagaimanapun juga benda itu sangat berharga baginya. Dari mulai data pekerjaan, sampai hal pribadi tersimpan di sana. Sedang fokus mengomel, sayup-sayup telinganya mendengar suara seseorang seperti sedang mengobrol. Anehnya, ia juga mendengar kucing mengeong beberapa kali. Mulanya ia tak peduli dan lanjut berjalan menuju tempat motor maticnya diparkir di ujung. Namun, ekor matanya tanpa sengaja melirik area yang di sudut lain. Langkahnya terhenti seketika. Ia mundur beberapa langkah dan spontan bersembunyi di balik tembok dekatnya berdiri. "Seriusan itu pak Kelvin? Apa nggak salah lihat?" gumamnya bimbang. Ia kembali berusaha memastikan, siapa tahu minus di matanya bertambah parah sampai salah lihat orang. Gadis itu membenarkan kacamata sebentar, kemudian mengucek perlahan kelopak matanya. Lalu, kembali mengintip ke arah tujuan. Tampak jelas seorang pria tengah berjongkok sembari mengelus kucing berwarna oren semu putih. Kucing satunya lagi berwarna belang putih abu-abu kehitaman. Dua kucing itu terlihat lahap memakan sesuatu yang agaknya diberikan oleh Kelvin. Terlihat dari tangan kirinya yang menggenggam pakan kucing. Lampu di atas sana terpancar menerangi pemandangan di bawahnya. Sosok pria itu makin terlihat lebih bersinar dari biasanya. Ibarat malam gelap, mungkin Kelvin adalah bintang kejora yang paling gemerlap saat ini. "Berdua lebih baik kan? Seenggaknya kalian bisa saling melindungi dan saling menemani," celetuknya. Yang lebih mengejutkan lagi, pria yang biasanya menampilkan raut wajah tegas penuh penekanan itu kini sedang bicara sambil menyunggingkan seulas senyum manis. Rasanya jantung Sena hampir longsor dibuatnya. Ia pikir bosnya itu hanya hobi bersikap dingin dan tukang perintah saja. Agaknya, ia harus merevisi penilaian sepihaknya tersebut setelah mengetahui fakta ini. "Jangan bertengkar ya. Jangan berebut makanan. Kalian harus selalu baik-baik satu sama lain," oceh Kelvin lagi. Dada Sena berdegup tak beraturan. Tutur kata Kelvin berubah tiga ratus enam puluh derajat. Biasanya dingin bagai di kutub utara. Sekarang menghangat bagai di gurun pasir. Ia berusaha menghela napas panjanh dan mengembuskannya perlahan. Berharap bisa menetralisir letupan tak beraturan di dalam hatinya. Sementara Kelvin sudah bangkit dari jongkoknya. Menyimpan pakan kucing di ember kecil seperti pot berwarna hitam yang teronggok di dekatnya. Kemudian mencuci tangan di pancuran air kran di sebelahnya. Setelah selesai ia berbalik dan berniat pergi. Namun sosok kehadiran Sena hampir saja mengejutkannya. Gadis itu tidak berkata apa-apa, hanya tersenyum bingung sembari berjalan cepat menuju motornya. Tanpa terduga, Kelvin malah mengikuti langkah Sena. Membuat gadis itu makin kikuk dan salah tingkah tak jelas. "Bisa saya bicara dengan kamu sebentar?" tanya Kelvin seketika. "Bicara dengan saya? Pak Kelvin mau bicara apa?" "Katanya ada batagor yang enak dekat kantor kita. Kamu tahu di mana tempatnya?" "Oh, batagor Bu Encim. Deket banget, Pak. Di sebelah kantor ini persis. Kayaknya jam segini sudah agak mulai sepi, tapi nggak tahu masih apa sudah habis ya, Pak." "Kalau gitu kita ngobrol sambil makan batagor sekarang. Bisa?" Sejenak Sena memicing gundah. Penasaran dengan topik apa yang akan mereka bahas nanti. Lebih mengagetkan lagi, pria sekelas Kelvin mau-maunya makan di warung pinggir jalan begini. Tampaknya Sena benar-benar sudah salah persepsi selama ini. Mengira kalau pria kaya seperti Kelvin kelasnya mungkin hanya di restoran mewah saja. Akhirnya, mereka berdua berjalan bersisihan menuji warung bu Encim. Memang benar dugaan Sena, warung tak begitu ramai seperti saat jam makan siang atau sore jam pulang kerja. Mereka lebih banyak minta dibungkus saja untuk dimakan di rumah, hanya beberapa orang yang memilih makan di tempat. Jadi, masih ada tempat duduk untuk keduanya bersantai. Usai menyebutkan pesanan, Sena mempersilahkan bosnya duduk dengan membantu menarikkan kursi. Ia bahkan mengelap kursi plastik tersebut dengan tisu yang tersedia di atas meja. Lalu berpindah ke kursi satunya tempat ia sendiri duduk. Sesekali bola mata Sena memandang sekeliling, harap-harap cemas kalau ada teman kantornya yang melihat. Khawatir akan menimbulkan gosip berlebih nantinya. Namun, suasana agaknya terlihat aman terkendali. Mungkin karena jam pulang sudah lewat sejak beberapa jam lalu. Kalau bukan karena lembur, mungkin sekarang Sena juga sudah rebahan santai di rumah. "Kamu sudah lama dekat dengan Dion?" Kelvin memulai pembicaraan. Dari sini sudah dapat diterka ke mana arah percakapan selanjutnya. Sena mengangguk sambil meraih sebungkus usus krispi di atas meja. Merobeknya dan menawarkannya pada Kelvin. Pria itu menolak, ia tak begitu suka dengan jajanan yang berbau kurang sehat menurutnya. "Nggak doyan ya, Pak?" "Usus ayam, hati ampela, kulit ayam, dan sejenisnya itu kurang sehat menurut saya." "Lhah, jadi, batagor itu sehat?" "Intinya saya nggak suka jeroan." "Oh gitu." "Kembali ke topik. Saya ingin tahu sejauh mana hubungan kamu dengan adik saya selama ini?" "Maaf Pak sebelumnya, berapa kali harus saya tegaskan ya, kalau saya dan Dion itu hanya bersahabat. Nggak ada yang lebih spesial dari hubungan kami. Ibarat kata, saya ini cuma sekadar tameng kalau dia sudah bosan sama pacarnya." Tanpa sadar Sena malah keceplosan. Buru-buru ia menepuk bibirnya sendiri. "Tameng? Maksud kamu?" "Begini loh, Pak Kelvin. Tolong jangan salahkan sikap Dion yang memang mungkin kekanakan. Tapi, setau saya dia seperti itu karena ingin lari dari sesuatu. Dion gampang banget bosan kalau menjalin hubungan dengan pacar-pacarnya. Alasannya sih klasik, katanya masih seleksi. Padahal, kalau pun seleksi masa iya gitu-gitu mulu." Kepalang tanggung, Sena akhirnya mencurahkan keluh kesahnya selama ini. Ia sebenarnya juga mengkhawatirkan tindakan Dion. Terakhir kali, pernah seorang perempuan diputuskan oleh Dion dan tak terima. Malah mengadu ke teman-temannya yang sok jagoan, dan berujung pengroyokan terhadap Dion. Sena yang jadi saksi babak belurnya muka pria itu. Untung tak sampai dirawat inap di rumah sakit. Tapi, tentu saja ia tak mau menceritakan hal ini pada Kelvin. Khawatir Kelvin malah akan semakin cemas pada adik kesayangannya itu. "Sebelumnya mungkin saya sudah salah sangka dengan kamu. Jadi, saya perlu memastikannya dengan benar." "Tentang saya dan Dion?" Kelvin mengangguk singkat. "Saya dan Dion benar-benar nggak ada hubungan lebih dari teman, Pak. Seperti yang saya katakan tadi. Saya hanya tameng. Kalau Dion sudah bosan ya pasti yang kena saya, supaya dia bisa putus dengan pacarnya." "Bagaimana dengan perasaan kamu? Apa kamu nggak pernah tertarik dengan Dion selama ini?" Pertanyaan Kelvin berhasil mengembangkan tawa di wajah Sena. Rasanya konyol sekali mendengarnya. Ia juga heran, sedekat apapun dirinya dengan Dion, belum sekali pun terjadi detakan hebat di jantungnya. Semua mengalir apa adanya dan ala kadarnya. Tidak lebih. "Saya dan Dion itu sudah sama-sama paham baik buruk kami, Pak. Jadi, saya rasa nggak ada kepikiran semacam kayak gitu deh." "Oh ya?" Sena mengangguk mantap. Perbincangan terjeda sesaat. Anak bu Encim mengantarkan hidangan yang mereka pesan. Dua gelas es jeruk dan dua piring batagor tersaji di meja. Keduanya melahap perlahan. Diam-diam Sena curi pandang sesekali, memperhatikan sosok menawan di depannya. Lagi-lagi terjadi getaran hebat dalam relung jiwanya. Seketika gadis itu berusaha menepis kilat. Setelah patah hati dengan Ilham, sudah lama ia tak merasakan perasaan macam ini lagi. Dan Sena hanya bisa menghela napas pelan. Mengubur debaran itu sekuat ia mampu. Seolah menyadari bahwa sosok di hadapannya terlalu tinggi untuk digapai. Jangnkan Kelvin, seorang Ilham yang notabene kata orang biasa-biasa saja Sena tak mampu mendapatkannya. Apalagi pria seperti Kelvin yang kebanyakan orang bilang nyaris sempurna. Dalam hati gadis itu merutuk memaki diri sendiri. 'Tolong tahu diri dong, Sen! Jangan sampai beneran naksir sama yang levelnya jauh di atasmu!' rutuknya membatin. Sepertinya ia sedang berusaha membentengi dirinya sendiri, agar tak terlena terlalu dalam dengan pesona seorang Kelvin. Selagi keduanya asik menikmati makanan, seorang kakek tua dengan gitar kecil di tangan terlihat melongok ke arah orang-orang yang sedang makan. Pandangan mata Sena langsung tertuju dengan kakek itu. "Mau pesan, Kek?" tanya Sena ramah. "Air putih saja," kata kakek itu. "Sekalian saja sama batagornya ya, Rin," celetuk Sena pada Karin, anak bu Encim. "Oke, Mbak," balas Karin cepat. "Duduk saja, Pak. Biar saya yang bayar nanti," lanjut Sena. "Terimakasih, Neng. Tapi, saya nggak bisa menerima pemberian orang begitu saja." "Yasudah, Kakek nyanyi satu lagu saja buat kami." Akhirnya pria bertopi ala tentara itu pun mulai memainkan gitar tuanya. Suaranya yang sudah serak hampir tak terdengar tetap bersemangat menyenandungkan salah satu lagu daerah. Sejujurnya, Kelvin agak heran dengan sikap ramah Sena. Ia memandangi gadis itu dengan rasa penasaran yang tiba-tiba muncul tanpa permisi. Senyuman gadis itu semakin merekah di pipinya. "Dion yang ngajarin saya, Pak." "Ngajarin kamu? Tentang?" "Sekecil apapun bantuan kita ke orang lain, jangan pernah menyepelekan apalagi malu. Zaman sekarang orang-orang sukanya berbagi tapi disebarluaskan ke sosmed. Lebih baik, berbagi tapi cukup kita yang tau niat tulus hati kita sendiri." "Dion ngajarin kamu begitu?" Sena mengangguk. "Apalagi yang dia ajarkan ke kamu?" "Ehm... apa ya. Ah ya, katanya, jangan sembarangan pacaran sama laki-laki. Sekarang kebanyakan laki-laki macarin perempuan cuma buat diajak ke hotel atau kos-kosan doang katanya." Kelvin garuk kepala. "Apa nggak salah dia nasihatin kamu kayak gitu? Sendirinya gimana?" "Jangan salah, Pak. Dion itu walaupun sering gonta-ganti pacar, setau saya nggak pernah sampai sejauh itu." "Kamu yakin?" "Sepertinya sih..." Kelvin geleng kepala. "Namanya laki-laki kalau sudah pacaran apalagi cuma main-main, saya rasa larinya nggak jauh-jauh dari hal semacam itu. Bahkan sama orang yang kamu percaya sekali pun, kamu juga harus berhati-hati." "Pak Kelvin sepertinya pengalaman banget ya," sindir Sena sarkastis. "Realistisnya begitu kan." "Ngomong-ngomong, ini saya diajak makan batagor, cuma mau bahas Dion saja kah, Pak?" Kelvin mengangguk singkat. "Saya hanya penasaran dengan hubungan kalian. Itu saja." "Sekarang masih penasaran?" "Lumayan reda." "Di kantor kan nggak boleh ada skandal, Pak. Saya tahu banget itu. Saya rasa Dion juga paham. Jadi, jangan khawatir tentang kami lagi, Pak." "Ya, saya harap benar demikian." "Pak Kelvin datang ke sini bukan sekadar masalah pekerjaan kan?" "Kamu tahu darimana?" "Dion sempat cerita. Sudahlah, lupakan saja. Maaf, Pak, saya nggak bermaksud kepo banget." Sena menyadari ia sudah agak kelewatan ingin tahu terlalu jauh tentang masalah pribadi Kelvin. Dering ponsel Kelvin memaksanya beralih perhatian. Ia menerima telepon dari seseorang. Pria itu kemudian berdiri dan merogoh saku celana. Mencari-cari keberadaan dompetnya. Sayang, ia ingat kalau dompetnya tertinggal di ruangan kerjanya. "Sudah, Pak. Biar saya saja yang bayar. Pak Kelvin buru-buru ya?" "Iya, ada yang harus saya urus. Kamu bayar dulu ya. Besok saya kembalikan. Saya harus pergi sekarang." Sena hanya mengangguk, sembari melihat bosnya berjalan tergesa meninggalkan warung. "Dari belakang aja badannya kelihatan bagus banget," gumamnya tanpa sadar mengagumi. "Yaa Allah . . . di mana pun jodohku berada sekarang, semoga didekatkan, supaya aku nggak khilap lagi naksir sama yang bukan jodohku," harapnya sepenuh hati. Di sisi lain, Kelvin tak sengaja menggigit bibirnya sendiri. "Perasaanku kok mendadak nggak enak ya?" tukasnya seorang diri. &==ISB==&
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN