Bab 3. Nikahi Saya, Pak!

962 Kata
Selamat membaca! "Vi, lo punya cerita apa soal Pak Devan?" Setelah jauh melangkah, akhirnya Tari menanyakan itu. "Kayanya enggak ada salahnya deh gue cerita sama Tari," batin Viola sejenak berpikir sebelum mulai bercerita. "Vi, kok malah diem sih. Lo bikin gue penasaran aja tahu. Sebenarnya ada apa sih antara lo sama Pak Devan dulu?" Baru saja Viola ingin menjawab pertanyaan Tari, tiba-tiba suara Devan terdengar lantang dari arah belakang. "Viola, kamu ikut ke ruangan saya!" Viola memutar tubuhnya, melihat Devan yang ternyata sudah beberapa langkah di belakangnya. "Ish, Bapak kenapa sih kok ngikutin kita?" Spontan Tari menanyakan itu. Ia merasa aneh karena tidak biasanya sang dosen meninggalkan kelas, padahal waktu mengajarnya belum berakhir. "Saya enggak ngikutin kalian, saya hanya ingin Viola mendapatkan hukuman lebih karena tadi dia tidak menyimak materi saya waktu di kelas dan malah ngobrol sama kamu sampai membuat aktivitas mengajar jadi terganggu." Tari diam beberapa saat. Semakin merasa aneh mendengar jawaban Devan. "Tapi, kenapa hanya Viola yang dipanggil ke ruangan Bapak?" "Kenapa?" Suara Devan terdengar lantang hingga membuat Tari meremang ketakutan. "Apa kamu juga mau dapat hukuman dari saya?" Seketika Tari menelan saliva-nya. "Enggak deh, Pak, makasih. Ya udah saya ke lapangan aja ya, mendingan disengat matahari daripada disengat omelan Bapak!" Tari sengaja mengecilkan intonasi suaranya di akhir kalimat berharap agar Devan tidak mendengar perkataannya. Namun nyatanya, pria itu masih dapat mendengar. "Tadi kamu bilang apa, Tari?" "Yang mana ya, Pak?" "Itu yang tadi, setelah kamu bilang mau ke lapangan aja." "Oh itu ...." Tari merasa gugup berada di depan Devan yang tengah menatapnya tajam, membuat nyalinya seketika menciut. "Itu ... maksud saya, matahari di luar bagus buat ngitemin kulit saya, Pak. Ya udah ya, Pak, saya berjemur dulu, takut mendung nih." Sebelum pergi, Tari sempat melihat Viola yang hanya diam menatap Devan. "Vi, hati-hati ya!" "Tenang aja, Tar!" Tari pun pergi. Namun, percakapan itu terdengar oleh Devan yang langsung berdecih kesal dalam hatinya. Devan pun langsung berbalik. Melangkah lebih dulu menuju ruangannya yang ada di sisi koridor berbeda dari tempatnya saat ini. "Ayo cepat, Viola! Saya enggak punya waktu banyak karena harus mengajar lagi." Viola pun bergegas, mulai melangkah menyusul Devan dengan senyuman. "Yes, rencana gue berhasil. Gue udah nebak, Pak Devan pasti takut kalau rahasianya gue ceritain ke Tari, makanya dia sampe nyusulin gue." Setibanya di ruangan Devan, kini keduanya sudah duduk saling berseberangan. Devan masih terus menatap tajam Viola sebelum mulai mengatakan maksud tujuannya meminta gadis itu datang ke ruangannya. "Saya mau tanya, apa saat dulu, di kampus yang lama ... kamu dengar soal–" "Lho, katanya mau ngasih saya hukuman, kok malah nanya masa lalu." "Sudah jawab saja pertanyaan saya! Apa kamu tahu sesuatu soal rahasia saya?" Sorot mata Devan menajam. Raut wajahnya tampak geram. Namun, itu tak membuat Viola gentar. Gadis itu justru semakin kagum karena baginya, Devan adalah sosok yang begitu sempurna tanpa celah. "Rahasia kalau Pak Devan impoten." Devan yang duduk di seberang Viola sampai beranjak menutup mulut gadis itu. Tak ingin siapa pun tahu soal rahasianya. Bagi Devan, sangat memalukan jika sampai ada yang tahu soal penyakit yang selama empat tahun selalu jadi aib memalukan untuknya. "Jangan keras-keras, saya enggak mau ada yang dengar!" Raut wajah Devan tampak kesal. Ia benar-benar tidak menyangka jika takdir kembali mempertemukannya dengan gadis nekat yang empat tahun lalu pernah menyatakan cinta padanya. "Kenapa Bapak harus malu? Penyakit itu kan bisa disembuhkan, Pak?" "Tidak segampang yang kamu pikirkan." Devan semakin kesal karena menurutnya Viola sangat sok tahu. "Mungkin karena Bapak enggak mau sembuh, makanya Bapak belum sembuh." "Maksud kamu?" "Saya masih ingat kalau dulu Bapak bilang enggak mau nikah, padahal mungkin itu satu-satunya jalan biar Bapak bisa sembuh." "Tapi itu memang kenyataannya, kamu tidak tahu kalau ibu saya sudah sering menjodohkan saya dengan anak teman-temannya dan saat saya jujur dengan kondisi saya, mereka semua langsung menolak perjodohan itu. Jadi, bukan saya enggak mau nikah, tapi karena enggak ada siapa pun yang mau menikah dengan laki-laki impoten seperti saya." "Siapa bilang?" Viola melipat kedua tangan di depan dadanya yang memiliki ukuran cukup besar. Namun, semua itu ditutupi Viola dengan pakaian longgar dan sebuah jilbab yang menutupi bagian tersebut. "Ya, saya yang bilang." "Berarti Bapak salah." "Salah?" Devan mengerutkan kening. Merasa heran akan maksud perkataan Viola. "Karena saya mau kok dinikahin, Bapak." Ucapan Viola terdengar bukan main-main sampai membuat Devan tersedak salivanya sendiri. Pria itu dengan cepat menyambar segelas air putih di atas meja, lalu meminumnya. Pandangannya masih menatap heran. "Enggak salah gue nyebut dia gadis nekat, dia memang benar-benar enggak normal." "Gimana, Pak?" "Gimana apanya?" "Nikah ... Bapak mau kan nikahin saya?" Viola bertanya tanpa malu-malu. Sikap gadis itu seketika mengingatkan Devan akan empat tahun lalu saat Viola menyatakan cinta di parkiran mobil. Saat itu, situasi kampus memang tengah sepi karena Devan pulang terlambat dan ia tidak menyangka jika Viola ternyata menunggunya sejak siang. "Jangan bercanda, Viola! Saya enggak mungkin nikah sama kamu." "Kalau Bapak nikahin saya, saya pasti bisa buat penyakit impoten Bapak sembuh." Devan yang awalnya marah, seketika mengulas senyum kecut. Tentu saja, mendengar perkataan Viola membuatnya sampai menahan tawa. Bagaimana mungkin, seorang gadis yang masih kuliah bisa menyembuhkan penyakitnya sementara pengobatan yang dijalani selama empat tahun selalu gagal. "Jangan mengada-ngada! Saya minta kamu tutup mulut dan jaga rahasia saya dari semua orang! Kalau sampai bocor, saya enggak akan segan ngasih nilai rendah untuk mata kuliah saya." Viola diam sejenak. Memikirkan cara apa yang harus dilakukan agar Devan mau menurutinya. Meski sudah lama tidak bertemu. Namun, rasa cinta untuk sang dosen tak pernah berkurang sedikit pun. Itulah alasan kenapa selama ini Viola masih sendiri. Hatinya seolah terkunci rapat untuk nama Devan seorang. Setelah beberapa detik berpikir, rencana itu pun datang. "Gue punya ide." Di dalam hati Viola bicara. Gadis itu tersenyum kecil. Merasa idenya akan berhasil menjerat Devan dalam lingkaran cintanya. Bersambung✍️
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN