Bab 6. Sandiwara Ketahuan

1022 Kata
Selamat membaca! "Kenapa sih punya suami nyebelin banget, ya? Tapi ... gue enggak boleh nyerah. Gue bakal terus godain Pak Devan biar dia luluh dan akhirnya bisa cinta sama gue." Viola terdengar menggerutu kesal saat baru saja masuk kamar mandi. Masih ingat dengan penolakan Devan tadi. Sementara itu, pria yang sempat merasa kesal dengan sikap Viola tadi terlihat duduk di tepi ranjang. "Cinta? Dulu Renata bilang cinta, tapi dia malah main belakang dan nyakitin gue." Devan berdecih kesal. Menguatkan hati untuk tak begitu saja percaya dengan perkataan Viola. Ya, ingatan pria itu sesaat tertarik ke belakang waktu di mana ia memergoki tunangannya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri dan alasan yang didapat Devan dari wanita bernama Renata itu adalah momen yang paling menyakitkan dalam hidupnya. Momen di mana sejak saat itu, Devan menderita disfungsi ereksi sampai hari ini. "Cinta itu bulshit! Gue enggak boleh lagi percaya sama yang namanya cinta. Dulu Renata juga bilang cinta sama gue, tapi apa, dia malah selingkuh sama Elmer hanya karena gue enggak pernah bisa muasin dia, belum lagi Silvi, dia malah nikah sama anak pejabat. Ah, kayanya semua cewek sama aja." Mengingat hal itu, amarah mulai menguasai dirinya. Tangan Devan tampak mengepal erat, memukul beberapa kali tepi ranjang dengan cukup keras saat mengingat kisah cintanya yang selalu berakhir mengenaskan. Di tengah rasa kesal Devan, suara ketukan pintu terdengar dari depan kamar. Pria itu pun dengan cepat menyudahi amarahnya. "Devan, Viola, yuk kita makan siang dulu di bawah!" Suara itu terdengar tak asing di telinga Devan. Suara dari wanita yang sangat dicintainya. Ya, ibunya yang bernama Nilam Sari adalah seorang single parent sejak Devan berusia 17 tahun. "Iya, Mah, tapi Viola lagi mandi dulu." Sambil menjawab Devan melangkah. Membuka pintu dan tersenyum menatap wajah keriput ibunya yang beberapa bulan lagi akan berusia 55 tahun. "Ya udah, Mama tunggu di bawah, ya. Kamu coba kasih tahu Viola soalnya ayah dan ibunya juga nungguin dia!" "Iya, Mah." Devan tersenyum. Melihat sang ibu yang setelah mengulas senyum langsung berbalik, lalu kembali melangkah menuju anak tangga yang ada di ujung koridor sana. "Kenapa gue harus terjebak hubungan kaya gini sama cewe yang gue pikir enggak akan pernah lagi gue temuin?" Sambil menutup pintu kamar, Devan menghela napas dengan kasar. Pria itu benar-benar tidak menyangka bahwa ia akan mengabulkan ancaman Viola demi menutupi rahasia penyakitnya. "Vi, buruan mandinya! Mama saya tadi ke sini, katanya orang tua kamu juga nungguin di bawah. Mereka ngajakin makan siang bareng." Satu sampai dua kali, Devan terus memanggil Viola. Namun, gadis cantik itu tetap tidak menggubris panggilannya. Devan pun meradang. Pria itu mengetuk dengan lebih keras. Ia mengira Viola memang sengaja tak menjawab karena ingin mengerjainya. "Kenapa dia enggak jawab-jawab, ya?" Devan semakin heran, terlebih setelah ia mengetuk pintu dengan keras, tetapi masih tak ada jawaban dari Viola. "Jangan-jangan ...." Amarah dan rasa kesal yang sempat mengusiknya, tiba-tiba berubah jadi cemas. Tanpa ragu, Devan langsung membuka pintu kamar mandi yang ternyata memang tidak terkunci. "Viola ...." Pandangan Devan langsung tertuju pada sosok wanita tanpa pakaian dengan tubuh yang basah kini terbaring membelakanginya di bawah guyuran air dari shower yang belum dimatikan. "Kamu kenapa, Vi?" Sebelum berlutut menghampiri Viola, Devan mengambil handuk tebal berwarna putih yang menggantung di sisi pintu kamar mandi. "Vi, sadar, Vi ... kenapa kamu bisa pingsan begini?" Devan sudah berlutut setelah memutar kran shower agar tak lagi membasahi tubuh Viola. Dengan perlahan, Devan mulai mengangkat tubuh Viola hingga menghadapnya dan tepat berada di atas pangkuannya. Tubuh polos itu terpampang jelas di kedua mata Devan hingga membuat pria itu sampai kesulitan menelan saliva-nya sendiri. "Sebaiknya gue keringin dulu tubuh Viola." Walaupun pikirannya tengah melayang, Devan tetap mengusap setiap bagian di tubuh Viola dengan handuk yang ada di tangan kirinya, sementara tangan kanannya masih menopang tubuh Viola yang ada di atas pangkuannya. "Kenapa setiap ngelihat tubuh Viola, seperti ada reaksi yang gue rasain di bawah sana? Apa mungkin Viola emang bisa nyembuhin penyakit impoten gue?" Di dalam hati, Devan coba mengerti dengan situasi yang tengah dihadapinya. Situasi yang tentu saja sangat membingungkan. Bagaimana tidak, ini adalah pertama kali pusaka miliknya bereaksi, padahal sebelumnya hal itu tidak pernah terjadi. Bahkan sekalipun Devan sengaja membayar wanita malam, semua itu sia-sia. Bukan hanya tak ada reaksi, pria yang memang sejak kecil memiliki cita-cita menjadi dosen itu tidak merasakan hasrat apa pun, walau wanita itu menyentuh tubuhnya sampai membuka pakaian hingga tubuh polosnya terlihat jelas di mata Devan. "Ish, sempet-sempetnya di saat kaya gini gue malah ingat itu." Sadar dari lamunannya, Devan langsung menggendong tubuh Viola. Tubuh ramping yang putih mulus itu kini sudah berada dalam kedua tangannya. Sepanjang perjalanan menuju ranjang, Viola yang ternyata hanya pura-pura pingsan tak kuasa menahan senyuman. "Ya ampun, baru digendong Pak Devan aja gue udah sebegini senengnya, apa lagi kalau lebih dari ini," batin Viola yang memang sengaja bersandiwara hanya agar bisa lebih dekat dengan Devan. "Oh, jadi kamu pura-pura pingsan." Tiba-Tiba suara itu terdengar lantang saat melihat senyuman Viola yang hampir luput dari pandangannya. Perkataan Devan seketika membuat Viola terkejut. Gadis cantik itu pun langsung membuka mata, lalu tersenyum dengan barisan gigi putih yang tampak rapi tepat ketika Devan sudah tiba di samping ranjang. "Ketahuan ya, Pak." "Udah salah malah nyengir lagi!" Devan menatap tajam. Tanpa aba-aba, pria itu melepas dekapannya hingga tubuh Viola jatuh mengenai tepi ranjang dan mendarat tepat di atas lantai. "Aduh, sakit, Pak." Gadis itu terdengar mengaduh. Merintih sambil memegangi bagian pinggulnya yang baru saja membentur tepi ranjang. "Bisa enggak sih, Pak, jangan kasar-kasar sama istri sendiri!" "Ya, suruh siapa ngerjain saya!" Devan balik menampilkan raut wajah kesal. Dengan acuh, pria itu pun berbalik, lalu pergi begitu saja menuju pintu kamar. Namun sebelum keluar, Devan sempat menoleh kembali melihat Viola yang tengah berusaha bangkit dari posisi jatuhnya. "Sudah cepat pakai bajumu dan langsung ke bawah! Jangan sampe Ibu saya ke atas lagi cuma buat manggil kamu!" perintah Devan dengan suara tegas tanpa ada rasa bersalah karena telah menjatuhkan Viola. "Ih, dasar nyebelin! Enggak jadi dosen, enggak jadi suami, sama aja killer-nya. Aduh, mana sakit lagi ... apes, apes, udah di jatuhin, enggak di tolongin, eh ditinggal juga." Viola masih menggerutu, menatap kepergian Devan yang sudah tak lagi terlihat. Bersambung ✍️
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN