Mau tak mau, Layla akhirnya membawa Kai ke kampus bersamanya. Mereka pergi menggunakan ojek online. Itu merupakan pengalaman pertama bagi Kai naik motor, duduk di depan pula. Sepanjang jalan, anak itu tampak sangat antusias.
Setibanya di kampus, Aldi tanpa sadar mengenali sosok anak kecil yang di bawa oleh salah seorang mahasiswinya. Alasan dia mempercepat mata kuliah hari ini adalah agar bisa membantu sang kakak mencari anaknya yang hilang dari semalam.
Aldi mengikuti langkah Layla dan kemudian kehilangan jejak saat Layla membelokkan diri ke arah kantin. Banyak yang menatap kagum pada Kai. Dan tak sedikit yang menatap aneh Layla membawa anak kecil ke kampus.
“Tia!” kejut Layla pada gadis yang tengah menyeruput jus jeruknya.
“k*****t!” Tia mengumpat kaget. Sedangkan Layla bertahan dengan cengirannya. Kai yang mendengar kata baru dari orang di depannya, menarik sudut baju Layla.
“Mommy. k*****t apa?” tanya Kai dengan wajah polosnya. Sontak Layla menepuk jidat, melupakan keberadaan anak itu di sampingnya.
“Ha? Oh, itu.. i-itu makanan,” jawab Layla asal.
“Ohh.. Kai mau k*****t, mommy!” seru Kai membuat beberapa pasang mata menatap ke arah mereka.
“APA? MOMMY?!” jerit Tia membuat Layla dan Kai kompak menutup telinga.
“Ssttt! Diem lu!” tegur Layla sembari menutup mulut Tia yang seperti keran bocor.
“Koma! Lu harus jelasin ke gue SE.MU.A.NYA!” tegas Tia yang diangguki oleh Layla.
“Iya gue jelasin. Tapi bantu gue buat nyari solusi soal si Kai!”
Tia menatap wajah tampan Kai di hadapannya. Seandainya Tia sudah bisa mengurus dirinya sendiri, dia pasti akan dengan suka rela menampung anak tampan itu.
“Udah, bawa aja ke kelas..” ucap Tia enteng, tak memberikan solusi apapun untuk Layla.
“Lu gila?!” jerit Layla tertahan.
“Enggak. Lagian pak Aldi penyuka anak-anak, kan? Siapa tahu dengan adanya Kai, kelas jadi di kosongin,” balas Tia mengangkat bahunya.
“Mommy..” panggil Kai membuat Layla menoleh.
“Iya, Kai?” sahut Layla lembut. Berbeda saat dia mengumpat pada Tia tadi.
“Kai boleh duduk? Kai juga haus,” tanya Kai membuat Layla menepuk jidatnya.
“Astaga! Maaf Kai, kakak gak peka memang.” Layla pun mengangkat tubuh Kai ke atas kursi dan mengeluarkan botol minuman dari tas-nya.
“Ini minum untuk Kai,” ucap Layla sembari membantu anak tampan itu memegang botol minum di tangannya. Semua perlakuan itu tak lepas dari pandangan Tia. Dia melotot tak percaya melihat semua yang Layla lakukan pada Kai.
“Sudah mommy,” Kai menjauhkan botol minum itu dari mulutnya.
“Good boy!” puji Layla dengan senyum mengembang.
“Ayo deh La! 15 menit lagi kelas,” ajak Tia yang di angguki oleh Layla.
“Ayo Kai!”
“Ote mommy!”
Mereka pun berjalan beriringan bertiga dengan Kai menggenggam erat tangan Layla. Koma adalah Layla. Koma dan Layla itu satu, tidak dapat dipisahkan. Perhatikan saja di setiap penulisannya. Semua pasti di akhiri dengan koma atau koma-lah tanda baca yang mendominasi setiap tulisannya. Pernah beberapa kali dia disuruh merevisi jurnal atau tugas karena tanda baca koma yang mendominasi isi tulisannya.
“Layla!” Revan mendekat ke arah Layla, Tia, dan Kai.
“Apa? Lu gak usah deketin si Koma lagi Rev,” ucap Tia membuat Revan menaikkan alis.
“Kenapa?” tanya lelaki berperawakan bule itu.
“Liat noh!” Tia menunjuk ke arah Kai. “Dia udah punya anak,” sambung Tia membuat Layla dan Revan sama-sama melebarkan mata.
“Tia!” tegur Layla.
“Halo om yang gantengnya masih gantengan daddy!” sapa Kai membuat ketiga mahasiswa itu menoleh ke arah anak tampan di dekat mereka. “Aku Kai. Anak mommy,” Kai tersenyum bangga memperkenalkan dirinya.
“Nah kan! Gue bener,” Tia membenarkan diri.
“Hai boy!” Revan menundukkan badannya, hingga sejajar dengan Kai- walaupun begitu, Revan masih lebih tinggi dari Kai.
“Daddy mu siapa, boy?” tanya Revan.
“Daddy Babas!” seru Kai membuat beberapa orang langsung mengelilingi mereka.
“Nah! Bilang sama daddy kamu, buat nikahin kakak ini dulu. Baru kamu nanti bisa panggil mommy sama kakak ini,” jelas Revan dengan kata-kata di buat sesederhana mungkin.
Plak
Layla sontak memukul belakang kepala Revan tanpa ampun.
“Koma!” Revan menggeram marah karena rambutnya jadi berantakan.
“APA?!” Layla mengancam melalui matanya yang hampir keluar.
“Ada apa kalian berkumpul di sini? Tidak ingin masuk kelas?!” suara tegas ala dosen yang mereka kenali dengan pak Aldi tiba-tiba datang.
“Om Didi!” seru Kai saat melihat dosen bernama Aldi itu datang menghampiri mereka.
“Kai?!” Aldi ikut terkejut melihat ponakan yang menyebabkan satu rumah heboh karena kehilangannya, muncul di kampus tempat dia mengajar.
Semua yang ada di sana terkejut dengan panggilan Kai pada dosen mereka. Didi? Benarkah? Panggilan lucu itu? Untuk dosen jutek seperti pak Aldi?
“Ayo ikut om pulang!” Aldi menghampiri Kai dan membawa anak itu dalam gendongannya.
“No! Kai mau sama mommy!” seru Kai berusaha menggapai Layla. Sedangkan Layla sedikit tercubit hatinya dengan pemberontakan anak tampan yang membuat dia repot seperti seorang ibu dalam semalam.
Pak Aldi pun berjalan menjauhi kerumunan mahasiswa membawa Kai yang memberontak ingin diturunkan.
“Hari ini kelas di kosongkan!” seru Aldi dari kejauhan.
“Horay!” seru beberapa mahasiswa.
“Hiks.. Mommy!” tangisan Kai masih terdengar sampai Aldi benar-benar hilang di tikungan.
“Koma!” Tia menepuk bahu Layla membuat sang empunya bahu sedikit berjingkit kaget.
“Ha? Apa?” Layla menatap Tia dengan tatapan bertanya.
“Lu gak pa-pa, kan?” Tia menyadari perubahan raut wajah temannya itu.
Layla menggelengkan kepala dan tersenyum. “Gak pa-pa. Udah ayo!” ajak Layla melangkahkan kaki meninggalkan teman-teman kelasnya yang masih tak menyangka seorang pak Aldi membatalkan kelas.
Setelah berjalan cukup lama, mereka pun memutuskan untuk duduk di café dekat kampus. Layla masih diam. Padahal biasanya dia cukup cerewet hanya untuk mengundang tawa keduanya.
“Koma. Lu baik-baik aja, kan?” Tia kembali membuyarkan lamunan Layla.
“Ga tau. Gue masih kebayang wajah Kai tadi,” Layla mengaduk minuman di hadapannya tanpa niat.
“Lu mulai suka sama tuh bocah?”
“Pedo lu?”
Plak
“Aws!”
“Mulut lu sekate-kate!” kesal Layla membuat Tia tertawa. Ini Koma yang coba dia kembalikan.
“Udah Koma. Lu ikhlasin aja si Kai balik ke keluarganya. Emang lu sanggup ngurus tuh bocah? Lu masih kuliah,” Tia mengingatkan.
“Iya-iya, iyain..” Layla hanya mengangguk.
“Akhir bulan nih..” Tia menggantung ucapannya. Layla yang mendengar itu tahu kalau temannya itu akan numpang makan dan nginap di kosan-nya.
“Emang kawan gak ada akhlak lu!”
“Hahaha..”
“Gak ada nginep-nginep!”
“Ayolah Koma,”
“Wogah!”
Café pun ramai dengan gelak tawa juga pertengkaran keduanya.
Sementara itu di rumah besar yang sudah di buat panik selama hampir 24 jam itu, tiba-tiba dikejutkan dengan suara tangisan. Sontak semua pun menatap ke arah teras rumah, tempat berasalnya suara tangisan itu.
“Skylar!” seorang wanita dengan umur yang tidak lagi muda, menghampiri pemilik suara tangisan itu.
“Grandma!” Kai berontak meminta Aldi menurunkannya. Aldi pun tanpa basa-basi langsung menurunkan ponakannya itu dari gendongan dan membiarkan kaki-kaki kecil itu menghampiri grandma-nya.
“Hiks.. Om Didi jahat grandma!” kadu Kai dengan tangis khas anak kecil.
“Kok om? Om itu yang nemuin Kai,” ucap Aldi tak terima.
“Cup-cup-cup... Nanti grandma hukum om Didi. Sekarang cucu grandma ikut grandma ayuk,” ajak Lotera sembari menggendong cucu sematawayangnya itu.
“Hiks.. Kai mau mommy, grandma..”
Deg
“Mommy?” Loreta terkejut dengan ucapan cucunya.
“Hum,” Kai mengangguk dengan memajukan bibirnya.
“Aldi!” panggil Loreta, membuat anak bungsunya itu menoleh.
“Ya ma?”
“Hubungi abangmu! Bilang Kai sudah di rumah,” perintah Loreta yang di angguki oleh Aldi.
“Iya-iya ibu negara,” balas Aldi dan segera mendial nomor abangnya.
Loreta melanjutkan jalan menuju kamar cucunya. Lalu dia pun mengusap jejak air mata Kai dan mencium puncak kepala cucu sematawayangnya itu dengan sayang. Loreta bukan tak terkejut saat Kai mengatakan kata yang tak pernah dia sebutkan sebelumnya.
“Bu. Pak Bastian sudah datang,” asisten rumah tangga datang menghampiri.
“Baiklah. Jaga Kai di sini! Saya akan menghampiri duda ekor satu itu,” ucap Loreta pelan sembari beranjak meninggalkan kamar sang cucu.