BAB 12

2816 Kata
Saat aku sudah mengisi penuh baterai ponselku, akupun langsung menghidupkannya. Begitu banyak pesan dari rumah, ada juga dari pamanku. Aku lupa mengabari mereka. Mereka sangat mencemaskanku karena aku tidak kunjung sampai di rumah pamanku. Akupun segera men-dial nomor mama. “Assalammualaikum. Mila kamu kemana aja? Mama sangat cemas nak.” Terdengar suara kecemasan dari seberang sana. “Waalaikumsalam. Mila baik-baik saja Ma, maaf Ma. Mila ada suatu urusan yang harus Mila selesaikan , makanya Mila belum sampai ke rumah paman Arman. Tapi setelah urusan Mila selesai, Mila akan segera kesana.” Jelasku. “Urusan apa yang sampai membuatmu membatalkan perjalananmu kesana?” Tanya Mama. “Nanti aja ceritanya Ma. Pokoknya Mila baik-baik aja disini, Mila sekarang di rumah temen Mila Ma.” “Temen yang mana?” Introgasi Mama. “Ada temen Mila pokoknya. Nanti Mila ceritain. Udah pokoknya Mama tenang aja ya.” “Yaudah, jaga diri kamu baik-baik disana ya nak. Kalo ada apa-apa segera hubungin mama. Terus kalo urusan disana udah selesai cepat pulang ke rumah pamanmu. Atau kembali ke rumah saja.” Seru Mama. “Oke baiklah Mamaku yang cantik. Oh iya Ma, udah dulu ya nanti Mila telepon lagi. Gak enak soalnya sama keluarga temen Mila ma.” Ucapku hendak mengakhiri panggilanku. “Yaudah, baik-baik disana pokoknya ya nak.” Ucap Mama sebelum akhirnya memutuskan sambungan teleponnya. “Permisi Nyonya muda, anda di panggil Nenek di kamarnya.” Panggil Oni. “Oni.. jangan panggil aku nyonya muda. Aku merasa aneh dengan sebutan itu.” Pintaku. “Tidak Nyonya. Memang sudah seharusnya seperti itu disini, nanti aku dimarahin.” Jawabnya. “Oke baiklah Oni. Aku ke kamar Nenek dulu, lanjutkan pekerjaanmu.” Akupun langsung pergi ke kamar nenek untuk menemui nenek. “Nenek memanggilku?” Tanyaku dari balik pintu. “Iya Mila. Kemarilah.” Nenek menyuruhku untuk duduk didekatnya. Nenek memberikanku sebuah gelang tangan. “Ini untukku Nenek?” Tanyaku bingung. “Tentu saja. Sekarang kan kamu istrinya Dave, jadi nenek ingin memberikan gelang nenek padamu. Dulu, Kakeknya Dave memberikan gelang ini pada nenek sebagai bukti cintanya. Sekarang, gelang ini nenek wariskan padamu sebagai tanda cinta Dave padamu. Nenek sudah lama menunggu kehadiran cucu menantu Nenek, sekarang akhirnya kita bisa bertemu.” Jelas nenek. “Tapi gelang ini terlalu indah nek. Mila gak pantas nerimanya.” Tolakku karena harusnya gelang itu memang harus melingkar ditangan istrinya Dave dan itu bukan aku. “Tidak Mila. Kamu pantas untuk mengenakannya.” Ucap nenek sambil memasangkan gelang tersebut padaku. “Ayo sekarang temani Nenek jalan-jalan keluar. Nenek ingin menghirup udara segar.” Pintanya. Akupun menemaninya untuk berkeliling-keliling di sekitaran rumahnya. Ini juga baik untuk kesehatannya. Pikirku. Sepertinya kesehatan nenek semakin membaik. Begitu mujarabkah pertemuannya dengan cucunya sehingga membuatnya lebih cepat membaik. Batinku. Setelah cukup lama berjalan-jalan bersama Nenek, akupun mengajak Nenek untuk kembali masuk kedalam rumah. Aku menyuruhnya untuk beristirahat. Setelah nenek beristirahat, aku menghampiri Dave yang sedang asyik dengan laptopnya di teras atas. “Lagi sibuk ya?” Sapa ku. “Oh gak kok, aku hanya sedang mengirim email dan memantau perkembangan minimarketku yang disana. Ayo duduklah disini.” Ujarnya. Akupun duduk dihadapannya. “Dave, Nenekmu memberikanku ini.” Aku menunjukkan gelang yang sudah melingkar di pergelangan tanganku. “Itu kan gelang nenek.” Ucapnya. Aku menganggukkan kepalaku. “Nenek memberikannya padaku, Nenek bilang ini sebagai ungkapan rasa cintamu padaku.” Jelasku. “Hahaha….” Dave tertawa geli. “Kok malah ketawa sih? Lucunya dimana?” Tanyaku bingung. “Gak pa-pa lucu aja. Ungkapan cinta, nenek ada-ada saja.” Dave menggelengkan kepalanya. “Karena tidak ingin mengecewakannnya, aku menerima gelang ini. Nanti jika kamu semua ini sudah clear aku akan mengembalikannya padamu, dan berikan pada istrimu kelak. Karena Nenek mengatakan, ini untuk istrinya Dave yang sangat Dave cintai.” Ujarku. “Tidak perlu, Nenek memberikannya padamu. Ambil saja, tidak perlu dikembalikan.” Ucapnya. “Tidak. Aku kan bukan istrimu.” Jawabku. “Oke baiklah. Terserah padamu saja.” Dave tersenyum. “Ternyata kalian ada disini. Kami ingin bicara hal serius pada kalian.” Tiba-tiba suara Nenek dan terlihat datang bersama Mama Dave menghampiri kami. Astaga, sejak kapan mereka berada disana? Apa mereka mendengar pembicaraan kami. Matilah kami setelah ini. Batinku cemas. Aku dan Dave saling memandang. “Kenapa wajah kalian berubah jadi tegang gitu?” Tanya mama Dave. “Emmm.. kita Cuma kaget aja kalian tiba-tiba ada disini.” Jawab Dave. “Mama dan Nenek ingin mengatakan bahwa kami ingin mengadakan acara pernikahan ulang untuk kalian disini.” Ungkap Mama Dave. “Apa menikah??” Teriakku bersamaan dengan Dave, kami sama-sama terkejut. “Loh kenapa terkejut? Bukankah sebelumnya kalian sudah menikah kan disana, lalu apa salahnya jika menikah lagi disini. Atau jangan-jangan kalian memang belum menikah?” Selidik Mama Dave memandang kami berdua. “Bukan begitu Ma, apa gunanya menikah lagi. Toh kami sudah menikah sebelumnya, itu sudah cukup.” Tolak Dave. “Dave benar Ma.” Timbalku. “Tidak. Nenek ingin menyaksikan sendiri pernikahan kalian didepan mata nenek, ini juga untuk kebaikan kalian biar orang-orang disini mengenal kalian sebagai pasangan suami istri yang sah.” Sahut nenek. “Tapi kami sudah menikah Nenek.” Bantah Dave. “Mana buku nikah kalian. Nenek ingin lihat.” Pinta Nenek tentu saja membuat kami mati kutu. “Buku.. buku nikahnya tidak sengaja aku hilangkan.” Jawaban Dave bodoh sekali, mana ada pasangan yang menghilangkan buku nikah mereka. “Jadi tidak ada alasan untuk menolak menikah lagi. Biar makin sah.” Seru Nenek. “Mila sayang.” Panggil Nenek padaku. “Eee.. iya Nek?” Jawabku. “Bisa telepon orang tuamu sekarang? Beritahu mereka bahwa kalian akan menikah ulang disini.” Pinta Nenek. “Orang tuaku Nek? Tapi mereka pasti masih sibuk dengan pekerjaan mereka Nek.” Aku mencoba untuk menghindar dari masalah ini. “Mana ada orang tua yang masih bisa sibuk dengan pekerjaan mereka jika anaknya akan menikah.” Sahut Mama Dave. “Iya Nek, nanti Mila telepon mereka. Ponsel Mila lowbet sekarang.” Alasku. Nenek mengangguk lalu berlalu pergi meninggalkan kami disana. Aku dan Dave segera masuk kedalam kamar Dave, sama bingung dan mencoba mencari jalan keluar dari masalah ini. “Aduuhh Dave bagaimana ini? Masak iya kita harus nikah sungguhan.” Keluhku. “Aku juga lagi bingung Mila. Aku belum ingin menikah. Aku akan mengatakan kebenarannya sekarang juga. Ini sudah terlalu jauh. Ayo kita temui mereka.” Ucap Dave lalu beranjak hendak keluar kamar, namun langkah kami terhenti saat ponselku berbunyi. Ternyata Mamaku menelponku, tanpa berpikir akupun segera menjawab telepon darinya dan mencoba mencari solusi dari masalah yang sedang aku hadapi saat ini. Aku menjelaskan semuanya pada Mama, dan tentu saja hal itu membuat Mamaku terkejut. “Menikah benaran? Aduuhh Mila kamu ini gimana masak bisa kejebak lagi dengan masalah ginian.” Gerutu Mama. “Mama, marahnya nanti aja. Tolong bantuin Mila Mama.” Pintaku yang sudah hampir pasrah. “Sebentar Mama diskusi dulu sama Papa. Jangan tutup teleponnya.” Seru Mama padaku. Terdengar Mama menceritakan pada Papa, semua yang aku ceritakan padanya. “Mama jangan lama-lama diskusinya. Ini sangat mendesak.” Desakku. “Sabar dulu Mila.” Ucap Mamaku. “Aku setuju jika mereka menikah. Biarkan saja, itu bagus untuk Mila agar dia bisa melupakan Vano.” Terdengar suara papa yang malah menyuruhku menikah dengan Dave. “Apa??? Mama kenapa Papa bilang gitu?” Keluhku pada Mama. “Mila…” Nenek tiba-tiba membuka pintu kamar Dave, kami sama terkejut. “Halo Nak… Mila.. apa kamu masih disana?” Tanya Mama dari dalam telepon. Aku kembali menjawab panggilan Mama. “Aa iya Ma. Maaf Ma Mila…” Aku bingung harus mengatakan apa lagi, aku sudah merasa sangat gugup saat melihat Nenek. “Itu Mamamu?” Tanya Nenek. Akupun menganggukkan kepalaku dengan cemas. “Nerikan pada Nenek, biar Nenek yang berbicara pada orang tuamu.” Pinta Nenek. “Tapi Nek..” Ucapku ragu. “Percaya saja pada Menek. Berikan ponselmu.” Pinta Nenek kembali. Akupun memberikan ponselku pada Nenek, Nenek keluar bersama dengan ponselku dan berbicara dengan Mama. Aku tidak tahu apa yang akan mereka bicarakan. Cukup lama Nenek membawa ponselku keluar kamar Dave bersamanya, hingga saat nenek mengembalikan ponselku. Nenek mengatakan hal yang membuat kami terkejut. “Orang tuamu besok akan kemari, Nenek sudah memberikan alamat disini. Tiga hari lagi kalian akan menikah ulang.” Jelas Nenek lalu berlalu pergi. Aku duduk di atas kasur Dave dengan lemas, menikah? Aku akan menikah? Rasanya aku mau gila memikirkan semua ini. “Jika orang tuamu pun bahkan sampai datang kemari, maka tidak ada jalan lain selain menyetujui pernikahan ini.” Ujar Dave. “Tapi Dave..” “Jangan khawatir, kita hanya menikah. Bukan menjadi suami istri sungguhan. Aku akan menceraikanmu nanti, dan mereka tidak akan menyalahkanmu. Aku juga tidak akan berbuat hal yang macam-macam padamu. Percayalah. Aku juga minta maaf karena sudah membawamu kedalam masalah sebesar ini.” Sesal Dave. “Aku juga bersalah dalam hal ini.” Ucapku lesu. *** “Saya terima nikahnya Kamila Kusuma binti Pratama dengan mas kawin tersebut, tunai.” Ucap Dave dengan lantang. “Bagaimana para saksi? Sah?” Tanya Bapak penghulu. “Sah.” Jawab mereka bersamaan. “Alhamdulillah.” Lalu doa dipimpin oleh penghulu tersebut. Sekarang aku sah istrinya Dave. Permainan yang gila. Bagaimana aku bisa bermain-main dengan pernikahan. Mereka menyuruhku untuk mencium tangan Dave, akupun menuruti keinginan mereka. Saat mereka menyuruh Dave untuk mencium keningku, aku dan Dave sama-sama enggan melakukannya. “Kayak baru pengantin baru aja, cium kening aja malu.” Goda Tante Maya. Setelah prosesi pernikahan, mereka sibuk dengan urusan masing-masing menikmati pesta pernikahan kami. Aku memohon pada Papa dan Mamaku untuk merahasiakan pernikahanku dengan Dave pada Vano. Aku tidak ingin membuatnya salah paham padaku dan menyakiti hatinya. Awalnya Papaku menolaknya, tapi setelah aku dan Mama membujuknya, syukurlah akhirnya Papa mau menuruti keinginanku. “Mama berikan kamu sebagian perhiasan Mama padamu, siapa tahu nanti kamu membutuhkannya.” Ucap Mama. “Mama.. seharusnya Mama tidak perlu melakukan semua itu.” Ucapku sedih. “Mama tidak tahu apa yang akan terjadi padamu nanti Nak, menikah seperti ini. Mama juga tidak tahu apa suamimu akan mencintaimu atau tidak, apa keluarganya akan baik terus seperti ini atau tidak. Jika kau tidak kuat, maka pulanglah. Pintu rumahmu selalu terbuka untukmu kembali Nak.” Mama menitikkan airmatanya. “Mama kenapa mama nangis? Mila bukan menikah untuk meninggalkan Mama. Setelah semua masalah ini selesai, Mila pasti akan kembali. Dave juga sudah berjanji pada Mila Ma.” Jelasku meyakinkan Mama. “Oh iya adikku yang paling cantik. Mobil kakak, buat kamu juga ya. Kakak bisa pakek mobil yang dirumah.” Timbal Kak Mike. “Kakak.. aku sangat menyayangimu.” Aku menangis memeluk Kakakku, aku sangat bersyukur rasa yang ku miliki untuk kak Mike saat ini tidak lebih hanyalah sekedar rasa sayang Adik pada Kakaknya. Dave datang menghampiri kami. “Aku titip Adikku padamu Dave, aku tidak akan mengampunimu jika kamu menyakitinya.” Ancam Kakakku. Dave menganggukkan kepalanya. “Dave, tolong jagain Mila ya. Meski kalian menikah bukan atas dasar cinta, tapi Mama berharap kamu akan melindungi Mila dari hal-hal yang buruk.” Pinta Mamaku. “Pasti Ma, Mila gadis yang baik. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya.” Ucap Dave meyakinkan Mama. “Papa percaya padamu Nak.” Timbal papaku merangkul bahu Dave. Kenapa mereka terlihat menjadi lebih akrab. Bahkan seperti aku benar-benar menikah sungguhan. Gumamku. *** Aku terbangun dari tidurku karena suara alunan seseorang, bukan alunan lagu tapi aku tahu itu adalah lantunan ayat suci Al-qur’an. Ku amati Dave sedang membaca Al-qur’an, aku bahkan tidak menyangka ternyata dia pandai mengaji. Aku duduk di atas kasur dengan menekuk kedua kakiku ke atas yang masih terbalut selimut, aku terus mendengarkan dia mengaji. “Kamu udah bangun?” Tanyanya ketika ia menghentikan mengajinya. Aku menganggukkan kepalaku. “Apa kamu sering mengaji seperti ini?” Tanyaku. Dia membalasku dengan anggukan juga. “Pastilah suaraku sudah menganggu tidurmu. Maafkan aku.” Ucapnya. “Tidak. Aku suka mendengarmu mengaji.” Ujarku tersenyum. “Kamu juga bisa mengaji kan? Ayo mengaji bersamaku.” Ajaknya. “Bisa sih, tapi sudah lama tidak ku lakukan. Mungkin terakhir kali ketika aku duduk di bangku SMA. Mungkin juga aku sudah lupa cara membacanya dengan benar.” Ungkapku. “Berwudhulah, terus kamu sholat subuh. Lalu setelah itu, aku akan mengingatkanmu kembali bagaimana cara membacanya dengan benar.” Manis sekali niat Dave. Aku menyetujuinya, langsung saja aku menuju kamar mandi dan mengambil air wudhu. Setelah aku menyelesaikan sholat subuh, Dave benar-benar menyuruhku mengaji. Aku tidak merasa malu padanya saat aku melakukan kesalahan dalam membacanya, bahkan tidak jarang aku membacanya dengan salah tanda baca. “Tuan muda!!!!” Teriak Oni dari luar diiringi dengan ketukan pintu yang sangat kuat. Kami pun segera beranjak menuju pintu dan membukanya. “Ada apa Oni?” Tanya Dave cemas. Akupun ikut cemas melihat ekspresi Oni. “Nenek tuan, nenek. Nenek colaps lagi..” Ungkapnya sambil menangis. Dave langsung berlari menuju ke kamar Nenek. Aku segera melepaskan mungkena yang sedang ku pakai dan menyusul mereka ke kamar Nenek. Sesampainya aku disana, ternyata Nenek sudah berpulang ke pangkuan yang Maha Kuasa. “Nenek….” Tangis Dave pecah saat itu juga. Tanpa terasa airmataku juga ikut mengalir di pipiku, Nenek yang begitu baik pergi meninggalkan kami begitu cepat. “Bagaimana ini bisa terjadi Ma?” Tanya Dave. “Mama juga tidak tahu Dave, seperti biasa Sela kan selalu mengunjungi Nenekmu untuk bertanya tentang bacaan Al-Qur’an. Saat Sela pergi memanggil Mama, Sela mengatakan bahwa d**a nenek sesak. Mama segera berlari kemari, dan Nenekmu semakin kritis.” Jelas Mama. “Sekarang Nenek tidak akan merasakan sakit lagi, Nenek pasti akan sehat terus disana. Semoga Allah menempatkan Nenek di surganya.” Ucap Dave dalam tangisnya. Kami semua menangis karena kehilangan Nenek. *** Setelah satu minggu dari kepergian nenek yang meninggalkan kami untuk selamanya, rumah Dave terasa begitu sepi. Bahkan aku bingung mau melakukan kegiatan apa disaat mereka semua sama membisunya seperti sedang diet bicara. Tidak ada candaan, bahkan Mama Dave terlihat lebih menyeramkan. Mungkin hanya perasaanku saja. Setelah sarapan pagi, aku melihat Dave tampak berpakaian rapi. Aku penasaran ia ingin pergi kemana. “Dave, mau kemana pagi-pagi begini?” “Aku mau Menjenguk Papaku di rumah sakit. Sudah lama tidak pernah berkunjung kesana.” Jawabnya. “aku boleh ikut?” Bahkan tingkat penasaranku semakin tinggi ingin mengenal Papa Dave. “kamu beneran mau ikut? Itu rumah sakit jiwa loh Mila, bukan mall.” Tanyanya tidak percaya. “Aku serius, tunggu sebentar. Aku bersiap sebentar. Sepuluh menit saja, mau kan menungguku?” Pintaku. “Baiklah. Aku tunggu kamu dibawah.” Dave keluar dari kamar dan aku pun segera bersiap-siap. Saat sudah memasuki mobil Dave, aku penasaran mengapa hanya kami berdua yang pergi kesana, atau mungkin Mama Dave dan Adik-adiknya sudah menjenguknya sebelum kami. “Cuma kita berdua? Mereka tidak ikut?” Tanyaku. “Tidak. Paling Sela yang menjenguk Papa, itupun jarang. Mungkin karena Papa bukan Papa kandung mereka, jadi tidak ada kewajiban bagi mereka untuk itu.” Jawab Dave. Aku terdiam mendengar jawaban Dave tidak tahu harus merespon dengan kalimat apa, bagaimana keluarganya bisa seperti ini. Batinku. Sesampainya di rumah sakit, disanalah aku tahu sosok Dave yang penyayang. Tatapan yang penuh kasih sayang, melayani apa yang dibutuhkan Papanya dengan penuh cinta dan kesabaran. Ternyata dibalik senyum Dave, ada beban yang coba ia pikul sendirian. “Hai Om..” Sapaku. Tapi Papa Dave sama sekali tidak meresponku, dia hanya sibuk dengan pikirannya. Entah bagaimana semua ini bisa terjadi pada Papa Dave, hanya Tuhan yang tahu jawabannya. “Jika kamu tidak merasa malu dan tidak merasa keberatan, panggil saja dia Papa juga Mila.” Seru Dave. “Papa.. Kenalkan saya Mila. Sekarang Mila adalah istrinya Dave, anak Papa. Papa harus cepat sembuh.” Aku juga tidak tahu apa yang sedang aku katakan. “Pergi kamu, aku tidak suka perempuan.” Papa Dave menepis tanganku saat aku mencoba memegang bahunya. “Papa. Dia perempuan yang baik Pa.” Dave mencoba menenangkan Papanya. “Usir dia. Aku tidak ingin melihat dia.” “Tidak pa-pa Dave. Aku mengerti.” Ucapku. “Maaf Mila.” Ucap Dave. Aku membalasnya dengan senyumanku. Setelah berusaha menenangkan kembali Papanya tentunya dengan bantuan seorang perawat disana, Dave kembali menitipkan Papanya pada mereka. “Tolong jagakan Papa saya ya sus. Nanti kalo ada apa-apa segera hubungi saya.” Seru Dave padanya. “Mas tenang saja, ini sudah menjadi tugas kami.” Jawab perawat itu. “Kalau begitu kami pamit pulang dulu.” Pamit Dave padanya. Aku pun juga menundukkan kepalaku sebagai tanda aku juga ingin pamit padanya. Kami pun kembali ke mobil. “Kamu hebat Dave. Mungkin jika aku di posisi kamu, aku gak akan kuat kayak kamu.” Pujiku. “Kamu salah, kamu yang lebih hebat. Jika dibandingkan dengan masalah yang menimpamu, masalahku tidaklah ada apa-apanya.” Ujarnya. Aku terdiam mendengar kalimatnya yang mengingatkanku pada masalahku. “Ma.. Maafkan aku Mila. Aku tidak bermaksud untuk…” “Tidak apa-apa Dave, kamu gak salah. Yaudah pulang yuk.” Ajakku mengalihkan pembicaraan kami.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN