BAB 14

2816 Kata
“Terkadang hujan bisa membuat tubuh kita berapi-api.” Ucapnya yang aku tidak mengerti maksudnya. Tiba-tiba seseorang mengintip dari balik jendela dan sesaat kemudian ia langsung membukakan pintu rumahnya. “Ayo masuklah. Kalian bisa basah kuyup jika tetap di luar. Hujannya deras sekali dan anginnya juga kencang. Ayo masuklah.” Ajak wanita paruh baya itu. Kami berdua pun mengikuti langkahnya. “Siapa sayang? Apa kamu menemukan sepasang Rusa malam ini?” Tanya laki-laki paruh baya itu yang aku yakin dia adalah suami ibu itu yang sedang melukis didalam rumahnya. “Bukan Rusa, tapi sepasang kekasih.” Jawab Ibu itu. “Kami suami istri tuan. Kami dari perkebunan tadi tapi sekarang terjebak hujan.” Jelasku. “Tidak apa. Anggap saja rumah sendiri, daripada diluar kalian bisa kedinginan.” Jawab Bapak itu. “Terima kasih.” Ucap Dave. “Baju kalian basah, ayo ikut denganku, aku punya beberapa baju saat aku muda dulu. Mungkin pas di tubuhmu.” Ajak Ibu itu baik hati. Akupun mengikuti langkah kakinya menuju ke kamar. Sebelum itu, ia menghampiri suaminya yang masih asyik dengan lukisannya. “Hei sayang, apa kamu tidak akan meminjamkan pakaianmu padanya? Lihat kasihan dia kedinginan.” Seru Ibu itu. “Oh astaga. Maafkan aku. Aku terlalu fokus pada lukisanku. Ayo mari ikutlah denganku.” Ajaknya pada Dave. Setelah itu, mereka mengajak kami untuk makan malam bersama mereka. Mereka terlihat baik sekali pada kami, sedangkan diluar sana hujannya masih sangat lebat. Aku mencoba menghubungi Oni untuk memberitahu keberadaan kami, tapi sayangnya sinyalku hilang mungkin karena cuacanya yang sedang buruk. “Menginap saja disini. Kami akan sangat senang jika kalian mau menginap disini. Kami hanya tinggal berdua sejak kami menikah. Kami tidak memiliki anak.” Jelas Ibu Lesi tersenyum, yang baru aku tahu namanya saat aku mengganti pakaianku tadi. “Dia benar. Hujan diluar juga masih sangat lebat. Besok pagi saat cuacanya sudah membaik, baru pulanglah kerumah kalian.” Seru Bapak Joko, suami Ibu Lesi. “Kami sangat berterima kasih pada kalian karena sudah menerima kami disini. Kami tidak akan melupakan kebaikan kalian. Maafkan kami sudah merepotkan kalian.” Ucap Dave. “Jangan sungkan. Anggap saja rumah sendiri.” Ujar Pak Joko. Kamipun memutuskan untuk bermalam disana. Memaksakan untuk pulang kerumah dengan cuaca seperti itu juga tidak mungkin. Aku terpaksa harus tidur satu ranjang dengan Dave karena disana, kamarnya tidak seluas kamar Dave dan ada sofanya. Sangat tidak mungkin jika aku menyuruh suamiku untuk tidur di lantai dalam keadaan diluar yang masih hujan. Dia bisa mati kedinginan. Gemuruh petir menggelegar diluar sana. Aku merasa sangat ketakutan. Apakah terjadi hujan badai diluar sana pikirku. “Dave, apa kamu udah tidur?” Tanyaku sambil mengguncangkan bahunya dari belakang karena ia tidur membelakangiku. “Belum. Kenapa?” Tanyanya singkat. “Aku takut Dave, bisakah kamu menemaniku?” Tanyaku konyol karena mau ditemani seperti apa lagi, sedangkan Dave saja sudah ada disampingku. “Bukankah aku sudah menemanimu sekarang?” Dave membalikkan tubuhnya menghadapku dan menatapku bingung. “Tapi aku masih takut.” Ungkapku. “Apa aku perlu memelukmu agar kamu tidak takut?” Tanyanya ragu. “Apa itu akan berhasil menghilangkan rasa takutku?” Tanyaku. Dave menarik panjang napasnya. “Ya aku gak tahu. Kita belum pernah melakukannya sebelumnya.” Ucapnya. Dia benar juga. Aku langsung bergerak mendekat padanya, aku membenamkan wajahku didada bidangnya. Sejenak aku melupakan cintaku pada Vano, yang aku pikirkan saat itu bagaimana cara aku menghilangkan rasa takutku. Dengan ragu, Dave membalas pelukanku. Dave mengusap lembut rambutku. “Tenanglah Mila, tidak akan terjadi apa-apa. Itu hanya petir. Kita didalam rumah sekarang.” Ucapnya menenangkanku sambil terus mengusap kepalaku dan juga menepuk punggungku. “Tidurlah. Aku disini bersamamu.” Lanjutnya. Aku memejamkan mataku, hingga akhirnya aku benar-benar tertidur hingga fajar menyingsing kembali. *** Dave mengajakku untuk makan di luar, ia menyuruhku untuk berpakaian rapi. Entahlah sebenarnya ia ingin mengajakku kemana. Masak iya hanya makan saja tapi harus berdandan rapi. Tapi aku menuruti semua yang perintahkannya padaku. Malam itu, Ia mengajakku ke sebuah restoran, kami makan malam bersama. Meja yang dipesannya terletak di pinggir kolam, dan terlihat hanya ada kami berdua disana. Aku tidak terlalu menggubris suasana malam itu. Aku hanya menikmati makan malamku, karena aku sudah merasa sangat lapar sekali. Dave tersenyum melihat tingkahku. “Kenapa kamu menatapku seperti itu? Ada yang salah dari diriku?” Tanyaku penasaran. Dave menggelengkan kepalanya. Setelah menyelesaikan makan malamku, Dave mulai mengajakku berbicara kembali. Sejak datang kemari ia sudah mencoba untuk mengajakku berbincang, tapi aku selalu merengek padanya kapan kita akan makan karena aku sudah sangat lapar hingga akhirnya Dave mengajakku untuk menyantap makan malam kami. “Apa sekarang aku sudah bisa berbicara denganmu?” Tanyanya. “Tentu saja. Aku sudah kenyang sekarang, jadi aku sudah bisa fokus mendengarkanmu. Sekarang katakan, apa yang mau kamu katakan Dave.” Seruku. Dave tersenyum menatapku, Dave memegang tanganku. Aku tidak mengerti dengan tingkahnya. “Mila. aku tidak tahu seperti apa aku harus mengatakannya. Aku bukan seorang puitisi, tapi hanya ingin mencoba mengutarakan isi hatiku padamu.” Deg.. jantungku seperti di pompa lebih cepat. Apa yang ingin Dave katakan padaku. Batinku. Dave berjalan menghampiriku dan kemudian berjongkok disamping tempat dudukku tanpa melepaskan genggaman tangannya padaku. “Sejak awal aku bersamamu, aku merasakan ada yang aneh pada hatiku. Perasaan itu membuatku mulai menjadi tamak.  Aku tahu rasa itu bukan hanya sebatas kagum padamu, aku merasa takut kehilanganmu. Aku takut kamu terluka, aku bahagia melihatmu bahagia. Hanya senyummu saja mampu menghilangkan rasa lelahku, hanya panggilan darimu yang memanggil namaku, membangkitkan semangatku untuk hidup. Aku ingin hidup lebih lama lagi di dunia ini bersamamu. Diam-diam aku sudah jatuh cinta padamu istriku. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Aku ingin membangun cinta bersamamu.” Ungkapnya padaku. “Dave…” Hanya kata itu yang bisa aku ucapkan. Aku tidak tahu harus mengatakan apa padanya. “Aku ingin selalu mendengar kamu memanggil namaku dengan nada seperti itu Mila. Jangan tinggalkan aku Mila, aku tidak bisa hidup tanpamu Mila.” Matanya penuh harap padaku. “Maafkan aku Dave. Aku tidak bisa.” Aku menarik tanganku dari genggamannya dan berlari meninggalkannya yang masih mematung disana. *** Setelah beberapa dari kejadian dimana Dave menyatakan perasaannya padaku, sejak itu pula hubungan kami merenggang. Kami tidak saling bicara, tidak salling perdulikan. Bahkan Dave pun juga sibuk dengan pekerjaannya. Berhari-hari sejak pagi hingga larut malam ia terus bekerja tanpa kenal lelah. Ku perhatikan bahkan Ia tidak memperhatikan kesehatannya. Tidak jarang ia melupakan makannya, bahkan terkadang ia sampai tertidur diruang kerjanya. Aku tahu aku sudah bersikap kasar padanya malam itu, tapi aku juga tidak bisa langsung menerimanya begitu saja. Meskipun hatiku mengatakan bahwa dia adalah laki-laki yang sempurna tapi aku ini sudah memiliki calon suami dan aku tidak mungkin mengkhianati Vano yang sudah begitu baik padaku. Aku tidak ingin menyakiti Vano. Aku membawakan teh ke ruang kerja Dave. Sejak ia pulang ke rumah ia belum menyentuh makanan ataupun minuman apapun. Aku mengetuk pintu ruang kerjanya, dia hanya melihatku tanpa memperdulikanku. Aku melangkahkan kakiku masuk kedalam dan menghampiri Dave dengan secangkir teh buatanku. “Dave, jangan terlalu memaksakan dirimu untuk bekerja. Istirahatlah. Ini sudah pukul sebelas malam.” Seruku. Dave sama sekali tidak memperdulikan ucapanku. “Dave, ini aku bawakan teh untukmu. Kamu pasti haus, dari tadi kamu makan dan minum apapun.” Aku berusaha memperbaiki hubunganku dengan Dave. Ia juga tetap diam. Aku memaksanya untuk menghentikan pekerjaannya, berusaha untuk menyuruhnya istirahat. Tapi sialnya, aku malah tidak sengaja menumpahkan teh yang aku bawa ke lembar kerja milik Dave yang masih berserakan di atas meja kerjanya. tentu saja kesalahan yang kubuat itu menimbulkan respon yang buruk dari Dave. “Mila! Apa yang?.... Aarrggghh… Lihatkan semua pekerjaanku jadi berantakan karena kecerobohanmu.” Bentaknya. “Maafkan aku Dave.” Sesalku. “Kamu…” Dave mengangkat jari telunjuknya padaku, aku menunduk ketakutan. “Aarggghhh…” Erangnya kesal padaku lalu meninggalkanku disana. Aku terisak karena ia membentakku sangat kasar. Aku segera membersihkan bekas tumpahan teh diatas mejanya, dan segera aku rapikan meja kerjanya. Aku berusaha memahami setiap lembar yang aku rusakkan karena kecerobohanku. Aku berusaha untuk memperbaikinya satu persatu. Mencetaknya ulang. Aku tidak ingin pekerjaannya hancur karena aku yang ceroboh. Aku memperbaiknya hingga larut malam. Tanpa ku sadari hari sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Tapi aku tetap berusaha melawan lelahku, aku harus menyelesaikan semua kekacauan yang telah ku ciptakan. Aku menyeka airmataku yang mengalir karena masih terngiang bentakan Dave padaku sebelumnya. “Apa yang sedang kamu lakukan disini? Kenapa masih ada disini?” Tiba-tiba Dave mengejutkanku. “Aku sedang memperbaiki lembar kerjamu yang rusak karena kecerobohanku.” Jawabku tanpa melihatnya lagi. “Kamu menyuruhku untuk istirahat, tapi kamu sendiri malah masih main-main disini.” Gerutunya. “Aku tidak sedang bermain. Aku sedang memperbaikinya.” Jawabku percaya diri. “Istirahatlah, ini sudah larut malam sekali. Tinggalkan saja itu.” Serunya. Aku sama sekali tidak menghiraukan ucapannya. Aku ingin membuktikan padanya bahwa aku bukan hanya bisa merusak, tapi aku juga masih bisa untuk memperbaikinya. Tapi Dave bahkan lebih keras kepala dariku. Dave, memutar kursi kerjanya dan menggendongku. “Heii… apa yang kau lakukan?” Teriakku. “Tidak ada cara lain untuk menyuruhmu istirahat.” Jawabnya. Dave membawaku kembali ke kamar. Ia mengunci pintunya dan kuncinya ia simpan. Ia membaringkanku di kasurnya. “Diam dan tidurlah.” Serunya dingin padaku. “Dave…” Aku memanggilnya. “Hentikan memanggilku dengan nada seperti itu Mila.” Bentaknya kembali. “Maafkan aku sudah merusak lembar kerjamu.” Ucapku. “Aku sudah memaafkanmu. Maaf aku juga tadi sudah bersikap kasar padamu.” Ucapnya lalu membaringkan tubuhnya di sofa kamarnya. Ia memejamkan matanya, melipat kedua tangannya didadanya. Dari kasurnya, aku menatap Dave lekat. Dia tidak seharusnya bersikap seperti ini saat aku menolaknya. *** Pagi-pagi sekali saat aku terbangun ternyata Dave sudah tidak ada lagi dikamarnya. Saat aku bertanya pada Oni tentang keberadaan Dave. Ia mengatakan bahwa Dave sudah pergi bekerja pagi buta. Sebegitukah ia ingin menghindariku hingga harus berangkat pagi buta. Batinku. Aku memutuskan untuk pergi ke pasar, sudah lama aku tidak ke pasar. Aku mengatakan pada Oni biar aku saja yang membeli semua perlengkapan dapur. Awalnya ia menolakku. Tapi aku memaksanya hingga akhirnya ia menyerah. Setelah aku mendapatkan semua belanjaanku, aku berniat untuk pulang ke rumah. Aku mencari taksi, angkutan umum atau sejenisnya yang bisa membawa aku pulang ke rumah Dave. Karena saat aku pergi aku tidak membawa supir. Ia sedang menemani mama Dave pergi keluar, sedangkan mobilku dibawa pergi oleh Ryan. “Mbak.. Mbak istrinya Mas Dave kan?” Tanya laki-laki itu meyakinkan dirinya. Aku menganggukkan kepalaku. “Kamu mengenaliku?” Tanyaku penasaran. “Tentu saja. Saya adalah salah satu karyawan Mas Dave. Mbak sedang apa disini?” Tanyanya. “Aku habis belanja keperluan rumah.” Jawabku. “Mbak mau pulang?” Tanyanya kembali. “Iya. Ini lagi nunggu angkutan umum atau apa aja yang bisa bawa aku pulang.” Jawabku. “Kalau mbak berkenan, biar saya antar saja mbak pulang.” Ajaknya. “Aaaahh tidak perlu repot. Biar aku pulang sendiri saja.” Ucapku menolak. “Tidak apa-apa mbak. Mas Dave sudah sangat baik pada saya, anggap saja ini cara saya membalas budinya dengan mengantarkan istrinya pulang dengan selamat sampai ke rumahnya.” Pintanya. “Baiklah, ayo antarkan aku pulang. Terima kasih banyak ya, maaf sudah merepotkanmu.” Ucapku. “Sama-sama Mbak.” Jawabnya. Akupun menunggangi sepeda motor yang ia kemudikan. Syukurlah kami selamat sampai ke rumah Dave tanpa kurang satu apapun. “Terima kasih banyak ya Joni.” Ucapku padanya. “Iya Mbak sama-sama. Tolong sampaikan salam saya pada Mas dave. Saya permisi dulu ya mbak.” Pamitnya. Aku menganggukkan kepalaku. Akupun masuk kedalam rumah, ku dapati Dave sudah berkacak pinggang di depan pintu rumah. Tumben sekali dia pulang cepat, biasanya pulang malam. “Darimana saja kamu?” Tanyanya geram. “Aku dari pasar. Kamu tidak lihat aku membawa barang belanjaan” Jawabku jengkel melihatnya. “Lalu kenapa bersama dia? Begitukah kelakuanmu diluar sana? Jika orang-orang melihat, maka semua orang akan memandangmu buruk Mila.” Ujarnya terdengar marah. “Kenapa harus memikirkan kata orang, toh dia hanya mengantarkanku pulang. Lagipula dia itukan karyawan kamu.” Aku mencoba membela diriku. “Tapi kamu itu istriku. bagaimana bisa istriku pergi bersama laki-laki lain apalagi dengan menunggangi sepeda motor. Bahkan aku suamimu saja tidak pernah seperti itu.” Protesnya. “Hei tuan Dave. Jika sekarang kamu hanya ingin mengajakku berdebat. Maka aku sekarang ingin menegaskan padamu, aku sedang tidak tertarik untuk berdebat denganmu.” Aku melaluinya. “Baiklah, lakukan sesuka hatimu. Jangan meminta bantuanku jika terjadi sesuatu hal yang buruk padamu. Aku bersikap begini karena aku hanya tidak ingin ada hal buruk yang menimpamu. Tapi sekarang terserah kamu saja. Aku tidak akan ikut campur urusanmu.” Dave meninggalkanku, ia kembali memasuki mobilnya dan melesatkan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi. Entahlah ia ingin pergi kemana aku juga tidak tahu. *** Nada dering ponselku berbunyi, aku segera mengambil ponselku yang terletak diatas meja kamar Dave. Ternyata Ryan adiknya Dave yang menelponku. Akupun segera mengusap layar ponselku. “Hallo.” Ucapku. “Selamat malam Kakak ipar. Apa sekarang kau sedang sibuk?” Tanyanya basa basi. “Katakan saja apa yang ingin kamu katakan aku tidak punya banyak waktu.” Jawabku ketus. “Santai Kakak, aku hanya ingin mengembalikan mobilmu beserta STNK nya. Bisakah kau ke kamarku untuk mengambilnya?” Tanyanya. “Baiklah. Aku akan kesana.” Jawabku. Akupun memutuskan sambungan teleponnya. Sesampainya aku didepan kamar Ryan, aku mengetuk pintu kamarnya. Tidak butuh waktu yang lama untukku menunggu diluar, ia sudah membukakan pintunya. “Ayo masuklah kakak.” Ajaknya terdengar ramah. Lalu kemudian ia menutup pintunya. “Kenapa ditutup?” Aku menatapnya penuh keraguan. “Biar tidak ada yang mendengar kita Kakak.” Jawabnya. “Apa maksudmu?” Tanyaku kembali. “Sudahlah Kakak, tidak perlu munafik. Aku tahu kau sedang ada masalah dengan Kakakku. Dia tidak memperdulikanmu lagi saat ini, jadi karena aku baik hati padamu. Disaat kamu kesepian seperti ini, ayolah bersenang-senang denganku. Lupakan masalahmu dengan Kakakku.” Ucapannya sontak membuat emosiku memuncak. Tanpa berpikir lagi aku langsung menamparnya. “Berani sekali kau bicara seperti itu padaku.” Umpatku. “Kau… Kau berani menamparku? Aku tidak akan mengampuni Kakak iparku yang cantik.” Dia tertawa dengan matanya yang penuh dengan hawa nafsu. Ia menarikku dan mencoba menciumku. Ia menghimpitku didinding kamarnya dan terus berusaha mendapatkanku. Sekuat mungkin aku berusaha menghindar darinya tapi sayangnya tenaganya bahkan jauh lebih kuat dibandingkanku. “Lepaskan aku. Dave tidak akan memaafkanmu atas perbuatanmu ini.” Teriakku. “Dia tidak akan percaya padamu lagi Kakak.” Sahut Ryan dengan pandangan nanarnya. Aku semakin takut dengan apa yang ingin ia lakukan padaku. “Kakakku sangat bodoh sekali karena telah mengabaikan wanita secantik dirimu Kakak. Ayolah kita bersenang-senang.” “Aku tidak akan pernah sudi kau menyentuhku.” Umpatku. Ryan menjambak rambutku hingga aku meringis kesakitan. “Aww… Lepaskan Ryan. Sakit.” Lirihku. “Aku tidak akan berlaku kasar padamu seperti ini jika kamu tidak memberontak dari tadi Kakak.” Dia membelai wajahku dengan jarinya. Tanganku dikukungnya sehingga tidak mampu untuk melawannya. Dia terus mendekatkan bibirnya padaku, aku terus memundurkan wajahku berusaha menghindarinya. Saat aku memejamkan mataku karena ketakutan tiba-tiba saja pintunya terbuka. “Apa yang sedang kalian lakukan?” Teriak Dave. Ryan langsung melepaskan aku. Aku segera berlari pada Dave. “Dave, tolong aku. Adikmu bersikap kurang ajar padaku.” Aku menangis dihadapannya. “Dia bohong Kakak. Dia yang datang kemari dan merayuku.” Bela Ryan. “Tidak Dave, dia yang berbohong. Tolong jangan percaya padanya.” Aku memegang lengan Dave, memohon padanya untuk mempercayaiku. Dave menatapku dengan tatapan tajamnya. “Dave…” Ucapku. “Aku tidak berbohong padamu.”Lanjutku.” Dave hanya diam dan hanya menatapku dengan tatapan yang penuh kemarahan. Tidak, Dave tidak boleh membenciku karena kesalah pahaman ini. Aku bukan wanita yang seperti itu. Batinku menangis. “Ada apa ini ribut-ribut?” Tanya Mama Dave yang baru saja datang menghampiri kami. “Mama.. Kak Mila datang ke kamarku dan ia mencoba untuk merayuku. Kak Dave melihat semua itu dan Kak Mila malah menuduhku yang tidak-tidak.” Adu Ryan pada Mamanya. “Apa? Beraninya kamu Mila. Kamu ingin memecah belah keluarga kami?” Mama Dave mulai marah padaku, aku tahu inilah yang ia inginkan. “Mama salah paham Ma, dia tadi yang menelponku dan mengatakan ingin mengembalikan mobilku untuk itulah aku datang kemari. Tapi dia malah bersikap kurang ajar padaku.” Jelasku. “Untuk apa dia menggodamu, bahkan dia bisa mencari wanita yang lebih cantik darimu. Dasar perempuan murahan.” Cacinya padaku. “Maaf Nyonya, tolong jaga bicara anda! Saya bukan wanita seperti itu. Anak andalah yang rendahan, berusaha merayu Kakak iparnya sendiri.” Aku sudah tidak tahan lagi dengan tingkah mereka. “Dave.. lihat. Istrimu sudah berani berkata kasar pada Mama. Dimana sopan santunnya terhadap mertuanya.” Adunya pada Dave. Dave tetap diam tapi matanya penuh dengan kemarahan. Aku kembali menghampiri Dave. “Dave, ku mohon jangan percaya pada mereka. Aku tidak berbohong Dave.. Aku..” Aku terus menangis padanya. Dave memutus kalimatku dengan ia mengangkat tangannya menyuruhku untuk berhenti bicara. Dave kembali menatapku tajam.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN