BAB 18

2437 Kata
Semua persiapan untuk acara pernikahanku dengan Vano sudah dipersiapkan semua. Dalam waktu 2 minggu kedepan kami akan menjadi sepasang suami istri. Aku berharap tidak akan ada halangan untuk niat baik kami tersebut. “Mila.. Mau ikut mama liat gedung pernikahan kamu nanti gak?” Tawar Mama. “Mila di rumah saja Ma, Mila merasa agak kurang enak badan. Mila percaya aja sama pilihan kalian.” Jawabku. “Yaudah kamu baik-baik di rumah ya. Kalau ada apa-apa telpon Mama atau Kakakmu ya.” Seru Mama. “Siap boss.” Ucapku tersenyum pada Mama. “Yaudah Mama berangkat dulu sayang ya.” Pamit Mama dan mencium pipiku. “Hati-hati ya Ma.” Ucapku. “Daa sayang.” “Daaa Mama.” Aku pun kembali melanjutkan aktivitasku menonton film kartun, ya meski umurku sudah tua aku adalah penggemar berat film kartun. Tiba-tiba saja dering ponselku berbunyi, aku melihat dari nomor yang tidak dikenal. Aku bertanya-tanya dalam hatiku, siapakah gerangan yang menelponku. Untuk menghapus rasa penasaranku, karena nomor tersebut menelponku tidak hanya satu kali. Aku pun memutuskan untuk menjawab panggilan tersebut. “Hallo.” Ucapku. “Hallo.. Selamat siang. Bisa bicara dengan Nona Kamila?” Terdengar suara seorang laki-laki diseberang sana. “Iya saya sendiri. Ini siapa ya?” Tanyaku. “Oh, maaf Nona jika saya mengganggu waktu anda. Saya Dokter Suroto. Anda masih mengingat saya?” Tanyanya. Aku pun kembali mencoba menemukan nama dan wajahnya dalam ingatanku. Setelah aku berhasil mendapatkannya. Aku pun segera bertanya padanya maksud ia menghubungiku. “Iya Dokter, ada apa ya?” “Apa Nona Kamila tahu keberadaan Dave sekarang dimana?” Tanyanya. Lah dia nyari Dave kok malah nanya sama aku. Batinku bingung. “Enggak Dok. Saya sudah lama tidak mendengar tentangnya. Memangnya kenapa Dok?” Tanyaku penasaran. “Harusnya dia datang ke rumah sakit untuk kontrol jantungnya satu minggu yang lalu. Tapi sampai detik ini, dia tidak juga kunjung datang.” Jelasnya. “Kontrol jantung? Memangnya Dave sakit apa Dok?” Aku mulai serius mendengarkan pembicaraan Dokter tersebut. “Begini saja Nona Kamila, jika anda tidak keberatan, bisakah kita bicara di rumah sakit saja? Temui saya di rumah sakit. Saya akan jelaskan pada anda. Saya juga berharap anda dapat membantu saya.” Pintanya. “Baiklah Dok. Saya akan ke rumah sakit sekarang juga.” Ucapku lalu mengakhiri panggilannya. Tanpa membuang waktu lagi, aku segera mengambil tasku di kamar lalu pergi menuju ke rumah sakit dengan naik taksi. Sesampainya di rumah sakit, aku segera menemui dr. Suroto. Entah mengapa aku menjadi lebih penasaran dengan keadaan Dave. Apa yang sebenarnya terjadi padanya. Setelah aku bertemu dengan dr. Suroto, ia menjelaskan padaku tentang keadaan Dave yang sebenarnya. Ia mengidap penyakit gagal jantung bawaan. Selama ini aku tidak pernah tahu akan hal itu. Bahkan jantungku rasanya ikut berhenti berdetak saat aku tahu tentang keadaan Dave. Ia menyembunyikan penyakitnya begitu rapat. “Gak mungkin Dok. Selama ini dia terlihat baik-baik saja.” Bantahku tidak percaya. “Dia memang tidak ingin ada yang mengetahui penyakitnya. Tapi keluarganya tahu Nona. Saya sudah mencoba menghubungi keluarganya tapi tidak ada jawaban. Saya bingung harus mencarinya kemana. Akhir-akhir ini kesehatannya semakin menurun. Dia harus dirawat, tapi dia selalu menolaknya.” Jelas dr. Suroto. “Tapi saar hari dimana aku membawa Dave ke rumah sakit, bahkan Dokter tidak mengatakan apapun tentang penyakitnya.” Ujarku. “Sebelumnya Dave pernah menyuruh saya berjanji padanya untuk tidak memberi tahukan penyakitnya pada siapapun kecuali keluarganya. Tapi karena sekarang saya kehilangan dia, saya mengira Nona Kamila mungkin mengetahui keberadaannya. Karena saat dia dirawat kemarin, saya tidak sengaja mendengar dia menyebut nama anda disaat ia tertidur. Saya berpikir mungkin anda adalah orang terdekatnya.” Jelasnya kembali. “Saya istrinya Dok. Tapi dia sama sekali tidak pernah mengatakan apapun tentang keadaannya yang sebenarnya. Bagaimana dia bisa melakukan ini padaku?” Tanpa aku sadari air mataku sudah mengalir deras. “Maafkan saya Nyonya Kamila. Saya tidak tahu masalah yang sedang menimpa rumah tangga kalian. Saya hanya ingin meminta bantuan anda agar anda bisa membawa Dave kemari untuk melanjutkan pengobatannya. Saya sangat berharap anda dapat membantu saya.” Pintanya. “Dave…” Aku terus saja menangis. “Maaf Nyonya saya harus kembali bekerja karena masih ada pasien rawat jalan yang harus saya tangani.” Ujar dr. Suroto. “Terima kasih Dok, saya akan berusaha menemukannya dan membuatnya kembali untuk diterapi.” Ujarku. Lalu aku pun pergi dari rumah sakit itu. *** “Dave…” Teriakku sambil terus mengetuk pintu rumahnya. Tapi tidak ada satu pun jawaban dari dalam rumah. Mobil Dave terparkir di depan rumahnya, tapi rumahnya seperti tidak berpenghuni. “Dave! Buka pintunya Dave! Aku ingin bicara denganmu.” Teriakku kembali, aku berharap akan ada yang membukakan pintu untukku. Tapi hasilnya masih sama, sudah hampir satu jam aku mondar mandir di depan rumah Dave tapi pintunya tidak juga kunjung dibuka. Aku hampir pasrah, karena aku tidak tahu harus mencarinya kemana selain di rumahnya. Aku mencari tangga di bagian belakang rumah Dave. Aku sangat penasaran, Dave ada dirumah atau rumahnya memang sedang tidak berpenghuni. Setelah mendapatkan tangganya, aku segera membawanya ke bawah teras kamar Dave. Tanpa berpikir dua kali bahwa aku akan jatuh, aku langsung saja menaiki tangga tersebut. Syukurlah aku sampai di teras kamarnya dengan selamat. Saat aku menunduk ke bawah, aku begitu gemetar membayangkan bagaimana caranya aku akan turun dari sana. Astaga, bodoh sekali aku. Bagaimana jika aku terjebak disini. Umpatku dalam hati. Aku mencoba melihat dari balik jendela, tapi dengan gordennya yang tertutup aku tidak bisa melihat apapun di dalam sana. “Dave???? Apa kamu di dalam?” Teriakku sambil mengetuk pintu jendela kamar Dave. Setelah beberapa saat aku terus mengetuk pintu jendela tersebut, akhirnya ada seseorang yang membuka gordennya. Aku mendapati sosok Dave disana. Wajahnya pucat sekali, dan ia tampak sangat terkejut karena melihatku ada di teras rumahnya. Dave segera membukakan jendela kamarnya. “Mila? Sedang apa kamu disini?” Tanyanya kebingungan. “Dave…” Panggilku padanya, ada sesuatu yang ingin tumpah di mataku. Dengan bantuannya, aku berhasil masuk ke dalam kamarnya. Perlahan aku menyentuh wajahnya, dan airmataku sudah mulai mengalir deras. “Dave.. kamu pucat sekali. Apa kamu sakit?” Tanyaku yang terus mengusap wajahnya. Dave memegang tanganku yang berada diwajahnya. “Aku merindukanmu Mila.” Ucapnya sendu. “Aku bertanya apa, kamu malah jawab apa.” Ucapku sambil memukul pelan dadanya. Dave menggenggam tanganku dan menghapus air mata diwajahku. “Aku tidak suka melihatmu menangis Mila. Tersenyumlah Mila, aku rindu senyum manismu itu.” Ungkapnya. “Bagaimana aku bisa tersenyum saat aku melihatmu seperti ini Dave? Kamu jahat padaku Dave. Mengapa kamu tidak mengatakan yang sebenarnya kalau kamu sakit Dave.” Ucapku kesal padanya. “Aku tidak sakit Mila. Lihatlah, aku baik-baik saja sekarang.” Jawabnya tersenyum. Aku tersenyum padanya. “Disaat seperti ini saja, kamu masih mau berbohong padaku. Wajahmu saja tidak menunjukkan kalau kamu baik-baik saja Dave. Aku sudah mengetahui semuanya Dave, Dokter Suroto sudah mengatakan semuanya padaku.” Jelasku. Mendengar ucapanku, perlahan Dave melepaskan tanganku dari wajahnya dan ia pun mulai menjauhiku. “Jadi kamu kemari karena kamu kasihan padaku? Jangan lakukan itu padaku Mila. Pergilah, sebentar lagi kamu juga akan menikah bukan? Lalu apa yang kamu lakukan disini? Pergilah Mila.” Usirnya padaku. “Dave.. Kamu harus ke rumah sakit sekarang, kesehatan kamu semakin menurun. Kamu harus menjalani pengobatan Dave. Aku mohon ikutlah denganku Dave.” Pintaku. “Aku tidak butuh rasa kasihanmu Mila. Aku baik-baik saja. Aku tidak ingin ke rumah sakit. Pulanglah, orang di rumahmu pasti akan cemas karena kehilanganmu.” Serunya. “Aku tidak akan pulang sebelum kamu ikut aku ke rumah sakit. Kamu harus sehat Dave.” “Hentikan Mila. Aku tidak akan mengganggu kehidupanmu lagi, untuk itu jangan memaksaku Mila.” Bentaknya. “Justru karena aku sangat peduli padamu, itulah kenapa aku datang kemari Dave.” Terjadi perdebatan di antara kami. Dave tetap keras kepala tidak ingin ke rumah sakit, bahkan aku sudah kehabisan akal bagaimana cara membuatnya mengerti bahwa aku ingin ia kembali sehat. Aku mencemaskan keadaannya. “Aku mohon pergilah Mila. tinggalkan aku sendiri.” Ucapnya tanpa melihatku. “Dave…” “Berhentilah memanggilku dengan nada seperti itu Mila.” Serunya kesal sambil menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya. “Apa kamu tidak bisa melihat ketulusan di mataku Dave. Aku benar-benar mengkhawatirkanmu Dave, aku tidak ingin terjadi suatu hal yang buruk padamu Dave.” Aku mengguncang-guncangkan tubuhnya. “Pergilah Mila.” Dia terus saja mengusirku. “Baiklah, jika itu yang kamu inginkan. Kamu ingin hidup sendirian kan? Kamu tidak ingin sehat kembali bukan? Baiklah, maka jangan pernah berharap melihatku lagi Dave.” Ucapku pasrah dan aku hendak kembali ke luar jendela. Dave menarik tanganku dan membawaku kedalam pelukannya. “Jangan tinggalkan aku Mila.” Pinta Dave menangis. Aku membalas pelukannya. “Aku tidak akan meninggalkanmu, tapi berjanjilah bahwa kamu akan segera sehat kembali.” Pintaku yang juga ikut kembali menangis, Dave menganggukkan kepalanya. “Wajahmu pucat sekali Dave.” Ucapku setelah melepaskan pelukannya. “Aku baik-baik saja.” Ucapnya tersenyum. “Ayo.. Kamu harus banyak istirahat.” Aku menyuruhnya untuk berbaring di kasurnya. Aku segera menghapus air mataku, aku harus lebih kuat darinya agar aku bisa membuatnya lebih bersemangat lagi untuk hidup. “Apa kamu udah makan siang?” Tanyaku. Dave menggelengkan kepalanya. “Tunggulah disini sebentar ya, aku akan memasakkan sesuatu untukmu.” Aku beranjak dari tempatku duduk, namun Dave menahanku. “Apa akan lama?” Tanyanya. “Tidak akan lama, hanya memasak sebentar. Aku akan kembali lagi kesini. Kamu istirahat dulu disini ya. Jangan kemana-mana. Oke Dave.” Seruku. Dave tersenyum dan melepaskan tanganku. Akupun segera pergi ke dapurnya dan mencoba memasak sesuatu. Aku memasak apa yang bisa aku masak saja dengan bahan yang seadanya juga. Sudah hampir satu jam aku meninggalkan Dave akhirnya aku menyelesaikan masakanku dan segera membawanya ke kamar Dave. “Makan siangnya sudah siap.” Seruku girang. “Dari baunya saja sudah enak, apalagi kalau dimakan ya.” Pujinya. “Baiklah Tuan Dave Anggara, sekarang waktunya anda untuk makan siang.” Ucapku sambil menyiapkan peralatan makannya. “Siap Nyonya Anggara.” Ucapnya tersenyum melihatku, mendengar ucapannya sontak membuatku menatapnya. Bahkan saat ini kami bukan lagi suami istri, tapi entah mengapa aku sama sekali tidak merasa keberatan saat ia menyebutku dengan panggilan seperti itu. Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Aku pun mulai menyuapkan makanannya ke mulutnya. “Andai saja kamu masih menjadi istriku Mila, mungkin aku akan menjadi laki-laki yang paling bahagia di dunia ini.” Ujarnya yang terus menatapku. “Sekarang yang terpenting adalah kesehatanmu Dave. Jangan pikirkan hal lain yang akan mengganggu kesehatanmu.” Seruku. Dave tersenyum mendengar pernyataanku. “Berikan padaku.” Pintanya meraih sendok di tanganku. “Kenapa?” Tanyaku bingung. “Kamu juga belum makan kan? Ayo makanlah bersamaku.” Dave menawarkanku sesuap nasi ditangannya. Aku terdiam menatapnya. Ia memberiku isyarat melalui matanya agar aku menerima suapan darinya. Perlahan aku pun membuka mulutku, dan mulai memakan makanan yang disuapkan oleh Dave. “Dokter cantikku juga harus makan.” Ujarnya. Kami pun makan bersama-sama, sesekali saling candai. Ada kebahagiaan di hatiku melihat tawanya. Ada sedih juga dihatiku mengingat penderitaannya. “Dave..” Panggilku setelah ia menghabiskan makannya. “Hmmm.” Jawabnya. “Kamu mencintaiku kan? Aku ingin kamu berjanji sesuatu padaku.” Pintaku. “Apa itu Mila?” Tanyanya. “Kita pergi ke rumah sakit ya. Aku akan menemanimu, kamu harus menjalani pengobatan. Aku lebih suka kalau kamu sehat.” Pintaku. “Tapi Mila…” Belum selesai ia membantah, aku sudah memotong kalimatnya. “Kamu masih mencintaiku kan? Lakukan ini untukku Dave.” Bujukku padanya. “Baiklah. Aku akan ke rumah sakit. Akan ku lakukan untukmu Mila.” Jawabnya. Aku tersenyum senang mendengar jawabannya. Akhirnya ia mau berobat kembali. “Kita siap-siap sekarang ya, kita ke rumah sakit sekarang.” Ajakku. Dave mengganggukkan kepalanya. Kami pun segera bersiap dan pergi menuju ke rumah sakit. Setelah bertemu dengan dr. Suroto, beliau segera mengecek kesehatan Dave, dan akhirnya beliau memutuskan Dave harus di rawat di rumah sakit. Awalnya Dave menolaknya, tapi aku berusaha membujuknya hingga akhirnya ia mau dirawat di rumah sakit. *** Sudah tiga hari berlalu, selama itu juga Dave di rawat di rumah sakit. Aku tidak pernah absen untuk menemaninya di rumah sakit karena ia tidak memiliki kerabat lain, dan itu membuatku semakin tidak bisa untuk mengabaikannya begitu saja. Awalnya keluarga melarangku, tapi setelah aku mencoba memberi mereka pengertian, syukurlah mereka mengizinkanku. “Bagaimana keadaanmu hari ini?” Tanyaku pada Dave yang masih duduk di ranjang rumah sakit. “Sudah cukup baik dari kemarin.” Jawabnya tersenyum. “Aku senang mendengarnya. Mau makan buah?” Tanyaku. “Boleh.” Jawabnya. Aku pun mengambil buah yang ada di atas meja, dan segera mengupasnya. Aku berikan potongan demi potongan buah tersebut pada Dave untuk Dave memakannya. “Terima kasih Mila karena sudah menjagaku dengan sangat baik.” Ucapnya padaku. Aku tersenyum padanya. “Tidak perlu berterima kasih padaku, aku senang bisa merawatmu Dave.” Ucapku. “Boleh saya mengganggu?” Tiba-tiba terdengar suara Vano masuk kedalam ruangan Dave di rawat. Aku segera beranjak dari kursi tempatku duduk. Aku tidak menyangka bahwa ia akan datang kesana menghampiri Dave. “Vano..” Ucapku. “Duduklah, kamu tidak mengganggu. Aku yang harusnya meminta maaf karena telah merepotkan calon istrimu.” Ungkap Dave. Vano memandangku, aku menundukkan pandanganku. Bahkan aku sendiri tidak tahu apa yang harus aku lakukan. “Bolehkah aku membawa calon istriku pulang?” Tanya Vano. Dave tersenyum. “Tentu saja. Tidak perlu izin dariku. Dia milikmu.” Aku menoleh pada Dave mendengar ia mengatakan hal itu pada Vano. “Dave…” Ucapku. “Patuhi ucapannya Mila, dia akan menjadi Imammu nanti. Kamu tenang saja Van, Mila hanya mencintaimu. Dia berada disini karena dia kasihan padaku, bukan karena dia mencintaiku.” Jelas Dave. “Tapi dia berada disini karena pilihannya Dave. Bahkan aku tidak melihat sedikit pun rasa kasihan dari matanya. Dia tulus merawatmu dengan hatinya.” Ungkap Vano. “Tapi saat bersamaku, dia tidak pernah mencintaiku Van. Hanya ada cinta untukmu dihatinya, aku tidak akan pernah bisa memiliki posisi apapun dihatinya.” Ujar Dave. “Mungkin kamu benar. Aku hanya harus tetap percaya padanya, dalam sepuluh hari lagi aku akan menjadi suaminya. Apapun yang terjadi aku harus tetap percaya padanya.” Ujar Vano. “Aku turut bahagia untuk itu. Kamu beruntung mendapatkan cinta Mila.” Ucap Dave. “Kamu juga beruntung, karena Mila mengganggapmu penting dalam hidupnya.” Ucap Vano. “Apa yang kalian bicarakan? Hentikan perbincangan kalian yang tidak masuk akal itu. Kalian berdua sudah kehilangan akal.” Umpatku lalu mengambil tasku dan berlalu pergi meninggalkan mereka berdua disana. Aku pulang ke rumah sendirian, aku tidak mengerti apa yang sebenarnya mereka pikirkan hingga mereka mengatakan semua hal itu dan itu membuatku kesal mendengarnya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN