Bab 9 : Kacau

1570 Kata
"Surat panggilan orangtua?" Kalya menunduk ketika ayahnya melihat surat panggilan itu dengan wajah garang. Melia -Ibunya- yang duduk di samping ayahnya terlihat sedang menenangkan ayahnya yang sudah mulai emosi. "Apa yang kamu lakukan sampai-sampai kamu dipanggil begini Kalya? Kamu ini perempuan sudah berani macam-macam ya kamu sekarang." Ayahnya terus mengomeli Kalya, dia kecewa kepada anaknya yang riba-tiba berubah mendi nakal seperti ini,apalagi kemarin saat ulangan harian Kalya hanya mendapatkan nilai enam puluh, padahal biasanya rata-rata nilai ulanggan nya delapan atau sembilan puluh. "Udah dong yah, jangan diomelin terus, kasian kan Kalya, pasti ada yang salah yah." Melia mengusap bahu Rio yang terus memarahi Kalya. "Maafin Kalya." Kalya semakin menunduk dia memegang erat ponselnya, Abi hanya diam tidak dapat membantu adiknya yang sedang dalam masalah, karena sejujurnya juga dia tidak berani membantah ayahnya yang memang sangat garang itu. Kalya masih menunduk lalu merasakan ponselnya bergetar, dia melihat layar ponselnya dan melihat nama Dinda tertera disana, dia langsung mengangkat telepon dari sahabatnya itu. "Ada apa Din?" "Tolongin gue, gue takut papah gue ngamuk banget Kal, gue takut, dia mau ngebunuh gue dan anak gue Kal, lo bisa kesini gak? Gue butuh bantuan lo Kal." Kalya melirik ayahnya yang menatapnya dengan tajam, ayahnya sudah tau siapa si penelepon dan apa tujuannya menelepon Kalya malam-malam begini, Kalya menelan ludahnya, dia terdiam sebentar bingung ingin memberikan jawaban apa kepada Dinda. "Kalya, kamu tidak boleh keluar selama seminggu, ayah kecewa sama kamu Kalya." Ayahnya sudah berkata seperti itu Kalya harus apa? Dia tidak menjawab karena Dinda pasti mendengar sendiri perkataan ayahnya tadi. Panggilan terputus. Kalya terdiam sebentar lalu kemudian dia langsung masuk ke kamar, takut jika ayahnya akan marah lebih besar lagi, Abi hanya diam lalu kemudian dia menyusul adiknya masuk ke dalam kamar. Abi berdiri di depan pintu kamar Kalya, dia terdiam sebentar, rada bingung harus berbuat apa, lalu tak lama dia mendengar suara tangisan yang sudah dia yakin bahwa itu tangisan Kalya, mungkin dia merasa sedih karena mendapat omelan dari ayahnya yang super galak itu.Abi mengetuk pelan pintu kamar Kalya. "Kalya gamau diganggu." Ujar gadis itu dari dalam kamar dengan suara pelan namun dapat terdengar oleh Abi. "Yaudah, kamu jangan nangis ya, besok abang yang datang kesana, kamu jangan khawatir ya." Ujar Abi lembut dan tidak ada jawaban dari Kalya. *** Kalya masuk ke dalam kelasnya dengan tergesa-gesa dia langsung menaruh tas nya diatas meja atas lalu segera berlari pergi ke kelas Dinda, katanya cewek itu menangis semalaman karena ayahnya sudah berniat untuk membunuh dia dan anak yang dikandungnya. "Dinda." Kalya berteriak agak sedikit kencang sehingga membuat perempuan itu langsung menoleh kearahnya, dengan sedikit berlari dia mendekati Dinda dan langsung memeluk perempuan itu. "Lo nggak apa-apa kan?" Saat sudah berada didalam pelukan Kalya, Dinda langsung menangis kencang, hatinya terasa sakit melihat sahabatnya menangis seperti itu. "Gue takut, gue takut Kal, gue harus apa?" Tanya Dinda sambil menangis sesegukan. "Ssstt.. udah ah jangan nangis,emang papah lo bilang apa aja sama lo Din?" Tanya Kalya. "Kata papah gue, gue.. gue harus kasih tau siapa yang udah buat gue kayak gini, gue disuruh agar laki-laki itu bertanggung jawab. Nah, sedangkan Kevin aja begitu kan? Gue harus gimana Kal, gue bingung." Dinda terus menangis sambil memeluk erat Kalya. Kalya menghela nafas panjang, jika sudah begini mau bagaimana lagi? Sebenarnya ini sudah menjadi tugas Kevin untuk bertanggung jawab, tapi kenapa dia mendadak b******k seperti ini? "Dinda, gue bakal coba bilang sama Kevin ya, gue bakal coba nyadarin dia supaya dia mau bertanggung jawab sama apa yang udah dia perbuat,yakali dia cuma mau enaknya doang, gue nggak akan tinggal diam." Ujar Kalya tegas. *** Sudah puluhan kali bola basket yang ada ditangan Daniel masuk ke dalam ring. Karena ini masih jam enam lewat sepuluh menit, lebih baik Daniel bermain basket sebentar sambil menunggu bel masuk, tidak ada yang melarangnya, anak direktur kan bebas di sekolah ini. "Bro." Daniel menoleh melihat Kevin dengan rambut acak-acakan, seragamnya terlihat lusuh dan wajahnya pucat. "Kenapa lo?" Ujar Daniel sambil fokus mendribble bola, Kevin mendekat lalu kemudian dia duduk diatas lapangan. "Gue harus apa? Gue pusing." Daniel berhenti mendribble bola, dia langsung melihat Kevin yang sudah duduk diatas lapangan, dia memasang wajah lesuh seperti tak ada semangat. "Masalah Dinda?" Tanya Daniel lalu ikut duduk disamping Kevin. "Apa yang harus gue lakuin?" Tanya Kevin. Daniel menghela nafas panjang, dia tau bahwa ini sulit. "Kalau menurut gue, lebih baik lo ngaku aja ke orang tua lo dan orang tua Dinda kalau lo udah ngehamilin dia, lo harus tanggung jawab, ini udah resiko lo, berani berbuat berani bertanggung jawab. Gue nggak mau nyalahin lo, gue tau kalian berdua juga khilaf gue tau. Gue tau banget posisi anak yang dikandung Dinda, lo ayahnya cobalah untuk bertanggung jawab," "Emang sulit, tapi lo emang mau anak lo itu jadi anak yang nggak dianggap? Dibenci sama orang lain bahkan kakek nenek nya sendiri, cobalah jadi laki-laki yang jantan." Kata Daniel sambil melihat wajah Kevin yang pucat. Kevin terdiam. "Gue belum siap." itu kata yang diucapkan Kevin sebelum bel sekolah berbunyi. *** "Saya Abi, saya kakak kandung Kalya, karena kebetulan orang tua saya sedang ada urusan jadi berhalangan hadir dalam undangan ibu, kalau boleh tau apa yang Kalya perbuat sehingga dia mendapatkan surat teguran dari sekolah?" Tanya Abi sopan, dia duduk dihadapan Bu Sondang dengan Kalya yang berdiri tepat disampingnya sedangkan Kevin dan Daniel duduk di sofa. "Begini pak, Kalya ini sudah dua kali menyebabkan pertengkaran saya bingung kenapa akhir-akhir ini Kalya menjadi lebih nakal, padahal dulu dulu dia selalu taat dan rajin, dia pintar dan dia juga bisa membawa nama baik sekolah. Yang saya herankan ini kenapa dia selalu terlibat dalam kasus pertengkaran yang sudah menjadi larangan keras di sekolah ini," "Kasus pertama terjadi sekitar tiga minggu yang lalu, Daniel dan Yoga bertengkar dan Yoga bilang bahwa pelakunya adalah Kalya, dia yang menyebabkan mereka berdua bertengkar, lalu kasus yang kedua saya dengar dari Pak Rudi kalau Kalya ini bolos mata pelajaran, saya nggak tau kronologi ceritanya bagaimana tapi yang saya tau Kalya mendapat hukuman lari lima belas putaran lapangan sekolah. Lalu, kasus yang ketiga baru saja terjadi kemarin, Kalya lagi lagi jadi biangnya, jadi sebab itu saya memberi Kalya surat teguran." Ujar Bu Sondang mantap, sedangkan Abi hanya mengangguk. "Adik saya ini memang nakal bu, pukul aja dia bu kalau nakal, maafkan kesalahan adik saya ya bu, saya berjanji akan membuat dia lebih baik." Abi tersenyum sangat manis sampai sampai Bu Sondang memperhatikannya begitu lama. Kalya menghela nafas, lagi lagi abangnya itu memulai tebar pesona, ayolah masa wanita yang sudah mau memasuki umur empat puluh enam tahun masih mau dimodusin juga? "Ibu sudah makan? Ah kebetulan bu saya bawa martabak mohon diterima ya bu." Abi tesenyum sambil menyerahkan kantung plastik berwarna hitam kepada Bu Sondang, tak lupa dengan tatapan ramah dengan senyum mautnya. Kalya berdecak sebal lalu dia melirik Daniel dan Kevin yang sedang menahan tawa karena wajah Bu Sondang yang terlihat malu malu. "Kalau Kalya nakal lagi, tolong hubungi saya dan jangan sampai ada surat teguran lagi ya bu. Ohh, saya pastikan Kalya tidak akan nakal lagi, boleh pinjam ponsel ibu?" Tanya Abi ramah. "Ahh iya, ini." Dia memberikan ponselnya kepada Abi sambil tatapannya tak lepas dari laki-laki yang ada di hadapannya itu. "Makasih Bu." Abi langsung mengambil ponsel nya lalu mengetik sesuatu. "Ini bu, nomor telepon saya, bisa langsung dihubungi kalau Kalya membuat masalah. Saya permisi dulu ya ,masih banyak urusan, selamat siang bu." Abi tersenyum lalu bangkit dan langsung pergi dari ruang BK diikuti oleh Kalya. Sedangkan, Bu Sondang tampak kegirangan. "Aduhh si Ibu, baru aja ditinggal suami udah nyantol sama berondong ya bu." Celetuk Daniel dan langsung mendapat respon dari Kevin, laki-laki itu tertawa terbahak-bahak. "Keluar kamu!" Mendengar hentakkan Bu Sondang mereka berdua langsung ngibrit keluar ruang BK. *** "Kalya." Kalya langsung menoleh melihat Daniel yang sudah berdiri di sampingnya. "Ada apa?" Tanya Kalya singkat. "Lo marah ya? Maaf ya karena udah buat lo masuk BK dan diomelin sama orang tua lo." Ujar Daniel lalu duduk disamping Kalya. "Tau darimana gue diomelin?" Daniel terkekeh, "Waktu SMP gue sering kok kena surat panggilan orang tua." Kalya tertawa singkat. "Mana mungkin anak direktur dapat surat panggilan?" Ujar Kalya bermaksud menyindir Daniel dengan halus. "Kan di SMP gue direktur nya bukan ayah gue, jadi gue nggak bisa berlindung di bawah dia," Daniel menatap kosong ke depan sambil memainkan jari tangannya. "Gue juga gamau terus terus kayak gini, gue capek terus dianggap spesial disini. Udah berapa kali banyak temen temen gue yang deketin gue cuma karena posisi gue disini, lo pun tau kan? Dari dulu lo sama gue terus Kal, lo pasti tau semuanya, gue capek begini, apa apa selalu orang itu yang salah padahal yang mulai duluan itu gue, dan karena gue terus dibela, semakin lama temen gue semakin sedikit, jarang yang mau nerima gue secara tulus, banyaknya yang mandang gue dari pangkat disini, mereka numpang terkenal sama gue." "Jadi tumbal buat caper tuh nggak enak Kal." Ujar Daniel berkata tulus dari hatinya. Kalya terdiam, sebenarnya beban Daniel ini sangat berat dibanding beban dirinya. Kalya menoleh melihat wajah Daniel dengan seksama, lalu tiba-tiba Dani tersenyum. "Abang lo keren, salam buat abang lo ya." Daniel tersenyum lalu kemudian ikut menoleh kearah Kalya. Jantung Kalya berdegup kencang, getaran getaran yang telah lama dia tutupkan kembali menggebu gebu. "Ah.. I.iyaa." Kalya jadi gagap dibuatnya. Daniel terkekeh lalu tersenyum dan berdiri, "Gue mau main bola dulu, dahh Kalya." Kata Daniel sambil tersenyum dan melambaikan tangannya keluar dari kelas. Kalya menyentuh dadanya yang berdegup kencang itu, dia masih tidak percaya bahwa perasaan itu kembali muncul. Perasaan dimana dia merasakan jatuh Cinta untuk pertama kalinya. ~~~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN