Lelaki berkemeja putih dengan tuxedo abu-abu itu turun dari mobil. Matanya terbingkai kacamata hitam, tapi orang-orang yang sudah kenal akan sangat mudah mengenalinya. Dia mengedarkan pandang ke bangunan lama yang mirip dengan sekolahan. Namun, telah dihias sedemikian rupa hingga terlihat lebih berwarna dan nyaman untuk anak-anak. Matanya tampak mencari seseorang yang sudah dihubungi sebelumnya.
"Bernan!" Sebuah panggilan yang agak tertahan itu akhirnya terdengar.
Om Bernan menatap ke sebuah pohon palem yang berada di sisi kiri, bersisian dengan perosotan berwarna kuning. Dia bergegas mendekat dengan penuh kewaspadaan. Saat tinggal beberapa langkah, terlihatlah seorang anak kecil yang berjongkok. "Aku bawa sekarang." Om Bernan menatap Bu Asani, anak terakhir pemilik yayasan rekan papanya. "Aku tahu siapa orangtuanya." Kemudian dia menggendong Zatama
Tidak ada reaksi penolakan. Zatama menunduk saat digendong pria yang semalam membawanya ke tempat asing. Dia juga tidak menatap ke Bu Asani yang sejak semalam mendampingi.
Begitu masuk mobil, Om Bernan memposisikan Zatama di bangku belakang lalu meletakkan tas di sampingnya. Setelah itu, perhatiannya tertuju ke bangku kemudi. Di sana, ada lelaki yang bahkan tidak menoleh sedikitpun. Om Bernan melepas kacamatanya dan bergegas masuk ke bangku depan.
"Makasih bantuannya, Om." Zevan mengatakan itu sebelum tancap gas. Pria di sampingnya memang cekatan karenanya menjadi pengacara kepercayaan banyak pejabat. Tadi pagi, Om Bernan sudah berhasil mendapatkan rekaman CCTV komplek dan ternyata Zatama datang bersama seorang wanita yang sama seperti terekam di CCTV rumahnya. Zevan melihat sekilas video itu dan langsung yakin dengan satu orang.
Diam-diam, Om Bernan menatap Zevan. Bisa dibilang, dia saksi seorang Zevan tumbuh. Lelaki itu anak terakhir yang dimanja dan memiliki kehidupan yang bebas. Secara mendadak, Zevan mengumumkan tanggal pernikahan dengan wanita yang memiliki karakter bertolak belakang yang tidak lain adalah asisten mama Zevan. Sebagai seseorang dengan pemikiran kritis, dia sempat curiga. Namun, melihat bagaimana Zevan begitu mencintai sang istri, membuat pemikiran itu terkikis. "Mau ke mana sekarang?" tanyanya lalu menoleh ke Zatama yang tetap anteng.
"Nemuin Ibunya," jawab Zevan cepat.
"Kamu tahu?"
Zevan melirik Om Bernan, terlihat ekspresinya tampak aneh. "Nggak usah pura-pura. Pasti Om sudah selidiki."
"Mantanmu, kan?" Om Bernan memilih jujur. Semalam sebelum mengantar Zatama ke tempat penitipan, dia terus memperhatikan dengan intens. Wajah Zatama mengingatkannya dengan wajah Zevan semasa kecil. Kecurigaan langsung muncul detik itu juga.
Kedua tangan Zevan memegang kemudi dengan erat. "Om boleh pukul, tapi nanti."
"Biar Kanin yang pukulin kamu."
Hati Zevan seketika mencelos. "Kalau bisa Kanin nggak usah tahu."
***
Sebuah apartemen di pusat kota rata-rata memiliki penjagaan ketat. Tidak semua tamu yang datang bisa masuk. Terlebih hanya bermodalkan nama. Namun, itu tidak berlaku bagi dua orang yang hendak memakirkan kendaraannya di basement. Parkir khusus pemilik apartemen, bukan untuk tamu.
Zevan menutup jendela usai menunjukkan sebuah kartu nama dan kartu akses. Dia memilih tempat parkir dekat pintu masuk lift lalu melepas sabuk pengaman dengan kasar. Setelah itu menoleh ke Zatama yang sepanjang perjalanan hanya diam. "Tahu, kan, ini tempat apa?"
"Ehm...." Bernan berdeham mengingatkan Zevan atas nada suaranya yang dingin.
Beberapa menit kemudian, Zevan dan Om Bernan berdiri di depan pintu unit 517. Keduanya sudah memencet bel, tapi tidak ada yang membukakan pintu. Zevan berusaha menekan pin yang dulu diketahui, tapi pintu tidak kunjung terbuka. "Bilang, mamamu masih di sini, kan?" Dia beralih menatap Zatama yang masih saja anteng. Bocah itu bahkan tidak meloncat turun dan menuju pintu, layaknya anak kecil lainnya saat sampai rumah.
Zatama menggeleng. Dia menatap pintu yang tertutup rapat itu lalu memperhatikan Zevan. Lelaki yang menurutnya sangat menyeramkan.
"Terus, mamamu di mana?" geram Zevan dengan kedua tangan bertolak pinggang.
"Van...." Om Bernan segera mundur dengan satu tangan menghadang. Dia lalu menatap Zatama yang berbalik dan menyandarkan kepala di pundaknya. Napasnya mulai naik turun karena Zevan bertingkah di luar kendali. "Kamu nggak pernah tinggal di sini, ya?" tanyanya kepada Zatama.
"Nggak mungkinlah! Dia nggak ada tempat tinggal lain." Zevan menghadap pintu dan memencet pin sekali lagi. Namun, hasilnya tetap sama. "Terus, rumahmu di mana?"
Tubuh Zatama berjingkat dalam gendongan Om Bernan. "Zevan!" ingat Om Bernan sambil mendekap Zatama. "Udah, kayaknya dia nggak ada di sini."
"Terus, anak ini dibawa ke mana?" tanya Zevan seraya menatap Zatama yang berlindung di pundak Om Bernan. "Nggak mungkin aku ajak pulang."
Om Bernan sudah menduga Zevan akan melakukan itu. Ada Kanin yang pasti akan curiga kenapa bocah itu kembali. Sebenarnya, tindakan Zevan kali ini sangat tidak gentle. Namun, dia tidak mau memarahi, setidaknya belum saatnya. Semakin dimarahi, Zevan semakin tidak terkenali. Kondisi sekarang, dia berharap Zevan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin.
"Biar Om yang urus," putus Om Bernan lalu berjalan menjauh.
Zevan menatap Om Bernan yang melewatinya. Perhatiannya lalu tertuju ke Zatama yang buru-buru memejamkan mata begitu melihatnya. Dia segera mengalihkan pandang, kembali menatap pintu yang tidak kunjung terbuka. Sebal karena rencananya tidak berhasil, dia menendang pintu itu sekuat tenaga. Tidak peduli akan rusak dan dia harus mengganti rugi.
Ketika Zevan ingin beranjak, ponsel di saku celananya tiba-tiba bergetar. Dia mengambil benda itu dan melihat nama istrinya yang muncul. "Ya, Sayang," jawabnya sambil berjalan menuju lift di mana Om Bernan sudah menunggu. "Aku ada meeting kemungkinan sampai malem." Setelah itu dia memutuskan sambungan.
"Terus, ke mana lagi?" Om Bernan menatap Zevan yang begitu suntuk.
"Aku bakal cari Fena malam ini juga, Om. Aku nggak habis pikir kenapa dia nyerahin anaknya ke aku." Kedua tangan Zevan terkepal. Setelah tiga tahun berpisah, wanita itu memporak-porandakan hidupnya dengan mengantarkan anak kecil ke rumahnya.
"Kalau tetep nggak ketemu?"
Zevan menatap Om Bernan penuh tekad. "Apapun bakal aku lakuin asal anak ini nggak ke rumah."