28

1114 Kata
"Loh kok gak diangkat?" gumam Jeno. To: Lilix Kok gak diangkat Lix? From: Lilix Ngapain malem-malem nelfon? Entar ganggu orang rumah, udah pada tidur, From: Lilix Oh gitu ya, oke, maaf dehh, Jeno mengusap dagunya, biasanya meskipun sudah tengah malam Felix tetap mengangkat telfonnya, dan bersembunyi di bawah selimut untuk meredam suaranya, apa lagi kalau ada kaitannya dengan game atau tugas sekolah. 'Kalau emang Oyoy atau temen-temennya yang lain yang ngelakuin, gimana bisa tau letak kamar Thalia? Paling mereka cuman tau rumahnya doang kan? Atau bisa nerka-nerka sendiri?' batin Jeno. Brak! Jeno tersentak mendengar bunyi debuman cukup keras di belakangnya. Ia menolehkan kepalanya ke belakang, dan mendapati Brian jatuh dengan posisi tengkurap di lantai, lalu Jino naik ke atas tubuhnya. "Aaaa! Jeno! Tolongin gue!" seru Brian sembari mengulurkan satu tangannya pada Jeno. 'Punya temen gini amat,' ••• Jino baru saja hendak menutup matanya, tapi ia mendengar pintu kamarnya tiba-tiba diketuk. Jino pun turun dari ranjangnya,dan bergegas membukakan pintu. Ia tersentak mendapati Thalia berdiri di depan pintu kamarnya. "Lo ngapain ke sini?" tanya Jino. "Lo kan harusnya istirahat, gimana sih?" "Gue mau liat kondisi lo," ucap Thalia. "Lo gak papa?" "Gue gak papa, ini cuman luka kecil kok, udah diobatin juga sama mama lo, gak perlu khawatir. Udah mending lo balik istirahat lagi sana," Jino kemudian menempelkan punggung tangan kanannya pada kening dan leher Thalia. "Tuh kan, masih panas banget badan lo, wajah lo juga masih merah banget gitu," "Besok lo jangan sekolah juga, kan lo sakit," gumam Thalia. Jino terkekeh. "Sumpah, gue gak papa, ini cuman luka kecil doang asli. Gak sampe bocor kok kepala gue. Gue empat kali pernah ikut tawuran, lukanya lebih parah dari ini malah," "Serius lo pernah ikut tawuran?" "Iya, sama Jeno, Brian, terus Han juga pernah. Dia gak pernah cerita ya? Hehe. Itu juga pas kelas dua, pas masih bocil. Biar kompak aja kita satu sekolah, biar boleh main juga sama kakel yang keren," "Hah, gila kalian, gue sama sekali gak tau Han kayak gitu. Tapi lo beneran gak papa?" Jino terdiam sejenak, lalu menganggukan kepalanya sembari tersenyum. "Iya, kenapa sih? Emangnya gue keliatan kayak kesakitan banget ya?" tanya Jino. "Enggak sih," balas Thalia. "Ya udah sana sekarang balik ke kamar lo, entar gue gendong loh kalau gak pergi-pergi juga," "Alah, emang berani lo gendong gue?" Mata Jino melebar. "Emangnya lo pikir gue takut?" "Lo kan emang takut sama gue," Jino maju beberapa langkah mendekati Thalia, yang masih bersikap santai di depannya. Kalau Jino benar-benar mau menggendongnya, akan bagus menurut Thalia, karena ia sedang malas jalan. Meskipun kesannya ia jadi tidak tahu malu. Jino menatapnya cukup lama, sedangkan Thalia hanya diam menunggu apa yang akan Jino lakukan. Tapi bukan gendongan, Jino tiba-tiba mencondongkan wajahnya ke arah wajah Thalia, dan mencium bibir gadis itu dengan secepat kilat, yang membuat Thalia terkejut sampai hampir jatuh. Untungnya Jino dengan sigap meraih tubuhnya dengan cara melingkarkan kedua tangannya di tubuh Thalia. "Thalia! Kamu masih bangun?" suara mama tiba-tiba terdengar dari bawah, disertai suara langkah kaki. Jino secara spontan menarik tangan Thalia untuk masuk ke dalam kamarnya, tak lupa menutup pintunya. "Kak Thatha? Kamu udah tidur? Eh, kamarnya kekunci? Kamu udah tidur ya? Tadi kayak denger suaranya padahal," "Kak Thatha?" gumam Jino. Thalia mendengus. "Itu panggilan Nolan buat gue pas kecil, soalnya dia gak bisa nyebut nama gue," Jino menutup mulutnya untuk menahan suara tawa. "Lucu," Thalia mencubit pinggangnya. "Gak lucu," Suara seseorang yang menuruni tangga tak lama kemudian terdengar, kemungkinan besar mama Thalia sudah turun. Membuat Thalia dan Jino sama-sama menghela napas. "Gue udah feeling mama bakal ke atas. Mama sering banget masuk kamar kalau gue lagi sakit," ujar Thalia. "Emang kenapa kalau mama lo sering masuk kamar lo?" "Bau rokok, banyak obat tidur juga, hah. Kalau cuman sekali dua kali masuknya, gak akan ngeh, sering gue semprot pengharum ruangan juga, cuman gak bertahan lama wanginya, kalau keseringan masuk, ya lama-lama bakal mudeng," "Lo minum obat tidur?" Thalia tidak menjawab, ia tiba-tiba menatap Jino tajam, yang membuat Jino balik menatapnya dengan sebelah alis terangkat. Tak lama kemudian Thalia memukuli Jino, membuat Jino sontak melindungi dirinya sambil berusaha menghindar dari amukan gadis itu. "Aw, aw, Thalia maafff...," mohon Jino. Ia sudah sadar apa kesalahannya tanpa perlu Thalia jelaskan. Thalia menendang tulang kering Jino sampai ia jatuh, sebelum akhirnya keluar dari kamar Jino. Thalia pun kembali ke kamarnya, dengan wajah yang terasa semakin panas dan memerah. ••• Thalia dan Jino sama-sama menyembunyikan diri di dalam selimut. Jino terus merutuki dirinya bodoh, sementara Thalia merasa malu setengah mati dan masih terkejut. Jino sudah berkali-kali mengirim pesan untuk Thalia, berisi permintaan maaf, tapi tidak kunjung dibaca yang membuatnya jadi khawatir. Padahal tidak Thalia baca, karena ponselnya sedang di cas, dan ia terlalu pusing untuk melihat layar ponsel. Jino menggigiti kuku ibu jarinya. 'Besok harus ngomong empat mata sama Thalia. Aduh Jinnn, lo b**o banget sih, ngapain coba tadi?' batin Jino. 'Itu hitungannya ciuman gak sih? Kalau iya, ini ciuman pertama gue. Tapi Thalia gimana ya? Akhh, gak boleh mikir gini dulu, yang harus dipikirin perasaan Thalia dulu. Huaaaa, Jino b**o,' ••• Tok-tok-tok, "Thatha, Mama mau masuk, ini Mama bawa sarapan," Tidak ada jawaban dari Thalia. Mama mendengus. "Harusnya kan gak dikunci, udah tau lagi sakit, kalau kayak gini orang lain jadi susah mau masuknya," gumam mama. "Kak Thathaa..," "Aahh, Mama jangan panggil kak Thatha," sahut Thalia. Tak berselang lama pintu kamar dibuka. Dengan mata masih setengah tertutup, Thalia memeluk pintu dan menatap mamanya. Mama mengulurkan sebelah tangannya untuk mengecek suhu tubuhnya menggunakan punggung tangan. "Udah turun panasnya, kayaknya kamu demam karena badan kamu shock dipukulin. Harusnya Mama bikin perhitungan tuh sama orang tua temen-temen kamu," ujar mama. "Udahlah Ma, gak usah. Biarin aja. Masak nanti orang tua war? Kayak anak-anak aja. Biarin mereka kena karmanya sendiri. Emangnya dengan kelakuan mereka yang jelas gak baik kayak gitu, dunia bakal terima mereka? Yah, aku sendiri gak baik sih," "Ck, kamu nih ngomong apa?" "Jangan bilang aku baik Ma, aku malah gak nyaman. Ya udah aku sarapan, tapi aku mau cuci muka dulu," Thalia mengulurkan kedua tangannya untuk mengambil nampan berisi semangkuk bubur dan air mineral dari tangan mamanya. "Kenapa kamu gak nyaman dibilang baik coba?" tanya mama. "Rasanya jadi terbebani aja, Ma. Aku gak baik, tapi aku gak buruk juga... mungkin. Aku lebih suka dibilang, manusia biasa yang pasti punya salah, hehehe," Mama tertegun. Tak lama terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, yang membuat Thalia sontak menoleh ke arah pintu kamar mandi. Jino kemudian keluar dari sana dengan kondisi rambut basah. Mata Thalia tanpa sadar terpaku pada anak laki-laki yang sedang berusaha mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil itu. Sadar diperhatikan, Jino pun melirik ke arahnya, yang membuat Thalia buru-buru masuk ke dalam kamarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN