25

1396 Kata
Brian menggigit ujung bungkus plester lalu merobek bagian sampingnya, sebelum mengeluarkan isinya dan menempelkannya di atas kain kasa yang menutupi luka di telapak tangan Thalia. Kain kasanya sendiri sudah diberi obat merah. "Tapi kalau dipikir lucu deh, saking kompaknya kalian, kalian bisa sampe suka sama orang yang sama," ucap Thalia, yang hanya Brian tanggapi dengan kekehan. Setelah selesai mengobati luka Thalia, Brian yang sebelumnya bersimpuh di depan Thalia pun, bangkit berdiri. "Kita pulang sekarang?" tanya Thalia. "Emang mau kemana lagi?"                                             "Gak pengen kemana-mana sih...," "Gue... boleh nyita barang penyebab luka lo itu?" Mata Thalia seketika melebar, dengan kedua alis terangkat. "Gue gak pernah gitu masalah sama yang ngerokok, asal dia ngerokok sendirian. Tapi kalau dipake buat ngelukain diri sendiri, gue gak bisa biarin," tutur Brian. "Ini sekali aja kok kayak gini. Gue juga gak sadar," balas Thalia. "Dan lo pasti gak sadar juga, udah berapa kali lo lakuin itu," "Jangan sok taulahh...," "Gue bukan sok tau, gue cuman berusaha ngelindungin lo aja," Thalia merogoh saku tasnya untuk mengambil rokok serta pemantiknya, ia pun menyerahkannya pada Brian. "Lo gak ada simpenan kan?" tanya Brian. "Hah? Masak iya gue punya simpenan? Ngapain? Gue kan cewek, udah gitu masih kecil," balas Thalia. Brian menatap datar Thalia. "Harus gue jelasin maksudnya?" Thalia terkekeh. "Enggak, gue gak punya, sumpah," "Beneran?" "Iyaaa...," "Ya udah yuk sekarang pulang," Thalia menganggukkan kepalanya, seraya bangkit dari kursi. Mereka pun bergegas keluar dari apotek. Untung penjaga apotek tidak memperhatikan keduanya yang tadi membicarakan rokok. ••• Jino memeluk bantal dengan mata fokus ke layar televisi. Kejadian di sekolah tadi, masih membuatnya jengkel. 'Apa-apaan sih Han? Udah mantan juga, sampe mau mukul segala,' gerutu Jino di dalam hati. Jeno tak lama muncul sambil membawa semangkuk mie ayam yang tadi ia beli di warung bakso. Ia duduk di sofa single, dan meletakkan mangkuk yang di bawanya di meja. "Anjir, baru juga makan bakso beberapa menit lalu, udah makan mie ayam aja," kata Jino. "Mang napa sih?" balas Jeno sebelum menyeruput mienya. "Biasanya lo kalau banyak makan, lagi ada masalah, atau ada sesuatu yang ganggu pikiran lo," ujar Jino. Jeno terlebih dahulu menelan, sebelum menjawab. "Sekarang enggak, gue lagi pengen makan aja," "Serius lu?" Jeno tidak menjawab, Jino tiba-tiba mencolek dagunya, yang membuatnya langsung menatap tajam anak laki-laki berbibir tebal itu. "Sejak kapan sih lo bisa bohong sama temen lu yang terlalu peka ini?" kata Jino. Jeno berdecih. "Ya in," gumam Jeno. "Cerita dong," "Gue kayaknya harus pulang deh," ucap Jeno, yang sontak membuat Jino membelalakan mata. "Tiba-tiba?" "Gue juga belum tau. Gue baru dikabarin kakak gue pas jam istirahat kedua tadi, bonyok akhir-akhir ini berantem mulu. Kakak gue awalnya mikir mereka habis itu bakal baik-baik aja lagi kayak biasanya, tapi mereka bahkan sampe pisah ranjang sekarang," celoteh Jeno. "Kakak lo tau penyebab bikin berantemnya apa?" tanya Jino. "Kebiasaan jelek bokap belum hilang ternyata," "Chatting mesra sama cewek-cewek?" Jeno mengangguk. "Ibu gue udah bodo amat sebenernya, orang bokap berani lewat chat doang, kalau diajak ketemuan gak pernah mau, gak pernah sampe selingkuh juga. Tapi bokap chat sama mantan temen SMA ibu gue juga, jadi ibu gue malu, dan akhirnya mereka berantem," "Lo gak usah pulang lah malah, emangnya lo mau ngapain kalau pulang? Bokap atau nyokap lo gak akan saling ngelukain kan? Atau lo bisa bikin mereka damai?" Jeno menggeleng. "Enggak, mereka gak akan saling ngelukain, gue juga gak bisa bikin mereka damai sih. Gue cuman takut kejadiannya kayak orang tua Thalia. Emang sih, meskipun gue pulang, gak bisa mencegah itu terjadi juga," "Kalau orang tua lo lebih mikirin anak-anaknya, gue rasa itu gak akan terjadi," "Selama ini nyokap gak pernah marah juga gara-gara mikirin anak-anak Jin, tapi ada saatnya ibu gue juga harus mikirin dirinya sendiri kan?" "Ya iya sih. Tapi... udahlah, lo jangan pulang, takut makin runyam. Takut orang tua lo makin pusing, dan lo sendiri gak bisa ngapa-ngapain. Biarin mereka selesai-in masalah mereka sendiri, mereka yang paling tau harus gimana. Udah gitu bentar lagi kita ujian loh, kalau lo pulang nanti waktu lo habis aja buat bolak-balik sekolah pulang," Jeno menganggukan kepala. "Iya sih, lo bener," gumam Jeno. "Lo mau?" Jino membuka mulutnya sembari bergumam 'aaa', lalu Jeno pun menyuapinya. "Lo masih kesel sama Han?" tanya Jeno, mengalihkan pembicaraan. "Ya gituu...," meskipun jawaban Jino tidak jelas, Jeno tahu maksudnya, kalau ia masih kesal. "Jangan kesel-kesel lah, cuman gara-gara cewek aja," "Gak cuman lah, dia marah cuman gara-gara gue ngajak Thalia nonton gue main basket. Gue tau dia cemburu, tapi masak sampe mau mukul gue?" "Yahh, dia salah, tapi lo salah juga. Gak usahlah ungkit kalau dia mantannya Thalia, pasti dia sakit hati dong denger omongan lo. Yang mau putuskan, bukan dirinya sendiri," Jino cemberut, tapi kalau dipikir apa yang Jeno katakan tidak salah. "Kenapa juga deh, pada mendadak suka sama Thalia?" gumam Jeno. "Karena kita masih suka cewek," jawab Jino. "Gue hajar sini," Jino tertawa lebar sampai bertepuk tangan melihat raut wajah kesal Jeno. Suara pintu depan yang dibuka tak lama terdengar, disertai suara teriakan Brian yang minta disambut. "Woyyy!!! Kesayangan kalian pulang nih! Ayo mana karpet merahnya?!" "Kayak ada yang ngomong, tapi kayaknya cuman makhluk fiktif," ucap Jino. "Makhluk astral kali," timpal Jeno. Brian tak lama muncul dan langsung mendekati Jeno begitu melihatnya sedang makan mie ayam. "Aaa dong...," kata Brian seraya membuka mulutnya. Jeno menyuapi Brian sambil menjeling. "Apaan sih? Galak amat Mas," ucap Brian. "Dari mana lo? Lama amat pulangnya, katanya cuman mau jajan," kata Jeno. "Cieee, khawatir ya?" "Muntahin mie ayamnya," Brian benar-benar membuat gesture hendak muntah di atas kepala Jeno, yang membuatnya dapat cubitan di pinggang. Thalia hanya diam, menonton tingkah ketiga anak laki-laki itu. "Dari mana Tha?" tanya Jino sembari menolehkan kepalanya ke belakang agar bisa melihat Thalia. "Kok bisa pulang bareng Brian?" "Gak sengaja ketemu pas gue lagi jajan," balas Thalia. "Tangan lo kenapa?" giliran Jeno yang tanya. "Biasalah lecet-lecet dikit, gue ke kamar dulu ya? Mau makan apa malem ini?" ujar Thalia sembari menaiki tangga perlahan untuk menunggu jawaban dari ketiganya. "Ada udang sama sawi di kulkas, dibikin masakan yang gampang aja," kata Jeno. "Oke, tinggal itu ya bahan makanan?" Jeno mengangguk. "Besok belanja deh," gumam Thalia sebelum benar-benar naik ke lantai atas. "Kayak... ada yang aneh gitu sama dia," kata Jino. "Bukannya udah biasa ya? Thalia sedingin itu," balas Brian. "Tapi perasaan kemaren udah bisa banyak ngoceh," ucap Jino. "Lagi ada masalah apa?" "Please deh, lo mikirin masalah orang lain mulu, pikirin masalah lo dulu sama Han, jangan marahan lama-lama," ujar Jeno. "Iyaaa...," balas Jino. ••• Jeno ambil inisiatif untuk mengupas bawang, selagi menunggu Thalia turun untuk memasak. Setelah mengupas beberapa bawang, Thalia tak lama muncul dengan rambut ditutup handuk kepala. "Wah, lo udah wangi gitu mau masak?" celetuk Jeno. "Ah, biarin," balas Thalia. Jeno tersenyum. "Btw lucu handuk kepalanya, ada mata sama telinga beruangnya gitu," Thalia berkacak pinggang, dengan bibir mengerucut, dan sebelah tangannya memegangi telinga handuk kepalanya. "Gue cari yang polos gak ada, nyebelin banget," keluh Thalia. "Gak papa lah, lucu kok lo pake itu, kesan dingin lo jadi agak berkurang dikit, hahaha," Thalia mendengus, lalu berjalan ke arah kulkas untuk mengambil bahan makanan yang tersimpan di sana. "Oyoy sama temen-temennya masih ganggu lo?" tanya Jeno. "Enggak, lagian Oyoy kan belum masuk sekolah," balas Thalia. "Oh iya sih," gumam Jeno. "Kalau ada apa-apa bilang ya? Jangan diem aja," "Iya," ucap Thalia dengan nada lirih. Hanya Brian saja yang tahu sudah membuatnya merasa terbebani, apa lagi kalau lebih banyak yang tahu. Ia tidak suka membuat orang khawatir dan ribut hanya karena dirinya. Thalia yakin meskipun awalnya sakit, lama-lama ia akan terbiasa dan bisa menahan semuanya. Yah, Thalia harap. "Jen, udah belum bawangnya, dicuci dulu, terus kasih ke gue," kata Thalia yang sedang meletakan talenan beserta pisau di meja. Jeno pun membawa bawang yang sudah ia kupas ke cucian piring, setelah selesai dicuci, Jeno langsung meletakkannya di atas talenan menggunakan satu tangan, tapi dari belakang tubuh Thalia. Karena merasakan punggungnya menyentuh d**a Jeno, Thalia sontak menolehkan kepalanya ke samping, dan wajahnya seketika berpapasan dengan wajah Jeno yang juga sedang mengarah ke arahnya. "Kan bisa lewat samping," ucap Thalia, dengan kening mengkerut dan alis bertaut. "Maaf bikin lo risih," kata Jeno. "Tapi...," "Kenapa? Lo lagi ada masalah ya?" tebak Thalia. "Heumm, ya gitu deh," balas Jeno sembari menghela napas. Ia kemudian meletakkan keningnya di atas bahu Thalia. "Gak papa ya?" gumam Jeno. "Iya, gak papa," balas Thalia, dengan sebelah tangan yang otomatis menepuk kepala Jeno.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN