22

1253 Kata
Jino tidur paling terakhir di antaranya ketiganya sebelum ikut tidur. Sebelum tidur, Thalia masih sempat galau dan merengek tidurnya mau bagaimana, sampai akhirnya ia menyerah, dan tidur dengan posisi kepala bersandar di kepala Brian. Jino hanya diam mengamati Thalia dari masih bangun, sampai ia tertidur. Gadis itu cukup banyak mengejutkannya, banyak sisi yang sebelumnya tidak pernah ia lihat dari gadis itu. Dari awal masuk sekolah, Jino sudah penasaran dengan Thalia. Berawal dari melihatnya mencoba main basket sendirian, tapi karna pendek dan lompatannya tidak tinggi, Thalia selalu gagal mau memasukan bola ke dalam ring. Kalau hanya dilempar, bolanya akan memantul di tiang. Jino sontak tersenyum kecil mengingat kejadian itu. Thalia dulu benar-benar masih seperti anak kecil. Ah, dirinya juga sih, namanya juga baru kelas satu. Tapi Thalia sangat pendiam dan tertutup, untuk ukuran anak yang berani sksd seperti Jeno saja, tidak berani mendekati Thalia. Apa lagi bagi dirinya yang memang susah dekat dengan orang lain. Jino bisanya didekati, atau dekat secara alami, karena sering bertemu misalnya. Kalau bukan karena ibunya, dan ibu teman-temannya bertemu di arisan, ia pun mungkin tidak akan punya banyak teman akrab sampai sekarang. Sebelum dekat dengan Jeno dan lainnya, ia hanya dekat Aaron dan Jazmi, karena mereka memang sudah kenal sejak masih anak-anak. Tidak disangka Jazmi punya teman dekat lain, yaitu Jeno, dan sempat membuatnya merasa sedikit terkhianati, karena selama ini ia tidak pernah tahu. Sekarang ia tidak menyangka bisa mengenal dan berteman dengan Thalia. Gadis itu juga tidak semengerikan dugaannya, meskipun memang galak. Ia berharap bisa lebih dekat lagi dengan gadis itu. ••• "Ya ampun!" seru mama saat melihat ada empat orang anak tertidur dengan balkon. Tiga anak laki-laki tidur dengan posisi duduk, dan saling bersandar satu sama lain, sementara satu anak perempuan tidur di atas ketiga kaki anak laki-laki itu. Mama buru-buru membangunkan keempatnya, sebelum dilihat tetangga. "Bangun, bangun! Kenapa pada tidur di sini? Ya ampun, kalian kok beneran tidur di balkon," tapi tidak ada yang bergerak sedikitpun. Mama kemudian menarik tangan Thalia hingga Thalia terduduk, tapi putrinya itu masih enggan membuka matanya. "Ya ampun Thalia, bisa-bisanya kamu susah dibangunin, padahal tempat tidurnya aja gak enak," gumam mama. Mama kemudian memegangi kedua pergelangan tangan Thalia dengan satu tangan, agar putrinya itu tetap dalam posisi duduk, sementara tangannya yang lain mengguncang bahu Brian, Jino dan Jeno secara bergantian. "Anak-anak, bangun dong! Kalian hampir telat ke sekolah loh," Akhirnya setelah beberapa kali percobaan, hingga menghabiskan hampir dua puluh menit, ke empat anak ini bangun juga. Brian, Jeno dan Jino dengan masih setengah sadar, langsung mama giring ke kamar mandi, begitu juga dengan Thalia —tapi di kamar mandi bawah—, jangan sampai mereka masuk kamar dan melanjutkan tidur. "Kita mandi bareng?" gumam Brian, setelah ia sadar kalau ia masuk ke kamar mandi dengan Jeno dan Jino. "Iya, buat kali ini aja, kalian udah hampir telat ke sekolah," kata mama. "Salah satu atau dua orang ada yang di kamar mandi bawah dong, Tan," pinta Jino sembari memeluk pintu dan menyandarkan tubuhnya di sana. "Kamar mandi bawah dipake Thalia, kalian berempat gak boleh masuk kamar masing-masing, nanti pasti malah lanjut tidur. Udah sana cepet mandi, Tante mau nyiapin sarapan, jangan mandi lama-lama, terus jangan berantem," kata mama sebelum pergi meninggalkan ketiga anak laki-laki itu. "Jangan ngintip-ngintip gue! Awas kalian!" seru Jino tiba-tiba sembari menutup pintu kamar mandi. "Idih, siapa juga mau ngintipin lu? Najis!" sahut Jeno. "Kita mandinya jangan lepas celana," kata Brian, yang Jeno dan Jino setujui. Tapi mereka sepertinya lupa sesuatu. ••• "THALIAAA!!!" Thalia yang baru naik ke atas setelah selesai mandi, terkejut mendengar teriakan tiga anak laki-laki dari kamar mandi. "Apaan?!" sahut Thalia. "Kita lupa bawa handuk!" kata Jino. "Astagaa... ya udah keluar aja, terus lari ke kamar masing-masing," balas Thalia. "Tha, lo m***m ternyata," ucap Brian. "Siapa yang m***m anjir?" "Terus kenapa ngasih ide gila kayak gitu?" timpal Jeno. "Kalian larinya pas gue udah di kamar dong," ujar Thalia. "Kita mandinya aja gak lepas celana Tha. Tha, please ambilin handuk, kita jemur di pager balkon kamar masing-masing," kata Jino. "Emang bisa mandi pake celana?" tanya Thalia. "Tha, please kita butuh handuk sekarang, udah makin telat lagi nih ke sekolah," kata Jeno. Thalia tergelak. "Iya, iya, gue ambilin, kalian suka ada-ada aja dah," Thalia pun bergegas ke kamar Jeno, Brian dan Jino untuk mengambilkan handuk mereka. Di antara ketiganya, kamar Jino yang paling bersih, rapi dan wangi. Yang paling berantakan Brian, bahkan baju sekolahnya ada di lantai, tidak digantung seperti Jino. "Udah gue ambilin nih handuknya," ucap Thalia sembari berdiri di depan pintu. Pintu kamar mandi tak lama terbuka sedikit, Jino mengintip sedikit dari celah pintu, rambutnya tampak basah. Ia pun mengulurkan sebelah tangannya pada Thalia. Thalia pun memberikan handuk ketiganya secara langsung pada Jino. "Lain kali jangan lupa bawa handuk," ucap Thalia. "Iyaa, lagian tadi diburu-buru mama lo tau," balas Jino. Jino pun menutup kembali pintu kamar mandi, sementara Thalia pergi ke kamarnya. ••• Thalia tetap sekolah, meskipun kondisi fisiknya masih belum pulih. Selama masih sanggup untuk sekolah, Thalia akan tetap pergi. Karena sekarang ia sudah kelas tiga, ia tidak mau banyak izin. Ia sempat dapat interogasi dari guru karena memar-memar dan luka di wajahnya, juga apakah benar ia kecelakaan, seperti yang dikatakan Felix serta Aaron kemarin. Sementara Oyoy kabarnya tidak masuk, dan Thalia tidak peduli. Di jam istirahat, Thalia sebenarnya hanya ingin tidur di kelas dan tidur, tapi adik-adik kelas yang merupakan tim basket datang ke kelasnya, dan ribut memaksa Jino untuk ikut main bersama mereka. "Udah lama abang gak main, ayo lah bang, main sekali-kali," Jino merentangkan kedua tangannya ke atas, sembari memajukan bibir bawahnya. "Bujuk dulu kak Thalia sana, dia harus mau disuruh nonton dulu, baru nanti gue mau main," kata Jino, yang membuat Thalia seketika membelalakan mata mendengarnya. "Kenapa jadi nyeret-nyeret gue deh?" protes Thalia. "Wah, abang pacaran sama kak Thalia?" tuding salah satu adik kelas, bernama Jeongin. "Enggaklah, belum," balas Jino sambil tertawa. Jeno dan Brian yang sebelumnya sedang main game, seketika melirik ke arahnya. "Ogah gue pacaran sama lu," ucap Thalia. "Wah, baru kali ini kita denger kak Thalia banyak ngomong," "Segitu doang lu bilang banyak ngomong?" tanya Jino. "Iya, kak Thalia kan biasanya gak pernah ngomong sama sekali," "Gile Tha, apa gak keterlaluan tuh...," ucap Jino. "Kalau gak penting, ngapain gue harus ngomong?" balas Thalia. "Bang, jadi mau kapan nih mainnya? Keburu jam istirahatnya selesai," "Thalianya mau gak disuruh nonton?" Thalia berdecak. "Kenapa coba gue harus nonton? Males ah, gue mau tidur," "Ayolah Tha, biar asik ada supporter ceweknya," bujuk Jino. "Gue kan cuman bisa diem, aneh lu," "Gak papa, yang penting ada lo aja udah cukup," Adik-adik kelas mereka mendadak ribut menggoda Jino dan Thalia. "Heh, diem-diem! Iya, iya, gue nonton, tapi awas kalau nyebarin rumor yang aneh-aneh," kata Thalia. "Siap Kak!" ••• Thalia menopang dagunya sembari memperhatikan Jino yang sedang main basket dengan adik-adik kelasnya. Selain menjadi supporter ternyata Thalia juga jadi tempat penitipan cardigan Jino. Sejujurnya Thalia paling tidak suka melihat orang main basket begini, alasannya, karena ia tidak pernah bisa main, meskipun sudah latihan sejak usianya tiga belas tahun. Di kelas satu, tanpa sepengetahuan siapapun, ia bahkan pernah jadi hatters berat Jino, karena ia pemain basket terbaik di sekolah saat itu. Meskipun hanya bisa membenci dalam diam, sampai akhirnya beranjak kelas dua, Thalia sudah tidak begitu memedulikan sekitarnya lagi. Jino tiba-tiba melepas beberapa kancing seragamnya atasnya, padahal sebelumnya ia sudah membuka dua, lalu mengibas-ngibaskan bajunya untuk sedikit menyejukkan tubuhnya yang kepanasan dan berkeringat. Jino tiba-tiba menolehkan kepalanya ke arah Thalia sembari tersenyum, yang membuat Thalia sontak membuang mukanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN