19

1482 Kata
Thalia mendapat sedikit jahitan di kening karena luka yang cukup dalam. Sepertinya karena lemparan batu tendangan. Jino menyibak ke belakang rambut Thalia untuk melihat kondisi lukanya. Ia mendapat luka yang cukup parah, meskipun sepertinya ia sudah berusaha cukup keras untuk membuat lawannya terluka parah. Tapi berakhir ia yang lebih parah sampai pipinya bengkak, berikut daerah sekitar matanya. Meskipun kondisi Oyoy sepertinya sebelas dua belas saja dengannya. Jeno yang baru mengantar Oyoy, tak lama masuk ke bilik yang ditempati Thalia. "Gimana kondisi lo Tha?" tanya Jeno. Ia sedikit mendorong Jino, Han dan Brian yang berdiri di depan Thalia yang tengah duduk di pinggir ranjang, agar menyingkir dan ia bisa melihat kondisi Thalia dari dekat. "Gue gak papa," balas Thalia.                     "Gak papa gimana? Sampe bengkak gini, ya Tuhann...," kata Jeno sembari membungkuk dan mendekatkan wajahnya pada Thalia. "Tapi kan udah diobatin, bentar lagi juga sembuh," tutur Thalia sembari mendorong Jeno agar sedikit menjauh darinya. "Dibanding ngekhawatirin gue, gue mau minta maaf sama kalian," Thalia menatap satu persatu ke sembilan anak laki-laki yang berdiri di depannya secara bergantian, sebelum kembali bicara. "Gue ngajak jalan kalian kemaren, karena mau manas-manasin Oyoy, sama yang lain. Gue minta maaf," kata Thalia dengan kepala tertunduk. "Jujur kecewa sih, gue kira lo beneran udah mau akrab sama kita," sahut Brian. "Maaf...," gumam Thalia. "Udahlah, kita juga udah tau," bela Jeno. "Cuman tetep aja, siapa yang gak kesel cuman dimanfaatin?" kata Brian. Tapi ia kemudian teringat perkataan Thalia yang pernah bilang, kalau ia 'mau'nya diberikan perhatian oleh temannya, tapi tidak sebaliknya. Maksudnya sama saja dia mau memanfaatkan temannya, tapi ia tidak mau dimanfaatkan balik. Brian berdecak, dan tiba-tiba keluar dari bilik. Semuanya mengernyit heran kecuali Thalia. "Oyoy sama temen-temennya keterlaluan sih, tapi lo juga... eum, yah, gue kecewa, tapi mau nyalahin lo juga, gimana yaa... kayak gak pas aja," Jino menggaruk pelipisnya, bingung sendiri hendak berkata-kata. "Gue sih gak peduli ya, dari awal lo emang udah tertutup banget, dan gak mau temenan sama siapa-siapa. Kemaren gue juga enjoy kok, jadi gak masalah," ujar Randy. "Tapi gue gak mau terulang. Mending jalan bersembilan aja," Thalia bungkam, meskipun perasaannya terasa sesak entah kenapa, tapi ia merasa tidak perlu meluruskan apa-apa lagi pada mereka, atau membujuk mereka agar tetap mau berteman dengannya. Karena ia juga tidak ada keinginan. Jeno yang menyadari Thalia mulai tidak nyaman, akhirnya berinisiatif mengajaknya pulang. ••• "Omongan lo ke Thalia berlebihan deh," ucap Han pada Randy, dalam perjalanan kembali ke sekolah dari klinik. "Berlebihan gimana? Gue bilang gue gak pedulikan?" sahut Randy. "Thalia ngelakuin itu kan karena kelakuan Oyoy kayak setan," "Ya, tapi dengan dia manfaatin orang cuman buat manas-manasin, berarti dia sama aja dong," Jazmi tiba-tiba menyelip di antara Randy dan Han yang sebelumnya berjalan bersebelahan. "Jangan berantem. Thalia ngaku dia salah, dan udah minta maaf. Tapi wajar kalau kita semua kecewa. Jadi gak usah didebatin. Randy, lo gak usah permasalahin perbuatan Thalia kemaren, karena dia juga udah sadar, dia salah, dan lo Han, lo juga maklumin Randy yang kecewa," tutur Jazmi. Randy dan Han akhirnya berhenti berdebat. "Please maafin Thalia," ucap Han setelah beberapa saat terdiam. "Tanya yang lain, mau gak?" sahut Randy dengan nada sinis. Han menatap Jazmi, Jino, Brian dan Henry —Felix dan Aaron tidak ada karena tidak ikut ke klinik, untuk minta izin ke wali kelas kalau Thalia, Oyoy dan teman-temannya tidak bisa ikut kelas selanjutnya, sementara Jeno mengantar Thalia pulang—. "Gue jelas... maafin aja sih, bukan kesalahan besar menurut gue. Kemaren juga kita seneng-seneng aja," tutur Jazmi. "Eum, gue sama kayak Jazmi," timpal Henry, yang membuat Randy berdecak. "Gue dari awal gak ada masalah sih sama perbuatan Thalia, meskipun ada rasa... gak enak dikit," kata Jino. "Tapi ya udahlah. Gue serumah sama dia, gak enak banget kalau hubungan kita gak akur cuman gara-gara masalah kemaren. Dan bener apa kata Jazmi, kita kemaren enjoy aja. Dan udah bisa nebak dari awal kenapa Thalia ngajak jalan, setelah liat story- nya Oyoy kan?" ujar Jino. "Lo Bae?" tanya Randy. "Gak tau," balas Brian. ••• "Makasih," ucap Thalia, pada Jeno yang sudah mengantarkannya sampai kamar. "Lo yakin udah gak papa?" tanya Jeno, yang Thalia balas hanya dengan anggukan. "Udah diobatin lagian," gumam Thalia. "Enggak, bukan kondisi fisik lo yang gue tanyain. Tapi perasaan lo," Thalia terdiam sejenak, kemudian menggelengkan kepala. "Harusnya sih gue gak papa," ucap Thalia, namun bibir bawahnya bergetar, meskipun ia sudah berusaha menghentikannya, tapi Jeno tetap dapat melihatnya. "Yah, gak tau kenapa perasaan gue sakit. Padahal harusnya lega udah mukulin Oyoy sama temen-temennya itu," "Pasti gara-gara omongan Randy?" Thalia menggendikan bahu. "Tapi wajar dia ngomong kayak gitu. Hah, ya udahlah, gue emang gak pernah punya keinginan buat temenan sama kalian. Jadi harusnya gak papa. Lo balik aja ke sekolah, gue mau istirahat," Saat Thalia hendak memasuki kamarnya, Jeno menahannya. "Gue gak akan balik ke sekolah," ucap Jeno. "Ya udah, ke kamar lo aja," kata Thalia, namun Jeno tidak bergeming. Mereka saling menatap sejenak tanpa ada yang bersuara, sampai akhirnya Thalia tiba-tiba berjongkok dan menangis. ••• "Bokap gak suka sama gue, soalnya gue anak perempuan. Dia dari awal pengennya cuman punya anak cowok. Bahkan kata kakek gue, dari pihak bapak, kalau dalam waktu lima tahun gak bisa ngasih anak laki-laki, cerai aja," ujar Thalia. Mereka saat ini tengah berada di balkon kamar Thalia, karena Thalia ingin merokok. "Ih, kok kayak gitu sih?" respon Jeno. "Gak tau," gumam Thalia. "Mama sama papa cerai, karena papa suka bentakin gue dari kecil, mama gak terima mereka jadi sering berantem," "Kakek sama bokap lo pikir derajat laki-laki lebih tinggi pasti dari perempuan,.makanya kayak gitu, padahal sama aja. Justru derajat mereka yang jadi rendah karena kayak gitu. Emang mereka punya perusahaan besar, dan penerusnya harus laki-laki?" celoteh Jeno. Thalia menggelengkan kepala. "Enggak. Yah, kakek dulu kaya banget sih, dia jual batu buat bangunan gitu, tapi bangkrut. Gak tau lagi gimana kabarnya, habis orang tua cerai, gak pernah nengokin lagi. Toh, kalau nengokin juga gue cuman dicaci maki," Thalia kemudian menghisap rokoknya, dan membuang asapnya melalui mulut dan hidung. "Entah sejak kapan, gue mau senyum pun gak berani, apa lagi ketawa. Papa kayak benci banget liat gue seneng. Dan itu kebawa sampe sekarang," kata Thalia. "Nangis juga?" "Papa mending liat gue nangis asal gak bersuara, dari pada gue keliatan seneng. Cuman Nolan yang boleh seneng. Mama kira setelah ada Nolan, sikap papa bakal berubah ke gue, gak taunya sama aja," Jeno mendengus, kemudian berdecak. Merasa kesal sendiri mendengar cerita Thalia. "Makanya meskipun mama sibuk, hampir gak pernah ada waktu sama gue. Gue... tetep belain mama banget, maksud gue... gue gak ada rasa marah atau dendam sedikit pun ke mama karena gak bisa ngasih kasih sayang ke gue selain pake uang. Karena selama ini yang lindungin gue cuman mama, mama sampe cerai dan cari uang juga karena gue. Tapi gue sempet sih kecewa, karena waktu proses cerai, mama bela-belain banget hak asuh Nolan. Sampe mama gak bisa tidur, susah makan, karena ketakutan gak bisa pertahanin hak asuh Nolan," "Hak asuhnya sebenernya awalnya dibagi dua, tapi karena Nolan milih tinggal sama mama, jadi papa maunya mama lepas hak asuhnya. Sampe mama difitnah ini-itu, keluarga papa juga bantuin. Mama yang gak punya uang waktu itu akhirnya kalah," "Ngeliat perjuangan mama demi anak-anaknya di depan mata kayak gitu, yah, perasaan gue bener-bener kayak dirobek-robek baca status Oyoy, bahkan rasanya lebih sakit dari pada dirobek-robek. Dia gak tau apa-apa," Jeno mengulurkan tangannya untuk menepuk punggung Thalia. "Mudah-mudahan setelah kejadian hari ini dia bakal berhenti ganggu lo, apa lagi mama lo," ucap Jeno. "Kalau enggak ada gue sama temen-temen," Thalia menghela napas. "Udahlah, gue gak akan berhubungan lagi sama temen-temen lo. Gue malu, gue udah bener-bener ngecewain kalian," "Sebagian dari kita mikirnya bisa aja beda sama Randy, termasuk gue. Randy sekecewa itu, karena dia juga terlalu seneng ada temen baru, anak perempuan lagi. Selama ini dia jarang bisa temenan sama perempuan, karena sering bikin gak nyaman menurut dia. Pas lo gabung, dia ngerasa nyaman-nyaman aja ternyata sama lo. Dia ngerasa gak ada perbedaan gender sama lo, yang biasanya jadi jarak," "Gue tetep gak enak sama kalian," Jeno tertawa kecil. "Gue gak nyangka lo punya perasaan kayak gitu," "Emang aneh kalau gue punya perasaan kayak gitu?" "Ya enggak, cuman lo kan kayaknya cuek banget, auranya juga suram, tertutup. Gue gak nyangka lo bisa nangis, bisa semarah itu sama orang, dan bisa gak enakan sama ngerasa bersalah," "Lo pikir gue psikopat yang gak punya emosi?" Jeno tertawa lebih lebar. "Yah, kali aja," Thalia mendorong pelan bahu Jeno, dan tersenyum meskipun sekilas. "Ngerokoknya sekali aja, habis ini lo istirahat. Nanti lukanya gak sembuh-sembuh lagi," tutur Jeno. "Iya," balas Thalia. Thalia kemudian termenung, sepertinya tidak akan mudah mengembalikan hubungannya dengan teman-teman Jeno seperti semula. Kalau ia ada di posisi mereka pun, pasti akan kecewa. Sudah senang mengira diajak berteman dengan tulus, ujung-ujungnya hanya dimanfaatkan. Apa lagi Thalia bukan tipe orang yang mudah bergaul, jadi ia tidak tahu bagaimana caranya memperbaiki hubungannya dengan mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN