08

1194 Kata
"Jis, mending ikut kakak kamu belanja, gih. Mama mau ke kantor," ujar mama sembari mencolek bahu Nolan, yang sedang fokus main game. "Males ah Ma, nanti aku disuruh-suruh bawain belanjaan," kata Nolan. "Ya, emang kenapa? Bantuin sekali-kali," "Hah, ya udah deh, kalau mama yang minta," Nolan akhirnya ikut Thalia, Jeno, Jino, dan Brian ke pasar. Sebenarnya Thalia jengkel. Untuk apa ramai-ramai ke pasar? Yang malah hanya akan jadi pusat perhatian. Mana penampilan Jino sangat rapi dan super wangi. Dia pikir mau ke kondangan? Seperti biasa Jeno yang menyetir, dan kali ini Nolan yang duduk di sebelahnya. Sementara Brian, Jino, dan Thalia duduk di tengah, dengan posisi Jino yang berada di tengah-tengah. Dan itu enggak enak. "Lo wangi banget, buset," ucap Brian.                          "Lo bau kentut," balas Jino, yang membuatnya mendapat pukulan cukup keras di lengannya. "Tapi asli, lo ketumpahan parfum?" "Bisa dibilang begitu. Spray parfum gue rusak, jadi gue makenya dibuka tutupnya, tapi tadi kebanyakan pas naro-in di telapak tangan. Ya udah, gue oserin aja ke baju semuanya. Lagian ini parfumnya gak tahan lama kok, nanti juga hilang aromanya," "Lo pasti gak mandi deh, makanya pake parfum," "Dih!" seru Jino tak terima. "Salah Jeno tuh, kelamaan di kamar mandi," "Kenapa jadi gue yang disalahin?" sahut Jeno. "Ribut mulu," ucap Thalia, yang membuat ketiganya langsung bungkam. Nolan tertawa kecil. "Kalian pada takut sama kakak?" "Eh, enggak!" sahut ketiganya secara bersamaan. "Hahaha, emang nyeremin sih kakak gue," ucap Nolan, yang membuatnya sukses dapat pukulan di kepala. ••• Brian dan Jino tampak terkejut begitu tiba di pasar. Sebagai anak tunggal dan dimanja, mereka tidak pernah menginjakan kaki ke pasar tradisional. Berbeda dengan Jeno yang punya saudara, bahkan saudara perempuan. Meskipun jarang, tapi kadang-kadang ia membantu kakaknya untuk belanja. Terlebih, kemarin ia sudah ke sini dengan Thalia. Jino menggandeng tangan Jeno, saat masuk ke area yang ramai. Jeno hanya bisa memasang ekspresi datar. "Ck, ngapain sih gandeng-gandeng?" protes Jeno, sembari hendak menarik tangannya, tapi tenaga Jino cukup besar untuk menahannya. "Gue takut hilang tau, rame banget gini. Bisa jadi ada yang nyulik gue juga," "Siapa yang mau nyulik badan gede kayak elo? Anjir!" "Ya kan, takutnya," "Akh! Nanti dikira m**o!" "Biarin lah! Yang penting gue aman!". Jeno meringis. Berbagai u*****n terucap di hatinya. Sementara itu Brian jalan di belakang Thalia, dan sebisa mungkin tidak terpisah dengannya. Kadang-kadang Brian memegangi tas ransel Thalia, kalau tiba-tiba berdesakan. Karena masih pagi, jadi pasar memang sangat ramai. Nolan hanya jalan santai di sebelah Thalia, dan tidak begitu memedulikan Brian dan Jino yang cemas. Karena membawa banyak pasukan, Thalia jadi berani mendatangi kios sayur yang biasa ia hindari. Meskipun barang-barangnya bagus, dan ia akan selalu dapat banyak dengan harga murah kalau belanja di sana, abang-abangnya pemilik kios yang masih muda dan —mungkin masih jomblo, sering mengganggunya, yang membuatnya tidak nyaman. Mana ada tiga abang-abang. "Wah, neng, udah lama gak ke pasar ya?" tanya si abang penjaga kios. Thalia hanya membalasnya dengan senyuman kecil. 'Bukan udah lama gak ke pasar, tapi emang gak pernah ke sini,' batin Thalia. "Wah, bawa rombongan ya, neng? Temen-temennya, neng?" Nolan langsung merangkul Thalia, sembari menatap tajam abang-abang itu. "Gue adeknya, itu yang di belakang kacungnya," Thalia sontak mencubit d**a Nolan. "Ngomongnya itu!" bentak Thalia dengan nada berbisik. Jeno, Jino, dan Brian menahan diri untuk tidak memukul kepala Nolan. Thalia kemudian memilih menyebutkan apa saja yang mau ia beli. Meskipun sudah bawa pasukan, ternyata ia tetap merasa tidak nyaman. Padahal mereka sekarang tidak berani mengganggunya. Meskipun hanya dilecehkan lewat omongan, rupanya itu tetap membuatnya trauma. Dan Thalia baru menyadarinya sekarang. Ia pikir setelah bawa pasukan, tidak akan membuatnya takut, tapi ternyata sama saja. "Suara lo kecil banget, sini, biar gue yang nyebutin belanjaannya apaan aja," kata Brian tiba-tiba, sembari maju ke depan, dan mendorong pelan Thalia agar mundur ke belakang. Thalia pun menyerahkan ponselnya yang berisi catatan belanja dari mamanya. "Lo gak papa?" tanya Jeno, dengan wajah yang tiba-tiba mendekat ke wajah Thalia. Dengan maksud agar Thalia mendengarnya, karena pasar yang berisik. "G-gak papa, emang kenapa?" Thalia malah balik bertanya. "Gak papa sih, lo agak pucet aja sedikit, gak enak badan?" Thalia menggelengkan kepalanya. "Karena belum minum aja kali," balas Thalia. "Lo belum minum pas ke sini?" Thalia menggelengkan kepalanya. "Yee, gimana sih? Habis ini minum dulu, terus lanjut belanja," kata Jeno, yang Thalia balas dengan anggukan. Selesai belanja, mereka bergegas keluar pasar, dan pergi ke minimarket yang ada di seberang pasar. Thalia duduk di salah satu kursi yang tersedia di depan minimarket, dan Nolan buru-buru duduk di kursi lain yang berhadapan dengan Thalia, sebelum Jino, Jeno atau Brian menempatinya. "Gue beliin minum dulu ya?" ujar Jeno. Jeno dan Brian pun masuk ke dalam minimarket, sementara Jino ikut menunggu di luar bersama Thalia dan Nolan. Ia duduk di kursi yang ada di belakang Nolan. "Abang-abang yang di pasar tadi nyebelin banget deh, kayaknya kepo banget sama lo," ujar Jino. "Emang resek mereka. Tapi barangnya bagus, terus biasanya gue dapet banyak kalau belanja di situ. Kalau gak bareng kalian, gue mah gak berani belanja di situ," "Hati-hati lo kalau ke pasar sendiri, rame banget lagi," ucap Jino. "Iyaa..." balas Thalia. "Makanya belanja aja di supermarket, kata Nolan. "Mama kan banyak uang, bisalah belanja di supermarket," Thalia memukul kepala Nolan. "Gak gitu lah! Harus pinter-pinter kalau mau belanja. Percuma belanja di tempat bagus, tapi barangnya gak bagus. Meskipun banyak uang gak boleh semena-mena, harus pinter ngatur uang. Ah, kamu nih. Lagian mama emang gak susah payah apa nyarinya?" "Lo harus masuk pesantren deh, Jis," ucap Jino. "Anak yang masuk pesantren karena bandel tuh, kebijakan konyol tau!" timpal Nolan. Jino dan Nolan pun malah jadi bertengkar masalah pesantren. Sampai tidak menyadari ada yang datang dan tengah menghampiri mereka sambil tersenyum lebar. Thalia yang menyadarinya duluan, ia hanya bisa membatu saat orang itu kini sudah berdiri di depannya. "Wah, kebetulan banget bisa ketemu kalian di sini," ucapnya. "Jazmi!" seru Jino. "Wah, lo kok ada di sini?" "Bantuin ibu gue belanja," balas orang itu yang tak lain adalah Jazmi. Thalia seketika panas dingin, saat mengingat ia harus minta maaf padanya. Jazmi yang sebelumnya melihat ke arah Jino, beralih melihat ke arah Thalia sambil tersenyum. "Wah, siapa nih?" tanya Jazmi sembari melirik Nolan. "Nolan," balas Nolan dingin. "Adeknya kak Thalia," Mata Jazmi melebar. "Oh, Thalia punya adek? Gue Jazmi, temen sekolah Thalia," "Gak nanya," balas Nolan. Jino dari belakang mencubit pipinya cukup keras, yang membuat Nolan memekik kesakitan, sampai berdiri dari kursi yang didudukinya. "Mirip ya..." gumam Jazmi. 'Kelakuannya,' sambung Brian di dalam hati. Jeno dan Brian tak lama keluar dari minimarket sembari membawa minum. Mereka tampak terkejut saat melihat Jazmi. "Lo ada di sini?" tanya Jeno, sembari buru-buru menghampiri Jazmi. "Iya, bantuin ibu gue belanja," balas Jazmi. "Mau minum?" tawar Jeno. Jazmi menggeleng. Melihat ada Jazmi di sini, tentu membuat Brian teringat perjanjiannya dengan Thalia. Ia melirik Thalia dan Jazmi secara bergantian sesaat, sebelum menyeletuk. "Jaem, Thalia katanya mau ngomong sesuatu sama lo," ucap Brian, yang membuat Jazmi dan Thalia sama-sama terkejut mendengar perkataannya. "Ap-apa? Eng-engga-," Thalia mau menyangkal, namun Brian sudah lebih dulu memotong ucapannya. "Ah, udah sana, kalau mau ngobrol. Mumpung ketemu, di sekolah nanti banyak kegiatan," kata Brian sembari tersenyum dengan wajah tak berdosa. 'Sialan!' batin Thalia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN