"Wah, lo suka biskuit merk ini juga?" tanya Brian excited, saat Thalia mengambil salah satu merk biskuit favoritnya.
"Iya suka, ini enak, gak terlalu nempel di gigi juga," balas Thalia.
"Iya! Biskuit lain tuh sukanya nempel digigi, yang merk ini mah gak terlalu. Lo suka rasa apa? Gue suka rasa taro, vanilla sama coklat,"
"Gue juga suka itu, tapi lebih suka rasa yang vanilla,"
"Kalau gitu gue yang beliin deh, buat kitaa... Jeno sama Jino mah gak suka biskuit, meskipun rasa ini. Eh, terus lo suka teh mint gak?"
Thalia mendadak semangat, ia langsung menganggukkan kepalanya.
"Suka banget! Tapi mama gak suka, katanya kayak pasta gigi rasanya, jadi gak pernah beli," tutur Thalia.
"Huwaa, selera kita sama. Kalau gitu gimana kalau gue beli? Buat kita berdua aja, soalnya Jino sama Jeno juga gak suka,"
"Boleh deh. Tapi lo nih yang mau bayarin? Mama udah bekelin gue kartu debitnya sih,"
"Udah gue aja yang bayarin. Sejak nge kost orang tua gue kasih uang jajannya banyak. Ke tempat tehnya bareng yuk,"
"Bentar, gue masih mau milih-milih snack yang lain dulu,"
"Oke," ucap Brian, sembari mengikuti Thalia yang sedang memilih-milih snack.
Saat melihat kue kesukaannya, Brian akan memperlihatkannya pada Thalia, dan bertanya. "Lo suka ini?"
Dan rata-rata jawaban Thalia suka, atau kurang, tapi tidak pernah ada yang benar-benar tidak ia sukai.
Selesai membeli cemilan, mereka beralih ke tempat-tempat skincare.
Ketiga anak laki-laki itu membeli cukuran baru, sikat gigi, dan parfum. Lalu beli satu botol krim cukur yang akan mereka bayar patungan.
Mereka kumpul bertiga di depan kumpulan krim cukur untuk berdiskusi.
"Ini bagus gak?" tanya Brian.
"Gue pernah beli, agak perih. Mending beli yang mahalan dikit," saran Jino.
"Tapi mahal kecil, njir, gak cukup lah kalau buat kita bertiga," timpal Jeno.
"Woy, kalian ngapain sih?" suara Thalia berhasil mengejutkan ketiganya, mereka menolehkan kepalanya ke belakang, dan mendapati Thalia tengah menatap mereka sambil memegangi trolley.
"Dari pada bingung, mending beli yang diskon,"
Dan anehnya ketiganya langsung menurut.
Setelah selesai memilih krim cukur, Thalia pergi ke deretan perawatan wajah, dan yang ikut hanya Jino, sementara Jeno dan Brian mau mencari barang yang lain.
"Pake sabun cuci muka apa?" tanya Jino.
"Yang merk ini, yang varian buat kulit sensitif," balas Thalia, sembari mengambil sabun cuci muka yang ia maksud, lalu ia masukan ke dalam trolley.
"Itu bagus? Kulit muka gue juga sensitif, jadi sukanya pake sabun yang mahal, susah nemu yang cocok," tutur Jino.
"Pamer?" tanya Thalia, yang langsung Jino balas dengan gelengan.
"Enggak kok, emang kenyataan. Kalau ada yang murah tapi cocok di gue, ya gue lebih milih yang murah lah," balas Jino.
"Cobain aja dulu nanti yang punya gue, kalau cocok lo beli sendiri," kata Thalia.
"Wah, beneran boleh?"
"Iya, boleh,"
"Makasihhh..." ucap Jino dengan nada dibuat-buat.
"Bisa gak sih lo gak sok imut? Badan gede juga," cibir Thalia.
"Ya emang kenapa sih? Ekspresi ini cuman gue liatin ke elo doang,"
"Ya terus? Kalau ke cewek lain lo pasti masang tampang sok keren ya? Dih,"
"Soalnya lo gak bisa diluluhkan pake ekspresi itu. Sekarang gue tau, lo itu bisa diluluhkannya pake ekspresi imut,"
"Cih, percaya diri banget lo," gumam Thalia, sembari berlalu meninggalkan Jino, untuk mencari barang yang lain.
"Wah, apa nih?" gumam Jino dengan tangan yang bergerak, mengambil botol spray dengan label sample.
"Face mist? Ini parfum buat muka? Wah, ada ya, biar pas dicium wangi gitu?" Jino mengoceh, sambil menyemprotkan cairan tersebut ke wajahnya dengan mata terbuka.
"Akhhh!!!"
Thalia yang sedang melihat-lihat pelembab, sontak menoleh ke arah Jino yang tengah berjongkok sembari menutupi matanya yang perih menggunakan lengan kanannya.
"Lah, lu kenapa?" tanya Thalia sembari berjongkok di depan Jino.
"Tadi nyemprotin ini, tapi masuk mata..." ucap Jino, sembari mengangkat botol sample face mist yang ia pegang.
"Coba angkat kepala lu, gue liat matanya," Thalia mengulurkan kedua tangannya, dan memegangi kedua sisi wajah Jino, membuat Jino otomatis mendongakan kepala.
Mata Jino tampak susah dibuka, berair dan memerah.
"Lo gimana pas nyemprotinnya? Kok bisa masuk mata?" tanya Thalia.
"Sambil melek, gue kira kan gak akan pedes, soalnya judulnya aja face mist, khusus muka kan berarti?"
"Tapi merk itu mah dikomposisinya ada alkoholnya, b**o,"
Thalia meniup-niup pelan mata Jino, yang membuat Jino otomatis berkedip-kedip, dan mengeluarkan lebih banyak air mata.
"Udah mendingan belum?" tanya Thalia.
"Udah... lumayan..." balas Jino. "Makasih,"
Thalia bangkit berdiri, kemudian mengambil botol face mist itu dari tangan Jino.
"Kalau mau make ini tuh harus sambil merem, mau gak ada alkoholnya juga. Gimana sih lo? Lagian ngapain pake ginian?" ujar Thalia, sembari mengembalikan face mist tersebut ke tempatnya.
"Itu parfum buat muka kan?" tanya Jino sambil bangkit berdiri.
Thalia terdiam, ia kemudian menutup mulutnya sejenak, sebelum tergelak.
"Apa? Parfum buat muka? Hahaha, koplak amat lo. Ini tuh, pelembab, penyegar, sekaligus buat bikin makeup lebih tahan lama. Sejak kapan ada parfum muka?" kata Thalia di sela tawanya.
Bukannya fokus pada penjelasan Thalia, Jino malah tercengang melihat dan mendengar Thalia tertawa.
"Lo bisa ketawa?" tanya Jino, yang membuat Thalia langsung diam.
"Lo lucu kalau ketawa," tutur Jino jujur.
"Diem lo. Udah mau cari apa lagi di sini? Gue udah nemu yang mau gue beli,"
Jino sedikit memajukan bibir bawahnya, karena Thalia kembali bersikap dingin.
"Gue mau beli face mist-nya deh, kata lo bisa buat penyegarkan? Kayaknya enak kalau gue semprotin ke muka habis olah raga,"
"Iya, enak emang. Cuman kalau kulit lo sensitif, jangan beli yang ada alkoholnya," kata Thalia.
Ia kemudian mengambil face mist dari merk lain, dan memberikannya pada Jino.
"Yang ini gak ada alkoholnya nih,"
"Wah, oke, gue ambil ini deh." ucap Jino bersemangat, sampai tersenyum lebar.
Thalia diam memperhatikan Jino. Sampai akhirnya terdengar suara Jeno dan Brian, yang membuyarkannya.
•••
"Mama pulangnya agak malem katanya. Kalau masih mau main boleh, tapi sampe jam tujuh malem aja, terus makan malem dulu sebelum pulang," ujar Thalia, sesaat setelah ia melihat ponselnya.
"Mau makan di luar jadinya?" tanya Jeno, yang Thalia balas dengan anggukan.
"Nonton yuk!" ajak Jino.
"Yuk, yuk!" sahut Brian.
"Mau nonton apaan?" tanya Thalia.
"Ada film horror baru yang bagus," ucap Jino.
Jeno berdecak. "Alah, gak usah ngaco lo. Nanti lo malah bikin kegaduhan kalau nonton itu,"
"Emang lo pikir gue penakut?!" seru Jino tak terima.
"Banget," balas Jeno. "Tha, ada film yang mau lo tonton?"
"Enggak ada, gue gak begitu suka nonton lagian. Jadi ngikut aja. Kali aja film yang kalian mau tonton, bisa gue suka," kata Thalia.
"Gimana kalau film komedi?" saran Brian.
"Ahh, iya setuju! Gue mau liat Thalia ketawa lagi!" sahut Jino, yang membuat Thalia menatapnya tajam.
Jino itu emang polos atau b**o? Batin Thalia.
"Wah, lo liat Thalia ketawa? Harusnya lo rekam!" dan Brian menambah kebodohan Jino.
"Heh, orang ketawa kan banyak. Apaan sih, norak banget," kata Thalia ketus. "Lagian gue ketawa karena kebodohan Jino,"
"Ya udah Jin, lo bikin kebodohan lagi, biar Thalia ketawa," kata Brian.
"Enak aja lu, mending lo aja!" balas Jino.
"Eh, jadi gak nontonnya? Kalau masih bingung mau nonton apa, mending ke toko buku," kata Jeno, yang membuat keributan Jino dan Brian langsung berhenti.
Mereka anti toko buku.
"Enggak, enggak, kita nonton aja. Gimana kalau kita tentuin nonton film apa, pake gunting, kertas, batu? Kita nonton genre film yang dipilih pemenang. Gue pilih film romance," ujar Brian.
"Gue horror deh," balas Jeno.
"Gue komedi," timpal Jino.
Ketiganya kemudian menatap Thalia yang masih hanya diam.
"Lo apa Tha?" tanya Jeno.
"Gue action," balas Thalia.
•••
Dan pada akhirnya Jeno yang menang. Thalia duduk di tengah, sementara di sebelah kanannya ada Jino dan Jeno, dan di sebelah kirinya Brian.
Awalnya semua baik-baik saja, meskipun Jino tampak tegang meskipun baru awal film.
Tapi di pertengahan film, Jino dan Brian mulai ribut. Padahal Thalia kira, Brian tidak akan takut.
Untung bioskop sedang tidak terlalu ramai. Mereka bisa-bisa diusir karena ribut.
"Ampun, gusti! Itu orang, itu orang! Bukan hantu beneran!" seru Brian sembari menutup kedua telinganya.
Thalia tersentak, saat Jino tiba-tiba ia menggenggam tangannya. Ia menolehkan kepalanya ke arah Jino, dan menemukan anak laki-laki itu sedang menyembunyikan wajahnya di balik lututnya yang ia angkat.
Thalia kemudian beralih menatap Jeno, rupanya Jino juga menggenggam tangannya. Jeno terlihat pucat dan keringat dingin juga, meskipun tidak heboh.
'Jino kayak orang mau melahirkan aja,' batin Thalia.
Thalia sebenarnya tidak sepenuhnya berani juga. Tapi dibanding takut, ia lebih sering kaget saat hantunya tiba-tiba muncul, apa lagi musiknya suka tiba-tiba jadi keras.
Hah, makanya Thalia benci film horror.
Setelah film selesai, Jeno, Jino, dan Brian keluar dengan tubuh lemas. Mereka berjalan dengan lunglai, dan poni basah.
Sementara Thalia, masih bisa mengkondisikan tubuhnya untuk terlihat baik-baik saja.
"Cari minum yuk, tenggorokan gue seret teriak-teriak," kata Brian.
Jeno memukul kepalanya dari belakang. "Gak ada yang nyuruh lo teriak-teriak,"
Brian balas memukul kepala Jeno. "Gak usah mukul dong!"
"Gue mukulnya pelan juga! Lo keras-keras!" Jeno balas lagi dengan cara yang sama.
"Lo lebih keras! Dua kali lagi! Nih, gue bales tiga kali!"
Jeno mengapit leher Brian, dan menjitak kepalanya. "Gue bales sepuluh kali!"
Brian hendak membalas lagi, tapi dari belakang Thalia sudah lebih dulu memukul kepala mereka.
"Diem gak? Malu-maluin aja," ucap Thalia.
Jino tiba-tiba nyeletuk. "Eh, itu ada kok Wina, Oyoy sama sama Rere?"
Thalia seketika mematung. "Lo mau nemuin mereka?" tanya Thalia.
"Nyapa aja," balas Jino.
Raut wajah Thalia langsung berubah takut. Ia secara otomatis bersembunyi di balik tubuh Jino, yang membuat ketiganya mengernyit bingung.
"Kenapa?" tanya Jino.
"Udahlah, gak usah disapa. Ngapain? Nanti mereka malah ngintilin kita lagi," ujar Jeno, yang Brian balas dengan anggukan setuju.
"Ya udah deh," balas Jino.
Mereka pun akhirnya memilih keluar dari bioskop, dan tidak jadi menyapa ketiga anak perempuan itu. Tapi salah satu dari mereka, rupanya melihat keberadaan Thalia, Jeno, Jino dan Brian.
"Si Thalia, habis Han, godain tiga cowok sekaligus ya?"