Part 8

1096 Kata
tak henti-hentinya Alisya tersenyum bahagia. Bagaimana tidak untuk pertama kalinya Aditya memperlakukan dirinya begitu lembut baik lisan maupun perbuatannya. Entah karena apa tapi yang pasti ia sangat bersyukur dengan perubahan laki-laki itu dua bulan ini. “Ca, kamu ngapain berdiri di situ?” tanya Aditya dengan suara seraknya khas orang bangun tidur “aku gangguin tidur kamu yah mas?” tanya Alisya tak enak “tidak, aku hanya merasa kehilangan kamu di samping aku, jam berapa sekarang?” “masih jam tiga subuh, tiba-tiba tadi aku haus makanya kebangun” “yah sudah kita tidur lagi sini aku peluk” tentu saja dengan senang hati Alisya mengangguk menghampiri suaminya “tidur jangan lihatin aku terus, aku tau kamu capek” Alisya hanya tersenyum manis kemudian kembali menutup matanya hingga subuh menghampiri mereka. ____ “hari ini kamu pulang jam berapa mas?” tanya Alisya dari balik pintu, karena ia hanya mengenakan daster selutut namun tidak mengurangi kencantikannya sedikitpun. “mungkin aku pulang malam, kalau kamu ngntuk tidak usah menungguku pulang” peringat Aditya yang sudah hapal kebiasaan istrinya “aku berangkat, jangan lupa kunci pintu kalau mau kemanapun jangan lupa kasih kabar oke!” “iya mas, hati-hati dijalan” usai memastikan Aditya berangkat barulah Alisya kembali kedalam rumahnya. *** Enatah sudah berapa macam gumaman yang dirapalkan oleh Aditya, mengurangi sedikit rasa gugup? Entah lah namun yang pasti Aditya tak mampu menahan raut gelisahnya. Meski raganya berada diantara para tamu yang sebenarnya keluarga Vanessa, namun fikirannya sedang jauh berkelana entah kemana. “Aditya” bisik Vanessa yang sedang menjulurkan kelima jari lentiknya itu. “yah” saut Aditya dengan raut bingungnya “pasangkan cincin itu di jari manisku, kau kenapa?” Yah, malam ini adalah tunangan antara dirinya dengan Nessa sesuai dengan kesepakatannya dengan keluarga Nessa sebelumnya. malam ini ia akan melamar Nessa untuk menjadi tunangannya, perempuan cantik itu akan terikat satu tingkat dari sebelumnya. Tanpa menunggu lebih lama Aditya memasangkan cincin putih dengan butiran berlian pilihan wanita tersebut, yang tentu disambut haru bagi keluarga Vanesaa tak terkecuali kedua orang tua Vanessa. “terima kasih nak, rasanya papa sudah tenang bila nyawa papa dipanggil kapan saja, papa mohon sama kamu untuk selalu menjaga putri papa,beliau harta papa satu-satunya” usai pertunangan antara dirinya dengan Vanessa, papa Vanessa mengajak Aditya berbincang-bincang ringan, sementaraVanessa perempuan itu tenga tertawa bahagia bersama kedua sepupunya yang juga Aditya kenal. “pa, saya yakin papa akan segera sembuh, papa harus semangat” tampak jelas kilat kesedihan pada kedua mata Aditya. “tidak ada yang tau kapan manusia akan dipanggil Dit...” “sebentar pa” ucapnya melihat siapa yang menelepon “papa akan menunggu kamu di ruang makan sama yang lainnya” Aditya hanya mengangguk sekilas kemudia meneruskan panggilannya entah sama siapa. “pa... Papa” panggilnya lemah saat netranya menangkap sosok tegas yang begitu lembut itu tersungkur. Tak memperdulikan ponsel yang ia lempar sembarang arah Aditya berlarian menggendong tubuh lemah ayah angkatnya. Suasana yang tadinya penuh tawa berubah seketika melihat Aditya membopong calon mertuanya melewati keluarga dan tamu undangan. “dit papa kenapa?” “kita kerumah sakit yah, kamu tenang aja papa pasti baik-baik saja” ucap Aditya menenangkan Nessa dan mama. Tanpa menunggu lama Aditya membawa laki-laki itu menuju rumah sakit yang untungnya ta terlalu jauh sehingga tak banyak memakan waktu. “pasien sudah siuman, kalau ada apa-apa segera hubungi kami” “terima kasih dok” ucap Aditya menuntun nessa memasuki ruangan “paa.. papa kenapa jangan bikin Nessa panik” “Ness...” “Dit” ucap papa mengapit tangan keduanya “sekali lagi papa minta sama kamu untuk menjaga putri papa, sayangi dia” tanpa sadar Aditya mengangguk dan tepat saat itu juga papa Nessa menghembuskan nafas terakhirnya “pa...pa... papa” ucap Nessa lemah dengan derai air mata yang sudah membanjir sedari tadi Aditya sendiri tak mampu menahan kesedihannya bagaimanapun juga laki-laki ringkih itu pernah berjasa dalam hidupnya “mama” ucap Nessa menemui ibunya, tak sampai dua langkah Vanessa sudah tak sadarkan diri. *** “Ness” panggil Aditya menemui wanita yang baru beberapa jam berganti status menjadi tunangannya “kamu yang sabar yah, setidaknya saat ini papa sudah tidak merasakan sakit lagi. Kamu harus kuat demi aku oke”pinta Aditya menghadiahi wanitanya dengan ciumaan dikening Nessa. “Dit” “hmm” “kamu janjikan akan selalu menjaga aku” “yah aku akan selalu menjaga kamu” jawab Aditya pasti “posisi aku akan tetap berada diatas istri kamu sampai kapanpun kan? dan kita akan menikah tanpa atau adanya restu dari istri pertama kamu, iya kan dit?” tanya Nessa dengan tegas Aditya hanya mengangguk ragu. Untuk saat ini ia belum bisa mengatakan apapun demi kebaikan sikologi Vanessa. ____ Di tempat lain Alisya tengah tertidur di ruang makan sembari menunggu suaminya pulang, meski laki-laki itu mengatakan jangan menunggunya Alisya tetap menunggu entah firasat dari mana perempuan itu meyakini laki-lakinya akan pulang meski terlambat “Ca, kamu ngapain tidur di sini” “kamu pulang mas, jam berapa ini?” “setengah tiga pagi, kenapa kamu tidur disini aku sudah bilang bukan jangan menunggu, kenapa kamu ngeyel Ca” tanya Aditya tegas, entah lah lakilaki itu tak suka bila Alisya terlalu keras kepala seperti itu. “maaf” Mendengar nada sendu dari istrinya Aditya menghembuskan nafas kasar “lihat pipi kamu jadi seperti ini, tubuh kamu juga pasti sakit semua tidur seperti tadi Ca, lain kali kalau aku bilang pulang malam jangan ngeyel lagi, tidur saja janga menungguku” “iya mas” “yah sudah kalau gitu kamu istirahat dulu yah aku mau sedikit bersih-bersih” *** Pagi-pagi sekali Aditya sudah rapi meskipun bukan stelan kantoran seperti biasa, namun siapapun pasti tau kalau stelan laki-laki itu akan berpergian. Alisya yakin kalau laki-laki itu tidak akan pergi bersantai karena tidak ada kata santai atau berlibur bagi seorang Aditya. “kamu mau kemana mas? Bukannya hari ini kamu libur?” tanya Alisya ragui-ragu. Akhir-akhir ini suaminya sering emosian yang membuatnya harus sedikit berhati-hati dalambertanya. “aku ada urusan sebentar” “mm... mas” cicit Alisya “ada apa?” “sebenarnya aku mau ngajak kamu ke rumah umma tapi kalau kamu ngizinin, aku mau kerumah umma sendiri” “kalau kamu gak kasih izin aku juga gak maksa mas” “kalau begitu siap-siap lah akan ku antar” tandas Aditya “serius?” “yah cepat lah aku sedang buru-buru” Cup “makasih mas” Aditya hanya tersenyum singkat kemudian kembali sendu entah karena apa. “ayok mas, katanya kamu sedang buru-buru, makanya ayok” “yah sudah ayok”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN