"Ibu." Luna langsung berlari sekuat tenaga menghampiri seorang wanita paruh baya yang duduk di kursi roda dengan pandangan kosongnya. "Ibu..." Gadis itu memeluk erat tubuh lagi Arumi, menangis keras seolah mengadu tanpa kata, menumpahkan segala rasa sakit dan juga rindu pada wanita paruh baya yang merawatnya sejak bayi itu. "Ibu. Ibu tidak apa-apa, kan?" tangan Luna terulur, menyentuh wajah Arumi dengan jemari bergetarnya. Mengamati setiap detail wajah sang ibu yang sudah berbulan-bulan tidak dia jumpai. "Saya rasa saya sudah memenuhi janji saya padamu." Suara Wijaya mengalun keras, sengaja memutus moment membahagiakan yang Luna rasakan saat karena muak, "Maupun harus memenuhi janjimu, Luna!" Kebahagiaan Luna bertemu dengan sang ibu memang tidaklah gratis dan harus harus ditebus dengan

