Tubuh mungil itu meringkuk seperti janin dalam kandungan, mendekap tubuhnya semakin erat karena hawa dingin yang menusuk kulit. Dan suara gemeletuk kecil secara berkala keluar dari balik bibirnya yang semakin lama semaki pucat, sebisa mungkin membuka manicnya yang terasa berat akibat kepalanya yang terasa dipukuli oleh ribuan palu. Luna tahu saat ini dia sudah tidak berada di ruang Lukis lagi karena hawa ruangan yang dia tempati saat ini begitu gelap, sesak dan pengap. “Aku dimana?” manic kelam itu berusaha menajamkan penglihatan di tengah gelapnya ruangan, mengira-ngira dimana dia sekarang berada . Brak! “CitCit!Cit!” Seketika tubuhnya menegang, tubuhnya meringkuk semakin erat karena dia sangat tahu bahwa itu adalah suara cicitan dari tikus, hewan menjijikkan yang paling dia benci

