"Ada yang membuatmu senang hari ini?" pertanyaan itu meluncur dari balik bibir Maxim, rekan kerja Alex yang kebetulan duduk disamping pria tampan itu.
"Tidak." geleng Alex pelan, "Memang kenapa?"
"Wajahmu terlihat cerah dari biasanya dan ada sedikit senyum di bibirmu sejak kau datang tadi." ucap pria itu diiringi seulas senyum.
"Tidak ada." geleng Alex pelan dan pria itu kembali mengalihkan pandangannya kearah layar kerjanya lagi.
"Kau tahu PT. Angkasa Jaya?" si pria bernama Maxim itu rupanya tidak mau menyerah untuk mengajak Alex bicara dan sepertinya kali ini berhasil karena Alex langsung menolehkan kepalanya, "Katanya mereka mengakuisi beberapa perusahaan kecil untuk bernaung dibawah kaki mereka." Maxim menolehkan kepalanya kearah Alex dan kembali bicara dengan nada bersemangat saat sadar lawan bicaranya tertarik dengan topik yang dia bawakan.
"Kau tahu sendiri kan kalau perusahaan rokok satu itu adalah salah satu perusahaan rokok terbesar yang ada di Indonesia dan rupanya mereka tidak mau punya saingan makanya mereka melakukan berbagai cara untuk mematikan industri pesaing yang baru dirintis dengan cara akuisisi."
"Lalu?"
"Ya tentu saja mereka mau diakuisisi karena pajak dan cukai rokok yang semakin tidak masuk akal. Daripada berakhir bangkrut dan terancam tidak bisa bayar pegawai." Dan Maxim mendekatkan diri kearah Alex, "Dan yang lebih hebohnya lagi, Angkasa Jaya tidak mengganti merek dagang serta kualitas produk dari perusahaan yang mereka akuisisi dan lebih memilih membantu memasarkannya secara lokal. Tapi sepertinya cara ini efektif karena tahu sendiri kan kalau masyarakat kita tidak peduli bagaimana kualitas rokok yang mereka hisap karena bagi mereka yang penting bisa merokok dengan membeli rokok yang harganya murah." celetuk Maxim tanpa rasa bersalah, "Kalau Bagaimana apakah
mereka akan mengakuisisi Groovy juga mengingat perusahaan ini adalah salah satu pesaing Angkasa Jaya?"
"Tidak." ucap Alex yakin, "Groovy sudah tumbuh sepesat ini dalam satu tahun terakhir dan produk rokok kita sudah berhasil menguasai pasar Sumatra dan Kalimantan. Membiarkan perusahaan serakah seperti Angkasa Jaya mengakuisisi, sama saja dengan bunuh diri."
"Berarti pemikiran kita sama. Mana mungkin Groovy mau diakuisisi meskipun Angkasa Jaya menawarkan harga tinggi." ucap Maxim dengan nada bangga, "Lagipula kau tidak akan tinggal diam karena Groovy berkembang pesat berkat usaha kerasmu me-lobby beberapa distributor." sambung Maxim dengan gelak tawanya namun tawa pria itu langsung terhenti saat Alex tiba-tiba bangkit dari duduknya.
"Mau kemana?" namun Maxim harus menelan kecewa karena tidak mendapatkan jawaban dari pria tampan yang lebih sering diam itu.
Sedangkan Alex keluar dari gedung staff dan melangkahkan kakinya menuju area produksi rokok dimana ratusan pengrajin rokok menggiling tembakau mereka.
Dan kedatangan pria tampan itu ke area produksi tentu saja langsung disambut oleh sang mandor yang kebetulan sedang tidak mengecek pekerjaan para pekerja.
“Tuan Alex?” raut wajah wanita setinggi 160 dengan wajah tegas itu menatap Alex penuh tanya pasalnya dia tidak tahu kalau Alex punya jadwal kunjungan ke produksi.
“Saya ingin mengambil sample.” Ucap Alex singkat dengan memindai tajam ke seluruh ruangan.
“Sekarang?” sang mandor menatapnya risau, “Biasanya anda tidak pernah meminta sample semendadak ini.”
“Jika sample disiapkan lebih awal itu berarti kualitas pekerjaan para tukang giling hanya bagus saat ada inspeksi saja, kan?” pria itu lantas melangkah kakinya, meninggalkan sang mandor untuk berkeliling dan memeriksa kualitas giling pekerja.
Alex tahu kedatangannya ke area produksi membuat situasi menjadi sedikit tegang, ruangan yang tadinya hiruk pikuk oleh suara- suara pekerja yang bekerja sembari bercanda itu menjadi sunyi senyap.
Tanpa berniat basa-basi, pria itu mengambil sebuah rokok yang sedang digunting oleh tukang gunting, menelusuri batang rokok itu dengan jari-jari besarnya.
“Sebagai tukang gunting, apakah kau tahu kalau rokok yang sedang kau rapikan ini terlalu keras?” mendapatkan pertanyaan yang cukup tajam dari atasan membuat wanita itu tergagap, tak bisa menjawab terlebih lagi saat Alex mengambil rokok yang sudah di bendel dan mengambil timbangan saku yang ada dibangku giling berisikan enam orang itu.
Alex menimbang bobot rokok- rokok yang sudah di bendel 20 batang itu dan decakan keras keluar dari balik bibirnya sesaat setelah melihat bobot rokok tersebut melampaui batas ketentuan.
“Bongkar semua rokok-rokok ini!” perintahnya tegas hingga membuat si kukang giling menarik nafas lemas.
“Maaf Tuan Alex, kalau rokok-rokok ini dibongkar dan digiling ulang maka waktu kerja mereka akan terpotong banyak.” Bela sang mandor, “Lagipula sebelumnya bobot rokok mereka masih normal.”
“Lalu, kenapa saat saya melakukan pengecekan, bobot rokok mereka overweight?” mendapatkan pertanyaan itu membuat sang mandor tergugu, dia tidak bisa membalas ucapan sang atasan, “Jika membongkar rokok- rokok itu memakan waktu kau bisa memberi ambri rokok (kertas pembungkus tembakau) baru pada mereka.” Alex mengeluarkan titahnya dengan tajam tak mau dibantah, “Dan rokok- rokok yang cacat ini… buang ke tempat sampah!” pria itu lantas pergi, meninggalkan si tukang giling beserta tukang guntingnya yang kini lemas karena ada lebih dari 10 bendel rokok yang kelebihan bobot yang artinya mereka harus menggiling sebanyak 200 batang rokok lagi secara Cuma-Cuma.
Tidak hanya satu atau dua orang yang kena inspeksi. Tidak hanya satu atau dua Line yang kena hingga membuat para mandor yang menjaga Line mereka pusing tujuh keliling akibat ulah pria penting di Groovy itu.
Alex bahkan tidak segan-segan ikut menyortir rokok yang dibawa oleh pekerja, membuka bendel rokok dan memeriksanya satu persatu dengan sangat cepat dan teliti tanpa peduli para pekerja itu mengeluh atas perbuatannya.
“Apakah kau perokok?” Alex memegang satu rokok ditangannya dan pekerja yang mendapatkan pertanyaan itu tentunya tidak berani menjawab. Wanita yang menjadi tukang giling itu tidak menyangka rokoknya akan disortir oleh Alex dan dibuka dari bendelnya. “Apakah kau mau beli rokok yang bahkan tidak ada isi tembakaunya?!” suara pria itu mengalun keras disertai dengan rematan diujung jari.
“Apakah kau bekerja hanya mengejar angka tanpa peduli kualitas pekerjaanmu?” Tidak hanya satu rokok yang cacat tapi banyak hingga membuat Alex ingin menumpahkan rokok-rokok didepannya itu.
Mulai dari rokoknya yang kopong, keropos diujung atas bahkan ambri yang tidak di-lem secara sempurna.
“Maaf Tuan, tadi saya terburu-buru.” Wanita yang kini menundukkan kepalanya itu nekat menjawab dengan nada lirihnya.
“Terburu-buru?” Alex tergelak, “Apakah jawabanmu itu pantas diucapkan, hah?!” sentakan kesal itu diiringi gebrakan diatas meja hingga membuat deretan orang-orang yang hendak menyetorkan rokok mereka menjadi berkeringat dingin karena takut.
Alex memanglah sangat tampan, seksi dan berkarisma hingga banyak sekali pekerja yang berkhayal menjadi istri atau kekasihnya namun jika pria itu dalam mode kerja setanpun tidak akan berani melirik pria itu walaupun hanya sedetik saja.
“Kau tahu pekerjaan burukmu membuat mereka yang berada dibelakang sana harus buang-buang waktu untuk membuang rokok-rokok cacat ini?” Setelah disortir oleh para mandor, rokok-rokok akan kembali disortir lagi sebelum akhirnya di verpack.
Dan Alex melihat nama serta nomor rokok wanita itu, “Pecat wanita ini!” kata kematian itu keluar dari bibir Alex tanpa aba-aba hingga membuat mereka yang ada disana menegang.
“Tuan. Berikan saya satu kesempatan lagi! Saya berjanji akan giling rokok dengan kualitas yang sesuai dengan standard.” Wanita itu langsung memegang tangan Alex, meminta dengan sangat agar pria itu membatalkan keputusannya.
“Pecat tetaplah pecat! Jika kami memberikan satu kesempatan pada orang sepertimu, bisa jadi yang lain meniru perbuatanmu dan menganggap mudah semua karena merek merasa masih diberi kesempatan.” Dan Alex menyingkirkan tangan wanita itu dengan ekspresi kesal sebelum akhirnya bangkit dari kursi mandor.
“Saya pergi sekarang dan pastikan tidak ada yang melakukan kecacatan dalam melakukan giling.” Alex menatap delapan orang mandor yang ada disana, “Saya akan datang lagi di jam 4 sore dan pastikan saya tidak melihat sortir-an cacat di bagian quality. Jika sampai hal itu terjadi, bukan tukang gilinglah yang akan saya pecat tapi kalian.” Ancam Alex pada para mandor sebelum akhirnya pergi dari area produksi hingga membuat suasana yang semula tegang diselimuti hawa panas yang mencekam itu berangsur mereda saat semilir angin perahan memasuki ruangan.
“b******k!” makian Alex mengalun keras, “Jika mereka bekerja dengan kualitas buruk seperti itu bagaimana mereka bisa bersaing dengan Angkasa Jaya?!” Alex naik ke lantai atas menghisap rokok yang ada ditangannya sembari mengomel kesal.
Sebenarnya hari ini tidak ada jadwal untuk mengunjungi produksi namun informasi yang diberikan oleh rekan kerjanya membuat Alex secara spontan turun ke lapangan dan memeriksa hasil kerja para tukang giling serta orang-orang yang ada disana.
Jika tahu kualitas rokok Groovy menurun bisa jadi Angkasa Jaya akan melakukan segala cara untuk mengakuisi perusahaan ini.
“Apapun caranya Groovy harus lebih baik daripada angkasa Jaya. Apapun caranya.” Alex berkata dengan nada penuh dendam sebelum akhirnya turun kembali ke meja kerjanya dan benar saja Alex datang kembali ke produksi tepat di jam 4 sore.
Pria itu langsung menuju meja quality dan memeriksa seberapa banyak rokok cacat yang mereka dapatkan. Tidak sebanyak sebelumnya tapi cukup membuat Alex menarik nafas panjang mengingat ada puluhan ribu rokok yang digiling tiap jamnya.
“Panggil orang-orang yang mengerjakan rokok-rokok cacat ini.” Alex melihat rokok cacat itu dikumpulkan dalam satu bendel sesuai dengan nomor pekerja, “Suruh mereka menghadap saya.” Perintah pria itu pada Mandor Quality yang tentunya membuat wanita itu menarik nafas tegang karena pastinya akan ada pegawai yang kena SP hari itu.
Dan tanpa diminta dua kali beberapa tukang giling yang bermasalah datang menghadang Alex. Mereka berdiri didepan meja kerja pria itu dengan wajah tegang mereka dan mereka harus menerima nasib saat SP 1 diberikan dan mereka harus menerima nasib karena diskors dengan cara giling free 2000 batang tanpa dapat upah di esok hari.
Itu jauh lebih baik daripada dipecat secara mendadak seperti yang terjadi tadi siang.
“Kalian bisa keluar.” Alex mengibaskan tangannya dan para pekerja itu keluar dengan wajah lesu mereka.
“Kalau tidak ada yang tahu pasti mereka akan mengganggapmu pemilik Groovy.” Ucapan yang keluar dari bibir maxim membuat Alex melirik tajam pria itu.
“Maaf, aku hanya mengutarakan pandangan orang saja.” Ringis Maxim saat tahu apa arti tatapan Alex yang keras namun Maxim rupanya bisa bernafas lega saat Alex memutuskan untuk bangkit dari duduknya dan mengakhiri jam kerjanya.
Alex pulang menggondol setumpuk kekesalan dalam hati bahkan pria itu tanpa segan membanting pintu mobil bututnya dengan keras dan hampir menabrak motor-motor yang berusaha menyalip mobilnya.
“b******k!” makian itu bergulir keras, “Kenapa hari ini semua orang membuat saya kesal, hah?!”
Brak!
Mobil sampai di halaman rumah mewahnya, pria itu masuk dengan ekspresi marah dan menebarkan
Aura yang menyesakkan hingga pelayan yang dilintasinya menundukkan kepalanya tidak nyaman.
Namun langkah pria itu terhenti sejenak saat melewati area dapur kotor yang berisik.
Dan sudut bibirnya mengembang tanpa sadar saat melihat si cacat berada diantara para pelayan di rumahnya, “Kita lihat apa yang kau buat untuk saya.”