“Mau ke mana, Bu?” tanyaku saat melihat Ibu berjalan menuju pintu. “Ini, mau mengembalikan rantang milik Mih Enur. Sekalian ngasih singkong.” “Oh. Rantang bekas makanan itu, ya? Biar Imas saja kalau begitu,” ucapku sembari bangkit dari duduk. “Jangan, Mas. Kamu baru pulang, lebih baik kamu makan sana, Ibu sudah buat telur dadar.” “Tidak apa, Bu. Imas belum lapar,” kataku seraya meraih rantang dan singkong mentah dari tangan Ibu. “Benar tidak apa-apa?” tanya Ibu lagi. “Iya, Bu. Lebih baik Ibu di rumah saja, sebentar lagi ‘kan Ilham pulang sekolah diniyah. Nanti suka nyariin kalau Ibu nggak ada.” “Ya sudah, atuh. Terima kasih ya, Sayang.” Ibu mengusap kepalaku yang masih terbalut kerudung berwarna biru tua. Walau sebenarnya aku masih merasa capek, tapi aku lebih tidak tega jika melih

