Untuk kali pertama, aku melihat seorang lelaki gagah itu menginjakkan kakinya ke atas lantai rumahku yang terbuat dari anyaman bambu. Tak bisa kubendung perasaan berdebar yang menguasai kalbu, rasanya masih tak percaya jika detik ini aku sudah resmi menyandang gelar sebagai seorang istri. Dari sudut mata, aku bisa melihat Pak Abidzar tengah kebingungan. Mungkin dia ragu harus bersikap bagaimana, atau mendudukkan tubuhnya di mana. Sementara di kamarku ini, tak ada kursi atau benda lain yang bisa disinggahi selain ranjang usang ini. “Silakan duduk, Pak.” Aku mempersilakan seraya beranjak dari ranjang. “Tidak apa-apa, terima kasih.” Dia menyahut, membuatku semakin merasa kikuk. “Duduk saja, Pak. Saya mau ke depan dulu, Bapak istirahat saja.” Aku mencoba meyakinkannya, berharap dia bisa me

