Malam itu setelah Elsa tersadar dari pingsannya yang lumayan lama, Dia kemudian berpamitan kepada Mbak Dewi.
"Mbak Dewi, Elsa nitip Mama dulu ya Mbak. Elsa mau menemui Om Mario Adik Papa. Semoga Dia bisa membantu Mbak," ucap Elsa penuh harap.
"Tapi Sa... ini udah malam, diluar juga sedang hujan deras," suara Mbak Dewi yang lembut terdengar iba melihat Elsa.
"Nggak bisa Mbak... Sudah tidak ada waktu, Elsa pamit Ya Mbak,"
Mbak Dewi hanya bisa memandangi Elsa yang tak henti berjuang untuk Mamanya. Walaupun kondisinya yang lemah dan keadaan luar hujan lebat, Dia tetap berjuang demi Mamanya.
Elsa berjalan menggunakan sisa kekuatan yang ada pada dirinya. Saat di luar, Dia meraba kantong bajunya dan hanya terbawa selembar uang 50 ribu di bajunya.
"Ini cukup untuk naik taksi kesana, semoga Om Mario mau membantu," Elsa berbicara pada dirinya sendiri, karena jika naik ojek tidak memungkinkan dalam kondisi hujan begini kesana.
Kemudian Dia menaiki taksi menuju sebuah Hotel tempat Om nya bekerja. Melihat tempat itu Elsa sebenernya ragu, Dia tak tahu harus mencari Om nya di mana bagian apa. Dia memberanikan diri melangkah memasuki Hotel Hercules itu.
"Permisi Mbak," sapa Elsa kepada receptionis di depan.
"Iya selamat malam, ada yang bisa Kami bantu? mau memesan kamar apa?" jawab petugas reseptionis hotel dengan ramah.
"Maaf Mbak, Saya kesini mau menayakan Om saya Mbak, Dia bekerja disini."
"Bagian apa ya Mbak?" petugas itu memandangi pakaian Elsa dari atas kebawah yang tampak kedinginan.
"Saya tidak tahu bagian apa Mbak, namanya Pak Mario. Apa Mbak tahu?" Elsa menambahkan.
"Maaf Mbak, karyawan di sini sangat banyak, dan saya tidak mengenal nama tersebut. Apa coba Mbak bisa tanya di Satpam depan, Dia sudah bekerja lama, mungkin mengenalnya." Jawab petugas itu karena terburu melayani pelanggan lain yang mau pesan hotel.
"Terimakasih mbak"
Elsa berjalan keluar hotel dan menghampiri satpam jaga depan.
"Maaf Pak, apa Bapak kenal dengan Om Mario? Dia katanya bekerja disini Pak." tanya Elsa penuh harap.
"Oh neng siapa? Pak Mario yang orangnya agak gendut dan punya tahi lalat di deket hidung?" jawab Satpam itu meyakinkan.
"I- iya Pak," jawab Elsa agak ragu, karena sebenarnya Dia juga sudah lama tidak bertemu dengan Omnya itu, Dia terakhir hanya melihatnya di foto keluarga milik Mamanya yang tersisa.
"Kalo Neng mau ketemu biar Saya telepon dulu, Neng tunggu saja di ruang tunggu deket gerbang itu." sambil tangannya mengarahkan tempat duduk di samping hotel yang terlihat dari balik kaca.
"Terimakasih Pak." ucap Elsa sopan.
"Pak Mario sekarang penanggungjawab club sebelah neng, cabang hotel ini juga, jadi orang penting. Sebentar ya Neng." sambil menelepon orang yang di panggil Elsa Om Mario itu.
Tak lama ada orang yang tampak tambun, dengan pakaian rapi datang menghampiri Elsa. Dia seperti tak mengenali gadis itu, pakaiannya tampak lusuh dengan sebagian bajunya yang basah terkena air hujan.
"Kamu siapa? Ada urusan apa mencari Saya?" selidik Om Mario kepada Elsa.
"Om masih ingat Saya? saya Elsa Om anak Mama Amara." Terang Elsa berharap orang itu mengingatnya.
"Ooo Anak Prakoso?" tanya balik Om Mario ke Elsa menyebutkan nama Papanya.
"I-iya bener Om."
"Ada apa mencari Saya?sepertinya sudah lama kan?" sambil menatap Elsa dari ujung rambut sampai ujung kaki.
"Iya Om, Saya bener bener bingung Om, mau minta tolong kesiapa lagi, Mama besok harus di operasi Om, dan membutuhkan uang yang tidak banyak, kurang lebih 150 juta."
"Terus??"
"Jika Om bisa, Saya minta bantuan Om, saya pinjam dulu uang Om dan nanti Saya akan menggantikan dari hasil kerja Elsa Om." ucap Elsa sambil berlinang.
"150 juta itu bukan uang yang sedikit. Emang berapa gaji kamu sekarang? Sampai berapa lama Kamu bisa melunasinya hah? lagian bapak Kamu kemana? apa belum pulang dari kanada? Dengar dengar Dia bahagia di sana," ucap Om Mario dengan senyum liciknya.
"Kanada? Sejak saat itu, Saya belum bertemu dengan Papa sampai sekarang. Emang gaji Saya tidak seberapa Om, tapi Saya mau berusaha Om untuk melunasinya."
"Bagaimana jika kamu membantu Om bekerja sekarang, nanti kamu bisa pakai uang itu dulu jika kamu berhasil. Bagaimana?" Tanya Om Mario kepada Elsa dengan tatapan garang.
"Kerja apa Om? sekarang?" Tanya Elsa polos.
"Iya.. Kamu punya keahlian apa? menyanyi? menari? memijat? atau apa saja yang bisa menghibur?"
"Saya...Saya bisa pijat terapis Om, dan juga memasak." Jawab Elsa masih dengan kepolosannya.
"Ok Sa... Kamu tunggu sebentar ya disini. Saya ambilkan baju ganti untukmu dulu, dan nanti akan ada pelayan mengantarkan minuman untukmu. Kamu minum saja dulu, biar badanmu hangat setelah kehujanan kan?" sambil mengamati Elsa.
"Terimakasih Om, maaf merepotkan."
Om Mario hanya tersenyum misterius sambil meninggalkan Elsa yang akan masuk kedalam perangkapnya. Tak lama datang pelayan membawakan minuman dan kentang goreng kepada Elsa. Karena Elsa belum makan apa apa dari pagi, Dia melahap kentang itu sampai habis kemudian menghabiskan minuman itu juga karena menghilangkan rasa haus setelah makan.
"Wah bagus sekali Elsa, kamu lapar? mau Om pesankan makanan lagi?" tanya Om Mario melihat makanan dan minuman di depan Elsa yang tidak bersisa dengan senyuman puas.
"Tidak usah Om, saya sudah kenyang memakan ini tadi." jawab Elsa memerah menahan malu karena menghabiskan makanan dan minumannya.
"Tidak apa apa Sayang, sekarang Kamu ganti baju ini yah, di kamar mandi itu. Agak cepat. Sebentar lagi akan ada yang menjemputmu. Nanti kamu pijit aja Dia, layani Dia, jangan kecewakan! nanti Om kasih 150 jutanya, mengerti?"
"Tapi Elsa nggak mau kalo lebih dari itu Om, Elsa hanya memijit secara profesional. Dan ini kenapa bajunya seksi begini Om? Elsa tidak terbiasa memakai pakaian terbuka seperti ini." Jawab Elsa menyelidik.
"Iya iya sudah, Kamu profesional saja, semua akan baik baik saja. Cepat ganti kalo Kamu masih menginginkan uangnya. Bagaimana?" tanting Om Maria seolah tak mengharapkan Elsa.
"Baik Om. Saya percaya Om."
Walau sedikit ragu, Elsa segera mengganti baju sesuai baju yang dikasih Om Mario. Elsa merasa risih melihat penampilannya sendiri. Bagian depan yang menampilkan sedikit gundukan gunung kembarnya, dan bagian bawah yang terlalu pendek menampilan bagian pahanya. Seperti wanita nakal yang pernah Elsa lihat di TV. Kalau bukan karena terdesak untuk biaya Mamanya, Elsa tidak akan pernah mau memakainya.
"Ah lagian hanya untuk memijat, malam ini saja Sa, semua demi Mama." batin Elsa mencoba menguatkan.
Saat Elsa keluar, Dia melihat Om Mario sudah berdua dengan lelakai paruh baya berumur sekitar 45 tahunan dengan jas rapi yang membungkus tubuh tambunnya.
"Tenang saja Tuan, Saya sudah mengaturnya, nanti Dia pasti akan menuruti permintaan Tuan." Ucap Om Mario kepada Tuan Surya dengan licik, dengan suara pelan.
"Elsa, perkenalkan ini Tuan Surya. Dialah klien Kamu, yang akan Kamu pijat nanti." ucap Om Mario mengenalkan Elsa kepada Tuan Surya saat melihat Elsa berjalan menghampiri mereka berdua.
"Elsa." Sahut Elsa sambil membetulkan bagian bawah rok nya agar lebih turun menutupi pahanya.
"Baik, ayo cantik Kita cari tempat di luar yang bisa menenangkan." ucap Tuan Surya tampak bahagia melihat gadis muda dan cantik akan menemaninya.
"Sana Sa, ingat pesan Om ya, jangan sampai kecewain tuan Surya ini."
"Iya." Elsa menjawab singkat, merasa tak nyaman dengan dirinya saat ini.
Dia memasuki mobil kursi belakang bersampingan dengan Tuan Surya, dan sopir yang melajukan mobil mewah itu.
Ditengah perjalanan Elsa merasa kepanasan pada dirinya, Dia merasa ada yang aneh, padahal diluar mobil hujan begitu deras, dan di mobil AC juga menyala. Pak Surya yang melihat gelagat Elsa tersenyum tipis, mengetahui obat diminumannya tadi sudah bereaksi.
"Kenapa Neng? apa AC nya kurang dingin? atau bajunya yang terlalu tebal?" Sambil mencoba merangkul badan Elsa.
"Maaf Pak, mohon jangan seperti ini!" Elsa mencoba mendorong tangan Pak Surya agar menjauhi tubuhnya.
"Kenapa Neng? tidak usah malu," Tangan Pak Surya mencoba memegang rambut Elsa yang lurus terurai.
"Maaf Pak, mohon lebih sopan, Saya ikut dengan Bapak hanya untuk memberikan terapis pijat tidak lebih." Elsa mulai merasa ada yang tidak beres, Dia merasa di jebak oleh Om Mario, dia memikirkan bagaimana caranya untuk kabur disituasi seperti ini.
"Ayolah neng... Kamu butuh uang kan? aku bisa memberimu lebih dari 150 juta Neng, apa yang kamu mau akan aku berikan, tapi buat Om bahagia malam ini, ok?" Pak Surya tersenyum dengan bangganya, dibenaknya tidak ada wanita yang menolak dengan uang.
"Pak maaf.. bisa berhenti di pom bensin depan? Saya ingin ke kamar mandi Pak, Saya sakit perut, Saya sudah tidak tahan." Elsa pura pura memegang perutnya yang tidak kesakitan.
"Bagaimana Pak Surya?" Pak Tyo menanyakan ijin terlebih dahulu kepada boss nya itu.
"Baiklah, tapi Kamu temani Dia, takutnya Neng cantik ini tersesat." sambil memberi kode kepada Pak Tyo sopirnya agar tetap mengawasi Elsa, Dia berfikir obat dari minumannya tadi sudah bereaksi, Dia tak mungkin bisa menahan pengaruh obat itu, mana mungkin bisa melarikan diri dan juga kondisi hujan lebat seperti ini.
Dengan sepatu high hells dan baju serba mini yang Dia kenakan, di area pom bensin seperti ini, andai tidak hujan lebat, pasti akan jadi pusat perhatian. Elsa berjalan sambil mengamati area sekitar menuju kamar mandi, sekarang dipikirannya hanyalah bagaimana mencari celah agar bisa melarikan diri dari Om genit seperti itu. Dia tak menyangka Om Mario tega menjualnya kepada Om Surya.
"Awas Kamu," Elsa mengumpat pelan sambil berjalan membawa payung ditengah hujan.
Anehnya disaat hujan deras seperti ini, Dia masih merasa kepanasan. Ia juga merasakan haus yang luar biasa yang belum pernah Dia rasakan sebelumnya.
Pak Tyo terus mengawasi Elsa yang berjalan sempoyongan membawa payung di belakangnya. Dia merasa gadis itu sudah seperti kehilangan setengah keseimbangannya.
"Pak, Kamu tunggu di sini saja kan? tidak mungkin laki laki ikut masuk di kamar mandi wanita" Elsa berbalik dan memandang Pak Tyo yang mengikutinya, seperti tidak ingin melepaskannya.
Elsa yang kebingungan di dalam kamar mandi, tidak menemukan jalan lain selain pintu depan kamar mandi itu. Kemudian Dia keluar dan masih menemukan Pak Tyotersebut didepan kamar mandi.
"Pak Pak, sini..." Elsa melambaikan tangannya ke Pak Tyo.
"Ada apa Neng?" Pak Tyo berjalan mendekati Elsa.
"Pak, tolong belikan Saya pembalut wanita yang bersayap di swalayan depan. Saya tidak bisa kesana sendiri, dan Saya juga tidak membawa uang." Elsa menunjukkan mimik muka yang melas dan kesakitan.
"Tapi Neng maaf, Saya tidak bisa meninggalkan Eneng di sini. Nanti Saya dimarahi." Jawab Pak Tyo.
"Saya tidak mungkin kemana mana Pak, dengan kondisi Saya seperti ini, lagian Saya tidak bawa uang." Elsa mencoba menyakinkan lagi.
Pak Tyo tampak berfikir sebentar, kemudia Dia berkata "Baik Neng, tapi Neng tetap tunggu di sini ya, jangan kemana mana."
Elsa menganggukan kepalanya sambil menyahut , "Terimakasih Pak."
Elsa melihat Pak Tyo berjalan begitu cepat menuju swalayan depan pom itu. Kemudia Dia melepas high heels nya, dan membawanya di tangan kiri dan tangan kanan memegang payung. Elsa berlari dengan sisa kekuatan yang Dia punyai.
**