Bagian 1 : Serah Terima

3010 Kata
Memantau keadaan anak bukanlah hal yang mudah. Hafriz mengakui itu. Meski anaknya berjenis kelamin perempuan, siapa bilang membimbingnya akan lebih mudah? Lebih lagi, Hafriz membesarkan putrinya sendiri. Duda? Bukan. Hafriz bukan duda. Alaia memiliki orangtua lengkap, tapi keadaan yang memaksa mereka berpisah dari sebutan keluarga kecil yang bahagia. "Kenapa Ley harus pindah rumah, Pa?" tanya Ley memangku boneka koala besar kesayangannya. Memastikan putrinya duduk dengan nyaman, tenang, dan senang, Hafriz tidak langsung menjawab. Dia memutari mobil, membuka pintu seberang dan bersiap dibalik kemudi. "Papa?" "Ley harus pindah, Sayang. Papa belum bisa jagain Ley sendiri di rumah. Ada urusan yang harus papa tangani sendiri." Ley mengusap hidung hitam milik Koko, boneka koala-nya. "Urusan apa?" Hafriz memakai sabuk pengamannya. "Pokoknya, kalau urusan papa selesai nanti... Papa akan langsung jemput Ley. Oke? Nurut sama papa, ya, Sayang." Diusapnya kepala Ley penuh sayang, tak lupa kecupan manis dari Hafriz untuk putri kecilnya. "Papa mau jemput mama, ya?" Pertanyaan spontan Ley menghentikan Hafriz yang sebelumnya sudah siap menarik pedal. Tidak mau membahayakan dirinya serta Sang putri, Hafriz menenangkan diri dan siap menjawab Ley dengan bijak. "Papa pasti akan jemput mama. Kita akan sama-sama lagi, ya, Sayang. Tapi papa enggak bisa janji secepatnya." Ley mengangguk, itu tanda bahwa gadis enam belas tahun itu tidak akan bertanya lagi. Menuju rumah seseorang yang Hafriz percayai betul menjaga putri tercintanya. * "Ini rumah siapa, Pa?" suara Ley kembali terdengar. Bahkan sebelum kaki mereka menginjak lapisan dasar halaman rumah tersebut. "Teman papa, sekaligus orang yang papa percaya, Ley." "Rumahnya lebih kecil dari punya kita, ya, Pa." Mata cantik itu mengamati sekitar halaman rumah dari dalam mobil, seakan enggan turun dan keluar jika bukan papanya yang memulai lebih dulu. Hafriz lebih dulu keluar, memutari kembali mobil, dan membukakan pintu bagi Ley. Tidak lupa membawa Koko, Ley turun berpegangan pada papanya. "Ley... tinggal di sini?" Hafriz memaklumi pertanyaan-pertanyaan dari putrinya. Sebab Ley hampir tidak pernah Hafriz ajak mengunjungi teman pria itu dalam definisi apa pun. Anak perempuannya itu cenderung introvert dalam urusan bergaul. Salah Hafriz juga. Pria itu takut jika putrinya akan salah pergaulan. Kerja kelompok saja tidak diizinkan oleh Hafriz jika ada laki-laki di dalamnya. "Iya. Nanti kita kenalan sama pemilik rumah, ya." "Kan papa udah kenal. Harusnya Ley aja yang kenalan," koreksi gadis itu. "Iya, Ley. Maaf, papa salah bicara." Sabar betul Hafriz menghadapi tingkah Ley yang persis bocah itu. Ley bisa melihat hijaunya halaman depan yang tidak terlalu luas. Warna rumah itu didominasi abu-abu dan hitam. "Aku enggak suka rumahnya, Papa. Serem." "Ley... enggak boleh bicara begitu. Ley harus belajar menghargai apa pun yang orang lain miliki." "Iya, Papa." Ley menunduk, dan terus mengusap hidung Si Koko. Hafriz membunyikan bel. Tak lama pintu terbuka, sosok tampan itu pun sukses membuat Ley menganga. Tinggi pria itu membuat Ley harus mendongak. "Pak Hafriz," sapa lelaki itu. "Ren. Kenalkan ini putri saya. Alaia." "Hai, Alaia. Saya Amren." Bukannya menjawab, Ley yang terbangun dari lamunannya pun langsung melontarkan isi pikirannya. "Kata papa aku enggak boleh deket-dekat cowok. Kok papa nyuruh Ley pindah sama Om ganteng ini?" * Amren meringis mendengar pertanyaan polos dari Ley. Om ganteng adalah satu penghargaan bagi Amren, karena menurut penuturan Hafrisz, putrinya tidak pernah bertemu laki-laki. Pastinya baru kali ini Ley mengatakan sanjungan ala gadis remaja. "Alaia––" "Ley!" sahut gadis itu. "Manggil aku bukan Alaya, Om ganteng. Nama aku itu, Ah–Ley–ya. Iya, kan, Papa?" Hafriz mengangguki pernyataan putrinya. Mengusap rambut Ley yang begitu halus. Amren melirik Hafriz, lalu menggemakan tawa kaku. "Iya, iya. Saya minta maaf, Ley." Amren melebarkan daun pintu. "Silakan masuk, Pak Hafriz dan... Ley." Senyuman Amren sampai ke mata lelaki itu, dan hal itu membuat Ley senang sekali. Melihat wajah tampan dengan senyuman menawan dari Amren tidak membuat kinerja jantung Ley menjadi lebih baik, justru malah semakin tinggi jumlah dentumannya makin membuat Ley merasa sakit. "Duduk dulu, Pak Hafriz, Ley. Mau minum apa, Pak?" Hafriz menyebutkan teh, sedangkan Ley berpikir agak lama. "Ley. Enggak boleh begitu. Belum tentu apa yang Ley mau ada di sini, Sayang." Hafriz memperingatkan putrinya. "Hmmm... yaudah, deh, Om ganteng Ley mau s**u aja." Amren memanggil pembantu di rumahnya yang kebetulan hari ini Amren pekerjakan. "Mbok Haryu. Tolong buatkan teh dan s**u, ya. Untuk tamu saya." Wanita agak tua yang dipanggil Mbok Haryu itu mengarahkan pandangan pada Hafriz dan Ley bersama boneka besarnya. "Bapak mau apa?" "Saya teh saja. Samakan dengan Pak Hafriz. Terima kasih, Mbok." Mbok Haryu segera melaksanakan titah dari tuan-nya. Begitu mbok Haryu pergi, pembicaraan ringan antara Hafriz dan Amren berjalan. Menjawab pertanyaan Ley sebelumnya juga sudah Hafriz penuhi. Hafriz jelaskan, bahwa dia menitipkan Ley pada Amren bukan tanpa alasan. Amren dulunya adalah orang kepercayaan Hafriz untuk ikut mengendalikan perusahaannya, tapi kini lelaki itu sudah membangun perusahaan sendiri, meski terbilang kecil. Amren setidaknya bisa menjaga Ley dengan keuangannya yang stabil, lagi pula, lelaki itu sudah berjanji pada Hafriz akan membantu sebisa mungkin jika mendadak Hafriz memiliki kepentingan yang mendesak. "Ley, mau lihat kamar kamu dulu?" tawar Amren. "Boleh Om ganteng?" Amren tertawa kembali, belum terbiasa dipanggil begitu. "Boleh. Nanti biar ditemani mbok Haryu, ya." Semua langkah membuat Ley beradaptasi memang lebih maju. Setidaknya gadis itu tidak meronta tidak suka dengan tempat tinggal pada Amren secara langsung, dan melihat gelagat Ley yang betah memanggilnya Om ganteng membuat Amren yakin jika anak dari mantan atasannya itu betah dengan perlakuan sopan Amren. "Ayo, Non." Mbok Haryu membawakan koper milik Ley. Rambut Ley yang dikuncir satu persis model anak-anak itu membuat mbok Haryu sedikit aneh memandangnya.  "Non namanya Ala––" "Ley, Mbok. Itu nama panggilan Ley." Ley tersenyum cantik. "Eh, Non Ley cantik sekali, lho kalau tersenyum begitu." Tersipu adalah reaksi pertama yang Ley tunjukkan. Lalu ucapan terima kasih pada wanita berperawakan agak gembul itu. "Nah, ini kamarnya, Non. Diujung sana," Mbok Haryu menunjuk sisi kanan. "itu ruangan kerja Tuan Amren. Di sana," menunjuk sisi kiri. "itu perpustakaan Tuan Amren, Non. Masing-masing ruangan ada kamar mandinya." Mbok Haryu memutar kunci pintu. "Yang tiga pintu samping kamar Ley itu apa, Mbok?" "Kamar tamu juga, Non. Mau lihat? Kalau Non lebih suka kamar yang lain saya bisa bersihkan." "Ley mau lihat kamar ini dulu." Tidak ada yang spesial ketika kamar itu dibuka. Terlalu sederhana bagi Ley yang begitu suka banyak jendela di kamarnya. "Ley mau lihat semua kamar tamunya, Mbok." Mbok Haryu menurutinya. Satu kamar dibuka dan Ley kembali tidak menyukainya. Hingga sampai di pintu kamar terakhir, mbok Haryu bersuara. "Kamar yang di sini paling dekat dengan ruang kerja pak Amren," ucap mbok Haryu sembari membuka perlahan pintunya. "tapi Non enggak bo––" "WUAAAHHH! Ley suka kamar yang ini!" pekik Ley senang. Baru saja mbok Haryu berniat melarang Ley mengenai kamar tersebut, tapi gadis itu malah lebih dulu menjeblak pintu hingga seluruh ruangan terekspos. Memang, kamar itu memiliki balkon dan empat jendela hingga kalau semuanya dibuka semilir angin akan masuk. Di balkon ada bale kayu dengan banyak bantal, bisa diayunkan dan sangat cocok dijadikan tempat bersantai. Hebatnya lagi bagi Ley, tepat memandang ke bawah dari balkon, ada taman yang lebih luas di belakang rumah. Ternyata rumah Amren memanjang ke belakang. "Tapi, Non enggak boleh menempati kamar ini." Mata Ley langsung berkaca-kaca. "Kenapa?" lirih Ley. "Soalnya... kamar ini bekas..." "HUWAAAAAA... LEY MAU KAMAR INI! LEY MAU DI SINI!" Tangisan Ley mengundang kedua laki-laki yang serius bicara buru-buru naik ke atas. "Kenapa, Ley?" tanya Hafriz. Sementara Hafriz menenangkan putrinya, Amren tertegun di tempat karena kamar itu kembali dibuka. "Pak... saya minta maaf. Saya sudah melarang Non Ley supaya enggak menempati kamar bekas Nyo––" "Biarkan dia menempati kamar ini." Mbok Haryu tidak percaya dengan Amren yang mengizinkan orang lain menginjakkan kaki di kamar tersebut, apalagi diizinkan menempati kamar itu. Yang berarti membuka ingatan Amren. Ingatan masa lalunya. * Hafriz berhasil meyakinkan semua orang pada tempatnya masing-masing. Tidak ada yang perlu dia cemaskan. Karena dengan menitipkan Ley pada Amren adalah pilihan tepat menurutnya. Sebab, saat ini Hafriz mestilah lari menuju tempat yang jauh untuk mengurus banyak hal. "Maafin Papa, Ley. Tunggu papa, ya." Begitulah salam terakhir Hafriz sembari memandangi rumah Amren dari kejauhan. Sebelum dirinya mangkir, dan menghilang untuk sementara dari segala hal yang ada di Indonesia. * Kepergian Hafriz sebenarnya menjadi pertanyaan besar bagi Amren. Kenapa mantan atasannya itu sampai berani menitipkan putri kesayangannya pada Amren, yang seperti dikatakan Ley, dia seorang laki-laki. Masalah pengalaman mengatasi seorang anak, Amren-pun tidak memiliki keahlian dalam bidang tersebut. Amren memang pernah menikah, tapi bukan berarti bisa mengatasi sifat anak. Bagi Amren, dia memiliki masalah terhadap dirinya sendiri pasca perceraiannya delapan tahun lalu. Saat itu, dia menikah muda. Berpikir bahwa sebuah pernikahan bisa berjalan dengan saling menerima. Sayangnya, usia muda mereka saat itu malah menjadi bumerang. Bahwa untuk saling mengerti bukanlah satu kesepakatan yang mudah. "Ayo, makan, Ley." Melihat wajah lesu Alaia bukan keinginan Amren. Memang pada dasarnya, meleburkan rasa asing itu tidak mudah. "Kamu enggak suka dengan makanannya?" Ley menggeleng lemah. Bibir gadis itu mengerucut, menunjukkan bahwa mood-nya tidak dalam keadaan yang baik. "Kamu kenapa?" tanya Amren untuk ketiga kalinya. "Ley... kangen papa." Amren tersentak. Dia saja, yang sudah tiga tahun ini tidak pulang ke rumah orangtuanya belum pernah mengatakan kalimat seperti itu. Seakan sakral sekali bagi Amren mengungkapkannya.  Berbeda dengan Ley yang justru merasakan kerinduan begitu besar, padahal baru beberapa jam saja berpisah dengan papanya. Tidak nafsu melanjutkan makanannya, Amren bergerak mengambil ponsel yang berada di kamarnya. Tak lama berselang, Amren datang dengan mengutak atik ponselnya. Dia ingin menghubungi Hafriz agar Ley bisa kembali semangat. Namun, perkiraan Amren gagal. Panggilan yang dia lakukan berulang kali tidak mendapat jawaban sama sekali. Nomor Hafriz awalnya tersambung, tidak diangkat, dan lama-lama nomor itu menjadi tidak aktif. Baru Amren sadari, ini adalah taktik. Dulu. Beginilah cara Hafriz menjauhi masalah. Padahal, bagi Amren dengan cara aneh seperti ini Hafriz hanya akan menambah masalah yang ada. Memandang cemas pada Ley, akhirnya Amren menyerah menghubungi nomor itu. "Kamu mau jalan-jalan? Kita makan di luar, ya?" Mencoba untuk mendapatkan atensi ceria Ley, lelaki itu mulai beranjak lebih dulu, mau tidak mau Ley mengikuti tuan rumah melangkah. "Mau makan di mana, Om ganteng?" Amren menyahut kunci mobil, berjalan keluar rumah dan menyiapkan mobil untuk sesi jalan-jalan bersama Alaia. "Kamu maunya ke mana?" "Terserah, Om ganteng. Ley bosen di rumah." Amren terkekeh dengan jawaban cepat Ley. Gadis itu berdiri menunggu Amren. Hingga Amren sudah masuk serta duduk dibalik kemudi, Ley masih memandang polos dengan berdiri di samping posisi Amren. "Kamu enggak masuk?" "Hmm? Om ganteng belum bukain pintu buat Ley, berarti Om ganteng belum nyuruh Ley masuk." Muka datar itu, tiba-tiba saja ingin Amren cakar layaknya perempuan yang emosi. Amren kira, kadar manja Ley hanya sebatas sikap kekanakannya, tapi ternyata sampai masuk mobil saja butuh dilayani. Sabar. Sabar, Ren. Amren menenangkan dirinya sendiri. Terpaksa Amren ke luar lagi dari mobil, dan berjalan memutar untuk membukakan pintu bagi Ley. Gadis itu mengikuti Amren dan langsung duduk manis di kursi depan. Kembali lagi Amren duduk mencari posisi nyamannya. Baru saja Amren hendak fokus menyetir, tapi pandangannya teralih pada Ley. "Sabuk pengaman, Ley." Amren mengingatkan. "Hmm?" gadis itu melirik ke arah Amren juga memandang. Ketika mata keduanya bertemu, Ley tanpa merasa bersalah berkata, "Biasanya papa yang pasangin. Ley enggak pernah pakai sendiri." Gila. Amren sampai memaki. Tidak menyangka ada gadis 16 tahun yang hal-hal remeh saja tidak bisa, tau lebih tepatnya, tidak mau bergerak sendiri. Kerja Amren menjadi berkali lipat. Membuka kembali sabuk pengamannya sendiri, lalu memakaikan sabuk pengaman untuk Ley. Ley membiarkan hal itu, karena dia tidak merasa perlu canggung. Dia suka sensasi hangat yang berbeda dari jenis kehangatan dari papanya ketika tangannya saling bergesekkan bersama milik Amren. Amren yang merasa diperhatikan dengan lekat oleh Ley, mendongak membalas tatapan mata cantik itu. Keduanya tidak bergerak sama sekali, menikmati sesi berpandangan tersebut. "Mata Om ganteng cokelat," kata Ley seraya mengusap kelopak Amren. Senyuman Ley melengkung ke atas memenuhi ekspektasi Amren, bahwa gadis itu terlihat begitu memesona ketika tersenyum. Amren tersihir. "Ley suka." * Kegugupan Amren mulai terhenti setelah satu jam lamanya adegan kata Ley suka mereda dalam kepalanya. Bukan. Dia bukan tipikal laki-laki yang bisa jatuh cinta pada pandangan pertama. Rasa gugup itu hadir karena ada pemicu yang menyengat Amren dengan aliran tinggi. Dulu, didekat mantan-nya, Amren tidak semurahan ini. Dia tahu tidak semua perempuan memiliki sifat dan karakter yang sama, tapi satu keyakinannya pasti, bahwa pasti mereka semua memiliki kemiripan sebagai makhluk––yang katanya–– tulang rusuk Adam ciptaan Tuhan. Mereka makan dalam diam, sebab Ley yang mengatakan bahwa tidak dibiasakan bicara saat sedang makan. Jadi, ketimbang Amren receh sendiri dia memilih mengimbangi pembawaan Ley yang memang pantas menjadi anaknya. Sepulangnya, Ley meminta dibelikan sekotak es krim berbagai rasa untuk dikoleksi di dalam mesin pendingin di rumah. Katanya, setiap dia pulang sekolah pasti mencari es krim. Amren menuruti keinginan gadis itu. Demi keamanan dan kenyamanan dunianya. Sesampainya di rumah, Ley sudah tertidur di tempatnya. Amren melirik jam tangannya, menunjukkan pukul sebelas malam. Dia yakin, Ley dibiasakan tidur teratur oleh papanya. Ah, bicara papanya Ley. Amren jadi mengingat kegundahannya mengenai kerinduan Ley pada papanya, Hafriz. Wajah tenang nan manis Ley diusia remajanya ternyata mulus. Amren mengamatinya, tidak ada jejak noda hitam bekas jerawat di wajah Ley. Entah gadis itu yang rajin membersihkan wajah atau memang Hafriz memiliki putri yang ditakdirkan begitu cantik. Terlintas di kepala Amren untuk memiliki putri yang sama cantiknya seperti Ley. Tapi... gimana caranya? Amren langsung terkekeh sendiri. Jelas dia tahu jawabannya. Dia harus menikah lebih dulu, menyemburkan sel s****a dalam sel telur, menunggu prosesnya sukses, baru dia bisa mendapatkan bayi secantik Ley. "Mikir apa, sih gue!" Amren langsung menepuk pipinya sendiri. Segera saja Amren bawa Ley dalam gendongan. Memastikan segala kunci terpasang apik sebelum masuk ke rumah. Dia tidak merasa bobot tubuh Ley membebaninya. Mungkin karena Amren yang rajin berolahraga untuk menjaga staminanya. Meski begitu, alasan utama Amren rajin olahraga adalah untuk mengalihkan pikiran kotornya yang tidak bisa tersalurkan kurang lebih delapan tahun ini. Menaiki anak tangga, Amren menarik napas kuat. Dia harus kembali menghadapi suasana kamar itu lagi. Setelah sebelumnya Ley mampu mendobrak kamar tersebut dan sukses mengingatkannya pada masa yang sekarang terbenam. "Om ganteng?" Suara serak Ley membangunkan Amren dari kenangan terbenamnya masa lalu. Pas sekali ketika gadis itu sudah berada di depan pintu kamar. Amren tidak berbasa basi langsung menurunkan Ley dari gendongannya. "Kok Ley diturunin?" ucap gadis itu seraya mengucek mata. "Kamu sudah bangun, Ley. Sekarang, masuk kamar. Istirahat." Amren berniat buru-buru turun ke kamarnya sendiri, tapi Ley menahan lelaki itu. "Om ganteng..." "Kenapa?" Amren berbalik. "Ley... enggak bisa tidur sendirian." "Hah?" "Ley enggak––" "Iya, iya. Saya dengar, Ley. Maksud saya... kamu enggak bisa tidur sendiri itu... gimana?" Ley berdecak kesal. "Om ganteng, kok bodoh, sih?!!" Meski sempat kesal dikatai bodoh, Amren memutuskan mengabaikan ucapan polos Ley saja. Dia melanjutkan dengan bertanya apa mau Ley. "Temenin Ley tidur, ya. Om ganteng baik, deh." Seandainya Hafriz mudah untuk dihubungi, dia akan memastikan apakah benar ucapan Ley mengenai gadis itu yang tidak bisa tidur sendiri. Adanya Ley di rumah sekaligus kehidupannya mulai sekarang, Amren harus mau menyesuaikan diri. Gara-gara serah terima anaknya, gue yang kena susahnya. * Dalam kurun waktu sehari Amren sudah mendapat kejutan besar dari seorang gadis belia, berusia 16 tahun. Harus Amren ingatkan kembali. 16 TAHUN. Dia sampai menggeleng pening, rasa berat di kepalanya tidak kunjung henti karena ulah Ley yang tidak kunjung berhenti juga. Amren kira, setelah meminta ditemani tidur gadis itu akan berhenti membuat kesabarannya menguap. Ternyata, masih ada kejutan kecil dari Ley. "Om ganteeeeeng! Oooommm ganteeeeeeeng!!!" panggil Ley dengan teriak. "Eh? Kenapa?" Amren merasakan tepukan hangat berasal dari tangan Ley di pahanya. Kenapa malah hangat? Perasaan Amren yang sedang diuji dengan pemandangan di depannya kini hanya sukses lelaki itu batin saja. "Om ganteng, tuh! Dari tadi bengong aja. Kenapa, Om?" Ditanya dengan suara menggemaskan begitu, sisi liar Amren malah semakin bangkit. "Kenapa? Saya... enggak kenapa-napa, Ley." "Hmmm... Om ganteng bohong!" Ley berbalik, menuruni ranjang Amren. Dari balik punggung Ley yang hanya dibalut kain tipis pakaian tidur wanita seperti itu, menggerakan insting Amren. Dia enggak pakai apa-apa lagi. Tebakan Amren sudah pasti benar. Ley tidak memakai b*a dibalik kain tipis itu. Tanpa harus ditebak pun, orang-orang juga bisa melihat secara jelas jendolan d**a Ley yang sudah tercetak dan mengayun seiring langkah kaki gadis itu. "Ley." "Kenapa, Om ganteng?" Amren meneguhkan hati. Menghindari pandangan menuju d**a Ley. "Kamu... selalu tidur... pakai baju begitu...?" tanya Amren, terbata-bata. Anggukan penuh keyakinan dari Ley sudah cukup menjadi jawaban untuk meyakinkan Amren. Ya. Meyakinkan Amren, bahwa Ley tidak berpura-pura polos untuk membuatnya terbius untuk memakan gadis itu hingga puas. Berulang kali Amren menyingkirkan bayangan itu. Meski tidak ada rasa apa-apa, Amren tahu ketertarikan lawan jenis bisa dimulai dari fisik dan hubungan badan. Jadi, ketimbang berpikir yang tidak-tidak, Amren berjalan mendahului Ley menuju kamar gadis itu untuk menemaninya sebentar. Sampai Ley terlelap saja. Semoga saja bisa. Karena Amren tidak begitu yakin dengan nafsunya sendiri jika mendapati tubuh menggeliat Ley di atas kasur. Dia lebih pantes anak lu, Ren. Sadar... sadar...!!! "Ekhem. Jadi, kamu harus tidur, kan? Ini sudah jam sebelas lewat dua lima, kamu mau berdiri di sisi ranjang saja atau..." saya makan kamu di ranjang itu. "segera tidur dan saya bisa bangun pagi juga besok." Senyuman Ley muncul lagi. Amren menggeram pelan supaya Ley tidak menyadarinya. Adiknya di bawah sana pasti sudah mengembung tak sabar untuk diatasi. Pada akhirnya, Ley menderap di kasur dan mencari posisi ternyaman untuk tidur. Amren tidak mau kehilangan akal, mengambil kesempatan itu untuk push-up sebanyak dan semampu yang bisa dia lakukan. Lagi pula, dia akan melakukan gerakan push-up itu sampai testoteronnya tidak kembali membludak, dan dia bisa langsung terlelap karena kelelahan. Bagusnya, memikirkan Ley menggeser ingatannya mengenai masa lalu yang terkenang di kamar tersebut. Sedikit banyak, Amren bersyukur kehadiran Ley untuk menghapus pernikahan dan bayangan mantan istrinya delapan tahun lalu. "Om ganteng," panggil Ley. "Ya ampun!" kaget Amren. Wajah Ley sudah berada di pinggir ranjang, menggantungkan kepala berhadapan dengan Amren yang sudah tersungkur ke bawah dengan tangan tertekuk. "Om ganteng enggak apa-apa?" "Menurut kamu??!!!!" "Hehehe. Sini, Om! Bobo bareng Ley. Biar Ley bisa bobo. Pliiiiissss, Om ganteng. Ya, ya, ya?" Sialan. Cobaan apalagi, nih? Pertanyaannya. Bisakah Amren menahan gejolaknya untuk kali ini?  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN