Bab 9

1019 Kata
BELENGGU Bab 9 Jovanca bersandar di daun pintu, mengusap lengannya ketika udara dingin melewati kulit itu. Dilihatnya cahaya lembut sang bulan, lingkaran kabut di sekeliling bulan purnama itu seolah memancarkan kegelisahan di dalam diri Jovanca. Entah sudah berapa kali ia menarik napas, mencondongkan tubuhnya ke depan untuk menatap jalanan nan sepi dan gelap. Dan entah sudah berapa kali juga ia membuka ponselnya, namun Demian tak kunjung menjawab. Jangankan menjawab, Demian bahkan tidak menyalakan ponselnya. Ah, begitu pentingkah klien wanita itu sehingga ia harus mematikan ponselnya dan melupakan janji makan malam mereka? Bukankah kemarin dia yang meminta waktu lebih banyak padanya? Jovanca sedang berusaha. Berusaha untuk memenuhi keinginan Demian. Namun rasa kesal itu datang ketika melihat Demian lebih memilih melupakan janjinya. Ketika Jovanca mulai merasa letih dan berniat masuk ke dalam rumah, ia melihat sorot lampu mobil memasuki halaman rumahnya, rasa bahagia langsung memenuhi dadanya ketika melihat Demian turun dari mobil itu. Jovanca berlari kecil mendapati suaminya, ia memeluk Demian dan mencium pipinya. Demian yang tampak terkejut hanya bisa membalas pelukan istrinya itu, mengusap rambutnya yang belum kering sempurna. “Aku mencemaskanmu, Demian.” Jovanca melepaskan pelukannya, menatap Demian yang mulai tampak kebingungan. “Ada apa?” tanya Demian datar. “Kau melupakan makan malam kita. Aku dan Aksa menunggumu.” Jawab Jovanca dengan raut kesal. “Oh...” Hanya kalimat itu yang terlontar dari mulut Demian. Ia kemudian masuk dan meletakkan jasnya. “Demian, kau tidak menjawab?” kata Jovanca di belakang Demian yang seolah mengabaikannya itu. “Sebentar, aku letih. Bisakah kau membuat secangkir kopi untukku selagi aku mandi?” Jovanca mengangguk, dan meninggalkan Demian di kamar mereka. Demian menatap punggung Jovanca dengan penuh penyesalan, ia benar-benar tidak ingat tentang janji makan malam itu. Karena yang ada di dalam pikirannya hanyalah Zea. Dan wajah Demian tiba – tiba memucat ketika membaca pesan dari Aksa. “Ah, sial. Ponselku mati. Aku bahkan tidak melihat Jovanca di sana.” Gumam Demian seraya melempar ponsel itu di tempat tidur. “Ini kopimu, apa kau sudah makan?” tanya Jovanca tenang. Ia sudah berjanji untuk berpikir positif tentang suaminya, seperti yang dikatakan Aksa. Wanita itu hanya klien! “Maaf, Jovanca. Aku benar – benar lupa soal janji makan malam itu. Aku minta maaf.” Demian meletakkan kopinya di meja kecil itu. Mendekati Jovanca yang duduk di sisi tempat tidur. “Apa kau marah?” “Ya, aku kesal. Tapi Aksa bilang mungkin kau terlalu sibuk sehingga lupa, dia juga mengatakan kalau wanita itu adalah klienmu. Benarkah?” Demian menarik napas, “Iya, dia salah satu model yang akan memperagakan show itu.” “Tapi kenapa kau bertemu dengannya di luar kantor? Bukankah Mara yang selalu mengurus mereka?” Demian terkejut dengan pertanyaaan yang diberikan Jovanca, bagaimana dia akan menjawab soal itu? untuk ini Demian harus berpikir keras. “Demian?” “Soal itu, dia wanita yang sangat sibuk. Dia memiliki beberapa kontrak dengan perusahaan lain. Jadi dia memiliki waktu untuk perusahaanku di malam hari. Karena itulah kami memutuskan bertemu sekalian makan malam. Hanya untuk membicarakan pekerjaan. Apa kau curiga?” “Demian, aku selalu berusaha untuk mempercayaimu. Tapi lain kali kumohon jangan membuatku cemas. Setidaknya kau bisa memberi kabar.” Jovanca mengusap punggung Demian lembut, “Aku berusaha meluangkan waktu untuk kita, Demian.” “Ponselku mati, aku bahkan tidak menyadarinya. Sekali lagi aku minta maaf.” “Baiklah, jadi kapan kau memiliki waktu untuk makan malam di luar lagi? Aku berhutang pada Aksa. Dia membayar semua makan malam kami.” Jawab Jovanca dengan senyum di bibirnya. “Akan kuberitahu secepatnya. Sudah lama aku tidak bertemu anak itu, apa dia baik – baik saja?” Demian menyesap kopinya, merasa lega karena Jovanca tidak mempermasalahkan hal itu. “Ya, dia bekerja keras. Dan dia teman yang sangat peduli.” Jovanca membuka lemari pakaian, mengambil gaun tidur dan berniat mengantinya, namun tiba – tiba Demian memeluk wanita itu, dia bahkan belum berpakaian. “Demian...ada apa? Aku belum berpakaian.” “Biarkan saja, aku ingin merasakan hangat tubuhmu seperti ini. Siapa tahu malam ini kita akan mendapatkan bayi?” Demian mengecup leher Jovanca, mengelus perutnya yang ramping itu. “Aku juga berharap mahkluk kecil itu segera hadir di rumah kita, Demian.” Jawab Jovanca sembari mendesah kecil ketika bibir Demian bermain di daun telinganya. “Kalau begitu biarkan aku melakukannya, sayang. Aku sangat merindukanmu.” “Aku juga, Demian.” Demian mulai bergerak menyentuhnya, mengagumi keindahannya, bahkan bernapas untuknya. Lalu jari Demian bergerak lebih rendah, meniti perutnya dan mengusap kulit Jovanca yang lembut. Mencium pinggangnya dan membiarkan Jovanca bergerak atas reaksi dari tindakannya itu. Jovanca memeluk leher Demian yang berada tepat di depan pusarnya, seraya bergumam dengan suara yang sangat manis dari bibirnya. Dan tanpa menunggu lama lagi, mereka sudah terlibat di dalam keintiman yang luar biasa. Sesuatu yang bahkan belum pernah terjadi sebelumnya selama pernikahan mereka. Sentuhan, ciuman, bahkan desahan yang terdengar begitu liar. Sampai saat di mana Jovanca menjerit, ketika tubuh Demian melonjak di dalam tubuhnya, mengalirkan sesuatu yang hangat dan terasa begitu dekat. Demian mengecup bibir Jovanca, mengusap keringat yang jatuh dari keningnya. Lalu memeluk wanita itu dengan sebuah kalimat cinta yang begitu hebat. Kalimat yang menyenangkan Jovanca. “Apa kau yakin, kali ini akan berhasil Demian?” Jovanca melingkarkan tangannya di d**a Demian. Merasakan detak jantung suaminya yang masih belum beraturan. “Setidaknya kita sudah berusaha, sayang. Kalau memang belum, kita akan coba lagi dan lagi.” Demian memeluk erat Jovanca, menyisir rambutnya dengan ujung – ujung jari. Mengecup puncak kepala wanita itu. Jovanca mengeliat, merayap naik ke tubuh Demian yang masih terasa panas. Dan wanita itu berbisik lembut di telinga Demian, “kalau begitu, ayo kita coba lagi?” Demian terkekeh, memeluk punggung Jovanca, “sekarang?” Jovanca mengangguk, tersenyum dan mencium bibir Demian.   .....................   “Demian?” “Ya?” “Katakan padaku tentang sesuatu.” Jovanca menegakkan tubuhnya, menutupi tubuh itu dengan selimut. “Tentang apa, sayang.” “Tentang mereka, para model itu.” Demian terkesiap, pria itu duduk dan menyalakan lampu tidur. Demian tidak menyangka jika Jovanca akan bertanya soal mereka. Selama ini istrinya itu tidak pernah ikut campur dengan dunia yang ia geluti, tapi sepertinya Jovanca mulai memikirkan sesuatu tentangnya. “Apa?” jawab Demian dengan suara lirih. Merasa cemas bahkan sebelum Jovanca memulainya. “Aku tahu, mereka sangat cantik dan menarik. Karena itulah mereka mampu menjadi model. Dan hal yang sedikit membuatku cemas adalah, jika kau tertarik kepada mereka. Maksudku diantara mereka.” Jovanca berhenti, terlihat murung. Sebenarnya ia bahkan tidak sanggup memikirkan itu, namun setelah peristiwa yang dilihatnya kemarin, mau tidak mau ia terpaksa memikirkannya. “Jovanca, selama ini aku tidak berniat untuk selingkuh. Aku mencintaimu, karena itulah aku memilih menikah denganmu. Jadi, jangan cemaskan soal itu.” Demian mengecup kening Jovanca, mengusap bahunya lembut. “Aku mencintaimu, sayang. Apa kau ingin segelas lemon?” Jovanca menggeleng, mematikan lampu tidur dan berbaring di sisi Demian. “Selamat malam, Demian.”        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN