Bab 01

2487 Kata
Katakan pada ku apa yang kau inginkan, dan akan ku kabulkan semua nya dengan harga yang pantas ....” | | | Jangan terlalu memedulikan orang yang tidak baik terhadapmu, Karena di dunia ini tidak ada satupun manusia yang berkewajiban berbuat baik pada siapa pun. | | | Tahun 1988. Ladang gandum, tepi kota. London—Inggris.     Neo Arguandral, bocah berusia kurang dari delapan tahun itu terus berlari melewati ladang gandum yang sudah tinggi. Dengan senyum yang tak henti mengembang pada wajah yang dipenuhi debu itu, tak sedikit pun membuat dia melambatkan laju lari untuk segera sampai ke tempat yang dia sebut sebagai rumah. Dengan sepasang tangan memeluk sebuah kantong makanan berwarna coklat tua yang dia dapatkan sebagai upah bekerja pada Uncle Bob hari ini. Meski sebenarnya tubuh mungilnya sudah sangat lelah, tapi dengan makanan sebanyak itu yang akan dia nikmati dengan ke luarga kecilnya, Neo seolah tidak peduli. Sambil berlari mewati ladang gandum yang jauh lebih tinggi dari tubuh mungil itu, Neo—bocah   dengan tatapan hangat dihias iris zamrud-nya yang indah itu—sesekali menyibak tanaman-tanaman gandum yang menhalangi untuk membuat jalan. Meski sangat merepotkan dan terkesan seperti berjalan di tengah labirin dengan tinggi Neo yang hanya 150 sentimeter, tapi Neo tidak ingin pernah mengambil rute lain karena yang dia tahu itu adalah rute terdekat menuju ke rumah nya. Perlahan sinar mentari mulai menghilang, menyisakan siluet yang membentuk bayangan ilalang, tapi hal tersebut sama sekali tidak mengganggu Neo, karena  hampir setiap hari dia melewati jalanan  yang sama jadi dia cukup hafal harus pergi ke mana. Karenanya dia tidak mungkin tersesat di tengah ladang gandum yang sudah seperti taman bermain bagi nya. Sehelai kaus dan jaket lusuh berwarna pudar adalah satu-satunya benda yang dimiliki Neo untuk melindunginya dari terik matahari siang dan akan menghangatkannya juga saat malam yang dingin datang. Tapi benda itu terlihat lebih kotor dari biasa nya setelah seharian berjibaku dengan debu dan ilalang kering yang membuat nya gatal. Bagi Neo itu bukan masalah, dia masih bisa mencucinya sebelum tidur dan mengenakannya lagi esok hari. Hal yang selalu dia lakukan jika dia ingin pakaian berharga nya terlihat bersih sesekali. Karena apa yang dipakainya sekarang adalah satu-satunya yang dia miliki. Neo terus memeluk erat bungkusan yang dia dapatkan dari Uncle Bob, dia tidak ingin satu pun dari isi dalam bungkusan itu jatuh atau hilang. Susah payah dia mengumpulkan makanan itu, tidak mungkin dia menghilangkannya begitu saja, karena kalau makanan itu hilang, ke luarganya tidak akan bisa makan malam ini dan harus menahan lapar hingga esok pagi. Tidak adil memang, mengingat dia adalah seorang bocah kecil dan hanya dibayar beberapa potong roti untuk kerja kerasnya selama satu hari penuh.  Padahal seharusnya anak seusia Neo lebih sibuk bermain dan menghabis kan masa kecilnya berkutat dengan buku pelajaran dan tugas sekolah, tapi tidak bagi bocah ini. Di usianya yang seperti itu Neo sudah harus bekerja untuk menghidupi dirinya sendiri juga untu hidup ke luarganya. Tapi bukan berarti Uncle Bob benar-benar mengizinkan Neo untuk bekerja ditempat nya mengingat berapa usia anak itu sekarang. Biasa nya dia selalu dibantu saudara nya Hetshin, Ben juga Allan, tapi hari ini Hetshin sedang demam, jadi tidak bisa ikut bekerja seperti biasa nya. Sementara Ben dan Allan kebagian tugas untuk mencari kayu bakar hari ini. Padahal jika mereka ikut bekerja seperti biasa nya bersama Neo, makanan yang akan mereka dapatkan cukup untuk mereka sampai upah bekerja mereka dapatkan lagi esok. Ya, bekerja pada Uncle Bob dan mendapat bayaran sekantung makanan saja sudah lebih dari cukup bagi Neo juga saudara-sadaranya. Dia ataupun saudara-saudara nya yang memaksa bekerja pada pria tua buntal dengan mulut yang selalu mengigit cerutu dari kayu itu, tidak pernah menginginkan mendapat bayaran berupa uang. Bukan karena mereka tidak membutuhkan uang, tapi karena mereka lebih membutuhkan makanan dari pada uang. Karena bagi Neo dan semua saudara nya, uang bukan hal yang bisa mereka banggakan untuk dijadikan upah atas kerja keras mereka seharian. Dulu, awal sekali mereka mulai bekerja pada pria buntal bernama Bobby Rothrengrow  itu, Neo diberi beberapa lembar uang untuk keseluhan bayaran atas kerja keras dia dan saudara-saudara nya. Dan karena lapar, Neo membawa uang itu ke kota untuk membeli makanan, namun saat dia memberikan uang tersebut pada si penjual, penjual itu menuduh kalau Neo bisa mendapatkan uang tersebut karena mencurinya dari orang lain. Dia diteriaki maling, dan hampir saja dipukuli oleh orang-orang yang ada di pasar kalau tida segera bersembunyi di salah satu gerobak sampah. Setelah kejadian itu, Neo sudah tidak ingin mendapat bayaran uang untuk hasil kerja kerasnya dan lebih memilih beberapa potong roti gandum hangat untuk mengisi perut mereka yang selalu kelaparan. Meski demikian tetap saja, Uncle Bob tidak benar-benar hanya memberikan Neo dan saudara-saudara nya bayaran berupa beberapa potong roti gandum untuk dijadikan makan malam mereka. Karena terkadang, Uncle Bob juga memberikan mereka beberapa pakaian bekas yang masih sangat baru untuk dijadikan pakaian ganti mengingat sebentar lagi sudah masuk musim dingin. Kaki berbalut sepatu  kain berwarna kusam yang dipakai Neo menginjak kerikil tajam saat dia berlari, sedikit membuat nya meringis karena kerikil itu menusuk telapak kaki nya dan tersasa sangat sakit, hanya saja dia harus kembali sebelum gelap dan mengabaikan sakit yang mengganggu itu. Beberapa hari lalu Neo menemukan sepatu dari kain itu di tempat sampah, setelah sepatu milik nya yang lama sudah kekecilan dan terasa sakit setiap kali dipakai untuk berjalan. Meski pun ukuran sepatu baru yang dipakai Neo kebesaran dari kaki nya dan terdapat beberapa lubang seukuran telunjuk orang dewasa dengan warna yang tidak lagi cerah dan bahkan sol-nya pun sudah terlihat tipis, tapi Neo sudah sangat bersyukur bisa mendapatkan sepatu ganti untuk kaki nya. Senja benar-benar telah menghilang, melenyapkan bayangan ilalang dari hadapan nya hingga yang tersisa hanya lah gelap yang membentang. Neo kembali mempercepat laju langkahnya saat sepasang mata bulatnya menemukan sebuah bangunan tua yang nyaris roboh di pinggir ladang gandum tadi. Sebuah rumah dengan sebatang pohon yang membuat nya sejuk meski cuaca sepanas apa pun. Dinding rumah yang telah dipenuhi oleh lumut dan sulur daun dari jenis benalu itu membuat rumah bobrok tersebut terkesan semakin kumuh, bahkan kalau harus dikatakan, rumah itu bahkan tak layak  untuk dihuni oleh manusia tapi, ke sanalah tujuan Neo berakhir. “Dere, Raya, Winna, April, Allan, Hatshin, Ben!” Panggil Neo bersemangat. “Lihat apa yang kubawa!” Neo berteriak dan memanggil mereka yang ada di dalam rumah tersebut. Senyum yang sejak tadi mengembang di wajah Neo samakin lebar saat dia melihat beberapa orang anak ke luar dari dalam rumah bobrok tersebut. Seorang gadis kecil berusia sekitar empat tahun dengan boneka kain yang entah berbentuk apa dalam pelukannya membuka pintu bersama seorang bocah seusia Neo, dengan kepala pelontosnya berdiri di belakang gadis kecil tersebut. “Hetshin lihat, Neo sudah pulang.” Ujar gembira bocah berambut ikal tersebut pada bocah berkepala pelontos di belakangnya dan kalimat penuh kebahagiaan itu dibalas senyum ramah darinya. “Raya, aku pulang. Lihat, aku bawa banyak makanan.”  Tunjuk Neo pada sekantung besar makanan dalam kantong kertas berwarna coklat tua yang masih erat dia peluk. “Bagai mana demammu Hetshin? Sudah baikan?” tanya Neo pada Hetshin yang sedikit terlihat lemah di hadapan Neo, tapi segera di jawab gelengan oleh bocah pelontos tersebut. “Aku sudah baik, aku sudah cukup tidur seharian ini.” Jawabnya dengan nada ringan. Meski dia seumuran dengan Neo, tapi perawakan Hetshin jauh lebih dewasa dengan tubuh lebih tinggi dan lebih berisi dari pada Neo. “Syukurlah, ayo kita masuk dan kita makan.” Ajak Neo dan diikuti keduanya. “Neo, aku tadi membantu Allan mengambil air dari sungai sebelah sana,” tunjuk gadis berambut ikal bernama Raya itu asal. Dia tidak tahu ke mana dia menunjuk, tapi menurutnya dia sudah benar melakukan hal tersebut. Melihat gadis kecilnya sangat antusias menceritakan kegiatannya sepanjang hari ini bersama saudara-saudara nya, Neo pun menannggapi sebisanya, seperti mengelus kepala Raya sambil tertawa beberapa kali atau memuji apa yang gadis itu lakukan. “Neo, kau sudah pulang?”  suara halus terdengar menggantikan celotehan Raya yang lebih melengking. Itu Winna. Gadis yang usianya setahun di bawah Neo, meski begitu dia selalu bisa mengambil alih hampir seluruh urusan ke luarga mereka dengan sangat baik. “Iya, di mana Allan? Ayo kita makan, kalian pasti sudah sangat lapar.” Ajak Neo. “Allan sedang mengantar Ben buang air kecil, sebentar lagi dia pasti kembali.” Ujarnya. Neo hanya mengangguk maklum mengingat di rumah ini tidak ada kamar mandi, jadi jika ingin buang hajat, mereka harus ke luar atau berjalan sedikit lebih jauh untuk tiba di sungai. “Benarkah? Lalu ... bagai mana keadaan Dere?” Tanya Neo lagi. “Dere masih di kamar, seperti biasa.” Raya menjawab sambil menarik tangan Neo menuju ke arah kamar. Satu-satunya ruangan di rumah itu yang berhak di katakan layak. Krieet .... Pintu kayu pohon mapple tua itu berbunyi sangat nyaring tiap kali dibuka. Hanya penerangan dari lampu minyak saja yang terlihat menerangi hampir seluruh rumah, dan di ruangan yang tidak telalu besar itu sebuah kasur yang selalu mereka gunakan untuk mereka tidur bersama. Di sudut ruangan, tepat menghadap penerangan dari minyak itu ada seorang seorang gadis berambut panjang tengah terduduk dengan senyum merekah di bibir tipisnya yang mungil. Hanya saja ... gadis kecil itu memiliki warna rambut dan bola mata yang berbeda dengan anak-anak seusianya. Namanya Dere, dia gadis kecil berusia tujuh setengah tahun dengan rambut perak yang tergerai indah dengan sepasang bola mata kelabu tanpa cahaya kehidupan. Ya, Dere tidak bisa melihat. Seterang apa pun cahaya yang ada di hadapan nya, tetap saja kegelapan yang didapatkan oleh gadis itu. “Neo, kau sudah pulang?” sapa Dere penuh kebahagiaan. “Aku pulang, Dere...,” jawab Neo sambil menyentuh tangan seputih pualam milik Dere,  “aku bawa banyak makanan, ayo kita makan.” Lanjut Neo di jawab senyum mengembang lain dari wajah cantik Dere. Raya, si gadis kecil berambut ikal tadi kembali berlari sambil memanggil saudara-saudara nya yang masih di luar sana untuk ikut makan malam bersama. Dengan suara cempreng khas anak-anak milik nya, Raya berlarian ke seluruh ruangan mencari Ben dan Allan yang yang belum terlihat. Bukan tanpa alasan mereka berada di sana, membangun sebuah kelompok yang mereka sebut ke luarga yang hanya terdiri dari anak-anak buangan yang sama sekali tidak diinginkan. Meski mereka hanya sekelompok anak-anak, hidup mereka sebagai gelandangan sebelum bertemu satu sama lain, tidaklah semudah sekarang. Dikejar petugas, dicari pihak panti asuhan, atau dijadikan b***k kerja paksa tanpa upah, mengharuskan mereka lari dan terus bersembunyi. Sampai akhir nya mereka saling melengkapi dan menemukan tempat untuk tinggal yang mereka sebut rumah seperti sekarang. Seperti halnya Raya, Winna yang pertama kali menemukannya saat Raya yang baru berusia tiga setengah tahun, sedang tergeletak di tempat sampah dan hanya beralaskan sehelai kain penutup juga pakaian ala kadarnya. Menangis dan tidak ada satu orang pun yang menolong atau pun menenangkan tangisannya saat itu. Karena tidak tega melihat Raya yang terus menangis, kedinginan dan kelaparan,   akhir nya mereka membawa Raya masuk ke dalam kelompok mereka. Menjadikan Raya bagian dari ke luarga kecil mereka setelah itu. Tak jauh berbeda dengan Hetshin, Winna, Ben, dan Allan. Mereka harus bertahan hidup dengan mengais sisa-sisa makanan orang lain di jalanan, menjadi buronan petugas keamanan yang akan menjebloskan mereka ke panti asuhan yang tentu saja mereka tidak mau! Mereka semua berpikir kalau lebih menyenangkan hidup seperti ini, makan apa pun yang mereka dapatkan dari hasil bekerja sepanjang hari dari pada harus tinggal di dalam kurungan bernama rumah asuhan anak-anak tunawisma berkedok kemanusiaan. Padahal kenyataannya tidak seperti itu. Karena sebagian besar dari orang-orang itu adalah kelompok dari sindikat jual-beli anak berbasis internasional dengan jaringan utama yang tersebar nyaris di seluruh London. Awalnya mereka memang berpikir bahwa tinggal di panti asuhan adalah hal terbaik dari pada terlunta di jalanan. Tapi saat seseorang datang ‘mengadopsi’ mereka, mereka membawa anak-anak wanita ke rumah bordil dan yang laki-laki dipaksa bekerja tanpa upah dan minim jam istirahat. Contoh kecilnya adalah Winna, di usianya yang masih sangat kecil dia diadopsi oleh seorang wanita kaya tapi akhir nya dia harus berakhir di sebuah rumah jajan para p****************g, diusianya itu, dia diajari caranya berdandan dan merayu pria-pria tua berdasi hingga akhir nya Winna berhasil kabur dan bertemu dengan Neo. Pun sama halnya dengan Ben, Allan, April dan April. Meski  orang-orang itu selalu menamakan diri mereka orang yang mengelola panti sosial untuk anak-anak yang tidak memiliki keuarga,  mengasuh mereka di bawah lindungan hukum. Tapi kenyataannya hukum sendirilah yang sudah membuat anak-anak gadis di sana masuk ke rumah-rumah prostitusi anak dan yang lain menjadi b***k belian kerajaan atau para bangsawan. Dengan harga yang sangat murah, hingga terkadang mereka tidak mendapatkan kehidupan layak setelah nya. Hanya penyiksaan dan pelecehan yang terus mereka dapatkan, jika mereka bertuntung mereka akan menemukan jalan ke luar dari kesengsaraan itu, tapi jika tidak mereka akan tetap di sana, menjadi b***k s*x para bangsawan hingga ajal menjemput. Tidak ingin mendapat perlakuan yang sama, beberapa anak-anak itu berhasil kabur dan tinggal di jalanan lagi,  mereka semua sadar dengan masa lalu mereka masing-masing. Tapi tidak dengan Dere. Gadis itu sama sekali tidak tahu siapa dirinya, dia hanya tahu kalau namanya adalah Dere, hanya Dere. Bahkan, saat Neo menemukannya,  Dere sedang terbaring bersimbah darah di pinggir jalan. Melihat Dere yang sekarat, Neo segera melarikannya ke rumah sakit, tapi dia tidak dapat mengorek apa pun tentang masa lalu gadis berambut perak indah itu. Ya, bukan hanya kehilangan kemampuannya melihat, Dere juga memiliki warna rambut yang tidak biasa. Rambut indahnya berwarna putih keperakan, itu terlihat sangat indah namun penuh misteri seperti bagai mana cara Neo menemukannya. “Neo, besok aku akan membantumu lagi.” Hetshin mulai bersuara sambil duduk mengelilingi cahaya lampu minyak bersama Winna, Ben dan Allan yang sudah ikut masuk ke dalam ruangan tersebut. “Aku juga, besok aku akan membantu lagi di ladang Uncle Bob.” Allan menimpal. Setelah dia memastikan kalau persediaan kayu bakar mereka sudah cukup untuk beberapa minggu kedepan. “Tidak! Kalau kau masih demam, kau tidak boleh bekerja dulu istirahat saja sampai kau benar-benar sehat, biar aku saja yang bekerja. Lagi pula aku tidak ingin kalau sampai petugas sosial menemukan tempat ini dan membawa kalian semua pergi.” Raya menarik lengan baju Winna dan bersembunyi dibaliknya sambil ketakutan,  gadis kecil itu selalu takut setiap kali ada seseorang di antara mereka yang mengatakan tentang orang-orang dari panti sosial yang memungut anak-anak terlantar seperti mereka lalu dikirim ke panti asuhan. Karena bagi Raya, kalau sampai orang-orang itu datang, mereka akan berpisah dan tidak akan pernah tahu kapan mereka bisa bertemu lagi. Atau mungkin ... tidak akan pernah. Sadar dengan kelakuan aneh Raya, Winna yang terlihat lebih dewasa dibanding mereka semua yang ada di rumah itu mengelus rambut ikal indah Raya lembut dan membisikan kalau semua nya akan baik-baik saja. Neo tersenyum melihat bagai mana ke luarganya bisa saling mengerti satu sama lain.  Perlahan dia merobek bungkusan yang dia bawa, memperlihatkan  roti-roti yang sangat biasa mereka makan, meski begitu mereka sangat senang dengan pemberian tuhan hari ini untuk mereka ... mereka sangat bersyukur untuk itu setiap hari nya. “Sudah, ayo kita makan ....” _
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN