Kringg!
Bunyi dering terdengar memenuhi kamar tidur seorang penyanyi solo sekaligus artis yang sedang naik daun, Ara. Ia sontak menggeliat dalam tidurnya lalu menyibak selimut putih nan tebal yang menutupi sebagian tubuhnya. Dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka, ia meraba-raba ponselnya yang terletak di meja nakas sebelah ranjangnya. Setelah mendapatkan ponselnya, ia menatap layar ponselnya yang sedang menampilkan kontak Kak Ryan, selaku manajernya. “Hmm ... Ngapain sih Kak Ryan pagi-pagi gini nelpon?” keluhnya lalu menjawab panggilan tersebut. “Iya Kak?” ujarnya dengan suara serak khas bangun tidur.
“Apa kamu baru bangun sekarang? Aku sudah di depan apartemenmu.” Ara sontak bangun dari tidurnya dengan mata yang melebar. “Hah! Apa pagi ini ada jadwal Kak?”
“Ada, tapi jam 10 nanti kamu manggung di salah satu acara musik.” Ara melirik jam dinding yang tergantung di kamarnya baru menunjukkan pukul setengah 7 pagi. “Tapi, sekarang baru jam setengah 7 pagi kak.”
“Iya, aku datang pagi begini untuk mengajakmu ke agensi dulu dan sekaligus mengajakmu sarapan di luar. Cepatlah buka pintu! Aku sudah 15 menit berada di sini.”
Ara memutar bola matanya malas seraya mengerucutkan bibirnya sebal. “Iya, sabar Kak. Nyawaku saja belum terkumpul sepenuhnya.”
“Ya udah aku tunggu.” Ryan memutuskan sambungan terlebih dahulu dan dengan malas Ara bangkit dari posisinya lalu meletakkan ponselnya kembali ke atas meja nakas. Ia bergegas keluar dari kamar menuju pintu depan. Ceklek!
“Kenapa kamu lama sekali? Kamu belum mandi?” tanya Ryan setelah memperhatikan penampilan Ara yang sedikit kusut, ia juga terlihat hanya mengenakan setelan piyama tidur dengan corak bintang full print. “Iya Kak, aku baru saja bangun.”
“Terus, bagaimana Ra? Apa aku harus menunggu lagi?”
“Ya udah tunggu saja sebentar di sini Kak. Aku akan mandi sekarang, ngga lama kok. Udah dulu ya,” Ara kembali menutup pintu dan membiarkan manajernya menunggu di luar. “Ra!” belum sempat protes, pintu sudah menabrak wajahnya. “Hm, sebenarnya aku ini manajernya atau supirnya sih,” gumamnya sembari menggelengkan-gelengkan kepalanya lalu berakhir dengan mengambil duduk di sebuah kursi yang berada di luar.
Tak berapa lama kemudian, Ara kembali membuka pintu apartemennya, namun kali ini dengan penampilan yang lebih fresh, ia terlihat mengenakan celana kulot hitam dengan atasan berupa kaos putih yang dimasukkan ke dalam celana, dibalut dengan cardigan rajut berwarna Lilac. Rambut pendek sepundaknya terlihat di tata rapi dengan wajah yang tampak dirias natural. “Kak, aku sudah siap. Ayo pergi!”
“Kamu lama sekali! Aku ini manajer kamu, bukan supir kamu.”
“Siapa suruh kakak tidak beritahu aku dulu sebelumnya, aku 'kan cuma ingat kalau jadwalku hari ini jam 10 nanti. Lagipula Kak Jen juga besok balik jadi bisa dampingi aku lagi ke manapun. Cuma 3 harian ini kok Kak.” Balas Ara yang tak mau disalahkan, pasalnya asisten nya Jenny sedang izin keluar kota selama 3 hari karena ada sanak saudaranya yang sedang sakit, jadi dengan sangat terpaksa manajernya yang harus mengantikan tugas Jenny juga selama 3 hari ini. Ya, memang manajernya ini sangat baik pada Ara.
“Ya udah, ya udah ayo pergi.” Ryan dan Ara akhirnya masuk ke dalam mobil dan Ryan mengemudikannya menuju MH entertainment, agensi yang menaungi banyak penyanyi dan artis termasuk Ara dan juga Amel.
***
Setibanya di sana, Ara dan Ryan segera masuk ke dalam agensi dan sedikit berbincang-bincang mengenai kegiatan Ara dengan Ryan di ruangannya. “Jadi, untuk hari ini kamu cuma manggung jam 10, masih ada waktu sekitar dua jam lagi.” tutur Ryan sembari merapikan kertas-kertas yang berada di atas mejanya.
“Kita ngga jadi sarapan Kak?”
“Oya aku baru ingat, kemarin banyak wartawan dan jurnalis dari berbagai media yang menghubungiku meminta penjelasan tentang kecelakaan yang menimpamu kemarin. Mereka ingin menginterviewmu hari ini.” Ryan mengabaikan pertanyaan dari Ara barusan ketika baru teringat dengan sesuatu.
“Hari ini? Kapan?” tanya Ara sembari mengubah posisinya tangannya yang awalnya dilipat di atas meja menjadi bertopang dagu.
“Aku tidak yakin, sepertinya siang ini.”
“Ya udah, sarapan dulu yuk Kak.”
“Ya udah, yuk.” Ryan berdiri lebih dulu lalu keluar dari ruangan diikuti dengan Ara. Saat mereka hampir tiba di depan pintu luar, tampak para wartawan dan jurnalis dari berbagai media sudah berhamburan di depan sedang berbicara dengan satpam yang berjaga di depan.
“Duh, Kak udah rame. Bagaimana ini?”
“Sudah jawab saja dengan singkat setelah itu kita pergi.”
Ara menghela napasnya, “Oke.” Mereka berdua pun memberanikan diri untuk keluar melewati para wartawan dan jurnalis yang berkumpul di luar. “Mbak Ara!”
“Mbak Ara datang!” seru beberapa wartawan ketika mendapati Ara keluar dari pintu agensi dan segera menghampirinya. “Mbak Ara mohon penjelasannya perihal kecelakaan kemarin?”
“Bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi Mbak?”
“Apa Mbak baik-baik saja? Atau ada cedera yang mbak alami?”
“Bagaimana dengan pelakunya? Katanya ada salah satu pemain yang sengaja mendorong Mbak hingga jatuh dari rooftop?”
“Mbak Ara tolong berikan klarifikasi yang benar.” Para wartawan dan jurnalis dari berbagai media itu menyerbu Ara dengan berbagai pertanyaan hingga membuat Ara bingung harus menjawabnya dari mana. “Tolong semuanya harap tenang! Ara akan mengklarifikasi sekarang. Jadi, tolong berikan dia ruang untuk berbicara sekarang.” tutur Ryan sang manajer mencoba menghentikan wartawan yang berbicara tiada henti itu.
“Ya, tolong dengarkan aku. Kemarin aku memang mengalami kecelakaan kecil di lokasi syuting hingga membuat tim SAR 115 datang membantu. Tapi, aku baik-baik saja dan pemain yang tak sengaja mendorongku itu juga sudah minta maaf, jadi semuanya sudah baik-baik saja. Dimohon untuk teman-teman wartawan dan jurnalis jangan membuat spekulasi yang tidak benar. Terima kasih.” setelah menjelaskan semuanya, Ara bersama Ryan mencoba keluar dari kerumunan para wartawan dan jurnalis itu untuk pergi dari sana. Para wartawan dan jurnalis itu kembali mengejar mereka untuk menanyakan hal lainnya, beruntung mereka bisa masuk ke mobil lalu bergegas meninggalkan agensi.
“Huhh ... Kenapa mereka masih mengejar? Bukankah aku sudah memberikan klarifikasinya.” ujar Ara seraya melihat ke belakang, menatap kerumunan wartawan dan jurnalis yang tertinggal di belakang.
“Mungkin masih ada yang ingin mereka tanyakan. Seperti itulah pekerjaan wartawan dan jurnalis harus mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya dan sedetail-detailnya.”
“Ya, walaupun sudah dapat banyak informasi tapi terkadang tetap saja di berikan bumbu-bumbu yang berlebihan.”
“Semoga saja tidak, yang penting 'kan kamu sudah klarifikasi.” Ara menganggukan kepalanya. “Ya udah sekarang mau sarapan di mana?”
“Di tempat biasanya aja, Ceria Kafe.”
“Oke.”
***
Setelah menghabiskan sarapan, Ryan dan Ara langsung bertolak menuju tempat manggung Ara dan artis lainnya. Setibanya di sana, Ara segera mengganti outfit untuk tampil nanti serta merias wajahnya bersama make up artis. Acara musik ini akan diadakan setengah jam lagi dan Ara kedapatan nyanyi di jam setengah 11 yang itu artinya masih ada waktu satu jam bagi Ara untuk bersiap-siap.
Hari ini Ara manggung tidak bersama dengan ketiga sahabatnya karena mengingat mereka bertiga sedang tidak comeback jadi tidak ada promosi manggung di acara musik dalam minggu-minggu ini
Setelah semua siap, Ara menunggu bersama Ryan dan timnya di ruang tunggu, sesekali ia memainkan ponselnya, sekedar melihat sosial media ataupun berbalas pesan dengan teman-temannya. Tiba-tiba ia teringat dengan Devan, pria dari tim SAR 115 yang terakhir kali berbalas pesan dengannya kemarin. ‘Devan, apa harus aku yang selalu memulai chat? Tapi, aku tidak tahu harus mengatakan apa bila mengirimi pesan sekarang.’ batinnya yang masih terdiam di aplikasi chat.
“Ara, siap-siap sekarang! Setelah ini, kamu akan tampil!” seru seorang staff yang memasuki ruang tunggu memberikan kode untuk Ara agar bersiap-siap. “Oh, oke.” Sontak Ara meletakkan ponselnya kembali ke dalam tasnya lalu berdiri dan keluar dari ruang tunggu sembari membawa mic khusunya yang berwarna ungu Lilac, warna favoritnya.
Setelah penyanyi yang baru saja tampil itu turun dari panggung, Ara bergegas naik ke atas panggung dan alunan musik ballad mulai terdengar mengalun lembut dan diikuti dengan Ara yang mulai menyanyikan lagu terbarunya yang berjudul 'Cinta abadi'.
TBC