Malam harinya Ara baru saja mencuci wajahnya dan kini sedang melakukan rutinitas skincare malamnya agar wajahnya selalu terlihat bersih dan glowing. Sebagai seorang publik figur, ia memang selalu menjaga penampilannya.
Setelah urusan skincare selesai, ia pun beranjak ke ruang tv untuk bersantai sekalian menonton acara di tv. Ia mengambil remot di meja lalu memposisikan dirinya ke atas sofa Lilac yang empuk tersebut. Ia juga tak lupa menyiapkan cemilan keripik kentang dan s**u coklat hangat.
“Kabar hari ini, dikabarkan sebuah hotel di kawasan Jakarta Selatan terbakar, di duga penyebabnya adalah karena korsleting listrik. Namun, beruntung segala bantuan segera dikerahkan ke lokasi. Para tim pemadam kebakaran dan tim SAR 115 tampak ikut memadamkan api dan menyelamatkan orang-orang yang terjebak di dalamnya. Dalam waktu 2 jam, si jago merah bisa dijinakkan dan tidak ditemukan korban jiwa pada bencana kali ini,” Mata Ara melebar tatkala melihat berita di tv, pasalnya ia melihat sosok Devan terpampang di tv sekarang. 'Jadi, ini tugasnya tadi siang? Keren sekali. Dia benar-benar seperti super Hero.” Tanpa sadar sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman manis.
Ting!
Ia sontak mengalihkan pandangannya ke samping di mana ponselnya berada dan mendapati sebuah pesan masuk dari seseorang yang kini memenuhi pikirannya itu, [Hai, selamat malam. Maaf menganggu waktumu. Aku mau mengabarkan soal obrolan kita tadi siang, sepertinya aku akan memikirkannya kembali. Selamat malam dan selamat beristirahat.] senyum kembali mengembang di wajah cantiknya.
“Kamu pasti akan datang padaku Kak Devan.” tuturnya dengan senyum penuh kemenangan dan kepercayaan diri yang tinggi. Ia pun bergegas membalas pesan dari Devan, [Oke, aku harap akan ada berita yang baik. Aku menunggunya ya Kak. Selamat malam juga buatmu,]
Setelah berbalas pesan akhirnya Ara memutuskan untuk tidur, sepertinya ia akan tidur nyenyak malam ini, sepanjang jalan menuju ke lantai atas, ia tidak pernah melunturkan senyumannya. Rasanya dia seperti orang gila bila memikirkan sesuatu yang terjadi hari ini.
***
Keesokan harinya, siang ini Devan sedang makan siang di kantin kantor sembari menonton acara berita selebriti di tv yang tergantung di kantin. “Berita heboh hari ini! Dikabarkan MH entertainment selaku agensi yang menaungi banyak artis dan penyanyi termasuk Ara dan Amel, artis yang belakangan ini sedang naik daun mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa akan menindaklanjuti orang-orang yang memberikan ancaman atau masalah kepada artisnya ke jalur hukum. MH entertainment membuat pernyataan ini hari ini dikarenakan salah satu artisnya, Kinara Salsabila baru saja mendapatkan pesan yang berisi ancaman pembunuhan kemarin.”
“What! Bukankah itu gadis yang menemuimu kemarin Dev?” tanya Arka ketika melihat foto Ara yang terpampang di layar tv sekarang dan Devan yang sedang mengunyah makanannya sontak menganggukan kepalanya.
“Kasihan banget ya dia sampai ada yang mengancamnya seperti itu. Apakah menjadi publik figur semenakutkan itu?” timpal James.
“Kurasa dia memang butuh pelindung pribadi, sepertinya banyak orang yang tidak menyukainya.” tambah Angga. Semua orang terlihat berkomentar, sementara Devan terlihat meneguk air putih dengan tatapan matanya yang fokus menatap ke layar tv.
***
Sementara itu Ara terlihat sedang berada di sebuah hotel. Hari ini ia memiliki jadwal pemotretan untuk iklan sebuah brand skincare. Ia tampak mengenakan mini dress selutut berwarna putih bersih dan kini dirinya sedang berpose di depan kamera photographer sembari memegang produk-produk skincare tersebut. Manajer dan asisten pribadinya, Jenny tampak menunggu sembari memperhatikan Ara dengan tatapan bangganya.
“Oke, sekali lagi ya mbak, 1,2,3!” seru sang photographer memberikan aba-aba untuk bidikan terakhirnya. Ara pun mengubah posenya lalu tersenyum dengan manis di depan kamera.
“Oke.”
“Sudah Mas?” tanya Ara.
“Sudah Mbak, kamu bisa istirahat sekarang.”
“Baiklah, terima kasih.” Ara pun menghampiri Ryan dan Jenny. “Kerja bagus Ra.” ucap Ryan seraya menepuk bahu Ara pelan.
“Oya Ra ini ada minuman buat kamu. Tadi sih waktu aku ke depan ada yang memberikan ini, katanya dia penggemar kamu.” Jenny memberikan sebuah bungkusan yang berisi beberapa minuman pada Ara.
“Dari penggemar? Cowok atau cewek? Kamu pernah lihat dia ngga sebelumnya?” tanya Ryan dengan mata yang menyipit dan dahi yang mengernyit curiga pada minuman yang diberikan oleh orang asing tersebut.
“Hm, dari cowok sih. Aku belum pernah lihat dia sebelumnya, tapi dia ngakunya dirinya sebagai penggemar Ara. Memangnya kenapa sih kak?” jawab Jenny bingung.
“Aku hanya takut ada orang iseng saja, lebih baik tidak usah di minum Ra, bagaimana kalau dalam minuman itu ada sesuatu?"
“Oh, ya udah gak apa-apa Kak, aku lagi ngga haus juga.”
“Terus ini minumannya diapain?”
“Buang saja di depan. Ayo sekarang kembali ke agensi.” tutur Ryan lalu mendahului yang lainnya untuk keluar dari hotel tersebut karena pemotretan juga telah usai. Jenny dan Ara saling berpandangan hingga pada akhirnya mereka mengikuti langkah Ryan.
Setibanya di luar, Jenny membuang minuman tersebut ke tong sampah yang berada di depan hotel lalu pergi dari sana bersama Ara dan Ryan. Tanpa mereka sadari seorang pria dengan pakaian tertutup dari balik tembok tampak sedang memantau mereka dan matanya melebar ketika melihat minuman pemberiannya dibuang begitu saja ke tong sampah.
Di tengah perjalanan menuju agensi, “Ra, Kak Ryan tadi kenapa kok was-was banget sama minuman pemberian penggemar tadi?” tanya Jenny yang sedang sibuk menyetir, ia melirik orang di sebelahnya dengan ekor matanya.
“Ya, mungkin karena aku dapat pesan ancaman pembunuhan lagi kemarin Kak. Jadi, dia lebih waspada aja, lagipula agensi tadi pagi juga sudah mengeluarkan pernyataan untuk menindaklanjuti orang-orang yang membuat masalah ke jalur hukum.”
“Kamu dapat ancaman lagi? Kenapa ya kok banyak orang-orang jahat gitu?”
“Ngga tahu deh kak, apa motif dibalik semua itu.” Jenny mengangguk paham, ia juga sebenarnya tidak tahu kenapa Ara beberapa kali kedapatan menerima pesan ancaman pembunuhan begitu. “Kamu yang sabar ya, jadi publik figur itu pasti ada suka dan dukanya. Tak hanya publik figur juga sih, semua pekerjaan juga begitu.”
“Iya kak, yang penting jalanin aja.”
Ting!
Ara sontak mengalihkan pandangannya pada tasnya di mana ponselnya berada. Ia pun mengambil ponselnya dan mendapati notifikasi sebuah pesan dari Devan. “Waa!”
“Eh, kamu kenapa Ra?” tanya Jenny panik ketika Ara tiba-tiba teriak.
“Hehehe ... Ngga apa-apa Kak,” jawab Ara diiringi tawa dengan canggung. Jenny mengerutkan keningnya ketika melihat tingkah aneh yang ditunjukkan oleh atasannya yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri karena usia mereka juga tidak terpaut jauh.
Ara kembali menatap ponselnya yang masih menampilkan chat dari Devan, [Selamat siang Ara, maaf menganggu waktumu. Saya sudah memikirkan ulang soal tawaranmu kemarin dan keputusanku, aku siap menjadi bodyguardmu.] Ara benar-benar tidak bisa menyembunyikan senyumnya, matanya tampak lebih berbinar dari biasanya. Dengan cepat Ara mengetik balasan untuk Devan, [Oke, keputusan yang baik. Bisakah sore ini kamu ke apartemenku? Aku akan menjelaskan tentang pekerjaanmu.]
Sekian menit kemudian, balasan dari Devan pun masuk. [Ya, bisa. Aku akan datang nanti sore] Ara kembali menyimpan ponselnya ke dalam tas dan menatap jalanan di depannya dengan senyum yang merekah.
***
Setelah menyelesaikan jadwalnya hari ini, Ara akhirnya pulang ke apartemen dan Jenny, asisten pribadinya langsung pamit pulang, rumahnya juga tidak jauh dari apartemen Ara sehingga mudah buatnya untuk bolak-balik ke tempat Ara.
Ketika masuk apartemen, dirinya bergegas untuk bersih-bersih apartemen dan juga membersihkan dirinya untuk menyambut kedatangan Devan yang beberapa jam lagi akan datang.
TBC